Keadilan dan Kasih Sayang Merupakan Fondasi Utama bagi Masyarakat Madani

عَنْ عُرْوَةَ بْنِ الزُّبَيْرِ فِي حَدِيثِ الْهِجْرَةِ: أَنَّ رَسُولَ اللهِ ﷺ لَمَّا قَدِمَ الْمَدِينَةَ وَبَرَكَتْ نَاقَتُهُ قَالَ: «هُنَا – إِنْ شَاءَ اللهُ – الْمَنْزِلُ»، فَإِذَا ذَلِكَ مِرْبَدٌ لِغُلَامَيْنِ يَتِيمَيْنِ، ثُمَّ دَعَا رَسُولُ اللهِ ﷺ الْغُلَامَيْنِ، فَسَاوَمَهُمَا بِالْمِرْبَدِ لِيَتَّخِذَهُ مَسْجِدًا، فَقَالَا: لَا, بَلْ نَهَبُهُ لَكَ يَا رَسُولَ اللهِ! فَأَبَى رَسُولُ اللهِ ﷺ أَنْ يَقْبَلَهُ مِنْهُمَا هِبَةً، حَتَّى ابْتَاعَهُ مِنْهُمَا، ثُمَّ بَنَاهُ مَسْجِدًا. [البخاري]

 

Dari Urwah bin az-Zubair dalam hadis tentang hijrah: Bahwasanya Rasulullah ﷺ ketika tiba di Madinah dan unta beliau menderum, beliau bersabda: “Di sinilah —insya Allah— tempat persinggahan (kita).” Tiba-tiba tempat tersebut adalah sebuah mirbad (kandang ternak atau tempat penjemuran kurma) milik dua anak yatim. Kemudian Rasulullah ﷺ memanggil kedua anak yatim tersebut, lalu beliau menawar harga mirbad tersebut untuk menjadikannya masjid. Kedua anak tersebut berkata: “Tidak, melainkan kami menghadiahkannya untukmu wahai Rasulullah!” Namun Rasulullah ﷺ menolak untuk menerimanya sebagai pemberian dari keduanya (secara cuma-cuma) hingga beliau membelinya dari mereka berdua, kemudian beliau membangunnya sebagai masjid. [HR. Al-Bukhari]

 

Kosakata Asing (Gharib al-Hadith):

 

  • Al-Mirbad (الْمِرْبَدُ): Tempat mengurung (kandang) unta dan kambing, dan juga digunakan untuk menyebut tempat diletakkannya buah kurma setelah dipanen (al-jidad) sebelum dimasukkan ke dalam wadah-wadah penyimpanannya.

 

Makna Global Hadis (Al-Ma’na al-Ijmali):

 

Ini merupakan bagian dari hadis tentang hijrah Nabi ﷺ ke Madinah al-Munawwarah, yang menceritakan kisah pembangunan Masjid Nabawi yang mulia. Penentuan lokasi masjid tersebut pada dasarnya merupakan bimbingan wahyu dari Allah Ta’ala. Dan karena risalah nabi kita Muhammad ﷺ senantiasa tegak di atas asas kasih sayang (rahmat) dan keadilan (‘adl), Nabi ﷺ bertanya mengenai status kepemilikan lokasi tersebut, lalu dikatakan kepada beliau bahwa tanah itu milik dua anak yatim. Maka beliau ﷺ mengasihi keduanya dan tidak menerima sumbangan sukarela keduanya terhadap tanah itu, meskipun tujuannya adalah untuk mendirikan fasilitas umum yang sangat penting yaitu masjid. Namun, hal tersebut tidak mendorong beliau untuk menerima tanah itu secara cuma-cuma demi melindungi hak kepemilikan pihak yang lemah (anak yatim) hingga beliau membelinya dari mereka berdua. Maka di dalam peristiwa tersebut terkandung nilai kasih sayang kepada dua anak yatim, serta keadilan dalam pengalihan hak milik pribadi untuk kemaslahatan umum dengan ganti rugi yang adil.

 

Pelajaran yang dapat diambil dari hadis:

 

  1. Wujud kasih sayang Nabi ﷺ: Di mana beliau tidak menerima sumbangan sukarela dari kedua anak yatim tersebut atas tanah milik mereka (karena mereka belum cukup umur/cakap secara hukum untuk mendonasikan harta penting).
  2. Keadilan Nabi ﷺ: Ketika beliau memberikan kompensasi ganti rugi (pembayaran) kepada kedua anak tersebut atas hak milik pribadi mereka.
  3. Prioritas mendahulukan kemaslahatan umum di atas kemaslahatan pribadi (tetap dengan menjunjung tinggi keadilan tanpa merugikan hak individu).

 

(Di alih bahasakan dari al-Arba’uun Fii as-Siirah an-Nabawiyah (40 Hadiitsan Mukhtaaran Fii Siirati Khaatami al-Anbiyaa-i ﷺ) Prof. Dr. Adil bin Ali al-Syaddi & Prof. Muhammad bin Abdurrahim al-Arabi)

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *