Salah Satu Pemandangan Terindah dalam Thawaf

🖋️ HIKMAH

 

مِنْ أَجْمَلِ مَشَاهِدِ الطَّوَافِ

 

Salah Satu Pemandangan Terindah dalam Thawaf

 

Bismillāhir-Rahmānir-Rahīm

 

Sore ini, setelah shalat Ashar, saya kembali thawaf. Sengaja saya lakukan dengan perlahan hingga menjelang adzan Maghrib. Tidak mengejar target waktu 60 atau 70 menit, tetapi ingin lebih banyak merenung dan mengambil i’tibar.

 

Saya berangkat dari hotel menjelang Ashar bersama salah seorang teman sekamar. Sementara seorang teman yang lain masih berberes di kamar mandi.

 

Ternyata, niat sangat memengaruhi apa yang kita rasakan.

 

Ketika kita tidak sibuk mengejar waktu, banyak hal yang sebelumnya mungkin luput dari perhatian, justru terlihat begitu jelas.

 

Saya kembali melihat beberapa sosok lelaki yang sejak beberapa waktu lalu sering saya lihat rajin thawaf. Saya menduga sebagian mereka adalah orang-orang yang berdomisili di Makkah.

 

Ada seorang lelaki tua, agak berbadan, tidak terlalu tinggi dan bermata sipit, thawaf dengan tenang seorang diri.

 

Ada pula beberapa orang buta yang tetap bersemangat thawaf. Sebagian berjalan sambil berbicara dengan bahasa Arab dengan sopan, berpegangan tangan dengan orang yang membantunya.

 

Saya juga melihat orang-orang dengan keterbatasan fisik yang tetap berusaha menyelesaikan thawaf dengan berbagai cara.

 

Di tengah arus manusia yang terus mengelilingi Ka’bah, ternyata begitu banyak kebaikan yang berlangsung tanpa suara.

 

Ada yang mengambilkan zamzam untuk orang lain.

 

Ada seorang lelaki tua yang memberikan sejumlah Riyal kepada seorang lelaki buta yang sedang thawaf.

 

Ada yang berdiri menawarkan semprotan parfum.

 

Ada yang memegang tisu di tangan kanan dan kirinya, mempersilakan orang-orang mengambilnya.

 

Ada pula yang membagikan tasbih kecil tujuh butir untuk thawaf. Ketika saya hendak mengambilnya, ternyata sudah habis.

 

Semua itu terjadi di tengah thawaf. Kebaikan berjalan bersamaan dengan ibadah.

 

Namun, ada satu pemandangan yang paling menarik perhatian saya.

 

Tepat di samping saya, seorang lelaki tua berwajah seperti orang Asia Selatan, saya perkirakan berusia sekitar 70-an tahun, sedang thawaf menggunakan kursi roda manual. Ia menggerakkan kursi rodanya sendiri dengan kedua tangannya.

 

Tiba-tiba datang seorang pemuda berjubah putih dan berpeci putih. Kulitnya putih, matanya sipit. Pada tali tas selempangnya terlihat tulisan Uzbekistan.

 

Tanpa banyak bicara, pemuda itu langsung meletakkan kedua tangannya di belakang kursi roda dan mulai mendorong lelaki tua tersebut.

 

Lelaki tua itu menoleh. Mereka tampak berkomunikasi dengan mimik dan isyarat. Saya melihat lelaki tua itu mengangkat tiga jarinya. Mungkin ia sedang menunjukkan bahwa thawafnya sudah tiga putaran, atau masih tersisa tiga putaran. Saya tidak mengetahui percakapan mereka.

 

Yang saya tahu, pemuda itu kemudian terus mendorong sambil tersenyum.

 

Saya terkagum melihatnya.

 

Saya pun mengabadikan mereka dari belakang.

 

Bagi saya, foto ini bukan sekadar foto dua orang yang sedang thawaf.

 

Ini adalah foto tentang sebuah kebaikan yang tidak banyak bicara.

 

Tidak ada panggung.

Tidak ada tepuk tangan.

Tidak ada yang memanggil namanya.

Tidak ada yang bertanya siapa dia.

 

Seorang pemuda melihat seorang lelaki tua membutuhkan bantuan, lalu ia membantu.

 

Allah subhānahu wa ta’āla berfirman:

 

وَتَعَاوَنُوا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوَىٰ

 

“Dan tolong-menolonglah kalian dalam kebajikan dan ketakwaan.” (QS. Al-Ma’idah: 2)

 

Rasulullah shallallāhu ‘alaihi wa sallam bersabda:

 

وَاللهُ فِي عَوْنِ الْعَبْدِ مَا كَانَ الْعَبْدُ فِي عَوْنِ أَخِيهِ

 

“Allah senantiasa menolong seorang hamba selama hamba tersebut menolong saudaranya.” (HR. Muslim no. 2699, dari Abu Hurairah radhiyallāhu ‘anhu)

 

Mungkin bagi pemuda itu, ia hanya sedang mendorong sebuah kursi roda.

 

Tetapi boleh jadi, di sisi Allah subhānahu wa ta’āla, itu adalah amal yang sangat besar.

 

Dan bagi kita yang menyaksikannya, Allah sedang mengajarkan sebuah pelajaran:

 

Jangan pernah meremehkan kebaikan, sekecil apa pun bentuknya.

 

Di Masjidil Haram, manusia datang kepada Allah subhānahu wa ta’āla dengan keadaan yang berbeda-beda.

 

Ada yang kuat dan ada yang lemah.

Ada yang sehat dan ada yang sakit.

Ada yang melihat dan ada yang tidak melihat.

Ada yang berjalan sendiri dan ada yang harus dibantu.

 

Namun semuanya sama-sama sedang menghadap Allah subhānahu wa ta’āla.

 

Karena itu, jangan hanya mengejar selesainya ibadah. Sesekali berhentilah mengejar angka dan waktu, lalu perhatikan hikmah di balik ibadah.

 

Boleh jadi, satu putaran thawaf mengajarkan kesabaran.

 

Satu langkah mengajarkan ketawadhuan.

 

Satu pemberian mengajarkan keikhlasan.

 

Dan satu dorongan pada kursi roda seorang tua mengajarkan kepada kita bahwa ibadah kepada Allah juga seharusnya melahirkan kasih sayang kepada sesama.

 

Semoga Allah subhānahu wa ta’āla menjadikan kita hamba-hamba yang tidak hanya rajin beribadah kepada-Nya, tetapi juga ringan tangan dalam menolong, lembut kepada sesama, dan ikhlas dalam setiap kebaikan.

 

Sebab terkadang, pelajaran terbesar di sekitar Ka’bah bukan hanya tentang bagaimana kita beribadah kepada Allah, tetapi juga bagaimana ibadah itu menjadikan kita lebih bermanfaat bagi manusia.

 

Makkah al-Mukarramah, Kamis, 13 Rabi’ul Akhir 1448 H / 24 September 2026 M

Zulkifli Zakaria

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *