عَنْ عَمْرٍو بْنِ الْعَاص رَضِيَ اللهُ عَنْهُ أَنَّهُ قَالَ: قُلْتُ لِلنَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: ابْسُطْ يَمِينَكَ فَلْأُبَايِعْكَ. فَبَسَطَ يَمِينَهُ، قَالَ: فَقَبَضْتُ يَدِي قَالَ: «مَا لَكَ يَا عَمْرُو»؟ قَالَ: أَرَدْتُ أَنْ أَشْتَرِطَ. قَالَ: «تَشْتَرِطُ بِمَاذَا»؟ قُلْتُ: أَنْ يُغْفَرَ لِيْ. فَقَالَ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «أَمَا عَلِمْتَ أَنَّ الْإِسْلَامَ يَهْدِمُ مَا كَانَ قَبْلَهُ، وَأَنَّ الْهِجْرَةَ تَهْدِمُ مَا كَانَ قَبْلَهَا، وَأَنَّ الْحَجَّ يَهْدِمُ مَا كَانَ قَبْلَهُ»
Dari ‘Amr ibni al-‘Ash radhiyallaahu ‘anhu, bahwa dia berkata, ‘Aku pernah berkata kepada Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam, ‘Bentangkanlah tangan kanan Anda, maka pastilah saya akan membaiat Anda.’ Maka beliaupun membentang (mengulur)kan tangan kanan beliau.’ Dia berkata, ‘Maka akupun menggenggamkan tanganku.’ Beliau bersabda, ‘Ada apa denganmu wahai ‘Amr?’ Dia berkata, ‘Saya ingin bersyarat.’ Beliau bersabda, ‘Engkau bersyarat dengan apa?’ Saya berkata, ‘Agar Allah mengampuniku.’ Maka beliau shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Bukankah Engkau telah mengetahui bahwa Islam menghancurkan (dosa) yang telah ada sebelumnya; dan bahwa hijrah akan menghancurkan (dosa) yang ada sebelumnya. Dan bahwa haji akan menhancurkan (dosa) yang telah ada sebelumnya.” (HR. Muslim dalam Kitaab al-Iimaan, bab Keberadaan Islam Yang Mampu Menghilangkan (Dosa) Apapun Yang Telah Ada Sebelumnya, dan demikian juga dengan hijrah dan haji.)([1])
Di dalam hadits ini, Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam menyebut tiga hal yang menebus, menghapus dan mesucikan (dosa)…
Kaffarah pertama, Islam.
Telah valid di dalam as-Sunan al-Kubra milik Imam an-Nasa`iy rahimahullah, dari Ibnu ‘Abbas radhiyallaahu ‘anhuma, ‘Bahwasannya ada suatu kaum yang dulu mereka membunuh, lalu banyak membunuh; mereka berzina, lalu banyak berzina, dan melanggar batas. Kemudian mereka mendatangi Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam seraya berkata, ‘Ya Muhammad, sesungguhnya perkara yang Engkau katakan dan ajak adalah benar-benar haq, andaikan saja Engkau mengabarkan kepada kami bahwa ada kaffarah (penebus dosa) bagi dosa yang pernah kami kerjakan.’ Maka Allah menurunkan ayat,
وَٱلَّذِينَ لَا يَدعُونَ مَعَ ٱللهِ إِلَٰهًا ءَاخَرَ وَلَا يَقتُلُونَ ٱلنَّفسَ ٱلَّتِي حَرَّمَ ٱللهُ إِلَّا بِالحَقِّ وَلَا يَزنُونَۚ وَمَن يَفعَل ذَٰلِكَ يَلقَ أَثَامًا ٦٨ يُضَٰعَف لَهُ ٱلعَذَابُ يَومَ ٱلقِيَٰمَةِ وَيَخلُد فِيهِۦ مُهَانًا ٦٩ إِلَّا مَن تَابَ وَءَامَنَ وَعَمِلَ عَمَلًا صَٰلِحًا فَأُوْلَٰٓئِكَ يُبَدِّلُ ٱللهُ سَئَِّئَاتِهِم حَسَنَٰتٍ وَكَانَ ٱللهُ غَفُورًا رَّحِيمًا ٧٠
“Dan orang-orang yang tidak menyembah Tuhan yang lain beserta Allah dan tidak membunuh jiwa yang diharamkan Allah (membunuhnya) kecuali dengan (alasan) yang benar, dan tidak berzina, barang siapa yang melakukan yang demikian itu, niscaya dia mendapat (pembalasan) dosa(nya), (yakni) akan dilipat gandakan azab untuknya pada hari kiamat dan dia akan kekal dalam azab itu, dalam keadaan terhina, kecuali orang-orang yang bertaubat, beriman dan mengerjakan amal saleh; maka itu kejahatan mereka diganti Allah dengan kebajikan. dan adalah Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. al-Furqaan (25): 68-70)([2])
Maka seorang musyrik, jika dia masuk Islam, Allah akan mengampuni seluruh dosa-dosanya. Dan apakah orang musyrik akan diadzab dengan dosa selain syirik? Jawabannya adalah, ‘Ya.’
Orang kafir akan diadzab dengan tiga perkara; kekufuran, meninggalkan kewajiban-kewajiban, dan pelanggaran perkara-perkara yang diharamkan. Allah subhaanahu wata’aalaa berfirman,
كُلُّ نَفسِ بِمَا كَسَبَت رَهِينَةٌ ٣٨ إِلَّآ أَصحَٰبَ ٱليَمِينِ ٣٩ فِي جَنَّٰتٍ يَتَسَآءَلُونَ ٤٠ عَنِ ٱلمُجرِمِينَ ٤١ مَا سَلَكَكُم فِي سَقَرَ ٤٢ قَالُواْ لَم نَكُ مِنَ ٱلمُصَلِّينَ ٤٣ وَلَم نَكُ نُطعِمُ ٱلمِسكِينَ ٤٤ وَكُنَّا نَخُوضُ مَعَ ٱلخَآئِضِينَ ٤٥ وَكُنَّا نُكَذِّبُ بِيَومِ ٱلدِّينِ ٤٦ حَتَّىٰٓ أَتَىٰنَا ٱليَقِينُ ٤٧
“Tiap-tiap diri bertanggung jawab atas apa yang telah diperbuatnya, kecuali golongan kanan, berada di dalam syurga, mereka tanya menanya, tentang (keadaan) orang-orang yang berdosa, “Apakah yang memasukkan kamu ke dalam Saqar (neraka)?” Mereka menjawab: “Kami dahulu tidak termasuk orang-orang yang mengerjakan shalat, dan Kami tidak (pula) memberi Makan orang miskin, dan adalah Kami membicarakan yang bathil, bersama dengan orang-orang yang membicarakannya, dan adalah Kami mendustakan hari pembalasan, hingga datang kepada Kami kematian.” (QS. al-Muddatstsir (74): 38-47)
Maka mendustakan hari kiamat adalah sebuah kekufuran; meninggalkan shalat, tidak memberi makan (orang miskin), dan tidak berbuat baik kepada makhluk Allah adalah pengabaian kewajiban; dan tenggelamnya mereka di dalam kebatilan adalah pelaksanaan perkara yang diharamkan.
Qatadah rahimahullah berkata tentang firman Allah subhaanahu wata’aalaa, [وَكُنَّا نَخُوْضُ مَعَ الْخَائِضِيْنَ] ‘dan adalah kami membicarakan yang bathil, bersama dengan orang-orang yang membicarakannya’, ‘Setiap kali tersesat seorang yang tersesat, kamipun tersesat bersamanya.”([3])
Akan tetapi, seandainya seorang kafir melakukan ketaatan-ketaatan, maka sesungguhnya Allah tidak akan menerima ketaatan tersebut kecuali setelah keIslaman(nya). Dikarenakan termasuk diantara syarat amal shalih adalah iman. Allah subhaanahu wata’aalaa berfirman,
وَمَا مَنَعَهُم أَن تُقبَلَ مِنهُم نَفَقَٰتُهُم إِلَّآ أَنَّهُم كَفَرُواْ بِٱللهِ وَبِرَسُولِهِۦ
“Dan tidak ada yang menghalangi mereka untuk diterima dari mereka nafkah-nafkahnya melainkan karena mereka kafir kepada Allah dan RasulNya…” (QS. at-Taubah (9): 54)
Dan jika dia masuk Islam, maka sesungguhnya Allah akan menetapkan untuknya pahala amal pendekatan dirinya kepada Allah. Dan dalilnya adalah bahwa Hakiim bin Hizaam radhiyallaahu ‘anhu pernah berkata kepada Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam,
أَرَأَيْتَ أُمُورًا كُنْتُ أَتَحَنَّثُ بِهَا فِي الْجَاهِلِيَّةِ هَلْ لِي فِيهَا مِنْ شَيْءٍ؟ فَقَالَ لَهُ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «أَسْلَمْتَ عَلَى مَا أَسْلَفْتَ مِنْ خَيْرٍ»
“Apa pandangan Anda terhadap berbagai pekrara yang dengannya dulu saya beribadah di masa jahiliyah, apakah saya memiliki sesuatu (dari pahala) padanya?’ Maka beliau bersabda kepadanya, ‘Engkau telah menyelamatkan kebaikan-kebaikan yang telah Engkau lakukan pada masa silam.” (HR. Muslim)([4])
At-Tahannuts adalah at-ta’abbud (peribadatan).
Hadits ini menunjukkan bahwa amal-amal kebaikan, jika manusia melakukannya di kala kekufurannya, kemudian dia masuk Islam, maka sesungguhnya Allah akan memberinya pahala atas amal tersebut. Dan ini adalah termasuk bagian dari karunia Allah yang agung, dan betapa besarnya karunia Allah atas hamba-hamba-Nya. Seorang kafir, jika dia masuk Islam, maka Allah akan menghapus seluruh kesalahan-kesalahannya, dan menetapkan seluruh kebaikan-kebaikannya. Segala puji bagi Allah, atas segenap karunia dan kebaikan-Nya.
Kaffarah kedua, haji.
Dan telah berlalu pembicaraan tentangnya di dalam tsulatsiyah terdahulu saat berbicara tentang hadits Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam,
«وَفْدُ اللهِ ثَلَاثَةٌ: الْغَازِي، وَالْحَاجُّ، وَالْمُعْتَمِرُ»
‘Delegasi (tamu kehormatan) Allah ada tiga; orang yang berperang, orang yang berhaji, dan orang yang berumrah.”([5])
Penghancur dosa yang ketiga adalah hijrah.
Yang dimaksud disini adalah meninggalkan negeri kekufuran menuju negeri Islam.
Allah subhaanahu wata’aalaa telah memerintahnya dengan firman-Nya,
يَٰعِبَادِيَ ٱلَّذِينَ ءَامَنُوٓاْ إِنَّ أَرضِي وَٰسِعَة فَإِيَّٰيَ فَاعبُدُونِ ٥٦
“Hai hamba-hamba-Ku yang beriman, Sesungguhnya bumi-Ku luas, Maka sembahlah Aku saja.” (QS. al-‘Ankabuut (29): 56)
Dari al-Haarits al-Asy’ariy radhiyallaahu ‘anhu, dia berkata, ‘Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
«وَأَنَا آمُرُكُمْ بِخَمْسٍ اللهُ أَمَرَنِي بِهِنَّ: السَّمْعُ، وَالطَّاعَةُ، وَالْجِهَادُ، وَالْهِجْرَةُ، وَالْجَمَاعَةُ»
“Dan aku perintahkan kalian dengan lima perkara (yang) Allah telah memerintah aku dengan kelima perkara tersebut; mendengar dan taat (kepada ulil amri tanpa bermaksiat kepada Allah), jihad (di jalan Allah), hijrah, dan jama’ah.” (HR. Ahmad, at-Tirmidzi)([6])
Maka dengan hijrah, Allah akan menghapuskan dosa-dosa dan kesalahan-kesalahan sebagaimana ditunjukkan oleh hadits ini.
Dan dalil-dalil yang menunjukkan hal ini sangat banyak.
Allah subhaanahu wata’aalaa berfirman,
إِنَّ ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ وَٱلَّذِينَ هَاجَرُواْ وَجَٰهَدُواْ فِي سَبِيلِ ٱللهِ أُوْلَٰٓئِكَ يَرجُونَ رَحمَتَ ٱللَّهِۚ وَٱللهُ غَفُورٌ رَّحِيمٌ ٢١٨
“Sesungguhnya orang-orang yang beriman, orang-orang yang berhijrah dan berjihad di jalan Allah, mereka itu mengharapkan rahmat Allah, dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. al-Baqarah (2): 218)
Dia subhaanahu wata’aalaa berfirman,
فَٱلَّذِينَ هَاجَرُواْ وَأُخرِجُواْ مِن دِيَٰرِهِم وَأُوذُواْ فِي سَبِيلِي وَقَٰتَلُواْ وَقُتِلُواْ لَأُكَفِّرَنَّ عَنهُم سَئَِّاتِهِم وَلَأُدخِلَنَّهُم جَنَّٰتٍ تَجرِي مِن تَحتِهَا ٱلأَنهَٰرُ ثَوَابًا مِّن عِندِ ٱللَّهِۚ وَٱللهُ عِندَهُۥ حُسنُ ٱلثَّوَابِ ١٩٥
“… Maka orang-orang yang berhijrah, yang diusir dari kampung halamannya, yang disakiti pada jalan-Ku, yang berperang dan yang dibunuh, pastilah akan Ku-hapuskan kesalahan-kesalahan mereka dan pastilah Aku masukkan mereka ke dalam surga yang mengalir sungai-sungai di bawahnya, sebagai pahala di sisi Allah. Dan Allah pada sisi-Nya pahala yang baik.” (QS. Aali ‘Imraan (3): 195)
Allah subhaanahu wata’aalaa berfirman,
وَٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ وَهَاجَرُواْ وَجَٰهَدُواْ فِي سَبِيلِ ٱللَّهِ وَٱلَّذِينَ ءَاوَواْ وَّنَصَرُوٓاْ أُوْلَٰٓئِكَ هُمُ ٱلمُؤمِنُونَ حَقّٗاۚ لَّهُم مَّغفِرَةٌ وَرِزقٌ كَرِيمٌ ٧٤
“Dan orang-orang yang beriman dan berhijrah serta berjihad pada jalan Allah, dan orang-orang yang memberi tempat kediaman dan memberi pertolongan (kepada orang-orang muhajirin), mereka Itulah orang-orang yang benar-benar beriman. Mereka memperoleh ampunan dan rezki (nikmat) yang mulia.” (QS. al-Anfaal (8): 74)
Allah subhaanahu wata’aalaa berfirman,
ثُمَّ إِنَّ رَبَّكَ لِلَّذِينَ هَاجَرُواْ مِنۢ بَعۡدِ مَا فُتِنُواْ ثُمَّ جَٰهَدُواْ وَصَبَرُوٓاْ إِنَّ رَبَّكَ مِن بَعدِهَا لَغَفُورٌ رَّحِيمٌ ١١٠
“Dan sesungguhnya Tuhanmu (pelindung) bagi orang-orang yang berhijrah sesudah menderita cobaan, kemudian mereka berjihad dan sabar; Sesungguhnya Tuhanmu sesudah itu benar-benar Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. an-Nahl (16): 110)
Dan di antara dalil-dalil tersebut adalah hadits Jabir radhiyallaahu ‘anhu, bahwasannya at-Thufail bin ‘Amr ad-Dausiy mendatangi Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam seraya berkata,
يَا رَسُولَ اللهِ هَلْ لَكَ فِي حِصْنٍ حَصِينٍ وَمَنْعَةٍ؟ حِصْنٌ كَانَ لِدَوْسٍ فِي الْجَاهِلِيَّةِ؟ فَأَبَى ذَلِكَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ؛ لِلَّذِي ذَخَرَ اللهُ لِلْأَنْصَارِ. فَلَمَّا هَاجَرَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِلَى الْمَدِينَةِ هَاجَرَ إِلَيْهِ الطُّفَيْلُ بْنُ عَمْرٍو وَهَاجَرَ مَعَهُ رَجُلٌ مِنْ قَوْمِهِ، فَاجْتَوَوْا الْمَدِينَةَ، فَمَرِضَ، فَجَزِعَ، فَأَخَذَ مَشَاقِصَ لَهُ فَقَطَعَ بِهَا بَرَاجِمَهُ، فَشَخَبَتْ يَدَاهُ حَتَّى مَاتَ. فَرَآهُ الطُّفَيْلُ بْنُ عَمْرٍو فِي مَنَامِهِ، فَرَآهُ وَهَيْئَتُهُ حَسَنَةٌ، وَرَآهُ مُغَطِّيًا يَدَيْهِ، فَقَالَ لَهُ: مَا صَنَعَ بِكَ رَبُّكَ؟ فَقَالَ: غَفَرَ لِي؛ بِهِجْرَتِي إِلَى نَبِيِّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ. فَقَالَ: مَا لِي أَرَاكَ مُغَطِّيًا يَدَيْكَ؟! قَالَ: قِيلَ لِي: لَنْ نُصْلِحَ مِنْكَ مَا أَفْسَدْتَ. فَقَصَّهَا الطُّفَيْلُ عَلَى رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَقَالَ رَسُولُ اللهِ: «اللَّهُمَّ وَلِيَدَيْهِ فَاغْفِرْ»
“Ya Rasulullah, maukah Anda memiliki (komunitas) di dalam suatu perlindungan kokoh yang melindungi, serta (mampu) mencegah (orang-orang yang ingin berbuat keburukan kepada Anda)([7])? (Yaitu) sebuah perlindungan yang pernah ada milik Kabilah Daus di masa Jahiliyah? Maka Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam menolaknya karena perkara yang telah disediakan oleh Allah subhaanahu wata’aalaa bagi kaum Anshar. Maka tatkala Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam berhijrah ke Madinah, berhijrahlah at-Thufail bin ‘Amr kepada beliau bersama dengan seorang laki-laki dari kaumnya. Kemudian merekapun enggan untuk tinggal di Madinah([8]), lalu laki-laki itupun sakit, dan tidak sabar. Kemudian dia mengambil anak panah bermata lebar miliknya, kemudian dia memotong ruas-ruas jari jemarinya dengannya, kemudian darahpun memancar dari kedua tangannya hingga dia mati. Lalu at-Thufail bin ‘Amr melihat laki-laki itu di dalam mimpinya, dan ia melihat keadaannya baik, dan ia melihatnya dalam keadaan tertutup kedua tangannya. Maka at-Thufail berkata kepadanya, ‘Apa yang dilakukan oleh Tuhanmu kepadamu? Maka dia menjawab, ‘Dia telah mengampuniku, dengan hijrahku kepada Nabi-Nya shallallaahu ‘alaihi wa sallam.’ Lantas at-Thufail berkata, ‘Mengapa aku melihatmu dalam keadaan tertutup kedua tanganmu?!’ Maka dia berkata, ‘Telah dikatakan kepadaku, ‘Kami tidak akan memperbaiki apa yang telah Engkau rusak dari dirimu.” Kemudian at-Thufail menceritakan hal itu kepada Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam, lalu Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Ya Allah, dan untuk kedua tangannya, maka ampunilah.” (HR. Muslim)([9])
Disini terdapat perhentian yang penting; jika ini adalah hak orang yang berhijrah diantara para sahabat, dan belum pernah dihafal darinya, bahwa dia telah menolong agama Allah dengan sesuatupun; dan tidak pernah diketahui bahwa di pernah berjihad, yaitu bahwa Allah mengampuni dosa bunuh dirinya hanya dengan sekedar hijrah, maka bagaimanakah asumsi Anda dengan kaum muhajirin, yang dengan mereka Allah menolong agama (ini), dan dengan mereka Allah muliakan Nabi-Nya yang mulia?
Telah valid dari sirah Ibnu al-Fakih radhiyallaahu ‘anhu, dia berkata, ‘Aku pernah mendengar Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
«إِنَّ الشَّيْطَانَ قَعَدَ لِابْنِ آدَمَ بِطَرِيقِ الْإِسْلَامِ، فَقَالَ لَهُ: تَسْلَمُ وَتَذَرُ دِينَكَ وَدِينَ آبَائِكَ، فَعَصَاهُ، فَأَسْلَمَ، فَغَفَرَ لَهُ، فَقَعَدَ لَهُ بِطَرِيْقِ الْهِجْرَةِ فَقَالَ لَهُ: تُهَاجِرُ وَتَذَرُ أَرْضَكَ وَسَمَاءَكَ، فَعَصَاهُ فَهَاجَرَ، فَقَعَدَ لَهُ بِطَرِيقِ الْجِهَادِ”، فَقَالَ لَهُ: تُجَاهِدُ فَتُقَاتِلُ فَتُقْتَلُ، فَتُنْكَحُ الْمَرْأَةُ وَيُقْسَمُ الْمَالُ! فَعَصَاهُ فَجَاهِدَ، فَمَنْ فَعَلَ ذَلِكَ، فَمَاتَ، كَانَ حَقًّا عَلَى اللهِ أَنْ يُدْخِلَهُ الْجَنَّةَ، وَإِنْ غَرِقَ كَانَ حَقًّا عَلَى اللهِ أَنْ يُدْخِلَهُ الْجَنَّةَ، أو وَقَصَتْهُ دَابَّةٌ كَانَ حَقًّا عَلَى اللهِ أَنْ يُدْخِلَهُ الْجَنَّةَ»
“Sesungguhnya syaitan duduk di jalan Islam bagi anak Adam, kemudian dia berkata kepadanya, ‘Engkau masuk Islam, lalu Engkau tinggalkan agamamu, dan agama nenek moyangmu?’ Kemudian dia menentang syaitan, lalu masuk Islam, hingga Allah mengampuninya. Kemudian syetan buduk di jalan hijrah untuknya, lalu dia berkata kepadanya, ‘Engkau akan berhijrah, lalu meninggalkan tanah kelahiranmu dan langitmu?’ Lalu diapun menentang syetan, kemudian berhijrah.’ Kemudian syetan duduk di jalan jihad, seraya berkata kepadanya, ‘Engkau akan berjihad, lalu Engkau berperang, kemudian Engkau terbunuh, kamudian istri(mu)pun di nikahi (orang lain), dan hartapun dibagi?!’ Kemudian dia menentang syetan, lalu dia berjihad. Maka barangsiapa melakukan yang demikian, lalu mati, maka ada hak bagi Allah untuk memasukkannya ke dalam sorga. Jika dia tenggelam, maka ada hak bagi Allah untuk memasukkannya ke dalam sorga. Atau jika kendaraannya mematahkan lehernya, maka ada hak bagi Allah untuk memasukkannya ke dalam sorga.” (HR. an-Nasa`iy, Ibnu Hibban di dalam Shahihnya, dan al-Baihaqiy)([10])
(Diambil dari kitab Tsulaatsiyaat Nabawiyah Jilid III, DR. Mihran Mahir ‘Utsman, dialih bahasakan oleh Abu Rofi’ Muhammad Syahri)
_______________
Footnote:
([1]) HR. Muslim (121), Ahmad (17846), lihat al-Jaami’ as-Shahiih li as-Sunan wa al-Masaanid (7/296)-pent
([2]) HR. an-Nasa`iy, al-Kubra (3452), Syaikh al-Albaniy berkata, ‘Shahih lighairihi.’
([3]) Tafsir Ibnu Katsir (VIII/273)
([4]) HR. Muslim (123), al-Bukhari (1369, 2107, 2401), lihat al-Jaami’ as-Shahiih li as-Sunan wa al-Masaanid (1/40)-pent
([5]) HR. an-Nasa’iy (2625), dishahihkan oleh al-Albaniy, Shahiih al-Jaami’ (7112), lihat al-Jaami’ as-Shahiih li as-Sunan wa al-Masaanid (7/292)-pent
([6]) HR. Ahmad (17833), at-Tirmidzi (2863), Shahiih al-Jaami’ (1724), Shahiih at-Targhiib (552), lihat al-Jaami’ as-Shahiih li as-Sunan wa al-Masaanid (4/234)-pent
([7]) Syarhu Muslim, an-Nawawiy (I/230)-pent
([8]) Mereka enggan tinggal di Madinah karena bosan dan sakit.
([9]) HR. Muslim (116), Ahmad (15024), lihat al-Jaami’ as-Shahiih li as-Sunan wa al-Masaanid (7/468)-pent
([10]) Lihat Shahiih at-Targhiib wa at-Tarhiib (2/102)-pent






