Bisa Jadi Yang Tidak Kamu Sukai Adalah Kebaikan Bagimu Dan Sebaliknya
﴿وَعَسَىٰ أَن تَكْرَهُوا شَيْئًا وَهُوَ خَيْرٌ لَّكُمْ ۖ وَعَسَىٰ أَن تُحِبُّوا شَيْئًا وَهُوَ شَرٌّ لَّكُمْ﴾
“Dan boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal itu sangat baik bagimu; dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal itu sangat buruk bagimu.”
Ayat ini mewakili sebuah kaidah agung yang memiliki pengaruh mendalam dalam kehidupan seorang muslim tatkala ia mengambil petunjuk dengannya. Kaidah ini memiliki kaitan yang sangat erat dengan salah satu rukun iman yang agung, yaitu: beriman kepada qadha’ dan takdir.
Ayat ini disebutkan dalam konteks pembicaraan mengenai kewajiban jihad di jalan Allah Ta’ala. Kalimat yang semisal dengannya juga terdapat di dalam Surah An-Nisaa’ —dalam konteks pembicaraan tentang mempertahankan istri meski ada rasa enggan/benci untuk tetap bersamanya, tetapi tetap dipertahankan karena khawatir akan kemaslahatan anak-anak—:
﴿فَإِن كَرِهْتُمُوهُنَّ فَعَسَىٰ أَن تَكْرَهُوا شَيْئًا وَيَجْعَلَ اللَّهُ فِيهِ خَيْرًا كَثِيرًا﴾
“Kemudian jika kamu tidak menyukai mereka, (maka bersabarlah) karena boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal Allah menjadikan padanya kebaikan yang banyak.” [An-Nisaa’: 19].
Ayat ini menunjukkan bahwa manusia terkadang ditimpa sebagian takdir yang menyakitkan, yang dibenci oleh jiwanya. Mungkin ia merasa berkeluh kesah atau tertimpa kesedihan, dan menyangka bahwa ketentuan takdir tersebut merupakan pukulan telak yang mematikan harapan serta kehidupannya. Namun tiba-tiba, takdir tersebut justru menjadi kebaikan bagi dirinya dari arah yang tidak ia ketahui.
Sebaliknya pun demikian: betapa banyak manusia berupaya keras menggapai sesuatu yang lahiriahnya tampak baik, bersungguh-sungguh mengerahkan jiwa raga untuk memperolehnya, dan mengorbankan segala yang berharga demi mencapainya, tetapi kenyataan yang terjadi justru berbanding terbalik dari apa yang ia harapkan.
Seandainya kita menelaah kisah-kisah di dalam Al-Qur’an dan lembaran-lembaran sejarah, atau mencermati realitas kehidupan, tentu kita akan mendapati banyak sekali pelajaran serta bukti nyata dari hal tersebut. Semoga kita dapat menyebutkan beberapa di antaranya, dengan harapan dapat menjadi pelipur lara bagi setiap orang yang bersedih, dan menjadi ibrah bagi setiap insan yang dirundung kegundahan:
1 – Kisah dilemparkannya Nabi Musa oleh sang ibu ke sungai: jika engkau merenungkannya, niscaya engkau mendapati tiada perkara yang lebih dibenci oleh ibu Musa daripada jatuhnya sang anak ke tangan keluarga Fir’aun. Kendati demikian, tampaklah akibat-akibat yang terpuji serta pengaruh-pengaruh yang baik darinya pada hari-hari mendatang. Dan inilah yang diungkapkan oleh penutup kaidah ini:
﴿وَاللهُ يَعْلَمُ وَأَنتُمْ لَا تَعْلَمُونَ﴾
“Dan Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.”
2 – Kisah Nabi Yusuf ‘alaihis sholatu was salam: engkau akan mendapati bahwa ayat ini selaras sepenuhnya dengan apa yang terjadi pada diri beliau dan ayahandanya, Ya’qub ‘alaihimas sholatu was salam.
3 – Dan dari Sunnah Nabawiyyah: tatkala suami Ummu Salamah radhiyallaahu ‘anha wafat, Ummu Salamah berkata: Aku mendengar Rasulullah ﷺ bersabda:
«مَا مِنْ مُسْلِمٍ تُصِيبُهُ مُصِيبَةٌ فَيَقُولُ مَا أَمَرَهُ اللهُ: إِنَّا لِلهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ، اللَّهُمَّ أْجُرْنِي فِي مُصِيبَتِي وَأَخْلِفْ لِي خَيْرًا مِنْهَا، إِلَّا أَخْلَفَ اللهُ لَهُ خَيْرًا مِنْهَا»، قَالَتْ: فَلَمَّا مَاتَ أَبُو سَلَمَةَ، قُلْتُ: أَيُّ المُسْلِمِينَ خَيْرٌ مِنْ أَبِي سَلَمَةَ؟ أَوَّلُ بَيْتٍ هَاجَرَ إِلَى رَسُولِ اللهِ ﷺ؟ ثُمَّ إِنِّي قُلْتُهَا، فَأَخْلَفَ اللهُ لِي رَسُولَ اللهِ ﷺ!
“Tidaklah seorang muslim tertimpa suatu musibah lalu ia mengucapkan apa yang diperintahkan Allah kepadanya: ‘Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un, ya Allah berilah aku pahala dalam musibahku ini dan gantikanlah untukku yang lebih baik daripadanya’, melainkan Allah akan menggantikannya dengan yang lebih baik.” Ia berkata: Maka tatkala Abu Salamah meninggal, aku bergumam: “Siapakah kaum muslimin yang lebih baik daripada Abu Salamah? Dialah keluarga pertama yang berhijrah kepada Rasulullah ﷺ?” Akan tetapi kemudian aku tetap mengucapkannya, maka Allah pun menggantikannya untukku dengan Rasulullah ﷺ! ([1])
Demikian pula seorang wanita mukminah, wajib baginya untuk tidak membatasi kebahagiaannya atau mereduksinya hanya pada satu pintu dari pintu-pintu kehidupan semata. Memang benar, kesedihan yang datang sekilas adalah perkara yang para nabi dan rasul pun tidak luput darinya. Namun perkara yang tidak semestinya terjadi adalah: menyempitkan seluruh kehidupan atau kebahagiaan hanya pada satu kejadian, atau menggantungkannya pada satu sosok manusia, sebesar apa pun kedudukannya di dalam hati.
اللَّهُمَّ امْلَأْ قُلُوبَنَا رِضًى عَنْكَ، وَدَبِّرْنَا عَلَى مَا تُحِبُّ وَتَرْضَى.
Ya Allah, penuhilah hati kami dengan keridhaan kepada-Mu, dan aturlah urusan kami di atas apa yang Engkau cintai dan Engkau ridhai.
(Diterjemahkan dari Majalisu at-Tadzkiir, Fushulun Imaniyatun Tarbawiyatun, Prof. DR. ‘Umar Abdullah Muhammad al-Muqbil)
____________________
Footnote:
([1]) Muslim, hadits no. (918)






