Sejenak Bersama Surah At-Takatsur

Sejenak Bersama Surah At-Takatsur

 

Al-Qurthubi rahimahullah memberikan catatan dalam tafsirnya mengenai surah At-Takatsur, beliau berkata:

 

“Para ulama berkata: Seyogianya bagi siapa saja yang ingin mengobati hatinya dan menundukkannya dengan rantai penundukan menuju ketaatan kepada Tuhannya, agar ia memperbanyak mengingat pemutus segala kelezatan, pemisah kebersamaan, dan yang membuat anak-anak menjadi yatim (yakni kematian), serta membiasakan diri untuk menyaksikan orang-orang yang sedang sakaratul maut, dan menziarahi kuburan kaum muslimin yang telah meninggal dunia.

 

Ini adalah tiga hal yang seyogianya digunakan oleh orang yang hatinya telah mengeras dan terus-menerus berbuat dosa, sebagai sarana untuk mengobati penyakitnya, dan meminta pertolongan dengannya dalam menghadapi fitnah setan beserta para penolongnya. Jika ia bisa mengambil manfaat dengan memperbanyak mengingat kematian, dan kekerasan hatinya sirna karenanya, maka itulah (yang diharapkan). Namun, jika penutup (noda) hatinya telah membesar, dan dorongan-dorongan untuk berbuat dosa telah mengakar kuat di dalamnya, maka sesungguhnya menyaksikan orang yang sakaratul maut dan menziarahi kuburan kaum muslimin dapat memberikan dampak penolakan (terhadap dosa) yang tidak bisa dicapai oleh hal yang pertama (mengingat kematian semata). Karena mengingat kematian adalah sebatas pemberitahuan kepada hati tentang tempat kembalinya, dan menempati posisi sebagai ancaman serta peringatan baginya.

 

Sedangkan pada perbuatan menyaksikan orang yang sedang sakaratul maut, dan menziarahi kuburan kaum muslimin yang telah wafat, terdapat unsur melihat dan menyaksikan secara langsung. Oleh karena itu, hal ini lebih mendalam pengaruhnya daripada yang pertama… Adapun mengambil pelajaran dari keadaan orang yang sedang sakaratul maut, maka hal itu tidak memungkinkan di setiap waktu, dan terkadang tidak bertepatan posisinya bagi orang yang ingin mengobati hatinya pada suatu waktu tertentu.

 

Adapun ziarah kubur, maka keberadaannya lebih cepat (mudah dilakukan), dan mengambil manfaat darinya lebih pantas dan lebih layak. Maka seyogianya bagi orang yang bertekad untuk berziarah, agar ia beradab dengan adab-adabnya, dan menghadirkan hatinya ketika mendatanginya, serta jangan sampai bagian (niat) yang ia dapatkan darinya hanyalah sekadar berkeliling di atas kuburan saja, karena jika demikian keadaannya, maka binatang pun turut berpartisipasi melakukan hal yang sama—dan kita berlindung kepada Allah dari hal tersebut—akan tetapi hendaknya ia bermaksud dengan ziarahnya itu untuk mencari wajah Allah Ta’ala, dan memperbaiki kerusakan hatinya, atau memberikan manfaat (doa) kepada si mayit…

 

Kemudian ia mengambil pelajaran dari orang yang kini berada di bawah tanah, dan terputus dari keluarga dan orang-orang tercinta, padahal sebelumnya ia (mungkin) memimpin pasukan dan bala tentara, bersaing dengan para sahabat dan kerabat, serta mengumpulkan harta dan simpanan, lalu kematian mendatanginya di waktu yang tidak ia sangka, dan kengerian (maut) datang di saat ia tidak mengantisipasinya.

 

Maka hendaknya peziarah merenungkan keadaan saudara-saudaranya yang telah berlalu, dan teman-teman sebayanya yang telah tiada, yang (dulunya) telah mencapai cita-cita, dan mengumpulkan harta. Bagaimana cita-cita mereka terputus, harta mereka tidak berguna bagi mereka, tanah telah menghapus keindahan wajah mereka, bagian-bagian tubuh mereka tercerai-berai di dalam kubur, istri-istri mereka menjadi janda setelah kepergian mereka, kehinaan status yatim menyelimuti anak-anak mereka, dan orang lain membagi-bagikan harta baru maupun harta warisan lama mereka.

 

Dan hendaknya ia mengingat kesibukan mereka dalam mengejar berbagai tujuan, antusiasme mereka dalam meraih keinginan, keterpedayaan mereka oleh mulusnya berbagai sebab (keberhasilan), serta ketergantungan mereka pada kesehatan dan masa muda.

 

Dan hendaklah ia menyadari bahwa kecondongannya kepada kelalaian dan permainan sama seperti kecondongan mereka, dan kelalaiannya terhadap kematian yang mengerikan dan kebinasaan yang cepat yang ada di hadapannya sama seperti kelalaian mereka, dan bahwa ia pasti akan menuju kepada nasib (tempat kembali) mereka. Dan hendaklah ia menghadirkan dalam hatinya ingatan tentang orang yang (dulunya) mondar-mandir dalam urusan-urusannya, dan bagaimana (sekarang) kedua kakinya telah hancur.

 

(Dahulu) ia bersenang-senang dengan memandangi apa yang dikaruniakan kepadanya, padahal (kini) kedua matanya telah hancur mengalir. Ia berbangga dengan kefasihan tutur katanya, padahal (kini) cacing telah memakan lidahnya. Dan ia tertawa karena keberuntungan nasibnya, padahal (kini) tanah telah menghancurkan gigi-giginya. Maka hendaklah ia benar-benar menyadari bahwa keadaannya akan sama seperti keadaan orang tersebut, dan tempat kembalinya akan sama seperti tempat kembalinya.

 

Pada saat mengingat dan mengambil pelajaran inilah, segala hal duniawi yang melalaikan akan hilang darinya, dan ia akan memusatkan perhatian pada amal-amal ukhrawi. Maka ia pun menjadi zuhud terhadap dunianya, bergegas menaati Tuhannya, hatinya menjadi lembut, dan anggota badannya menjadi khusyuk). ([1])

 

Berakhirlah perkataan beliau (Al-Qurthubi) rahimahullah.

 

(Diterjemahkan dari Majalisu at-Tadzkiir, Fushulun Imaniyatun Tarbawiyatun, Prof. DR. ‘Umar Abdullah Muhammad al-Muqbil)

____________________

Footnote:

([1]) Tafsir Al-Qurthubi (20/117)

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *