Mereka Yang Dirahmati (28) Takut kepada Allah ‘Azza wa Jalla

Dari Abu Sa’id radhiyallahu ‘anhu: dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam:

 

«أَنَّ رَجُلًا كَانَ قَبْلَكُمْ رَغَسَهُ اللهُ مَالًا ، فَقَالَ لِبَنِيهِ لَمَّا حُضِرَ : أَيَّ أَبٍ كُنْتُ لَكُمْ ؟ قَالُوا : خَيْرَ أَبٍ . قَالَ : فَإِنِّي لَمْ أَعْمَلْ خَيْرًا قَطُّ ، فَإِذَا مُتُّ فَأَحْرِقُونِي ثُمَّ اسْحَقُونِي ثُمَّ ذَرُّونِي فِي يَوْمٍ عَاصِفٍ ، فَفَعَلُوا ، فَجَمَعَهُ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ فَقَالَ : مَا حَمَلَكَ ؟ قَالَ : مَخَافَتُكَ ، فَتَلَقَّاهُ بِرَحْمَتِهِ »

 

“Bahwa ada seorang laki-laki sebelum kalian yang Allah karuniai harta yang melimpah, lalu ketika ia hampir mati (menjelang ajal), ia berkata kepada anak-anaknya: ‘Ayah seperti apakah aku bagi kalian?’ Mereka menjawab: ‘Sebaik-baik ayah.’ Ia berkata: ‘Sesungguhnya aku belum pernah melakukan kebaikan sama sekali, maka apabila aku mati, bakarlah aku, kemudian tumbuklah (tulangku) hingga hancur, lalu taburkanlah (abuku) pada hari yang berangin kencang.’ Maka mereka pun melakukannya. Lalu Allah ‘Azza wa Jalla mengumpulkannya kembali (membentuk jasadnya) dan berfirman: ‘Apa yang mendorongmu (berbuat demikian)?’ Ia menjawab: ‘Rasa takutku kepada-Mu.’ Maka Allah menyambutnya dengan rahmat-Nya.” ([1])

 

Dan di dalam sebuah riwayat dari Abu Sa’id radhiyallahu ‘anhu: dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam:

 

«ذَكَرَ رَجُلًا فِيمَنْ كَانَ سَلَفَ أَوْ قَبْلَكُمْ ، آتَاهُ اللهُ مَالًا وَوَلَدًا – يَعْنِي أَعْطَاهُ – قَالَ : فَلَمَّا حُضِرَ قَالَ لِبَنِيهِ : أَيَّ أَبٍ كُنْتُ لَكُمْ ؟ قَالُوا : خَيْرَ أَبٍ . قَالَ : فَإِنَّهُ لَمْ يَبْتَئِرْ عِنْدَ اللهِ خَيْرًا – فَسَّرَهَا قَتَادَةُ : لَمْ يَدَّخِرْ – وَإِنْ يَقْدَمْ عَلَى اللهِ يُعَذِّبْهُ ، فَانْظُرُوا فَإِذَا مُتُّ فَأَحْرِقُونِي حَتَّى إِذَا صِرْتُ فَحْمًا فَاسْحَقُونِي – أَوْ قَالَ : فَاسْهَكُونِي – ثُمَّ إِذَا كَانَ رِيحٌ عَاصِفٌ فَأَذْرُونِي فِيهَا . فَأَخَذَ مَوَاثِيقَهُمْ عَلَى ذَلِكَ ، وَرَبِّي فَفَعَلُوا . فَقَالَ اللهُ : كُنْ ، فَإِذَا رَجُلٌ قَائِمٌ ، ثُمَّ قَالَ : أَيْ عَبْدِي ، مَا حَمَلَكَ عَلَى مَا فَعَلْتَ ؟ قَالَ : مَخَافَتُكَ – أَوْ فَرَقٌ مِنْكَ – فَمَا تَلَافَاهُ أَنْ رَحِمَهُ اللهُ »

 

“Beliau menyebutkan tentang seorang laki-laki dari umat terdahulu atau orang sebelum kalian, yang Allah berikan harta dan anak kepadanya —yakni Allah mengaruniainya—. Beliau bersabda: Ketika ia hampir mati, ia berkata kepada anak-anaknya: ‘Ayah seperti apakah aku bagi kalian?’ Mereka menjawab: ‘Sebaik-baik ayah.’ Ia berkata: ‘Sesungguhnya ia tidak pernah menyimpan kebaikan apa pun di sisi Allah —Qatadah menafsirkannya: tidak menabung (amal kebaikan)—, dan jika ia menghadap Allah, niscaya Allah akan mengazabnya. Maka perhatikanlah, jika aku mati nanti bakarlah aku, hingga apabila aku telah menjadi arang, tumbuklah aku —atau ia berkata: hancurkanlah aku—, kemudian apabila ada angin kencang taburkanlah (abuku) ke dalamnya.’ Maka ia mengambil sumpah/perjanjian dari anak-anaknya atas hal itu. Demi Tuhanku, mereka pun benar-benar melakukannya. Lalu Allah berfirman: ‘Jadilah!’ Maka tiba-tiba ia menjadi seorang laki-laki yang berdiri utuh. Kemudian Allah berfirman: ‘Wahai hamba-Ku, apa yang mendorongmu melakukan perbuatanmu itu?’ Ia menjawab: ‘Rasa takutku kepada-Mu —atau rasa ngeriku kepada-Mu—.’ Maka tidak ada (balasan) yang menyusulnya melainkan Allah merahmatinya.” ([2])

 

Dan datang dalam hadits lain tafsiran kata rahmat dengan maghfirah (ampunan), meskipun kata rahmat itu sebenarnya lebih mencakup dan lebih umum (maknanya).

 

Dari Hudzaifah radhiyallahu ‘anhu, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau bersabda:

 

«كَانَ رَجُلٌ مِمَّنْ كَانَ قَبْلَكُمْ يُسِيءُ الظَّنَّ بِعَمَلِهِ، فَقَالَ لِأَهْلِهِ : إِذَا أَنَا مُتُّ فَخُذُونِي فَذَرُّونِي فِي الْبَحْرِ فِي يَوْمٍ صَائِفٍ ، فَفَعَلُوا بِهِ، فَجَمَعَهُ اللهُ ثُمَّ قَالَ : مَا حَمَلَكَ عَلَى الَّذِي صَنَعْتَ ؟ قَالَ : مَا حَمَلَنِي إِلَّا مَخَافَتُكَ ، فَغَفَرَ لَهُ»

 

“Ada seorang laki-laki dari kalangan (umat) sebelum kalian yang berprasangka buruk terhadap amalannya (merasa amalnya sangat buruk), maka ia berkata kepada keluarganya: ‘Apabila aku mati, bawalah aku lalu taburkanlah (abuku) ke laut pada hari yang sangat panas terik.’ Maka mereka pun melakukannya kepadanya. Lalu Allah mengumpulkannya kembali dan berfirman: ‘Apa yang mendorongmu atas apa yang telah engkau lakukan?’ Ia menjawab: ‘Tidak ada yang mendorongku melainkan rasa takutku kepada-Mu.’ Maka Allah pun mengampuninya.”

 

Penjelasan Al-Hafizh Ibnu Hajar Al-Asqalani

 

Dan Imam Al-Bukhari rahimahullah memberikan judul bab atas hadits ini: (Bab Khauf (Takut) Kepada Allah ‘Azza wa Jalla).

 

Ibnu Hajar rahimahullah berkata([3]): “Perkataannya (Bab Takut Kepada Allah ‘Azza wa Jalla): Ini termasuk kedudukan spiritual (maqam) yang luhur, dan merupakan salah satu kelaziman dari keimanan. Allah Ta’ala berfirman: [وَخَافُونِ إِنْ كُنْتُمْ مُؤْمِنِينَ] {Dan takutlah kepada-Ku saja, jika kamu orang-orang yang beriman} (QS. Ali ‘Imran: 175).

 

Dan Allah Ta’ala berfirman: [فَلَا تَخْشَوُا النَّاسَ وَاخْشَوْنِ] {Maka janganlah kamu takut kepada manusia, (tetapi) takutlah kepada-Ku} (QS. Al-Ma’idah: 44).

 

Dan Allah Ta’ala berfirman: [إِنَّمَا يَخْشَى اللَّهَ مِنْ عِبَادِهِ الْعُلَمَاءُ] {Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya, hanyalah ulama} (QS. Fathir: 28).

 

Dan telah berlalu hadits:

 

أَنَا أَعْلَمُكُمْ بِاللهِ وَأَشَدُّكُمْ لَهُ خَشْيَةً

 

“Aku adalah orang yang paling mengetahui tentang Allah di antara kalian dan yang paling takut kepada-Nya.”

 

Semakin dekat seorang hamba kepada Rabb-nya, maka ia akan semakin kuat rasa takutnya dibandingkan dengan orang yang derajatnya di bawahnya. Allah Ta’ala telah menyifati para malaikat dengan firman-Nya:

 

[يَخَافُونَ رَبَّهُمْ مِنْ فَوْقِهِمْ] {Mereka takut kepada Tuhan mereka yang (berkuasa) di atas mereka} (QS. An-Nahl: 50).

 

Dan menyifati para nabi dengan firman-Nya:

 

الَّذِينَ يُبَلِّغُونَ رِسَالَاتِ اللهِ وَيَخْشَوْنَهُ وَلَا يَخْشَوْنَ أَحَدًا إِلَّا اللهَ

 

“(Yaitu) orang-orang yang menyapaikan risalah-risalah Allah, mereka takut kepada-Nya dan mereka tiada merasa takut kepada seorang(pun) selain kepada Allah.” (QS. Al-Ahzab: 39).

 

Dan sesungguhnya rasa takut orang-orang yang didekatkan (al-muqarrabin) itu jauh lebih kuat, dikarenakan mereka dituntut (oleh Allah) dengan tuntutan yang tidak dituntutkan kepada orang selain mereka, sehingga mereka sangat menjaga kedudukan tersebut. Dan juga karena kewajiban hamba kepada Allah adalah bersyukur atas kedudukan tersebut, maka (tuntutannya) dilipatgandakan sebanding dengan tingginya kedudukannya itu. Oleh karena itu, seorang hamba, jika ia (orang yang) lurus (istiqamah), maka ketakutannya adalah takut dari akhir hayat yang buruk (su’ul khatimah), berdasarkan firman Allah Ta’ala:

 

يَحُولُ بَيْنَ الْمَرْءِ وَقَلْبِهِ

 

{Bahwa sesungguhnya Allah membatasi antara manusia dan hatinya} (QS. Al-Anfal: 24), atau takut derajatnya berkurang (di sisi Allah).

 

Namun, jika ia (orang yang) menyimpang dari ketaatan, maka ketakutannya adalah karena keburukan perbuatannya. Rasa takut tersebut akan bermanfaat baginya apabila disertai dengan penyesalan dan berhenti (dari berbuat dosa). Sebab, rasa takut itu sejatinya muncul dari pengetahuan akan buruknya dosa, pembenaran (keyakinan) terhadap ancaman atas dosa tersebut, serta ketakutan bila terhalang dari bertaubat, atau (ketakutan) bila ia tidak termasuk ke dalam golongan orang yang Allah kehendaki untuk diampuni. Maka ia pun merasa khawatir (merinding) atas dosanya, seraya terus memohon kepada Rabb-nya agar Dia memasukkannya ke dalam golongan orang-orang yang diampuni-Nya. Dan masuk pula ke dalam bab ini hadits yang ada sebelumnya, yang di dalamnya terdapat sabda beliau:

 

وَرَجُلٌ دَعَتْهُ امْرَأَةٌ ذَاتُ مَنْصِبٍ وَجَمَالٍ ، فَقَالَ : إِنِّي أَخَافُ اللهَ

 

“Dan seorang laki-laki yang diajak (berbuat zina) oleh wanita yang memiliki kedudukan (bangsawan) dan kecantikan, lalu ia berkata: Sesungguhnya aku takut kepada Allah.”

 

Dan sabda beliau shallallahu ‘alaihi wasallam: [فَمَا تَلَافَاهُ أَنْ رَحِمَهُ] “Maka tidak ada (balasan) yang menyusulnya melainkan Allah merahmatinya”, artinya adalah: (Allah) menyusulnya (menyelamatkannya). Huruf maa (مَا) pada lafaz tersebut bisa jadi merupakan maushulah (kata sambung), yang maknanya: ‘yang menyusulnya adalah rahmat’. Atau huruf maa (مَا) tersebut berstatus nafiyah (peniadaan), sementara bentuk istitsna’ (pengecualian)-nya dibuang (dihapus). Atau bisa juga kata ganti (dhamir) pada lafaz talafahu merujuk pada amal perbuatan laki-laki tersebut. Sungguh telah berlalu penjelasan mengenai perbedaan pendapat dalam lafaz ini di bagian sana (bab sebelumnya).

 

Dan di dalam hadits riwayat Hudzaifah disebutkan: [فَغَفَرَ لَهُ] “Maka Dia mengampuninya”, demikian juga di dalam hadits Abu Hurairah.

 

Ia (Ibnu Hajar) berkata: Di dalam hadits ini terdapat kebolehan menamai sesuatu dengan apa yang sudah dekat/menghampirinya; karena ia berkata “kematian telah menghampirinya”, padahal sesungguhnya yang menghampirinya pada keadaan tersebut hanyalah tanda-tanda kematian itu. Di dalam hadits ini juga terdapat (dalil tentang) keutamaan umat Muhammad (umat Islam) karena mereka telah diberi keringanan dengan tidak dibebankan belenggu-belenggu berat semacam ini, dan Allah telah mengaruniakan kepada mereka agama Hanifiyah (yang lurus) lagi toleran/mudah. Dan di dalamnya juga terdapat keagungan kekuasaan Allah Ta’ala karena Dia mengumpulkan kembali jasad (laki-laki) yang disebutkan itu setelah tercerai-berai dengan perpisahan (kehancuran) yang sangat dahsyat. Aku (Ibnu Hajar) berkata: Dan telah berlalu penjelasan bahwa hal tersebut adalah pemberitaan mengenai apa yang akan terjadi pada hari kiamat kelak, dan ketetapan mengenai hal ini telah dibahas secara memadai (sempurna).

 

وَقَالَ ابْنُ بَطَّالٍ – رَحِمَهُ اللَّهُ –  : فَغَفَرَ اللَّهُ لَهُ بِشِدَّةِ مَخَافَتِهِ ، وَأَقْرَبُ الْوَسَائِلِ إِلَى اللَّهِ خَوْفُهُ وَأَلَّا يَأْمَنَ الْمُؤْمِنُ مَكْرَهُ . قَالَ خَالِدٌ الرِّبْعِيُّ : وَجَدْتُ فَاتِحَةَ زَبُورِ دَاوُدَ : رَأْسُ الْحِكْمَةِ خَشْيَةُ الرَّبِّ . وَكَانَ السَّلَفُ الصَّالِحُ قَدْ أُشْرِبَ الْخَوْفُ مِنَ اللَّهِ قُلُوبَهُمْ وَاسْتَقَلُّوا أَعْمَالَهُمْ وَيَخَافُونَ أَلَّا يُقْبَلَ مِنْهُمْ مَعَ مُجَانَبَتِهِمُ الْكَبَائِرَ .

 

Dan Ibnu Battal rahimahullah berkata([4]) : Maka Allah mengampuninya disebabkan oleh rasa takutnya yang sangat kuat (kepada Allah). Dan perantara (wasilah) yang paling dekat untuk menuju kepada Allah adalah rasa takut kepada-Nya dan hendaklah seorang mukmin tidak merasa aman dari makar (azab)-Nya.

 

Khalid ar-Rib’i berkata: “Aku menemukan pada pembukaan (kitab) Zabur milik Dawud (sebuah tulisan): Pokok dari segala hikmah (kebijaksanaan) adalah takut kepada Tuhan.

 

Dan dahulu, hati para salafus shalih telah diresapi dengan rasa takut kepada Allah, mereka menganggap perbuatan-perbuatan amal mereka begitu sedikit, dan mereka takut amal tersebut tidak diterima dari mereka meskipun mereka telah bersusah payah menjauhi dosa-dosa besar.

 

Maka diriwayatkan dari ‘Aisyah:

 

أَنَّهَا سَأَلَتِ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – عَنْ قَوْلِهِ تَعَالَى : { وَالَّذِينَ يُؤْتُونَ مَا آتَوْا وَقُلُوبُهُمْ وَجِلَةٌ } [المؤمنون : 60] ، قَالَ : «يَا ابْنَةَ الصِّدِّيقِ، هُمُ الَّذِينَ يُصَلُّونَ وَيَصُومُونَ وَيَتَصَدَّقُونَ ، وَيَخَافُونَ أَلَّا يُقْبَلَ مِنْهُمْ»

 

Bahwa ia pernah bertanya kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam mengenai firman Allah Ta’ala: {Dan orang-orang yang memberikan apa yang telah mereka berikan, dengan hati yang takut} (QS. Al-Mu’minun: 60), beliau pun menjawab: “Wahai putri Ash-Shiddiq, mereka itu adalah orang-orang yang shalat, berpuasa, dan bersedekah, namun (bersamaan dengan itu) mereka takut apabila (amalan tersebut) tidak diterima dari mereka.”

 

Mutharrif bin Abdullah berkata:

 

كَادَ خَوْفُ النَّارِ يَحُولُ بَيْنِي وَبَيْنَ أَنْ أَسْأَلَ اللهَ الْجَنَّةَ

 

“Hampir-hampir rasa takut kepada neraka menghalangiku dari meminta surga kepada Allah.”

 

Dan Bakr berkata, ketika ia melihat orang-orang yang sedang wukuf di Arafah:

 

ظَنَنْتُ أَنَّهُ قَدْ غُفِرَ لَهُمْ لَوْلَا أَنِّي كُنْتُ مَعَهُمْ .

 

“Aku mengira bahwa mereka (semua) pasti telah diampuni, seandainya saja aku tidak berada di tengah-tengah mereka.”

 

Maka inilah sifat orang-orang yang berilmu (mengenal) Allah dan yang takut kepada-Nya. Mereka menganggap diri mereka sendiri termasuk golongan orang-orang yang zalim dan bersalah, padahal mereka terlepas dan bersih dari hal itu, namun mereka mensejajarkan diri dengan orang-orang yang meremehkan amal. Mereka adalah orang-orang yang cerdik lagi bersungguh-sungguh (dalam beribadah) namun tidak pernah mengandalkan amal perbuatan untuk menuntut sesuatu (kepada-Nya). Mereka senantiasa diliputi rasa terkejut (khawatir), khusyuk, dan gemetar.

 

Dan Abdullah bin Mas’ud berkata:

 

وَدِدْتُ أَنِّي انْفَلَقْتُ عَنْ رَوْثَةٍ لَا أَنْتَسِبُ إِلَّا إِلَيْهَا، فَيُقَالُ : عَبْدُ اللهِ بْنُ رَوْثَةٍ، وَأَنَّ اللهَ قَدْ غَفَرَ لِي ذَنْبًا وَاحِدًا .

 

“Aku sangat berharap seandainya aku dibelah dari sekepal kotoran hewan dan aku tidak dinisbatkan kecuali kepadanya, lalu namaku dipanggil: Abdullah bin Kotoran Hewan, asalkan Allah sungguh-sungguh mengampuni satu dosa saja dari (dosa-dosa)ku.”

 

Dan Al-Hasan Al-Bashri berkata:

 

يَخْرُجُ مِنَ النَّارِ رَجُلٌ بَعْدَ أَلْفِ عَامٍ ، وَلَيْتَنِي كُنْتُ ذَلِكَ الرَّجُلَ ، لَقَدْ شَهِدْتُ أَقْوَامًا كَانُوا أَزْهَدَ فِيمَا أُحِلَّ لَهُمْ مِنْكُمْ فِيمَا حُرِّمَ عَلَيْكُمْ ، وَلَهُمْ كَانُوا أَبْصَرَ بِقُلُوبِهِمْ مِنْكُمْ بِأَبْصَارِكُمْ ، وَلَهُمْ كَانُوا أَشْفَقَ أَنْ لَا تُقْبَلَ حَسَنَاتُهُمْ مِنْكُمْ أَلَّا تُؤْخَذُوا بِسَيِّئَاتِكُمْ . وَقَالَ حَكِيمٌ مِنَ الْحُكَمَاءِ : إِذَا أَرَدْتَ أَنْ تَعْلَمَ قَدْرَكَ عِنْدَ اللَّهِ فَاعْلَمْ قَدْرَ طَاعَةِ اللهِ فِي قَلْبِكَ . وَقَالَ مَيْمُونُ بْنُ مِهْرَانَ : مَا فِينَا خَيْرٌ إِلَّا أَنَّا نَظَرْنَا إِلَى قَوْمٍ رَكِبُوا الْجَرَائِمَ وَعَفَفْنَا عَنْهَا ، فَظَنَنَّا أَنَّ فِينَا خَيْرًا وَلَيْسَ فِينَا خَيْرٌ .

 

“Kelak akan keluar seorang laki-laki dari api neraka setelah berlalu seribu tahun, dan aduhai seandainya akulah laki-laki tersebut. Sungguh, aku telah menyaksikan orang-orang (generasi salaf) yang mereka bersikap jauh lebih zuhud (meninggalkan) terhadap hal yang dihalalkan bagi mereka, dibandingkan dengan kalian terhadap hal yang diharamkan atas kalian. Dan sungguh mereka jauh lebih awas/melihat tajam menggunakan mata hati mereka, dibandingkan penglihatan mata (kepala) kalian. Dan sungguh mereka jauh lebih khawatir jika kebaikan-kebaikan mereka tidak diterima, dibandingkan kekhawatiran kalian akan disiksa karena keburukan-keburukan kalian.” Dan salah seorang Hakim (ahli hikmah) berkata: “Jika engkau ingin mengetahui seberapa besar kedudukanmu di sisi Allah, maka ketahuilah seberapa besar kedudukan ketaatan kepada Allah di dalam hatimu.” Dan Maimun bin Mihran berkata: “Tidak ada kebaikan sama sekali di dalam diri kita, kecuali hanya karena kita melihat kepada sekelompok orang yang menerjang kejahatan lalu kita menjaga kehormatan (menahan diri) dari perbuatan tersebut, sehingga kita mengira bahwa pada diri kita ini ada kebaikan, padahal (sejatinya) tidak ada kebaikan (yang bisa dibanggakan) pada diri kita.”

 

Jika ada seseorang yang bertanya: “Bagaimana bisa orang ini diampuni, padahal ia telah berwasiat kepada keluarganya agar membakarnya (setelah ia mati) dan ia telah jahil (ragu/tidak tahu) terhadap kekuasaan Allah untuk menghidupkannya kembali, yaitu saat ia mengatakan:

 

«إِنْ يَقْدِرْ عَلَيَّ اللهُ يُعَذِّبْنِي»

 

“Jika Allah berkuasa atasku, niscaya Dia akan mengazabku”, dan di dalam riwayat yang lain ia mengatakan:

 

فَوَاللهِ لَئِنْ قَدَرَ اللهُ عَلَيَّ لَيُعَذِّبَنِّي

 

“Maka demi Allah, seandainya Allah menakdirkan (kekuasaan-Nya) atasku, niscaya Dia akan mengazabku”?”

 

وَبِالْخَوْفِ وَالتَّوْبَةِ نَجَا مِنْ عَذَابِهِ عَزَّ وَجَلَّ .

 

Imam Ath-Thabari berkata: Telah dikatakan: Sesungguhnya manusia (para ulama) telah berbeda pendapat dalam menakwilkan makna hadits ini. Maka sebagian dari mereka berkata: Adapun pemaafan (ampunan) dari Allah atas maksiat-maksiat yang telah ia lakukan di masa sehatnya; hal itu adalah karena penyesalannya terhadap dosa-dosa tersebut dan taubatnya darinya menjelang kematiannya. Oleh karena itulah ia memerintahkan anak-anaknya untuk membakar tubuhnya dan menaburkan abunya di daratan maupun lautan, semata-mata karena rasa takut dari hukuman Tuhannya, sementara rasa penyesalan adalah taubat. Sedangkan makna dari riwayat orang yang meriwayatkan:

 

فَوَاللهِ لَئِنْ قَدَرَ اللهُ عَلَيْهِ

 

“Maka demi Allah, seandainya Allah men-qadar atasnya”, artinya adalah: menyempitkannya (menyempitkan hukumannya).

 

Hal ini semisal dengan firman-Nya: [وَمَنْ قُدِرَ عَلَيْهِ رِزْقُهُ] {Dan orang yang disempitkan rezekinya} (QS. Ath-Thalaq: 7), dan juga firman-Nya:

 

[وَأَمَّا إِذَا مَا ابْتَلَاهُ فَقَدَرَ عَلَيْهِ رِزْقَهُ] {Adapun bila Tuhannya mengujinya lalu membatasi (menyempitkan) rezekinya} (QS. Al-Fajr: 16).

 

Jadi ia tidaklah bermaksud dengan perkataan itu untuk menyifati Penciptanya dengan sifat lemah (tidak mampu) untuk menghidupkannya kembali. Penafsiran ini diperjelas oleh perkataannya sendiri di dalam hadits itu, tepatnya ketika Rabb-nya menghidupkannya kembali:

 

[قَالَ : مَا حَمَلَكَ عَلَى مَا صَنَعْتَ ؟ قَالَ : مَخَافَتُكَ يَا رَبِّ] “Dia (Allah) berfirman: ‘Apa yang mendorongmu atas apa yang telah engkau lakukan?’ Ia menjawab: ‘(Karena) Rasa takutku kepada-Mu wahai Tuhanku.'” Maka, melalui rasa takut dan taubat itulah ia selamat dari azab Allah ‘Azza wa Jalla.

 

Allah Ta’ala berfirman:

 

إِنَّ الَّذِينَ يَخْشَوْنَ رَبَّهُمْ بِالْغَيْبِ لَهُمْ مَغْفِرَةٌ وَأَجْرٌ كَبِيرٌ

 

“Sesungguhnya orang-orang yang takut kepada Tuhannya yang tidak nampak oleh mereka, mereka akan memperoleh ampunan dan pahala yang besar.” (QS. Al-Mulk: 12).

 

(Allah) Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang berfirman:

 

اعْلَمُوا أَنَّ اللهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ وَأَنَّ اللهَ غَفُورٌ رَحِيمٌ

 

“Ketahuilah, bahwa sesungguhnya Allah amat berat siksa-Nya dan bahwa sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Al-Ma’idah: 98).

 

Dan sungguh Al-‘Allamah Al-Albani telah mengumpulkan (menggabungkan) beberapa lafaz riwayat dari hadits ini:

 

«كَانَ رَجُلٌ مِمَّنْ كَانَ قَبْلَكُمْ لَمْ يَعْمَلْ خَيْراً قَطُّ إِلَّا التَّوْحِيدَ، فَلَمَّا احْتُضِرَ قَالَ لِأَهْلِهِ : انْظُرُوا إِذَا أَنَا مِتُّ أَنْ يُحَرِّقُوهُ حَتَّى يَدَعُوهُ حُمَماً، ثُمَّ اطْحَنُوهُ، ثُمَّ اذْرُوهُ فِي يَوْمِ رِيحٍ [ثُمَّ اذْرُوا نِصْفَهُ فِي الْبَرِّ وَنِصْفَهُ فِي الْبَحْرِ، فَوَاللهِ لَئِنْ قَدَرَ اللهُ عَلَيْهِ لَيُعَذِّبَنَّهُ عَذَاباً لَا يُعَذِّبُهُ أَحَداً مِنَ الْعَالَمِينَ]، فَلَمَّا مَاتَ فَعَلُوا ذَلِكَ بِهِ [فَأَمَرَ اللهُ الْبَرَّ فَجَمَعَ مَا فِيهِ وَأَمَرَ الْبَحْرَ فَجَمَعَ مَا فِيهِ] فَإِذَا هُوَ [قَائِمٌ] فِي قَبْضَةِ اللهِ، فَقَالَ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ: يَا ابْنَ آدَمَ مَا حَمَلَكَ عَلَى مَا فَعَلْتَ؟ قَالَ : أَيْ رَبِّ مِنْ مَخَافَتِكَ – وَفِي رِوَايَةٍ : مِنْ خَشْيَتِكَ – وَأَنْتَ أَعْلَمُ. قَالَ : فَغَفَرَ لَهُ بِهَا وَلَمْ يَعْمَلْ خَيْراً قَطُّ إِلَّا التَّوْحِيدَ»

 

“Ada seorang laki-laki dari kalangan (umat) sebelum kalian yang tidak pernah melakukan kebaikan sama sekali kecuali (hanya memiliki) tauhid. Maka ketika ia hampir mati (menjelang ajal), ia berkata kepada keluarganya: ‘Perhatikanlah, apabila aku mati agar mereka membakarnya hingga menjadikannya arang, kemudian tumbuklah, lalu taburkanlah (abunya) pada hari yang berangin kencang [kemudian taburkanlah separuhnya di daratan dan separuhnya lagi di lautan. Maka demi Allah, seandainya Allah men-qadar (berkuasa/menyempitkan hukumannya) atasnya, niscaya Dia benar-benar akan mengazabnya dengan azab yang tidak pernah ditimpakan kepada seorang pun dari seluruh alam]’. Maka ketika ia mati, mereka pun melakukan hal itu kepadanya. [Lalu Allah memerintahkan daratan untuk mengumpulkan apa yang ada padanya, dan memerintahkan lautan untuk mengumpulkan apa yang ada padanya]. Maka tiba-tiba ia [berdiri utuh] di dalam genggaman Allah. Lalu Allah ‘Azza wa Jalla berfirman: ‘Wahai anak Adam, apa yang mendorongmu (melakukan) atas apa yang telah engkau lakukan?’ Ia menjawab: ‘Wahai Tuhanku, karena rasa takutku kepada-Mu —dan dalam sebuah riwayat: karena rasa takut (khasyah)-ku kepada-Mu— dan Engkau lebih mengetahui.’ Ia (Nabi) bersabda: Maka Allah pun mengampuninya disebabkan hal (rasa takut) tersebut, padahal ia tidak pernah melakukan kebaikan sama sekali kecuali tauhid.” ([5])

 

(30 Sababan Li Tunaala Rahmatullaahi Ta’aalaa, Abu Abdirrahman Sulthan ‘Aliy, alih bahasa Muhammad Syahri)

________________________________________

Footnote:

([1]) Muttafaq ‘alaih (disepakati keshahihannya oleh Al-Bukhari dan Muslim), dan lafaz ini adalah milik Al-Bukhari.

([2]) Muttafaq ‘alaih, dan lafaz ini adalah milik Al-Bukhari.

([3]) Fathul Bari karya Ibnu Hajar – (Juz 18 / Hal. 306).

([4]) Syarh Ibnu Battal ‘ala Al-Bukhari – (Juz 19 / Hal. 253).

([5]) Silsilah Al-Ahadits Ash-Shahihah karya Al-Albani nomor [3048].

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *