Maksiat Kedua Tangan: Memukul Tanpa Haq

وَمِنْهَا الضَّرْبُ بِغَيْرِ حَقٍّ

 

“Dan diantara (maksiat tangan) adalah memukul tanpa hak.”

 

Imam Nawawi al-Bantaniy rahimahullah berkata,

 

بِخِلَافِ مَا إِذَا كَانَ بِحَقٍّ كَضَرْبِ النَّاشِزَةِ وَالصَّبِيِّ إِذَا تَرَكَ الصَّلاَةَ وَقَدْ بَلَغَ عَشْرًا وَنَحْوِ ذَلِكَ فَالَّذِيْ بِغَيْرِ حَقٍّ هُوَ كَضَرْبِ غَيْرِ ذَلِكَ أَوْ ضَرْبِ ذَلِكَ فِيْ الْوَجْهِ أَوْ بِضَرْبٍ مُبَرِّحٍ

 

“Berbeda dengan pukulan yang dilakukan dengan haq, seperti memukul istri yang nusyuz, dan anak kecil jika dia meninggalkan shalat, sementara dia telah mencapai usia sepuluh tahun dan semacam yang demikian. Dan pukulan yang tanpa hak adalah pukulan terhadap selain yang demikian (selain istri yang nusyuz, anak yang telah berusia sepuluh tahun), atau memukul yang demikian di wajahnya. Atau memukul dengan pukulan yang menyakiti.”

 

Allah ﷻ berfirman,

 

وَٱلَّذِينَ يُؤۡذُونَ ٱلۡمُؤۡمِنِينَ وَٱلۡمُؤۡمِنَٰتِ بِغَيۡرِ مَا ٱكۡتَسَبُواْ فَقَدِ ٱحۡتَمَلُواْ بُهۡتَٰنٗا وَإِثۡمٗا مُّبِينٗا ٥٨

 

Dan orang-orang yang menyakiti orang-orang yang mukmin dan mukminat tanpa kesalahan yang mereka perbuat, Maka Sesungguhnya mereka telah memikul kebohongan dan dosa yang nyata. (QS. al-Ahzab: 58)

 

فَالْأَذَى أَنْوَاعٌ حَتَّى لَوْ نَظَرَ شَخْصٌ إِلىَ شَخْصٍ بِعَيْنِ التَّهْدِيْدِ وَالاِحْتِقَارِ بِغَيْرِ حَقٍّ فَهُوَ ظُلْمٌ

 

“Maka gangguan tersebut bermacam-macam, hingga seandainya seseorang melihat kepada orang lain dengan pandangan mata ancaman dan penghinaan tanpa haq maka itu adalah kezhaliman.”([1])

 

Dari Jâbir bahwasannya Rasûlullâh bersabda:

 

« اتَّقُوا الظُّلْمَ فَإِنَّ الظُّلْمَ ظُلُمَاتٌ يَوْمَ الْقِيَامَةِ ، واتَّقُوا الشُّحَّ فَإِنَّ الشُّحَّ أَهْلَكَ مـَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ ، حملَهُمْ على أَنْ سفَكَوا دِماءَهُمْ واسْتَحلُّوا مَحارِمَهُمْ »

 

“Takutlah kepada kezhaliman karena kezhaliman itu adalah kegelapan-kegelapan pada hari kiamat. Dan takutlah terhadap sikap kikir karena kikir itu yang telah membinasakan orang-orang sebelum kamu([2]). Kikir menyebabkan mereka menumpahkan darah mereka([3]) dan menghalalkan semua yang diharamkan atas mereka.”([4])

 

Dari Abû Musa radhiyallaahu ‘anhu, dia berkata: “Rasul bersabda:

 

«إِنَّ اللهَ لَيُمْلِي لِلظَّالِمِ فَإِذَا أَخَذَهُ لَمْ يُفْلِتْهُ» ثُمَّ قَرَأَ: {وَكَذَلِكَ أَخْذُ رَبِّكَ إِذَا أَخَذَ القُرَى وَهِيَ ظَالِمَةٌ إِنَّ أَخْذَهُ أَلِيمٌ شَدِيدٌ}

 

 “Sesungguhnya Allâh menangguhkan orang yang zhalim, maka apabila Allâh menghendaki menghukumnya tidak akan melepasnya (dari siksa).” Kemudian beliau membaca: “Dan begitulah azab Tuhan-mu, apabila Dia mengazab penduduk negeri –negeri yang berbuat zalim. Sesungguhnya azab-Nya adalah sangat pedih lagi keras.” (Hûd: 102)([5])

 

Dari Abû Hurairah radhiyallaahu ‘anhu, dari Nabi beliau bersabda:

 

«مَنْ كَانتْ عِنْدَه مَظْلمَةٌ لأَخِيهِ، مِنْ عِرْضِهِ أَوْ مِنْ شَيْءٍ، فَلْيتَحَلَّلْه ِمنْه الْيوْمَ قَبْلَ أَنْ لا يكُونَ دِينَارٌ ولا دِرْهَمٌ، إنْ كَانَ لَهُ عَملٌ صَالحٌ أُخِذَ مِنْهُ بِقدْرِ مظْلمتِهِ، وإنْ لَمْ يَكُنْ لَهُ حسَنَاتٌ أُخِذَ مِنْ سيِّئَاتِ صاحِبِهِ فَحُمِلَ عَلَيْهِ»

 

“Barangsiapa memiliki (dosa) aniaya terhadap saudaranya dalam urusan kehormatannya atau apapun maka hendaklah meminta kehalalan daripadanya, sekarang (hari ini) sebelum datang suatu hari yang tidak ada lagi dinar dan dirham, jika ia memiliki amal shaleh maka diambil daripadanya seukuran kezhalimannya, tetapi apabila ia tidak memiliki kebaikan-kebaikan maka dosa-dosa saudaranya diambil dan dibebankan kepadanya.”([6])

 

Dari ‘Abdullâh Ibnu ‘Amr Ibnu `l-Ash radhiyallaahu ‘anhuma, dari Nabi beliau bersabda:

 

«الْمُسْلِمُ مَنْ سَلِمَ الْمُسْلِمُونَ مِنْ لِسانِهِ ويَدِهِ، والْمُهَاجِرُ مَنْ هَجَرَ ما نَهَى اللهُ عَنْهُ »

 

“Orang muslim itu adalah orang yang kaum muslimin bebas dari gangguan lidah dan tangannya. Sedangkan muhajir (orang yang hijrah) itu adalah orang yang meninggalkan apa yang dilarang oleh Allâh.”([7])

 

Dari Abû Hurairah radhiyallaahu ‘anhu, bahwasanya Rasûlullâh bersabda:

 

«أَتَدْرُون من الْمُفْلِسُ ؟» قالُوا : الْمُفْلسُ فِينَا مَنْ لا دِرْهَمَ لَهُ وَلا مَتَاعَ . فقال : « إِنَّ الْمُفْلِسَ مِنْ أُمَّتِي مَنْ يَأْتِي يَوْمَ الْقيامةِ بِصَلاةٍ وَصِيَامٍ وزَكَاةٍ ، ويأْتِي وقَدْ شَتَمَ هذا ، وقذَف هذَا وَأَكَلَ مالَ هَذَا، وسفَكَ دَم هذَا ، وَضَرَبَ هذا ، فيُعْطَى هذَا مِنْ حسَنَاتِهِ ، وهَذا مِن حسَنَاتِهِ ، فَإِنْ فَنِيَتْ حسناته قَبْلَ أَنْ يقْضِيَ مَا عَلَيْهِ ، أُخِذَ مِنْ خَطَايَاهُمْ فَطُرحَتْ علَيْه ، ثُمَّ طُرِح في النَّارِ»

 

“Tahukah kamu siapa Muflis itu?” Mereka menjawab: “Muflis (orang yang bangkrut) itu menurut kami adalah orang yang tidak memiliki (lagi) dirham dan juga barang.” Maka beliau bersabda: “Sesungguhnya muflis dalam umatku adalah orang yang datang pada hari kiamat dengan membawa (pahala) shalat, puasa dan zakat, tetapi ia datang dalam keadaan telah mencaci ini, telah menuduh zina ini, telah makan hartanya ini, telah membunuh ini, dan telah memukul ini, maka orang ini dibayar dengan sebagian kebaikannya dan ini diambilkan dari kebaikannya. Apabila kebaikannya telah habis sebelum terbayar hutang-hutangnya maka diambillah dosa-dosa mereka lalu dipikulkan kepadanya, kemudian ia dilempar ke neraka.”([8])

 

Bolehkah Memukul Anak yang Nakal untuk Mendidiknya?

 

Rasulullah ﷺ bersabda,

 

«مُرُوا أَوْلَادَكُمْ بِالصَّلَاةِ وَهُمْ أَبْنَاءُ سَبْعِ سِنِينَ، وَاضْرِبُوهُمْ عَلَيْهَا، وَهُمْ أَبْنَاءُ عَشْرٍ وَفَرِّقُوا بَيْنَهُمْ فِي الْمَضَاجِعِ»

 

“Perintahkanlah kepada anak-anakmu untuk (melaksanakan) shalat (lima waktu) sewaktu mereka berumur tujuh tahun, pukullah mereka karena (meninggalkan) shalat (lima waktu) jika mereka (telah) berumur sepuluh tahun, serta pisahkanlah tempat tidur mereka.“([9])

 

Hadits ini menunjukkan bolehnya memukul anak untuk mendidik mereka jika mereka melakukan perbuatan yang melanggar syariat, jika anak tersebut telah mencapai usia yang memungkinkannya bisa menerima pukulan dan mengambil pelajaran darinya –dan ini biasanya di usia sepuluh tahun. Dengan syarat, pukulan tersebut tidak terlalu keras dan tidak pada wajah.([10])

 

Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin rahimahullah ketika ditanya, “Bolehkah menghukum anak yang melakukan kesalahan dengan memukulnya atau meletakkan sesuatu yang pahit atau pedis di mulutnya, seperti cabai/ lombok?”, beliau menjawab, “Adapun mendidik (menghukum) anak dengan memukulnya, maka ini diperbolehkan (dalam agama Islam) jika anak tersebut telah mencapai usia yang memungkinkannya untuk mengambil pelajaran dari pukulan tersebut, dan ini biasanya di usia sepuluh tahun.

 

Adapun memberikan sesuatu yang pedis (di mulutnya) maka ini tidak boleh, karena ini bisa jadi mempengaruhinya (mencelakakannya)…. Berbeda dengan pukulan yang dilakukan pada badan maka ini tidak mengapa (dilakukan) jika anak tersebut bisa mengambil pelajaran darinya, dan (tentu saja) pukulan tersebut tidak terlalu keras.

 

Untuk anak yang berusia kurang dari sepuluh tahun, hendaknya dilihat (kondisinya), karena Rasulullah ﷺ hanya membolehkan untuk memukul anak (berusia) sepuluh tahun karena meninggalkan shalat. Maka, yang berumur kurang dari sepuluh tahun hendaknya dilihat (kondisinya). Terkadang, seorang anak kecil yang belum mencapai usia sepuluh tahun memiliki pemahaman (yang baik), kecerdasan dan tubuh yang besar (kuat) sehingga bisa menerima pukulan, celaan, dan pelajaran darinya (maka anak seperti ini boleh dipukul), dan terkadang ada anak kecil yang tidak seperti itu (maka anak seperti ini tidak boleh dipukul).”([11])

 

 

(Diambil dari buku Kumpulan Makalah Kajian Syarah Sullamauttaufik oleh Ust. Muhammad Syahri di Rumah Bpk. H. Jarot Jawi Prigen)

__________________________________

Footnote:

([1]) al-Mirqah, 74

([2]) dari umat-umat

([3]) Mereka saling membunuh, sedangkan menghalalkan yang haram artinya mereka menghalalkan wanita sehingga melakukan perzinahan  dengan mereka (yang lebih pas; mereka mencari cara untuk menjual apa yang diharamkan Allâh atau untuk memperolah apa yang diharamkan oleh Allâh, -pent.)

([4]) HR. Muslim (2578)

([5]) HR. Al-Bukhârî (4686) Muslim (2583)

([6]) HR. Al-Bukhârî (2449)

([7]) HR. Al-Bukhârî (10, 6484) Muslim (40,41,42)

([8]) HR. Muslim (2581)

([9]) HR. Abu Daud (495), at-Tirmidzi (407), Ahmad (6689), dihasan-shahihkan oleh al-Albaniy, lihat Shahiih al-Jaami’ (5868), al-Misykah (572), al-Irwa` (247), lihat al-Jaami’ as-Shahiih li as-Sunan wa al-Masaanid (11/140)

([10]) Lihat kitab Tuhfatul Ahwadzi: 2/370.

([11]) Kitab Majmu’atul As`ilah Tahummul Usratal Muslimah, hlm. 149–150.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *