Pernikahan dalam Islam bukan sekadar penyatuan dua insan dalam sebuah ikatan lahiriah, melainkan perjanjian yang agung dan kokoh (mitsaqan ghalidza).
Sebuah bahtera yang dilayarkan bukan hanya untuk mengarungi gelombang kefanaan duniawi, melainkan sebuah ikhtiar suci agar dua jiwa dapat saling menggenggam tangan, menapaki jalan ketaatan, dan menua bersama dalam naungan majelis iman hingga berlabuh di surga yang abadi.
1. Mahligai yang Ditegakkan di Atas Mawaddah dan Rahmah
Cinta dalam Islam adalah karunia Ilahi yang ditiupkan ke dalam dada hamba-hamba-Nya untuk melahirkan ketenteraman (sakinah).
Allah ﷻ berfirman:
﴿وَمِنْ آيَاتِهِ أَنْ خَلَقَ لَكُم مِّنْ أَنفُسِكُمْ أَزْوَاجًا لِّتَسْكُنُوا إِلَيْهَا وَجَعَلَ بَيْنَكُم مَّوَدَّةً وَرَحْمَةً ۚ إِنَّ فِي ذَٰلِكَ لَآيَاتٍ لِّقَوْمٍ يَتَفَكَّرُونَ﴾
“Dan di antara tanda-tanda (kebesaran)-Nya ialah Dia menciptakan pasangan-pasangan untukmu dari jenismu sendiri, agar kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan Dia menjadikan di antaramu rasa kasih dan sayang. Sungguh, pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berpikir.” ([1])
Sahabat Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma menjelaskan bahwa al-mawaddah adalah kecintaan seorang suami kepada istrinya, sedangkan ar-rahmah adalah rasa belas kasih dan perlindungannya agar sang istri tidak tertimpa keburukan([2]).
Ketika usia mulai menua dan keelokan fisik perlahan memudar, cinta yang bertumpu pada hawa nafsu akan sirna. Namun, cinta yang dibangun atas dasar iman dan kasih sayang (rahmah) justru akan semakin mengakar dan menguat([3]).
- Rumah Tangga sebagai Majelis Iman
Menua bersama dalam majelis iman bermakna menjadikan rumah sebagai madrasah zikir, tempat suami dan istri saling menyemangati dalam ketaatan. Rasulullah ﷺ bersabda:
«قَلْبًا شَاكِرًا، وَلِسَانًا ذَاكِرًا، وَزَوْجَةً صَالِحَةً تُعِينُكَ عَلَى أَمْرِ دُنْيَاكَ وَدِينِكَ، خَيْرُ مَا اكْتَنَزَ النَّاسُ»
“Hati yang senantiasa bersyukur, lisan yang senantiasa berzikir, dan pasangan shalihah yang membantumu dalam urusan dunia dan agamamu adalah sebaik-baik perbendaharaan yang disimpan oleh manusia.” ([4])
Keindahan hidup berumah tangga mencapai puncaknya tatkala sepasang suami-istri saling membangunkan di keheningan malam untuk bersujud di hadapan Allah.
Diriwayatkan dari Abu Hurairah radhiyallaahu ‘anhu, Rasulullah ﷺ bersabda:
«رَحِمَ اللهُ رَجُلًا قَامَ مِنَ اللَّيْلِ فَصَلَّى وَأَيْقَظَ امْرَأَتَهُ، فَإِنْ أَبَتْ نَضَحَ فِي وَجْهِهَا الْمَاءَ، رَحِمَ اللهُ امْرَأَةً قَامَتْ مِنَ اللَّيْلِ وَصَلَّتْ وَأَيْقَظَتْ زَوْجَهَا، فَإِنْ أَبَى نَضَحَتْ فِي وَجْهِهِ الْمَاءَ»
“Semoga Allah merahmati seorang laki-laki yang bangun pada waktu malam lalu shalat dan membangunkan istrinya, jika istrinya enggan ia memercikkan air ke wajahnya. Dan semoga Allah merahmati seorang wanita yang bangun pada waktu malam lalu shalat dan membangunkan suaminya, jika suaminya enggan ia memercikkan air ke wajahnya.” ([5])
Bahkan ketika keduanya bangun dan mengerjakan shalat malam bersama walau hanya dua rakaat, Allah mencatat mereka berdua ke dalam golongan hamba-hamba yang banyak mengingat Allah (adz-dzākirīnaLLāha katsīran wadz-dzākirāt)([6]).
- Pasangan Shalih/Shalihah: Sebaik-Baik Perhiasan Dunia
Dunia ini penuh dengan perhiasan yang memikat, namun tiada yang lebih berharga daripada pendamping hidup yang shalih dan bertakwa.
Rasulullah ﷺ bersabda:
«الدُّنْيَا مَتَاعٌ، وَخَيْرُ مَتَاعِ الدُّنْيَا الْمَرْأَةُ الصَّالِحَةُ»
“Dunia ini adalah perhiasan, dan sebaik-baik perhiasan dunia adalah wanita (pasangan) yang shalihah.” ([7])
Sebagaimana diungkapkan oleh Ibnu Taimiyah, kebersamaan pasangan shalih yang terjalin selama bertahun-tahun melahirkan jalinan kasih sayang dan rahmat yang sangat dalam, sehingga perpisahan di antara mereka terasa begitu berat melebihi hilangnya harta benda([8])
- Puncak Angan: Bersua Kembali di Surga Abadi
Bagi orang-orang yang beriman, kematian bukanlah akhir dari sebuah kisah cinta. Pertemuan di dunia adalah permulaan untuk sebuah reuni akbar di negeri keabadian.
Allah subhaanahu wata’aalaa menjanjikan bahwa orang-orang beriman akan dihimpunkan kembali bersama pasangan dan keturunan mereka yang shalih:
﴿جَنَّاتُ عَدْنٍ يَدْخُلُونَهَا وَمَن صَلَحَ مِنْ آبَائِهِمْ وَأَزْوَاجِهِمْ وَذُرِّيَّاتِهِمْ ۖ وَالْمَلَائِكَةُ يَدْخُلُونَ عَلَيْهِم مِّن كُلِّ بَابٍ﴾
“(Yaitu) surga-surga ‘Adn, mereka masuk ke dalamnya bersama dengan orang-orang yang shalih dari nenek moyangnya, pasangan-pasangannya, dan anak cucunya, sedang para malaikat masuk ke tempat-tempat mereka dari semua pintu.” ([9])
Allah juga menyeru kepada para kekasih-Nya di hari kiamat:
﴿ادْخُلُوا الْجَنَّةَ أَنتُمْ وَأَزْوَاجُكُمْ تُحْبَرُونَ﴾
“Masuklah kamu ke dalam surga, kamu dan pasangan-pasanganmu akan digembirakan (dengan penuh kemuliaan).” ([10])
Makna kata tuhbarūn menurut para mufasir adalah diliputi oleh kebahagiaan dan kenikmatan yang memancar indah pada raut wajah mereka([11]).
Penutup: Renungan dan Doa
Angan untuk menua bersama dalam cinta dan kasih sayang bukanlah sekadar untaian kata puitis, melainkan sebuah komitmen ibadah yang panjang.
– Rawatlah rasa cinta dengan saling memaafkan kekhilafan, menutupi kekurangan, dan saling berwasiat dalam kebenaran dan kesabaran.
– Jadikanlah rumah tangga sebagai majelis tempat mendekatkan diri kepada Allah, saling menuntun dalam ketaatan, dan saling mendoakan dalam sujud-sujud panjang di sepertiga malam terakhir.
Semoga Allah subhaanahu wata’aalaa mengaruniakan kepada setiap keluarga Muslim kebersamaan yang penuh berkah di dunia, serta menghimpunkan kembali di surga-Nya kelak dalam kebahagiaan yang tiada bertepi.
Aamiin.
________________
Footnote:
([1]) Tafsir al-Quran al-Thari al-Jami (21/45); Tafsir Ibn Ashur al-Tahrir wa al-Tanwir (21/70)
([2]) Tafsir al-Quran al-Karim wa Irabuhu wa Bayanuhu (7/256); Safwat al-Tafasir (2/438)
([3]) Tafsir Ibn Kathir (6/88); al-Asas fi al-Tafsir (8/4266)
([4]) al-Diya al-Lami min Sahih al-Kutub al-Sitta wa Sahih al-Jami (1/350); al-Matalib al-Aliya Muhaqqaqan (13/80)
([5]) Tafsir Ahmad Hutaiba (247/7); Mukhtasar Qiyam al-Layl wa Qiyam Ramadan wa Kitab al-Witr (1/100); Sharh Sunan Abi Dawud lil-Ubbad (175/10)
([6]) Tafsir Ahmad Hutaiba (247/7); Mukhtasar Qiyam al-Layl wa Qiyam Ramadan wa Kitab al-Witr (1/100); al-Jami al-Sahih lil-Sunan wa al-Masanid (27/79)
([7]) al-Diya al-Lami min Sahih al-Kutub al-Sitta wa Sahih al-Jami (1/350); Husn al-Uswa bima Thabata min Allah wa Rasulihi fi al-Niswa (1/523); Ghitha al-Albab fi Sharh Manzumat al-Adab (2/415)
([8]) Mawqi al-Islam Su’al wa Jawab (6/30)
([9]) Mawqi al-Islam Su’al wa Jawab (1/351); al-Tafsir al-Hadith (4/356)
([10]) Mawqi al-Islam Su’al wa Jawab (1/351); al-Asas fi al-Tafsir (9/5164); Adwa al-Bayan fi Idah al-Quran bil-Quran (7/142)
([11]) al-Asas fi al-Tafsir (9/5164); Tafsir al-Quran al-Karim (104/9)






