Kasih Sayang (Rahmat) Nabi ﷺ Kepada Penduduk Makkah

عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهَا فِي قِصَّةِ خُرُوجِ النَّبِيِّ ﷺ إِلَى الطَّائِفِ مَهْمُومًا: أَنَّ مَلَكَ الْجِبَالِ سَلَّمَ عَلَيْهِ، ثُمَّ قَالَ: «يَا مُحَمَّدُ، إِنَّ اللَّهَ قَدْ سَمِعَ قَوْلَ قَوْمِكَ لَكَ، وَأَنَا مَلَكُ الْجِبَالِ، وَقَدْ بَعَثَنِي رَبُّكَ إِلَيْكَ لِتَأْمُرَنِي بِأَمْرِكَ، فَمَا شِئْتَ؟ إِنْ شِئْتَ أَنْ أُطْبِقَ عَلَيْهِمِ الْأَخْشَبَيْنِ». فَقَالَ لَهُ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ: «بَلْ أَرْجُو أَنْ يُخْرِجَ اللَّهُ مِنْ أَصْلَابِهِمْ مَنْ يَعْبُدُ اللَّهَ وَحْدَهُ لَا يُشْرِكُ بِهِ شَيْئًا». [متفق عليه]

 

Dari Aisyah radhiyallahu ‘anha dalam kisah keluarnya Nabi ﷺ menuju Thaif dalam keadaan sedih/gundah gulana: bahwasanya malaikat penjaga gunung memberikan salam kepada beliau, kemudian berkata: “Wahai Muhammad, sesungguhnya Allah telah mendengar perkataan kaummu kepadamu, dan aku adalah malaikat penjaga gunung. Rabbmu telah mengutusku kepadamu agar engkau memerintahkanku sesuai keinginanmu. Maka apa yang engkau kehendaki? Jika engkau mau, aku akan menghimpitkan dua gunung besar di Makkah (Al-Akhsyabain) ini atas mereka.” Maka Rasulullah ﷺ bersabda kepadanya: “Tidak, bahkan aku berharap agar Allah mengeluarkan dari tulang sulbi mereka orang-orang yang beribadah kepada Allah semata dan tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu pun.” [Muttafaq ‘Alaih]

 

Kosakata Asing (Gharib al-Hadith):

 

  • Al-Akhsyabain (الْأَخْشَبَيْنِ): Bentuk dual (mutsanna) dari akhsyab, yaitu setiap gunung yang permukaannya kasar dan berbatu besar/tebal. Adapun yang dimaksud dengan dua gunung tersebut di sini adalah dua gunung besar di Makkah: Gunung Abu Qubais dan gunung yang berdiri tegak di hadapannya (Gunung Qayqa’an).

 

  • An utbiqa ‘alaihimul-akhsyabain (أَنْ أُطْبِقَ عَلَيْهِمُ الْأَخْشَبَيْنِ): Menjadikan kedua gunung tersebut saling bertubrukan/berhimpitan menimpa siapa saja yang berada di Makkah, sehingga keduanya menjadi seperti satu penutup yang menghimpit mereka semua.

 

  • Ashlābuhum (أَصْلَابُهُمْ): Jamak dari shulb, yaitu tulang belakang/ punggung. Adapun yang dimaksud di sini adalah keturunan/anak cucu mereka.

 

Makna Global Hadis (Al-Ma’na al-Ijmali):

 

Ini merupakan bagian dari hadis Ummul Mukminin Aisyah radhiyallahu ‘anha ketika ia bertanya kepada Nabi ﷺ apakah pernah melewati suatu hari yang lebih berat daripada hari Perang Uhud. Dan pada bagian potongan hadis ini, Nabi ﷺ menampakkan keluhuran budi pekerti serta perangai asalnya yang suci, begitu pula kasih sayang beliau yang mampu menyelimuti segala bentuk gangguan/siksaan yang ditimpakan kepadanya, yang menjadikan beliau justru merasa kasihan dan iba terhadap musuh-musuhnya alih-alih melampiaskan dendam kesumat kepada mereka. Beliau memilih memberi penangguhan waktu kepada kaum musyrikin Quraisy dengan harapan mereka mau memeluk Islam, atau kelak akan lahir dari keturunan mereka orang-orang muslim yang bertauhid.

 

Pelajaran dari Hadis (Mimma Yustafadu min al-Hadith):

 

  1. Keagungan sifat kasih sayang Nabi ﷺ di mana beliau tidak mendoakan kebinasaan bagi kaum Quraisy karena mengharapkan kelak akan lahir dari keturunan mereka orang-orang muslim.
  2. Ketajaman pandangan ke depan (bu’du nazhar) Nabi ﷺ; beliau tidak membatasi pandangannya hanya pada para gembong musyrikin Quraisy yang keras kepala saat itu, melainkan memandang jauh ke depan kepada apa yang akan lahir dari keturunan mereka.
  3. Bersikap sabar dalam menghadapi gangguan di jalan dakwah merupakan bentuk meneladani Nabi ﷺ dalam memikul beban cobaan dan kesabaran beliau atasnya.
  4. Pertolongan Allah Ta’ala bagi para nabi dan para wali-Nya pasti akan terwujud tanpa ragu sedikit pun, sebagaimana firman Allah Ta’ala:

 

 ﴿إِنَّا لَنَنصُرُ رُسُلَنَا وَالَّذِينَ آمَنُوا فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَيَوْمَ يَقُومُ الْأَشْهَادُ﴾ 

 

“Sesungguhnya Kami akan menolong rasul-rasul Kami dan orang-orang yang beriman dalam kehidupan dunia dan pada hari berdirinya para saksi (hari kiamat).” [QS. Ghafir: 51]

 

(Di alih bahasakan dari al-Arba’uun Fii as-Siirah an-Nabawiyah (40 Hadiitsan Mukhtaaran Fii Siirati Khaatami al-Anbiyaa-i ﷺ) Prof. Dr. Adil bin Ali al-Syaddi & Prof. Muhammad bin Abdurrahim al-Arabi)

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *