Nabi ﷺ dari Pengutusan (Kerasulan) hingga Hijrah: Kabar Gembira Kerasulan | Kebenaran Mimpi Nabi ﷺ

عَنْ عَائِشَةَ أُمِّ الْمُؤْمِنِينَ رَضِيَ اللهُ عَنْهَا أَنَّهَا قَالَتْ: «أَوَّلُ مَا بُدِئَ بِهِ رَسُولُ اللهِ ﷺ مِنَ الْوَحْيِ: الرُّؤْيَا الصَّادِقَةُ فِي النَّوْمِ، فَكَانَ لَا يَرَى رُؤْيَا إِلَّا جَاءَتْ مِثْلَ فَلَقِ الصُّبْحِ». [متفق عليه]

 

Dari Aisyah, Ummul Mukminin radhiyallahu ‘anha, bahwasanya ia berkata: “Permulaan wahyu yang dimulai pada Rasulullah adalah mimpi yang benar dalam tidur. Dan tidaklah beliau melihat suatu mimpi melainkan mimpi itu datang bagaikan fajar subuh yang terang.” [Muttafaq ‘Alaih]

 

Makna Global Hadis (Al-Ma’na al-Ijmali):

 

Ini merupakan bagian dari hadis yang mencakup salah satu kabar gembira mengenai kenabian. Sungguh, Nabi ﷺ tidaklah melihat suatu mimpi dalam tidurnya melainkan mimpi itu terwujud secara jelas dan nyata.

 

Perkataan Aisyah radhiyallahu ‘anha“Permulaan wahyu yang dimulai…” memberikan faedah bahwa jenis wahyu pertama yang dikenal oleh Nabi ﷺ adalah mimpi yang saleh dan benar, yang dengannya dada menjadi lapang dan jiwa menjadi tenang. Hal ini berfungsi sebagai persiapan bagi Nabi ﷺ untuk menerima wahyu dalam keadaan terjaga (sadar).

 

Pelajaran yang dapat diambil dari hadis:

 

  • Sunnatullah berupa tahapan (gradual/tadarruj) dalam pengutusan risalah Nabi ﷺ; di mana Nabi ﷺ memulainya dengan mimpi dalam tidur sebelum menyaksikan secara langsung (al-‘iyan), agar hal tersebut lebih melatih kemampuan beliau untuk melihat malaikat dan menerima wahyu.

 

  • Bahwa mimpi yang benar merupakan salah satu perangai kenabian, bagian darinya, serta merupakan tingkatan pertama dari turunnya wahyu.

 

  • Dan bahwasanya mimpi para nabi adalah wahyu, kebenaran, dan kejujuran; tidak ada bunga tidur (adghātsul ahlām) di dalamnya, tidak ada delusi/khayalan, serta tidak ada jalan bagi setan untuk menyusup ke dalamnya.

 

(Di alih bahasakan dari al-Arba’uun Fii as-Siirah an-Nabawiyah (40 Hadiitsan Mukhtaaran Fii Siirati Khaatami al-Anbiyaa-i ) Prof. Dr. Adil bin Ali al-Syaddi & Prof. Muhammad bin Abdurrahim al-Arabi)

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *