Sesungguhnya orang yang melewati (memberikan kelonggaran) kepada orang yang berkesulitan, yang telah dia berikan harta kepadanya, lalu memberikan tangguh kepadanya, kemudian menghadiahkannya kepadanya setelah Allah menjadikannya kaya, maka ia adalah orang pandai bersyukur dengan sebenar-benarnya, sementara Allah tidak akan menyia-nyiakan pahala orang yang memperbagusi amalnya.
Allah ﷻ berfirman,
وَمَا تَفعَلُواْ مِن خَيرٍ يَعلَمهُ ٱللَّهُۗ
“… dan apa yang kamu kerjakan berupa kebaikan, niscaya Allah mengetahuinya…” (QS. al-Baqarah (2): 197)
Nabi ﷺ bersabda,
«حُوسِبَ رَجُلٌ مِمَّنْ كَانَ قَبْلَكُمْ، فَلَمْ يُوجَدْ لَهُ مِنَ الْخَيْرِ شَيْءٌ، إِلَّا أَنَّهُ كَانَ يُخَالِطُ النَّاسَ، وَكَانَ مُوسِرًا، فَكَانَ يَأْمُرُ غِلْمَانَهُ أَنْ يَتَجَاوَزُوا عَنِ الْمُعْسِرِ»، قَالَ: «قَالَ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ: نَحْنُ أَحَقُّ بِذَلِكَ مِنْهُ، تَجَاوَزُوا عَنْهُ»
“Seorang lelaki dari kalangan orang-orang sebelum kalian dihisab; maka tidak ditemukanlah untuknya sedikit kebaikanpun, kecuali bahwa dulu dia biasa bergaul dengan manusia, dan dulu dia adalah seorang suka memberikan kemudahan. Dia biasa menyuruh pembantu-pembantunya agar mereka melawati (memberikan tangguh, meringankan beban) dari orang-orang yang berkesulitan.’ Beliau bersabda, ‘Allah ﷻ berfirman, ‘Kita lebih berhak dengan yang demikian daripadanya, maka lewatilah (berikanlah kemudahan kepada) dia.”([1])
(Sumber: Mi-atu washilatin liyuhibbakallaahu warasuuluhuu, Sayyid Mubarok (Abu Bilal), dialih bahasakan oleh: Abu Rofi’ Muhammad Syahri)
______________________
Footnote:






