Maksiat Kedua Tangan: Menolak Membayar Zakat

وَمَنْعُ الزَّكَاةِ أَوْ بَعْضِهَا بَعْدَ الْوُجُوْبِ وَالتَّمَكُّنِ وَإِخْرَاجُ مَا لاَ يُجْزِئُ أَوْ إِعْطَاؤُهَا مَنْ لاَ يَسْتَحِقُّهَا

 

“Dan menolak (membayar) zakat, atau sebagian (zakat)nya setelah (datang masa) wajib (membayarnya), (setelah adanya) kemungkinan (untuk membayarkannya), serta mengeluarkan (zakat dengan) sesuatu yang tidak mencukupi, atau memberikan (zakat)nya kepada orang yang tidak berhak.”

 

Bagi orang yang mampu dan berkecukupan punya satu kewajiban terhadap hartanya di luar kebutuhan pokoknya yaitu disedekahkan untuk zakat. Ketika telah melewati nishob dan telah melampaui haul (masa satu tahun), maka harta berupa hewan ternak, hasil pertanian, mata uang dan barang dagangan, wajib untuk dizakati. Namun sebagian kita saat ini melupakan kewajiban ini. Padahal bahayanya teramat besar jika sampai seseorang enggan menunaikan zakat.

 

Zakat disyari’atkan pada tahun kedua hijriyah dekat dengan waktu disyari’atkannya puasa Ramadhan.([1]) Zakat ini merupakan suatu kewajiban dan bagian dari rukun Islam. Hal ini tidak bisa diragukan lagi karena telah terdapat berbagai dalil dari Al-Qur’an, As Sunnah, dan ijma’ (kata sepakat ulama).

 

Dalil yang menyatakan wajibnya zakat di antaranya terdapat dalam ayat,

 

وَأَقِيمُوا الصَّلَاةَ وَآَتُوا الزَّكَاةَ

 

“Dan dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat dan ruku’lah beserta orang-orang yang ruku’” (QS. Al Baqarah: 43).

 

Perintah zakat ini berulang di dalam Al Qur’an dalam berbagai ayat sampai berulang hingga 32 kali.([2])

 

Begitu pula dalam hadits ditunjukkan mengenai wajibnya melalui haditsd dari Ibnu ‘Umar radhiyallaahu ‘anhuma, ia berkata bahwa Rasulullah ﷺ bersabda,

 

بُنِىَ الإِسْلاَمُ عَلَى خَمْسٍ شَهَادَةِ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللهِ ، وَإِقَامِ الصَّلاَةِ ، وَإِيتَاءِ الزَّكَاةِ ، وَالْحَجِّ ، وَصَوْمِ رَمَضَانَ

 

“Islam dibangun di atas lima perkara: bersaksi bahwa tidak ada ilah (sesembahan) yang berhak disembah melainkan Allah dan Muhammad adalah utusan-Nya; menegakkan shalat; menunaikan zakat; menunaikan haji; dan berpuasa di bulan Ramadhan.”([3])

 

Begitu juga dalam sabda Nabi ﷺ ketika memerintahkan pada Mu’adz yang ingin berdakwah ke Yaman,

 

فَإِنْ هُمْ أَطَاعُوا لِذَلِكَ فَأَعْلِمْهُمْ أَنَّ اللهَ افْتَرَضَ عَلَيْهِمْ صَدَقَةً فِى أَمْوَالِهِمْ ، تُؤْخَذُ مِنْ أَغْنِيَائِهِمْ وَتُرَدُّ عَلَى فُقَرَائِهِمْ

 

“… Jika mereka telah mentaati engkau (untuk mentauhidkan Allah dan menunaikan shalat ), maka ajarilah mereka sedekah (zakat) yang diwajibkan atas mereka di mana zakat tersebut diambil dari orang-orang kaya di antara mereka dan kemudian disebar kembali oleh orang miskin di antara mereka.”([4])

 

Ibnu Hajar Al Asqalani rahimahullah berkata, “Zakat adalah suatu kepastian dalam syari’at Islam, sehingga tidak perlu lagi kita bersusah payah mendatangkan dalil-dalil untuk membuktikannya. Para ulama hanya berselisih pendapat dalam hal perinciannya. Adapun hukum asalnya telah disepakati bahwa zakat itu wajib, sehingga barang siapa yang mengingkarinya, ia menjadi kafir.”([5])

 

Perlu diketahui bahwa istilah zakat dan sedekah dalam syari’at Islam memiliki makna yang sama. Keduanya terbagi menjadi dua: (1) wajib, dan (2) sunnah. Adapun anggapan sebagian masyarakat bahwa zakat adalah yang wajib, sedangkan sedekah adalah yang sunnah, maka itu adalah anggapan yang tidak berdasarkan kepada dalil yang benar nan kuat.

 

Ibnul ‘Arabi rahimahullah mengatakan, “Zakat itu digunakan untuk istilah sedekah yang wajib, yang sunnah, untuk nafkah, kewajiban dan pemaafan.”([6])

 

Hukum Orang yang Enggan Menunaikan Zakat

Pertama: Orang yang mengingkari kewajiban zakat.

 

Kita sudah pahami bahwa zakat adalah bagian dari rukun Islam. Para ulama bersepakat (berijma’) bahwa siapa yang menentang dan mengingkari kewajiban zakat, maka ia telah kafir dan murtad dari Islam. Karena ini adalah perkara ma’lum minad diini bid doruroh, yaitu sudah diketahui akan wajibnya.

 

Imam Nawawi rahimahullah berkata, “Barangsiapa mengingkari kewajiban zakat di zaman ini, ia kafir berdasarkan kesepakatan para ulama.”([7])

 

Ibnu Hajar rahimahullah berkata, “Adapun hukum asal zakat adalah wajib. Siapa yang menentang hukum zakat ini, ia kafir.”([8])

 

Kedua: Orang yang enggan menunaikan zakat dala rangka bakhil dan pelit.

 

Orang yang enggan menunaikan zakat dalam keadaan meyakini wajibnya, ia adalah orang fasik dan akan mendapatkan siksa yang pedih di akhirat. Allah ﷻ berfirman,

 

وَالَّذِينَ يَكْنِزُونَ الذَّهَبَ وَالْفِضَّةَ وَلَا يُنْفِقُونَهَا فِي سَبِيلِ اللهِ فَبَشِّرْهُمْ بِعَذَابٍ أَلِيمٍ  يَوْمَ يُحْمَى عَلَيْهَا فِي نَارِ جَهَنَّمَ فَتُكْوَى بِهَا جِبَاهُهُمْ وَجُنُوبُهُمْ وَظُهُورُهُمْ هَذَا مَا كَنَزْتُمْ لِأَنْفُسِكُمْ فَذُوقُوا مَا كُنْتُمْ تَكْنِزُونَ

 

“Dan orang-orang yang menyimpan emas dan perak dan tidak menafkahkannya pada jalan Allah, maka beritahukanlah kepada mereka, (bahwa mereka akan mendapat) siksa yang pedih, pada hari dipanaskan emas perak itu dalam neraka jahannam, lalu dibakar dengannya dahi mereka, lambung dan punggung mereka (lalu dikatakan) kepada mereka: “Inilah harta bendamu yang kamu simpan untuk dirimu sendiri, maka rasakanlah sekarang (akibat dari) apa yang kamu simpan itu.” (QS. At Taubah: 34-35).

 

Di dalam beberapa hadits disebutkan ancaman bagi orang yang enggan menunaikan zakat.

 

Dari Abu Hurairah radhiyallaahu ‘anhu, Rasulullah ﷺ bersabda,

 

مَا مِنْ صَاحِبِ ذَهَبٍ وَلاَ فِضَّةٍ لاَ يُؤَدِّي مِنْهَا حَقَّهَا إِلاَّ إِذَا كَانَ يَوْمَ القِيَامَةِ صُفِحَتْ لَهُ صَفَائِحُ مِنْ نَارٍ، فَأُحْمِيَ عَلَيْهَا فِي نَارِ جَهَنَّمَ، فَيُكْوَى بِهَا جَبْهَتُهُ وَجَنْبُهُ وَظَهْرُهُ، كُلَّمَا بَرُدَتْ أُعِيْدَتْ إِلَيْهِ فِي يَوْمٍ كَان مِقْدَارُهُ خَمْسِيْنَ أَلْفَ سَنَةٍ، فَيَرَى سَبِيْلَهُ إِمَّا إِلَى الجَنَّةِ، وَإِمَّا إِلَى النَّارِ

 

“Siapa saja yang memiliki emas atau perak tapi tidak mengeluarkan zakatnya melainkan pada hari kiamat nanti akan disepuh untuknya lempengan dari api neraka, lalu dipanaskan dalam api neraka Jahannam, lalu disetrika dahi, rusuk dan punggungnya dengan lempengan tersebut. Setiap kali dingin akan disepuh lagi dan disetrikakan kembali kepadanya pada hari yang ukurannya sama dengan lima puluh ribu tahun. Kemudian ia melihat tempat kembalinya apakah ke surga atau ke neraka.”([9])

 

Diriwayatkan dari Abu Dzar radhiyallaahu ‘anhu, ia berkata, “Aku datang menemui Rasulullah ﷺ yang sedang berlindung di bawah naungan Ka’bah. Beliau bersabda, ‘Merekalah orang-orang yang paling merugi, demi Rabb Pemilik Ka’bah’. Beliau mengucapkannya tiga kali. Abu Dzar berkata, “Aku pun menjadi sedih, aku menarik nafas lalu berkata, ‘Ini merupakan peristiwa yang buruk pada diriku. Aku bertanya, Siapakah mereka? Ayah dan ibuku menjadi tebusannya?’” Nabi ﷺ menjawab,

 

الأَكْثَرُوْنَ أَمْوَالاً، إِلاَّ مَنْ قَالَ فِي عِبَادِ اللهِ هَكَذَا وَهَكَذَا وَقَلِيْلٌ مَا هُمْ مَا مِنْ رَجُلٍ يَمُوْتُ فَيَتْرُكُ غَنَمًا اَوْ إِبِلاً أَوْ بَقَرًا لاَ يُؤَدِّي زَكَاتَهَا إِلاَّ جَاءَتْهُ يَوْمَ القِيَامَةِ أَعْظَمُ مَا تَكُوْنُ وَأَسْمَنُ حَتَّى تَطَأَهُ بِأَظْلاَفِهَا، وَتَنْطِحُهُ بِقُرُوْنِهَا، حَتَّى يَقْضِيَ اللهُ بَيْنَ النَّاسِ ثُمَّ تَعُوْدُ أُوْلاَهَا عَلىَ أُخْرَاهَا

 

“Orang-orang yang banyak hartanya! Kecuali yang menyedekahkannya kepada hamba-hamba Allah begini dan begini. Namun sangat sedikit mereka itu. Tidaklah seorang lelaki mati lalu ia meninggalkan kambing atau unta atau sapi yang tidak ia keluarkan zakatnya melainkan hewan-hewan itu akan datang kepadanya pada hari kiamat dalam bentuk yang sangat besar dan sangat gemuk lalu menginjaknya dengan kukunya dan menanduknya dengan tanduknya. Hingga Allah memutuskan perkara di antara manusia. Kemudian hewan yang paling depan menginjaknya kembali, begitu pula hewan yang paling belakang berlalu, begitulah seterusnya.”([10])

 

Bagaimana contoh membayar zakat yang tidak mencukupi

 

Yaitu zakat dikeluarkan tidak sesuai dengan ketentuan syar’i, misal dalam pengeluaran zakat sapi,

 

Nishab Kewajiban yang dikeluarkan Yang dikeluarkan (Salah)
1 – 29 –  
30 Satu ekor tabi’([11]) atau tabi’ah (sapi betina, atau sapi jantan yang berusia satu tahun)  
40 Satu Musinnah([12]) (sapi betina yang berusia dua tahun) Satu Tabi’
60 Dua tabi’  
>60 Berlaku kelipatan

Setiap 30 ekor : satu tabi’

Setiap 40 ekor : satu musinnah

 
70 1 tabi’ dan 1 musinnah 2 tabi`
80 2 musinnah 2 tabi’
90 3 tabi’  
100 2 tabi’ dan 1 musinnah 3 tabi’

 

Bagaimana contoh mengeluarkan kepada yang tidak berhak?

 

Yaitu mengeluarkannya kepada selain daripada 8 golongan yang berhak mendapatkan zakat; mereka adalah 8 golongan yang disebutkan di dalam firman Allah ﷻ:

 

۞إِنَّمَا ٱلصَّدَقَٰتُ لِلفُقَرَآءِ وَٱلمَسَٰكِينِ وَٱلعَٰمِلِينَ عَلَيهَا وَٱلمُؤَلَّفَةِ قُلُوبُهُم وَفِي ٱلرِّقَابِ وَٱلغَٰرِمِينَ وَفِي سَبِيلِ ٱللهِ وَٱبنِ ٱلسَّبِيلِ فَرِيضَةً مِّنَ ٱللَّهِۗ وَٱللهُ عَلِيمٌ حَكِيمٌ ٦٠

 

 “Sesungguhnya zakat-zakat itu, hanyalah untuk orang-orang fakir, orang-orang miskin, pengurus-pengurus zakat, Para mu’allaf yang dibujuk hatinya, untuk (memerdekakan) budak, orang-orang yang berhutang, untuk jalan Allah dan untuk mereka yuang sedang dalam perjalanan, sebagai suatu ketetapan yang diwajibkan Allah, dan Allah Maha mengetahui lagi Maha Bijaksana.” (QS. at-Taubah (9): 60)

 

Adapun Hadits-hadits yang berkaitan dengan kedelapan orang itu adalah

 

  1. Orang-orang Faqir

 

Hadits Ibnu ‘Amr radhiyallaahu ‘anhu, ia berkata Rasulullah ﷺ bersabda,

 

«لَا تَحِلُّ الصَّدَقَةُ لِغَنِيٍّ، وَلَا لِذِي مِرَّةٍ سَوِيٍّ»

 

‘Zakat tidak halal dibeirkan kepada orang kaya dan mereka yang memiliki kekuatan untuk bekerja.’ ([13])

 

Juga dari ‘Ubaidillah bin ‘Adiy bin al-Khiyar, bahwa ada dua orang yang telah bercerita kepadanya

 

أَنَّهُمَا أَتَيَا النَّبِيَّ ﷺ فِي حَجَّةِ الْوَدَاعِ، وَهُوَ يُقَسِّمُ الصَّدَقَةَ، فَسَأَلَاهُ مِنْهَا، فَرَفَعَ فِينَا الْبَصَرَ وَخَفَضَهُ، فَرَآنَا جَلْدَيْنِ، فَقَالَ: «إِنَّ شِئْتُمَا أَعْطَيْتُكُمَا، وَلَا حَظَّ فِيهَا لِغَنِيٍّ، وَلَا لِقَوِيٍّ مُكْتَسِبٍ»

 

Bahwa mereka telah menghadap Rasulullah ﷺ untuk meminta zakat kepada beliau. Kemudian beliau memperhatikan mereka dan beliau melihat merek amasih kuat, lalu beliau bersabda, ‘Jika kalian mau aku akan beirkan kalian zakat, namun tidak ada zakat bagi orang kaya dan mereka yang masih kuat untuk bekerja.”([14])

 

  1. Orang-orang miskin

 

Dari Abu Hurairah radhiyallaahu ‘anhu, bahwasannya Rasulullah ﷺ bersabda,

 

«لَيْسَ الْمِسْكِينُ بِهَذَا الطَّوَّافِ الَّذِي يَطُوفُ عَلَى النَّاسِ، فَتَرُدُّهُ اللُّقْمَةُ وَاللُّقْمَتَانِ، وَالتَّمْرَةُ وَالتَّمْرَتَانِ» قَالُوا، فَمَا الْمِسْكِينُ؟ يَا رَسُولَ اللهِ، قَالَ: «الَّذِي لَا يَجِدُ غِنًى يُغْنِيهِ، وَلَا يُفْطَنُ لَهُ، فَيُتَصَدَّقَ عَلَيْهِ، وَلَا يَسْأَلُ النَّاسَ شَيْئًا»

 

‘Bukanlah termasuk orang miskin mereka yang keliling meminta-minta kepad amanusia, kemudian hanya dengan sesuap atau dua suap makanan dan satu atau dua buah kurma ia kembali pulang.’ Para sahabat bertanya, ‘Kalau begitu siapakah yang dikatakan sebagai orang miskin, wahai Rasulullah?’ beliau menjawab, ‘Orang miskin adalah orang yang tidak mempunyai sesuatu yang bisa mencukupi kebutuhannya. Namun tidak ada yang mengetahui keadaannya sehingga ada yang mau memberinya sedekah dan ia juta tidak meminta-minta kepada manusia.” ([15])

 

  1. Amil Zakat

 

Mereka adalah petugas yang mengumpulkan dan menarik zakat. Mereka berhak menerima sejumlah harta zakat karena  tugas, dan pekerjaan mereka. Dengan syarat mereka bukan termasuk keluarga Rasulullah ﷺ yang diharamkan atas mereka harta zakat. Sebagaimana disebutkan dalam Shahih Muslim dari ‘Abdul Muththallib bin Rabi’ah bin al-Harits,bahwasannya ia dan al-Fadhl bin al-‘Abbas pergi menemui Rasulullah ﷺ untuk meminta agar mereka berdua dijadikan sebagai amil zakat, maka Rasulullah ﷺ bersabda,

 

«إِنَّ الصَّدَقَةَ، لَا تَحِلُّ لِمُحَمَّدٍ، وَلَا لِآلِ مُحَمَّدٍ، إِنَّمَا هِيَ أَوْسَاخُ النَّاسِ»

 

‘Sesungguhnya zakat itu tidak halal bagi Muhammad dan keluarga Muhammad, karena ia sebenarnya adalah kotoran manusia.’ ([16])

 

  1. Muallaf (orang yang hatinya digaet, dilunakkan)

 

Diberikan agar dia masuk Islam, sebagaimana Rasulullah ﷺ telah membeirkan Shafwan bin Umayyah harta dari hasil rampasan perang Hunain, dan dia ikut berperang dalam keadaan masih musyrik, ia bercerita,

 

فَلَمْ يَزَلْ يُعْطِيْنِيْ حَتىَّ صَارَ أَحَبَّ النَّاسِ إِلَيَّ ، بَعْدَ أَنْ كَانَ أَبْغَضَ النَّاسِ إِلَيَّ

 

‘Rasulullah ﷺ tidak henti-hentinya memberiku harta rampasan hingga akhirnya beliau menjadi manusia yang paling aku cintai, padahal sebelum itu, beliau adalah manusia yang paling aku benci.’ ([17])

 

Diberi agar semakin bagus Islamnya, serta semakin kuat hatinya di dalam Islam, sebagaimana yang telah dilakukan oleh Rasulullah ﷺ ketika perang Hunain, beliau memberikan seratus ekor onta kepada kelompok pemuka at-Thulaqa (orang-orang kafir Quraisy yang tidak diperangi di saat penaklukan Makkah), kemudian beliau bersabda,

 

«إِنِّي لَأُعْطِي الرَّجُلَ، وَغَيْرُهُ أَحَبُّ إِلَيَّ مِنْهُ، خَشْيَةَ أَنْ يُكَبَّ الله عَلَى وَجْهِهِ فِي نارِ جهنم »

 

‘Sesungguhnya aku memberi (harta) pada seseorang, padahal yang lainnya lebih aku cintai daripadanya, hanya saja aku takut Allah akan memasukkannya ke dalam Neraka.” ([18])

 

  1. Budak

 

Diriwayatkan dari al-Hasan al-Bashri, Muqatil bin Hayyan, ‘Umar bin ‘Abdil ‘Aziz, Sa’id bin Jubair, an-Nakha`i, az-Zuhri, dan Ibnu Zaid, yang dimaksud adalah Budak Mukatab, yaitu yang mengadakan perjanjian dengan tuannya untuk membayar sejumlah uang sebagai tebusan atas dirinya. Hal ini juga diriwayatkan dari Abu Musa al-‘Asy’ariy. Dan ini adalah pendapat Imam as-Syafi’i rahimahullaah, juga al-Laits. Ibnu ‘Abas dan al-Hasan berkata, ‘Tidak mengapa harta zakat tersebut dijadikan sebagai tebusan untuk memerdekakan budak.”

 

  1. Gharim

 

Orang yang berhutang, bisa atas dirinya atau atas orang lain.

 

Dalilnya adalah hadits Qabishah bin Mukhariq al-Hilali, ia berkata,

 

تَحَمَّلْتُ حَمَالَةً، فَأَتَيْتُ رَسُولَ اللهِ ﷺ أَسْأَلُهُ فِيهَا، فَقَالَ: أَقِمْ حَتَّى تَأْتِيَنَا الصَّدَقَةُ، فَنَأْمُرَ لَكَ بِهَا، قَالَ: ثُمَّ قَالَ: ” يَا قَبِيصَةُ إِنَّ الْمَسْأَلَةَ لَا تَحِلُّ إِلَّا لِأَحَدِ ثَلَاثَةٍ رَجُلٍ، تَحَمَّلَ حَمَالَةً، فَحَلَّتْ لَهُ الْمَسْأَلَةُ حَتَّى يُصِيبَهَا، ثُمَّ يُمْسِكُ، وَرَجُلٌ أَصَابَتْهُ جَائِحَةٌ اجْتَاحَتْ مَالَهُ، فَحَلَّتْ لَهُ الْمَسْأَلَةُ حَتَّى يُصِيبَ قِوَامًا مِنْ عَيْشٍ – أَوْ قَالَ سِدَادًا مِنْ عَيْشٍ – وَرَجُلٌ أَصَابَتْهُ فَاقَةٌ حَتَّى يَقُومَ ثَلَاثَةٌ مِنْ ذَوِي الْحِجَا مِنْ قَوْمِهِ: لَقَدْ أَصَابَتْ فُلَانًا فَاقَةٌ، فَحَلَّتْ لَهُ الْمَسْأَلَةُ حَتَّى يُصِيبَ قِوَامًا مِنْ عَيْشٍ – أَوْ قَالَ سِدَادًا مِنْ عَيْشٍ – فَمَا سِوَاهُنَّ مِنَ الْمَسْأَلَةِ يَا قَبِيصَةُ سُحْتًا يَأْكُلُهَا صَاحِبُهَا سُحْتًا “

 

‘Aku sedang menanggung hutang orang lain, kemudian aku mendatangi Rasulullah ﷺ untuk meminta bantuan beliau, beliau berkata, ‘Tunggulah, jika ada zakat yang kami dapatkan kami akan menyerahkannya kepadamu.’ Selanjutnya beliau ﷺ bersabda, ‘Wahai Qabishah, sesungguhnya meminta-minta tidak dihalalkan kecuali bagi salah satu dari tiga orang, yaitu orang yang menanggung hutang orang lain, maka ia boleh meminta-minta sampai melunasinya, kemudian ia berhenti meminta-minta, orang yang ditimpa musibah yang menghabiskan hartanya, ia boleh meminta-minta sampai mendapatkan sandaran hidup atau beliau berkata, ‘Sesuatu yang bisa memenuhi kebutuhan hidupnya, dan orang yang ditimpa kesengsaraan hidup sampai tiga orang dari kaumnya yang berpengaetahuan (alim) berkata, ‘Si Fulan telah ditimpa kesengsaraan hidup.’ Ia boleh meminta-minta sampai mendapatkan sandaran hidup atau beliau berkata, ‘Sesuatu yang bisa memenuhi kebutuhan hidupnya.’ Adapun selain tiga golongan tersebut, wahai Qabishah, maka haram hukumnya dan mereka yang memakannya adalah memakan makanan yang haram.’([19])

 

  1. Fii Sabilillah

 

Yaitu mereka berjuang, berperang di jalan Allah.

 

Dalam hal ini haji termasuk fi sabilillah. Berdasarkan hadits Ibnu ‘Abbas d, ia berkata,

 

أَرَادَ رَسُولُ اللهِ ﷺ الْحَجَّ فَقَالَتْ: امْرَأَةٌ لِزَوْجِهَا أَحِجَّنِي مَعَ رَسُولِ اللهِ ﷺ عَلَى جَمَلِكَ، فَقَالَ: مَا عِنْدِي مَا أُحِجُّكِ عَلَيْهِ، قَالَتْ: أَحِجَّنِي عَلَى جَمَلِكَ فُلَانٍ، قَالَ: ذَاكَ حَبِيسٌ فِي سَبِيلِ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ، فَأَتَى رَسُولَ اللهِ ﷺ فَقَالَ: إِنَّ امْرَأَتِي تَقْرَأُ عَلَيْكَ السَّلَامَ وَرَحْمَةَ اللهِ، وَإِنَّهَا سَأَلَتْنِي الْحَجَّ مَعَكَ، قَالَتْ: أَحِجَّنِي مَعَ رَسُولِ اللهِ ﷺ، فَقُلْتُ: مَا عِنْدِي مَا أُحِجُّكِ عَلَيْهِ، فَقَالَتْ أَحِجَّنِي عَلَى جَمَلِكَ فُلَانٍ، فَقُلْتُ: ذَاكَ حَبِيسٌ فِي سَبِيلِ اللهِ، فَقَالَ: «أَمَا إِنَّكَ لَوْ أَحْجَجْتَهَا عَلَيْهِ كَانَ فِي سَبِيلِ اللهِ؟»

 

‘Rasulullah ﷺ ingin menunaikan haji dan ada seorang istri yang berkata kepada suaminya, ‘Sertakanlah aku berhaji bersama Rasulullah.’ Suami tersebut menjawab, ‘Aku tidak memiliki hart ayang bisa kugunakan untuk membiayaimu pergi haji.’ Lalu istrinya berkata, ‘Hajikanlah aku ddengan ontamu itu.’ Dia berkata, ‘Itu adalah onta yang aku gunakan untuk berjuan di jalan Allah.’ Kemudian lelaki tersebut datang kepada Rasulullah ﷺ dan berkata, ‘Wahai Rasulullah, sesungguhnya istriku mengucapkan salam atasmu dan ia telah memintaku untuk menghajikannya bersamamu. Ia berkata, ‘Hajikanlah aku bersama Rasulullah ﷺ.’ Lalu aku menjawab, ‘Sesungguhnya aku tidak memiliki hart ayang akan kugunakan untuk membiayaimu pergi haji.’ Ia berkata lagi, ‘Kalau begitu hajikanlah aku dengan ontamu itu.’ Aku berkata kepadanya, ‘Itu adalah onta yang aku gunakan untuk berjuan di jalan Allah.’ Kemudian Rasulullah ﷺ bersabda, ‘Sesungguhnya jika Engkau menhajikan ia dengan onta tersebut, (maka itu) juga termasuk fi sabilillah.’ ([20])

 

  1. Ibnu Sabil

 

Musafir yang kehabisan bekal.

 

Berdasarkan hadits Abu Sa’id radhiyallaahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah ﷺ bersabda,

 

لَا تَحِلُّ الصَّدَقَةُ لِغَنِيٍّ إِلَّا لِخَمْسَةٍ: لِغَازٍ فِي سَبِيلِ اللهِ، أَوْ لِعَامِلٍ عَلَيْهَا، أَوْ لِغَارِمٍ، أَوْ لِرَجُلٍ اشْتَرَاهَا بِمَالِهِ، أَوْ لِرَجُلٍ كَانَ لَهُ جَارٌ مِسْكِينٌ فَتُصُدِّقَ عَلَى الْمِسْكِينِ، فَأَهْدَاهَا الْمِسْكِينُ لِلْغَنِيِّ

 

‘Zakat itu tidak halal diberikan kepada orang kaya kecuali lima macam, yaitu amil zakat atau orang yang membelinya dengan hartanya, atau orang yang berhutang atau orang yang berperang di jalan Allah atau orang miskin yang menerima zakat, kemudian dia menghadiahkannya kepada orang kaya.’ ([21])

 

 

 

(Diambil dari buku Kumpulan Makalah Kajian Syarah Sullamauttaufik oleh Ust. Muhammad Syahri di Rumah Bpk. H. Jarot Jawi Prigen)

__________________________________

Footnote:

([1]) Al-Fiqhi Al-Manhaji, hal. 271.

([2]) Al-Fiqhi Al-Manhaji, hal. 271.

([3]) HR. Al-Bukhari (8) dan Muslim (16).

([4]) HR. Al-Bukhari (1395) dan Muslim (19)

([5]) Fathul Bari, 3: 262.

([6]) Lihat Fathul Bari, 3: 262

([7]) Syarh Muslim, 1: 205.

([8]) Fathul Bari, 3: 262.

([9]) HR. Muslim (987)

([10]) HR. Bukhari (6638), Muslim (990) dan Ahmad 5: 169.

([11]) Dinamakan demikian karena dia mengikuti induknya di tempat penggembalaan

([12]) Dinamakan demikian karena penambahan giginya

([13]) Shahih, HR. at-Turmudzi (647), Abu Dawud (1617)

([14]) Shahih, HR. Abu Dawud (1617), an-nasa`i (V/99)

([15]) Muttafaqun ‘alaih, HR. Muslim (1039), al-Bukhari (1479), an-Nasa`i (V/75), Abu Dawud (1615)

([16]) Shahih, HR. Muslim (1072), Abu Dawud (2969), an-Nasa`i (V/105)

([17]) Shahih, Muslim (1072) (168), Abu Dawud (2969)

([18]) Muttafaqun ‘alaih, HR. al-Bukhari (27), Muslim (150), Abu Dawud (4659), an-Nasai (VIII/103)

([19]) Shahih, HR. Muslim (1044), Abu Dawud (1624)

([20]) Hasan Shahih, HR. Abu Dawud, (19740), al-Hakim dalam al-Mustadrak (I/183), al-Baihaqiy (VI/164)

([21]) Shahih, HR. Abu Dawud 1619, Ibnu Majah 1841

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *