- Ketakwaan dan jalan-jalannya:
Berupa doa, kesabaran, kejujuran (kebenaran), ketaatan (qunut), infak, dan istighfar.
قُلْ أَؤُنَبِّئُكُمْ بِخَيْرٍ مِنْ ذَلِكُمْ ۚ لِلَّذِينَ اتَّقَوْا عِنْدَ رَبِّهِمْ جَنَّاتٌ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا وَأَزْوَاجٌ مُطَهَّرَةٌ وَرِضْوَانٌ مِنَ اللَّهِ ۗ وَاللَّهُ بَصِيرٌ بِالْعِبَادِ 15 الَّذِينَ يَقُولُونَ رَبَّنَا إِنَّنَا آمَنَّا فَاغْفِرْ لَنَا ذُنُوبَنَا وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ 16 الصَّابِرِينَ وَالصَّادِقِينَ وَالْقَانِتِينَ وَالْمُنْفِقِينَ وَالْمُسْتَغْفِرِينَ بِالْأَسْحَارِ 17
“Katakanlah: “Maukah aku kabarkan kepadamu apa yang lebih baik dari yang demikian itu?”. Untuk orang-orang yang bertakwa (kepada Allah), pada sisi Tuhan mereka ada surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai; mereka kekal di dalamnya. Dan (mereka dikaruniai) isteri-isteri yang disucikan serta keridhaan Allah. Dan Allah Maha Melihat akan hamba-hamba-Nya. (Yaitu) orang-orang yang berdoa: Ya Tuhan kami, sesungguhnya kami telah beriman, maka ampunilah segala dosa kami dan peliharalah kami dari siksa neraka. (Yaitu) orang-orang yang sabar, yang benar, yang tetap taat, yang menafkahkan hartanya (di jalan Allah), dan yang memohon ampun di waktu sahur.” (QS. Ali ‘Imran).
Al-Hafizh Ibnu Katsir rahimahullah berkata([1]):
Oleh karena itu Allah Ta’ala berfirman:
[{قُلْ أَؤُنَبِّئُكُمْ بِخَيْرٍ مِنْ ذَلِكُمْ}]{Katakanlah: “Maukah aku kabarkan kepadamu apa yang lebih baik dari yang demikian itu?”} Yakni: Katakanlah wahai Muhammad kepada manusia, maukah aku kabarkan kepada kalian sesuatu yang lebih baik dari apa yang dijadikan terasa indah bagi manusia di kehidupan dunia ini berupa perhiasan dan kenikmatannya, yang pasti akan fana (hilang).
Kemudian Allah mengabarkan hal tersebut dengan berfirman:
[لِلَّذِينَ اتَّقَوْا عِنْدَ رَبِّهِمْ جَنَّاتٌ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ] {Untuk orang-orang yang bertakwa (kepada Allah), pada sisi Tuhan mereka ada surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai} Yakni: Sungai-sungai mengalir membelah sisi-sisi dan penjurunya, terdiri dari berbagai jenis minuman; dari madu, susu, khamr (yang tidak memabukkan), air, dan lain sebagainya, dari hal-hal yang belum pernah dilihat oleh mata, belum pernah didengar oleh telinga, dan belum pernah terlintas di dalam hati manusia.
[خَالِدِينَ فِيهَا] {mereka kekal di dalamnya} Yakni: Tinggal di dalamnya selama-lamanya, mereka tidak ingin berpindah darinya.
[وَأَزْوَاجٌ مُطَهَّرَةٌ] {Dan (mereka dikaruniai) isteri-isteri yang disucikan} Yakni: Disucikan dari kotoran, najis, hal yang menjijikkan, haid, nifas, dan hal-hal lain yang menimpa wanita di dunia.
[وَرِضْوَانٌ مِنَ اللهِ] {serta keridhaan Allah} Yakni: Keridhaan-Nya turun kepada mereka, sehingga Dia tidak akan pernah murka kepada mereka setelahnya untuk selama-lamanya. Oleh karena itu Allah Ta’ala berfirman pada ayat lain di surat Bara’ah (At-Taubah):
[وَرِضْوَانٌ مِنَ اللهِ أَكْبَرُ]{Dan keridhaan Allah adalah lebih besar} (QS. At-Taubah: 72) Yakni: Lebih agung daripada kenikmatan abadi yang Dia berikan kepada mereka.
Kemudian Dia berfirman: [وَاللهُ بَصِيرٌ بِالْعِبَادِ] {Dan Allah Maha Melihat akan hamba-hamba-Nya} Yakni: Dia memberikan kepada masing-masing orang sesuai dengan pemberian yang berhak ia terima.
الَّذِينَ يَقُولُونَ رَبَّنَا إِنَّنَا آمَنَّا فَاغْفِرْ لَنَا ذُنُوبَنَا وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ (16) الصَّابِرِينَ وَالصَّادِقِينَ وَالْقَانِتِينَ وَالْمُنْفِقِينَ وَالْمُسْتَغْفِرِينَ بِالْأَسْحَارِ (17)
“(Yaitu) orang-orang yang berdoa: Ya Tuhan kami, sesungguhnya kami telah beriman, maka ampunilah segala dosa kami dan peliharalah kami dari siksa neraka. (Yaitu) orang-orang yang sabar, yang benar, yang tetap taat, yang menafkahkan hartanya (di jalan Allah), dan yang memohon ampun di waktu sahur.”
Allah Ta’ala menyifati hamba-hamba-Nya yang bertakwa yang Dia janjikan pahala yang melimpah, maka Allah Ta’ala berfirman:
الَّذِينَ يَقُولُونَ رَبَّنَا إِنَّنَا آمَنَّا
{ (Yaitu) orang-orang yang berdoa: Ya Tuhan kami, sesungguhnya kami telah beriman } Yakni: Kepada-Mu, kepada kitab-Mu, dan kepada rasul-Mu.
[فَاغْفِرْ لَنَا ذُنُوبَنَا] { maka ampunilah segala dosa kami } Yakni dengan keimanan kami kepada-Mu dan kepada apa yang Engkau syariatkan kepada kami, maka ampunilah dosa-dosa kami dan kelalaian kami dalam urusan kami, berkat karunia dan rahmat-Mu.
[وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ] { dan peliharalah kami dari siksa neraka }.
Kemudian Allah berfirman: [الصَّابِرِينَ] { orang-orang yang sabar } Yakni: Dalam mendirikan ketaatan dan meninggalkan hal-hal yang diharamkan.
[وَالصَّادِقِينَ] { yang benar } Dalam apa yang mereka beritakan tentang keimanan mereka dengan mengamalkan perbuatan-perbuatan yang berat.
[وَالْقَانِتِينَ] { yang tetap taat (al-qanitin) } Al-Qunut berarti: Ketaatan dan ketundukan.
[وَالْمُنْفِقِينَ] { yang menafkahkan hartanya } Yakni: Dari harta-harta mereka dalam segala bentuk ketaatan yang diperintahkan kepada mereka, menyambung tali silaturahmi dan kerabat, menutupi kekurangan orang lain, dan menyantuni orang-orang yang membutuhkan.
[وَالْمُسْتَغْفِرِينَ بِالْأَسْحَارِ] { dan yang memohon ampun di waktu sahur } Ini menunjukkan keutamaan beristighfar pada waktu sahur.
Telah dikatakan: Sesungguhnya Ya’qub ‘alaihis salam, ketika ia berkata kepada anak-anaknya: [سَوْفَ أَسْتَغْفِرُ لَكُمْ رَبِّي] { Aku akan memohonkan ampunan bagimu kepada Tuhanku } (QS. Yusuf: 98), bahwa ia menunda mereka hingga tiba waktu sahur.
Telah tsabit (sahih) di dalam kitab Ash-Shahihain (Bukhari-Muslim) dan kitab-kitab Musnad serta Sunan lainnya, melalui banyak jalur, dari sekelompok sahabat, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
«يَنْزِلُ اللهُ تَبَارَكَ وَتَعَالَى فِي كُلِّ لَيْلَةٍ إِلَى سَمَاءِ الدُّنْيَا حِينَ يَبْقَى ثُلُثُ اللَّيْلِ الْآخِرُ فَيَقُولُ : هَلْ مِنْ سَائِلٍ فَأُعْطِيَهُ ؟ هَلْ مِنْ دَاعٍ فَأَسْتَجِيبَ لَهُ ؟ هَلْ مِنْ مُسْتَغْفِرٍ فَأَغْفِرَ لَهُ ؟»
“Allah Tabaraka wa Ta’ala turun setiap malam ke langit dunia ketika tersisa sepertiga malam terakhir, lalu Dia berfirman: ‘Adakah yang meminta, maka Aku akan memberinya? Adakah yang berdoa, maka Aku akan mengabulkannya? Adakah yang memohon ampun, maka Aku akan mengampuninya?'” Al-Hadits([2]).
Al-Hafizh Abul Hasan Ad-Daraquthni telah menyusun secara khusus satu juz tersendiri mengenai (hadits) ini dan meriwayatkannya dari berbagai jalur (sanad).
Dan di dalam Ash-Shahihain, dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, ia berkata:
مِنْ كُلِّ اللَّيْلِ قَدْ أَوْتَرَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مِنْ أَوَّلِهِ وَأَوْسَطِهِ وَآخِرِهِ، فَانْتَهَى وِتْرُهُ إِلَى السَّحَرِ
“Pada setiap bagian malam, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pernah melakukan shalat Witir; baik di awal malam, di pertengahannya, maupun di akhirnya, dan (kebiasaan) witir beliau berakhir pada waktu sahur.”([3])
وَكَانَ عَبْدُ اللهِ بْنُ عُمَرَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا يُصَلِّي مِنَ اللَّيْلِ، ثُمَّ يَقُولُ : يَا نَافِعُ، هَلْ جَاءَ السَّحَرُ؟ فَإِذَا قَالَ : نَعَمْ، أَقْبَلَ عَلَى الدُّعَاءِ وَالِاسْتِغْفَارِ حَتَّى يُصْبِحَ
Dan Abdullah bin Umar radhiyallahu ‘anhuma pernah shalat malam, kemudian ia berkata: “Wahai Nafi’, apakah waktu sahur telah tiba?” Jika Nafi’ menjawab: “Ya”, maka ia (Ibnu Umar) pun menyibukkan diri dengan doa dan istighfar hingga masuk waktu subuh. Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Hatim.
Dan Ibnu Jarir berkata: Telah menceritakan kepada kami Ibnu Waki’, telah menceritakan kepada kami ayahku, dari Huraits bin Abi Mathar, dari Ibrahim bin Hathib, dari ayahnya, ia berkata: Aku mendengar seorang laki-laki pada waktu sahur di sudut masjid sedang berdoa:
رَبِّ أَمَرْتَنِي فَأَطَعْتُكَ، وَهَذَا سَحَرٌ، فَاغْفِرْ لِي. فَنَظَرْتُ فَإِذَا ابْنُ مَسْعُودٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ
“Wahai Tuhanku, Engkau telah memerintahkan aku maka aku pun menaati-Mu, dan ini adalah waktu sahur, maka ampunilah aku.” Lalu aku melihat ke arahnya, dan ternyata ia adalah Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu([4])
Dan Ibnu Mardawaih meriwayatkan dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, ia berkata:
كُنَّا نُؤْمَرُ إِذَا صَلَّيْنَا مِنَ اللَّيْلِ أَنْ نَسْتَغْفِرَ فِي آخِرِ السَّحَرِ سَبْعِينَ مَرَّةً .
“Kami diperintahkan apabila telah selesai melaksanakan shalat malam agar kami beristighfar di akhir waktu sahur sebanyak tujuh puluh kali.”
- Mengikuti apa yang dibawa oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam baik berupa Al-Kitab (Al-Qur’an) maupun As-Sunnah:
يَا أَهْلَ الْكِتَابِ قَدْ جَاءَكُمْ رَسُولُنَا يُبَيِّنُ لَكُمْ كَثِيرًا مِمَّا كُنْتُمْ تُخْفُونَ مِنَ الْكِتَابِ وَيَعْفُو عَنْ كَثِيرٍ ۚ قَدْ جَاءَكُمْ مِنَ اللَّهِ نُورٌ وَكِتَابٌ مُبِينٌ 15 يَهْدِي بِهِ اللَّهُ مَنِ اتَّبَعَ رِضْوَانَهُ سُبُلَ السَّلَامِ وَيُخْرِجُهُمْ مِنَ الظُّلُمَاتِ إِلَى النُّورِ بِإِذْنِهِ وَيَهْدِيهِمْ إِلَىٰ صِرَاطٍ مُسْتَقِيمٍ 16
“Hai Ahli Kitab, sesungguhnya telah datang kepadamu Rasul Kami, menjelaskan kepadamu banyak dari isi Al-Kitab yang kamu sembunyikan, dan banyak (pula) yang dibiarkannya. Sesungguhnya telah datang kepadamu cahaya dari Allah, dan Kitab yang menerangkan. Dengan kitab itulah Allah menunjuki orang-orang yang mengikuti keridhaan-Nya ke jalan keselamatan, dan (dengan kitab itu pula) Allah mengeluarkan orang-orang itu dari gelap gulita kepada cahaya yang terang benderang dengan seizin-Nya, dan menunjuki mereka ke jalan yang lurus.” (QS. Al-Ma’idah).
- Iman dan Amal Shalih:
وَعَدَ اللَّهُ الْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ جَنَّاتٍ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا وَمَسَاكِنَ طَيِّبَةً فِي جَنَّاتِ عَدْنٍ ۚ وَرِضْوَانٌ مِنَ اللَّهِ أَكْبَرُ ۚ ذَٰلِكَ هُوَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ 72
“Allah menjanjikan kepada orang-orang mukmin, lelaki dan perempuan, (akan mendapat) surga yang di bawahnya mengalir sungai-sungai, kekal mereka di dalamnya, dan (mendapat) tempat-tempat yang bagus di surga ‘Adn. Dan keridhaan Allah adalah lebih besar; itu adalah keberuntungan yang besar.” (QS. At-Taubah: 72).
- Zuhud terhadap dunia dan mengetahui hakikatnya bahwa ia adalah negeri tipuan, bukan negeri yang kekal dan penuh kesenangan.
اعْلَمُوا أَنَّمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا لَعِبٌ وَلَهْوٌ وَزِينَةٌ وَتَفَاخُرٌ بَيْنَكُمْ وَتَكَاثُرٌ فِي الْأَمْوَالِ وَالْأَوْلَادِ ۖ كَمَثَلِ غَيْثٍ أَعْجَبَ الْكُفَّارَ نَبَاتُهُ ثُمَّ يَهِيجُ فَتَرَاهُ مُصْفَرًّا ثُمَّ يَكُونُ حُطَامًا ۖ وَفِي الْآخِرَةِ عَذَابٌ شَدِيدٌ وَمَغْفِرَةٌ مِنَ اللَّهِ وَرِضْوَانٌ ۚ وَمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلَّا مَتَاعُ الْغُرُورِ 20
{Ketahuilah, bahwa sesungguhnya kehidupan dunia ini hanyalah permainan dan suatu yang melalaikan, perhiasan dan bermegah-megah antara kamu serta berbangga-banggaan tentang banyaknya harta dan anak, seperti hujan yang tanam-tanamannya mengagumkan para petani; kemudian tanaman itu menjadi kering dan kamu lihat warnanya kuning kemudian menjadi hancur. Dan di akhirat (nanti) ada azab yang keras dan ampunan dari Allah serta keridhaan-Nya. Dan kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu.} (QS. Al-Hadid: 20).
(30 Sababan Li Tunaala Rahmatullaahi Ta’aalaa, Abu Abdirrahman Sulthan ‘Aliy, alih bahasa Muhammad Syahri)
________________________________________
Footnote:
([1]) Tafsir Ibnu Katsir – (Juz 2 / Hal. 22).
([2]) Datang dari hadits Abu Hurairah: Diriwayatkan oleh Al-Bukhari dalam Shahih-nya dengan nomor (7494) dan nomor (6321), diriwayatkan oleh Muslim dalam Shahih-nya dengan nomor (758), Abu Dawud dalam As-Sunan dengan nomor (1315), dan At-Tirmidzi dalam As-Sunan dengan nomor (4398). Dan datang pula dari hadits Abu Sa’id Al-Khudri, Jubair bin Muth’im, Rifa’ah Al-Juhani, Ali bin Abi Thalib, dan Ibnu Mas’ud. Lihat penjelasannya di dalam kitab Irwa’ Al-Ghalil karya Syaikh Al-Albani (2/450).
([3]) Diriwayatkan oleh Al-Bukhari di dalam Shahih-nya dengan nomor (996), dan diriwayatkan oleh Muslim di dalam Shahih-nya dengan nomor (745).
([4]) Tafsir Ibnu Katsir – (Juz 2 / Hal. 24), Tafsir Ath-Thabari (6/266). Di dalam sanadnya terdapat Sufyan bin Waki’ yang berstatus dha’if (lemah), dan hadits Ibnu Abi Mathar di-dha’if-kan (dilemahkan) oleh Abu Hatim, Ibnu Ma’in, dan Al-Bukhari.






