Mereka Yang Dirahmati (25) Majelis-Majelis Dzikir (Majelis-Majelis Ilmu Dan Dirasah)

 

Dari Abu Hurairah radhiyallaahu ‘anhu, dia berkata, ‘Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

 

«مَنْ نَفَّسَ عَنْ مُؤْمِنٍ كُرْبَةً مِنْ كُرَبِ الدُّنْيَا نَفَّسَ اللهُ عَنْهُ كُرْبَةً مِنْ كُرَبِ يَوْمِ الْقِيَامَةِ وَمَنْ يَسَّرَ عَلَى مُعْسِرٍ يَسَّرَ اللهُ عَلَيْهِ فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ وَمَنْ سَتَرَ مُسْلِمًا سَتَرَهُ اللهُ فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ وَاللهُ فِي عَوْنِ الْعَبْدِ مَا كَانَ الْعَبْدُ فِي عَوْنِ أَخِيهِ وَمَنْ سَلَكَ طَرِيقًا يَلْتَمِسُ فِيهِ عِلْمًا سَهَّلَ اللهُ لَهُ بِهِ طَرِيقًا إِلَى الْجَنَّةِ وَمَا اجْتَمَعَ قَوْمٌ فِي بَيْتٍ مِنْ بُيُوتِ اللهِ يَتْلُونَ كِتَابَ اللهِ وَيَتَدَارَسُونَهُ بَيْنَهُمْ إِلَّا نَزَلَتْ عَلَيْهِمْ السَّكِينَةُ وَغَشِيَتْهُمْ الرَّحْمَةُ وَحَفَّتْهُمْ الْمَلَائِكَةُ وَذَكَرَهُمْ اللهُ فِيمَنْ عِنْدَهُ وَمَنْ بَطَّأَ بِهِ عَمَلُهُ لَمْ يُسْرِعْ بِهِ نَسَبُهُ»

 

“Barangsiapa memberikan kelonggaran kepada sorang mukmin dari satu kesulitan dan kesulitan dunia, maka Allah akan memberikan kelonggaran baginya dari satu kesulitan dari kesulitan-kesulitan pada hari kiamat. Dan barangsiapa memberikan kemudahan bagi orang yang berkesulitan, maka Allah akan memberikan kemudahan baginya di dunia dan di akhirat. Dan barangsiapa menutupi aib seorang muslim, maka Allah akan menutupi aibnya di dunia dan di akhirat. Dan Allah berada pada perbuatan menolong seorang hamba selagi hamba tersebut berada pada usaha menolong saudaranya. Dan barangsiapa meniti suatu jalan yang di dalamnya dia mencari ilmu, maka dengannya Allah akan mudahkan untuknya satu jalan menuju Sorga. Dan tidaklah suatu kaum berada di dalam satu rumah dai rumah-rumah Allah, mereka membaca kitabullah, serta mempelajarinya di antara mereka, melainkan sakinah (ketenangan) akan turun kepada mereka, rahmat (Allah) akan meliputi mereka, para malaikat akan menaungi mereka, dan Allah akan menyeebut-nyebut mereka di tengah makhluk yang ada di sisi-Nya. Dan barangsiapa amalnya membuatnya lambat, maka nasabnya tidak akan bisa mempercepatnya.” ([1])

 

Dan dari al-Agharr Abu Muslim, bahwa dia berkata, ‘Aku menyaksikan Abu Hurairah dan Abu Sa’ide al-Khudiru radhiyallaahu ‘anhuma, bahwa keduanya bersaksi terhadap Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam bahwa beliau bersabda:

 

«لَا يَقْعُدُ قَوْمٌ يَذْكُرُونَ اللهَ عَزَّ وَجَلَّ إِلَّا حَفَّتْهُمْ الْمَلَائِكَةُ وَغَشِيَتْهُمْ الرَّحْمَةُ وَنَزَلَتْ عَلَيْهِمْ السَّكِينَةُ وَذَكَرَهُمْ اللهُ فِيمَنْ عِنْدَهُ»

 

“Tidaklah suatu kaum duduk sembari berdzikir mengingat Allah D, melainkan para malaikat akan mengelilingi mereka, rahmat (Allah) akan mendatangi (meliputi) mereka, sakinah (ketenangan) akan turun kepada mereka, dan Allah akan menyebut-nyebut mereka di sisi makhluk yang ada di sisinya.” ([2])

 

Al-Imam an-Nawawiy rahimahullah berkata([3]):

 

Sabda beliau shallallaahu ‘alaihi wa sallam:

 

«وَمَا اجْتَمَعَ قَوْمٌ فِي بَيْتٍ مِنْ بُيُوتِ اللهِ يَتْلُونَ كِتَابَ اللهِ وَيَتَدَارَسُونَهُ بَيْنَهُمْ إِلَّا نَزَلَتْ عَلَيْهِمْ السَّكِينَةُ وَغَشِيَتْهُمْ الرَّحْمَةُ »

 

“Dan tidaklah suatu kaum berada di dalam satu rumah dari rumah-rumah Allah, mereka membaca kitabullah, serta mempelajarinya di antara mereka, melainkan sakinah (ketenangan) akan turun kepada mereka, rahmat (Allah) akan meliputi mereka,…”

 

Dikatakan: yang dimaksud dengan sakinah disini adalah rahmat, dan dialah yang dipilih oleh al-Qadhi ‘Iyadh, dan ia dha’if karena peng’athafan rhmat kepadanya.

 

Dikatakan, thumakninah dan waqar (kedamaian), dan ia lebih baik.

 

Dan didalamnya hal ini terdapat dalil akan keutamaan berkumpul untuk membaca al-Qur`an di dalam masjid, dan ia adalah madzhab kami dan madzhabnya jumhur.

 

Malik berkata, “Dimakruhkan”, sementara sebagian sahabat-sahabatnya menakwilkannya dan berkumpul di madrasah, ribath dan semisal keduanya disertakan dengan masjid untuk mendapatkan keutamaan ini insyaallaah.

 

Dan hadits setelahnya menunjukkannya, dikarenakan ia bersifat mutlak mencakup keseluruhan tempat. Maka jadilah pengikatan pada hadits yang pertama telah keluar pada keumumannya, terutama di masa itu. Maka tidak ada padanya pemahaman yang diamalkan.

 

Al-Imam Ibnu Rajab al-Hanbaliy telah mensyarah hadits ini di dalam kitabnya yang berharga Jaami’al-Ílmi Wa al-Hikami([4]), lalu beliau datang dengan berbagai hal yang berharga, di antaranya:

 

Sabda beliau shallallaahu ‘alaihi wa sallam:

 

«وَمَا جَلَسَ قَوْمٌ فِيْ بَيْتٍ مِنْ بُيُوْتِ اللهِ، يَتْلُوْنَ كِتَابَ اللهِ، وَيَتَدَارَسُوْنَهُ بَيْنَهُمْ، إِلَّا نَزَلَتْ عَلَيْهِمُ السَّكِيْنَةُ، وَغَشِيَتْهُمُ الرَّحْمَةُ، وَحَفَّتْهُمُ الْمَلَائِكَةُ، وَذَكَرَهُمُ اللهُ فِيْمَنْ عِنْدَهُ»

 

“Dan tidaklah suatu kaum duduk di satu rumah dari rumah-rumah Allah, mereka membaca kitabullah, mereka mempelajarinya di antara mereka, melainkan sakinah akan turun kepada mereka, rahmat akan mendatangi mereka, para Malaikat akan menaungi mereka, dan Allah akan menyebut-nyebut mereka pada makhluk yang ada di sisi-Nya.”

 

Ini menunjukkan akan disunnahkannya duduk di dalam masjid-masjid untuk membaca al-Qur`an dan mempelajarinya. Dan ini jika dibawa kepada mempelajari al-Qur`an dan mengajarkannya, maka tidak ada khilaf tentang pensunnahannya.

 

Dan di dalam Shahiih al-Bukhari([5]) dari ‘Utsman radhiyallaahu ‘anhu, dari Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda,

 

«خَيْرُكُمْ مَنْ تَعَلَّمَ الْقُرْآنَ وَعَلَّمَهُ»

 

“Sebaik-baik kalian orang yang mempelajari al-Qur`an dan mengajarkannya.”

 

Abu ‘Abdirrahmaan as-Sulamiy berkata, “Maka itulah yang membuatku duduk di tempat dudukku ini.” Dan adalah beliau telah mengajarkan al-Qur`an di zaman ‘Utsman bin ‘Affan hingga zaman al-Hajjaj bin Yusuf.

 

Dan jika dibawa kepada makna yang lebih umum dari yang demikian, maka masuk di dalamnya berkumpul di masjid-masjid untuk mempelajari al-Qur`an secara mutlak, dan adalah Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam kadang memerintah orang yang membaca al-Qur`an agar beliau mendengarkan bacaannya, sebagaimana beliau pernah memerintah Ibnu Mas’ud radhiyallaahu ‘anhu untuk membacakan al-Qur`an bagi beliau, seraya beliau bersabda,

 

«إنِّي أُحِبُّ أَنْ أَسْمَعَهُ مِنْ غَيْرِيْ»

 

“Sesungguhnya aku senang mendengarkannya dari selainku.” ([6])

 

Dan adalah ‘Umar biasa memerintah orang yang membacakan al-Qur`an untuk beliau dan para sahabatnya, sementara mereka mendengarkannya. Maka sekali waktu dia memerintah Abu Musa, dan sekali waktu memerintah ‘Uqbah bin ‘Aamir.

 

Ibnu ‘Abbas radhiyallaahu ‘anhuma pernah ditanya, “Amal apakah yang paling utama?” Maka beliau benjawab,

 

«ذِكْرُ اللهِ، وَمَا جَلَسَ قَوْمٌ فِيْ بَيْتٍ مِنْ بُيُوْتِ اللهِ يَتَعَاطَوْنَ فِيْهِ كِتَابَ اللهِ فِيْمَا بَيْنَهُمْ وَيَتَدَارَسُوْنَهُ، إِلاَّ أَظَلَّتْهُمُ الْمَلَائِكَةُ بِأَجْنِحَتِهَا، وَكَانُوا أَضْيَافَ اللهِ مَا دَامُوا عَلَى ذَلِكَ حَتَّى يُفِيْضُوا فِيْ حَدِيْثٍ غَيْرِهِ»

 

“Berdizikir mengingat Allah, dan tidaklah suatu kaum duduk di dalam satu rumah dari rumah Allah, mereka praktekkan padanya (pembacaan) kitabullah di antara mereka, dan mereka saling mempelajarinya bersama-bersama, melainkan para malaikat akan menaungi mereka dengan sayap sayap mereka, dan mereka menjadi tamu-tamunya Allah selagi mereka berada pada kondisi yang demikian hingga mereka berbicara pada pembicaraan selain al-Quran.” ([7])

 

Dan diriwayatkan secara marfu’ sementara yang mauquf lebih shahih.

 

Yazid ar-Raqqaasyi meriwayatkan dari Anas radhiyallaahu ‘anhu, dia berkata:

 

«كَانُوا إِذَا صَلَّوا الْغَدَاةَ، قَعَدُوا حِلَقاً حِلَقاً، يَقْرَؤُوْنَ الْقُرْآنَ، وَيَتَعَلَّمُوْنَ الْفَرَائِضَ وَالسُّنَنَ، وَيَذْكُرُوْنَ اللهَ عَزَّ وَجَلَّ»

 

“Adalah mereka, jika mereka telah selesai shalat subuh, mereka duduk berkelompok kelompok, mereka membaca al-Qur`an, mereka mempelajari ilmu fara-idh dan sunnah-sunnah, serta berdzikir menyebut asma Allah azza wa jalla.” ([8])

 

‘Athiyyah meriwayatkan dari Abu Sa’ide al-Khudriy radhiyallaahu ‘anhu, dari Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda:

 

«مَا مِنْ قَوْمٍ صَلَّوا صَلَاةَ الْغَدَاةِ، ثُمَّ قَعَدُوا فِيْ مُصَلاَّهُمْ، يَتَعَاطَوْنَ كِتَابَ اللهِ، وَيَتَدَارَسُوْنَهُ، إِلاَّ وَكَّلَ اللهُ بِهِمْ مَلَائِكَةً يَسْتَغْفِرُوْنَ لَهُمْ حَتَّى يَخُوْضُوا فِيْ حَدِيْثٍ غَيْرِهِ»

 

“Tidak ada di antara suatu kaum yang mereka telah melaksanakan shalat subuh, kemudian mereka duduk di tempat shalat mereka, lalu mereka mempraktekkan (pembacaan) kitabullah, dan saling mempelajarinya, melainkan Allah tugaskan para malaikat bagi mereka untuk beristigfar untuk mereka hingga mereka tenggelam dalam pembicaraan selain kitabullah.” ([9])

 

Dan ini menunjukkan akan disunnahkannya berkumpul setelah shalat subuh untuk mempelajari al-Qur`an, akan tetapi ada kedha’ifan pada diri ‘Athiyyah. ([10])

 

Al-Harb al-Kirmaniy telah meriwayatkan dengan sanadnya dari al-Auza’iy bahwa dia pernah ditanya tentang pelajaran al-Qur`an setelah shalat subuh, maka dia berkata:

 

أَخْبَرَنِيْ حَسَّانُ بْنُ عَطِيَّةَ أَنَّ أوَّلَ مَنْ أَحْدَثَهَا فِيْ مَسْجِدِ دِمَشْقَ هِشَامُ بْنُ إِسْمَاعِيْلَ الْمَخْزُوْمِيُّ فِيْ خِلَافَةِ عَبْدِ الْمَلِكِ بْنِ مَرْوَانَ، فَأَخَذَ النَّاسُ بِذَلِكَ

 

“Hassan bin ‘Athiyyah telah memberitakan kepadaku bahwa orang yang pertama kali mengadakannya di masjid Damaskus adalah Hisyam bin Isma’il al-Makhzuumiy pada kekhilafahan ‘Abdul Malik bin Marwan, lalu manusia mengambil yang demikian.”

 

Dan dengan sanadnya dari Sa’iid bin ‘Abdil ‘Aziiz dan Ibrahim bin Sulaiman, bahwa keduanya biasa mengajarkan al-Qur`an setelah shaalt subuh di Beirut sementara al-Auza’iy berada di dalam masjid, dan dia tidak mengubah (mengingkari) mereka.

 

Harb menyebutkan bahwa dia telah melihat penduduk Damaskus, Himsh, Makkah, dan Bashrah berkumpul untuk membaca al-Qur`an setelah shalat subuh. Akan tetapi penduduk Syam, keseluruhan mereka membaca al-Qur`an secara umum dari satu surat dengan suara keras, sementara penduduk Makkah dan Bashrah, mereka berkumpul lalu salah seorang dari mereka membaca sepuluh ayat sementara manusia diam mendengarkan kemudian orang lain lagi membaca sepuluh ayat hingga mereka selesai. Harb berkata, “Semua itu bagus dan indah.”

 

Sementara Malik mengingkari penduduk Syam atas yang demikian.

 

Ziad bin ‘Ubaid ad-Dimasqiy berkata, “Malik bin Anas berkata kepadaku: “Telah sampai kepadaku bahwasannya kalian biasa duduk berhalaqahhalaqah sambil membaca al-Qur`an.” Maka akupun memberitakan kepadanya dengan apa yang biasa dilakukan oleh sahabat-sahabat kami. Maka Malik berkata, “Di sisi kami dulu ada kaum Muhajirin dan Anshar, kami tidak mengenal yang demikian.” Dia berkata, ‘Maka aku berkata, “Ini adalah Tharif.” Maka dia mberkata, “Tharif  adalah seorang lelaki yang membaca lalu manusia berkumpul di sekitarnya.” Maka dia berkata, “Ini adalah selain pendapat kami.”

 

Abu Mush’ab dan Ishaq bin Muhammad al-Farwiy berkata, “Kami telah mendengar Malik bin Anas berkata,

 

الْاِجْتِمَاعُ بُكْرَةً بَعْدَ صَلَاةِ الْفَجْرِ لِقِرَاءَةِ الْقُرْآنِ بِدْعَةٌ، مَا كَانَ أَصْحَابُ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَلَا الْعُلَمَاءُ بَعْدَهُمْ عَلَى هَذَا ، كَانُوا إِذَا صَلَّوا يَخْلُو كُلٌّ بِنَفْسِهِ، وَيَقْرَأُ، وَيَذْكُرُ اللهَ عَزَّ وَجَلَّ، ثُمَّ يَنْصَرِفُوْنَ مِنْ غَيْرِ أَنْ يُكَلِّمَ بَعْضُهُمْ بَعْضاً، اشْتِغَالاً بِذِكْرِِ اللهِ، فَهَذِهِ كُلُّهَا مُحْدَثَةٌ .

 

“Berkumpul di pagi hari setelah shalat subuh untuk membaca al-Qur`an adalah bid’ah. tidak pernah para sahabat Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam, tidak juga para ulama setelah mereka berada di atas pebuatan ini. Dulu mereka, jika telah shalat, mereka bersendiri dengan diri mereka masing-masing; membaca al-Qur`an dan berdzikir menyeubt asma Allah azza wa jalla. Kemudian mereka berpaling tanpa sebagian mereka berbicara dengan sebagian yang lain, dalam rangka sibuk berdzikir menyeubut asma Allah. Maka semua ini adalah muhdtas (perkara baru yang diada-adakan).”

 

Ibnu Wahb berkata, “Aku pernah mendengar Malik berkata:

 

لَمْ تَكُنْ الْقِرَاءَةُ فِيْ الْمَسْجِدِ مِنْ أَمْرِ النَّاسِ الْقَدِيْمِ، وَأَوَّلُ مَنْ أَحْدَثَ ذَلِكَ فِيْ الْمَسْجِدِ الْحَجَّاجُ بْنُ يُوْسُفَ

 

“Membaca al-Qur`an di masjid (seperti itu) tidak pernah menjadi bagian dari urusan manusia masa lalu, dan orang yang pertama kali mengada-adakan yang demikian adalah di masjid al-Hajjaj bin Yusuf.”

 

Malik berkata,

 

وَأَنَا أَكْرَهُ ذَلِكَ الَّذِيْ يَقْرَأُ فِيْ الْمَسْجِدِ فِيْ الْمُصْحَفِ

 

“Dan aku memakruhkan orang yang membaca pada mushaf di masjid (dengan cara seperti itu).”

 

Abu Bakar an-Naisabury telah meriwayatkan semua ini di dalam kitab Manaqib Malik.

 

Mayoritas berdalil akan disunnahkannya berkumpul untuk mempelajari al-Qur`an secara umum dengan hadits-hadits yang menunjukkan akan disunnahkannya untuk berkumpul dalam rangka berdzikir. Sementara al-Qur`an adalah seutama-utamanya macam bentuk dzikir.

 

Di dalam as-Shahiihain([11]) dari Abu Hurairah radhiyallaahu ‘anhu, dari Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda:

 

«إِنَّ لِلهِ مَلاَئِكَةً يَطُوفُونَ فِي الطُّرُقِ يَلْتَمِسُونَ أَهْلَ الذِّكْرِ، فَإِذَا وَجَدُوا قَوْمًا يَذْكُرُونَ اللهَ تَنَادَوْا: هَلُمُّوا إِلَى حَاجَتِكُمْ، فَيَحُفُّونَهُمْ بِأَجْنِحَتِهِمْ إِلَى السَّمَاءِ الدُّنْيَا، فَيَسْأَلُهُمْ رَبُّهُمْ، وَهُوَ أَعْلَمُ بِهِمْ، مَا يَقُولُ عِبَادِي؟ قَالُوا: يَقُولُونَ: يُسَبِّحُونَكَ وَيُكَبِّرُونَكَ وَيَحْمَدُونَكَ وَيُمَجِّدُونَكَ، فَيَقُولُ: هَلْ رَأَوْنِي؟ فَيَقُولُونَ: لاَ وَاللهِ مَا رَأَوْكَ؟ ” فَيَقُولُ: وَكَيْفَ لَوْ رَأَوْنِي؟ فَيَقُولُونَ: لَوْ رَأَوْكَ كَانُوا أَشَدَّ لَكَ عِبَادَةً، وَأَشَدَّ لَكَ تَمْجِيدًا وَتَحْمِيدًا، وَأَكْثَرَ لَكَ تَسْبِيحًا، فَيَقُولُ: فَمَا يَسْأَلُونِي؟ قَالُوا: «يَسْأَلُونَكَ الجَنَّةَ، فَيَقُولُ: وَهَلْ رَأَوْهَا؟ فَيَقُولُونَ: لاَ وَاللهِ يَا رَبِّ مَا رَأَوْهَا، فَيَقُولُ: كَيْفَ لَوْ أَنَّهُمْ رَأَوْهَا؟ فَيَقُولُونَ: لَوْ أَنَّهُمْ رَأَوْهَا كَانُوا أَشَدَّ عَلَيْهَا حِرْصًا، وَأَشَدَّ لَهَا طَلَبًا، وَأَعْظَمَ فِيهَا رَغْبَةً، قَالَ: فَمِمَّ يَتَعَوَّذُونَ؟ فَيَقُولُونَ: مِنَ النَّارِ قَالَ: يَقُولُ: فَهَلْ رَأَوْهَا؟ فَيَقُولُونَ: لاَ وَاللهِ يَا رَبِّ مَا رَأَوْهَا فَيَقُولُ: كَيْفَ لَوْ رَأَوْهَا؟ فَيَقُولُونَ: لَوْ رَأَوْهَا كَانُوا أَشَدَّ مِنْهَا فِرَارًا، وَأَشَدَّ لَهَا مَخَافَةً، فَيَقُولُ اللهُ تَعَالَى: أُشْهِدُكُمْ أَنِّي قَدْ غَفَرْتُ لَهُمْ، فَيَقُولُ مَلَكٌ مِنَ المَلاَئِكَةِ: فِيهِمْ فُلاَنٌ لَيْسَ مِنْهُمْ، إِنَّمَا جَاءَ لِحَاجَةٍ. قَالَ: هُمُ الجُلَسَاءُ لاَ يَشْقَى بِهِمْ جَلِيسُهُمْ»

 

“Sesungguhnya Allah memiliki para malaikat yang berkeliling di jalan-jalan untuk mencari orang-orang yang berdzikir. Maka jika mereka mendapatkan suatu kaum yang sedang berdzikir menyebut asama all;ah azza wa jalla, mareka akan menyeru, “Kemarilah menuju hajat keperluan kalian.”

 

Maka merekapun mengilingi mereka (yang berdzikir) dengan sayap sayap mereka hingga ke langit dunia. Lalu Rabb mereka bertanya kepada mereka -sementara Dia lebih tahu daripada mereka-, “Apa yang dikatakan oleh hamba-hamba-Ku?”

 

Dia berkata, “Mereka berkata, “Mereka bertasbih mensucikan-Mu, mereka bertakbir mengagungkan-Mu, mereka bertahmid memuji dan menyanjung-Mu.”

 

Lalu Allah berfirman, “Apakah mereka telah melihat-Ku?”

 

Maka mereka berkata, “Tidak, demi Allah, mereka tidak pernah melihat-Mu.”

 

Allah berfirman, “Bagaimana seandainya mereka telah melihat-Ku?”

 

Maka mereka berkata, “Seandainya mereka telah melihat-Mu, maka mereka akan menjadi lebih keras lagi ibadahnya untuk-Mu, dan lebih keras lagi pujian dan sanjungannya bagi-Mu, dan lebih banyak lagi tasbih mereka bagi-Mu.”

 

Allah berfirman, “Maka apa yang mereka minta kepada-Ku?”

 

Mereka berkata, “Mereka memohon Sorga kepada-Mu.”

 

Maka Allah berfirman, “Apakah mereka telah melihat Sorga?”

 

Maka mereka menjawab, “Tidak demi Allah, wahai Tuahnku, mereka belum melihatnya.”

 

Maka Allah berfirman, “Bagaimana seandainya mereka telah melihatnya?”

 

Maka mereka berkata, “Seandainya mereka telah melihat Sorga, maka mereka akan menjadi lebih perhatian lagi padanya, dan lebih keras lagi pencariannya, dan lebih keras lagi keinginannya pada Sorga.”

 

Allah berfirman, “Maka dari apakah mereka memohon perlindungan?”

 

Mereka berkata, “Dari api Neraka.”

 

Allah berfirman, “Maka apakah mereka telah melihat Neraka?”

 

Maka mereka berkata, “Tidak, demi Allah, wahai Rabb-Ku, mereka belum pernah melihatnya.”

 

Maka Allah berfirman, “Bagaimana seandainya mereka telah melihatnya?”

 

Maka mereka berkata, “Seandainya mereka telah melihatnya, maka mereka akan menjadi lebih kencang lagi larinya menjauhinya, dan lebih keras lagi rasu takutnya kepadanya.”

 

Maka Allah subhaanahu wata’aalaa berfirman, “Kupersaksikan kalian bahwa Aku telah ampuni mereka.”

 

Maka berkatalah seorang malaikat dari kalangan para malaikat, “Di tengah mereka adalah si Fulan, yang bukan bagian dari mereka, dia datang hanyalah untuk suatu hajat kkeperluan.”

 

Maka Allah berfirman, “Mereka itu adalah teman-teman duduk yang teman duduk mereka tidak akan sengsara dengan mereka.”

 

Dan di dalam Shahiih Muslim([12]) dari Mu’awiyah radhiyallaahu ‘anhu, bahwa Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam pernah keluar menemui satu halaqah dari para sahabat beliau, lantas bersabda,

 

«مَا أَجْلَسَكُمْ؟» قَالُوا: جَلَسْنَا نَذْكُرُ اللهَ وَنَحْمَدُهُ عَلَى مَا هَدَانَا لِلْإِسْلَامِ، وَمَنَّ بِهِ عَلَيْنَا، قَالَ: «آللهِ مَا أَجْلَسَكُمْ إِلَّا ذَاكَ؟» قَالُوا: وَاللهِ مَا أَجْلَسَنَا إِلَّا ذَاكَ، قَالَ: «أَمَا إِنِّي لَمْ أَسْتَحْلِفْكُمْ تُهْمَةً لَكُمْ، وَلَكِنَّهُ أَتَانِي جِبْرِيلُ فَأَخْبَرَنِي، أَنَّ اللهَ عَزَّ وَجَلَّ يُبَاهِي بِكُمُ الْمَلَائِكَةَ»

 

“Apa yang membuat kalian dudu?” Mereka berkata, “Kami duduk untuk berdzikir menyebut asma Allah, dan kami memuji-Nya atas hidayah-Nya untuk kami kepada Islam, dan apa yang telah Dia anugerahkan kepada kami.”

 

Beliau bersabda, “Apa demi Allah, tidak membuat kalian duduk kecuali hal itu?”

 

Mereka menjawab, “Demi Allah, tidaklah membuat kami duduk melainkan hal itu.”

 

Maka beliau bersabda, “Adapun sesungguhnya aku, tidaklah aku meminta kalian bersumpah sebagai sebuah tuduhan bagi kalian, akan tetapi Jibril telah mendatangiku, lalu memberitahuku bahwa Allah azza wa jalla tengah membanggakan kalian kepada para Malaikat.”

 

Al-Hakim([13]) meriwayatkan dari hadits Mu’awiyah radhiyallaahu ‘anhu, dia berkata, “Suatu hari, aku pernah bersama Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam, lalu beliau masuk masjid, ternyata beliau bersama dengan suatu kaum yang sedang duduk-duduk di dalam masjid. Maka Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

 

«مَا يُقْعِدُكُمْ؟» قَالُوا: صَلَّيْنَا الصَّلَاةَ الْمَكْتُوبَةَ، ثُمَّ قَعَدْنَا نَتَذَاكَرُ كِتَابَ اللهِ وَسُنَّةَ نَبِيِّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَقَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «إِنَّ اللهَ إِذَا ذَكَرَ شَيْئًا تَعَاظَمَ ذِكْرُهُ»

 

“Apa yang membuat kalian duduk?” Mereka berkata, “Kami telah shalat fardhu, kemudian kami duduk untuk saling bertukar fikiran tentang kitabullah dan sunnah Nabi-Nya shallallaahu ‘alaihi wa sallam.”

 

Maka Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya Allah, jika menyebut sesuatu, maka menjadi agunglah penyebutan-Nya.”

 

Dan pada makna tersebut, terdapat banyak hadits-hadits lain yang berbeda-beda. ([14])

(Bersambung)

 

(30 Sababan Li Tunaala Rahmatullaahi Ta’aalaa, Abu Abdirrahman Sulthan ‘Aliy, alih bahasa Muhammad Syahri)

________________________________________

Footnote:

([1]) HR. Muslim

([2]) HR. Muslim dan at-Tirmidzi

([3]) Syarah an-Nawawiy ‘Alaa Muslim (9/63), di dalam Tuhfatul Ahwadzi (8/275) penulisnya menukil dari an-Nawawiy, dan menambahkan di awal sabda beliau

[إِلَّا حَفَّتْ بِهِمْ الْمَلَائِكَةُ] Melainkan para malaikat mengelilingi mereka, yaitu para malaikat yang berkeliling di jalan untuk mencari ahli dzikir, mengelilingi mereka.

[وَغَشِيَتْهُمْ الرَّحْمَةُ] Rahmat (Allah) akan datang menutupi mereka, yaitu rahmat menutupi mereka

[وَنَزَلَتْ عَلَيْهِمْ السَّكِينَةُ] Sakinah akan turun kepada mereka, yaitu tumakninah dan ketenangan, karena firman Allah subhaanahu wata’aalaa:

أَلَا بِذِكْرِ اللهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ  (٢٨) 

      “(yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka manjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi tenteram” (QS. Ar-Ra’du: 28)

Dan di antaranya adalah firman Allah subhaanahu wata’aalaa:

هُوَ الَّذِي أَنزَلَ السَّكِينَةَ فِي قُلُوبِ الْمُؤْمِنِينَ لِيَزْدَادُوا إِيمَانًا مَّعَ إِيمَانِهِمْۗ

      “Dialah yang telah menurunkan ketenangan ke dalam hati orang-orang mukmin supaya keimanan mereka bertambah di samping keimanan mereka (yang telah ada)…” (QS. Al-Fath: 4)

([4]) Takhrij-takhrij yang telah disebut adalah dari cetakan digital gratis, DR. Mahir al-Fahl, jazaahullaahu khairan.

([5]) (6/235) (5027) dan (5028)

([6]) HR. al-Bukhari 6/241 (5050), Muslim 2/195 (800) (247)

([7]) HR. Ibnu Abi Syaibah (30308, 34777), ad-Darimiy (356), al-Baihaqiy dalam Syu’abul  Iimaan (671, dan 2030) secara mauquf.

([8]) HR. Abu Ya’la (4088), dan ia dha’if karena kedha’ifan Yazid bin Abaan ar-Raqqaasyi.

([9]) Lihat al-Firdaus bi Ma`tsuuri al-Khithaab oleh ad-Dailamiy (6117)

([10]) Dia adalah ‘Athiyah al-‘Auniy; Ahmad bin Hanval, at-Tsauriy, Husyaim, Yahya bin Ma’in dan an-Nasa-iy berkata tentangnya, “Dha’if haditsnya.” Lihat al-Jarh wa at-Ta’diil oleh Ibnu Abi Hatim 6/503 (11375),  ad-Dhu’afaa` oleh al-‘Uqailiy 3/359 (1392),  al-Kaamil oleh Ibnu ‘Adiy 7/84 (1535), dan Miizaanu al-I’tidaal oleh adz-Dzahabiy 3/79 (5667).

([11]) Shahiih al-Bukhari 8/107 (6408), Shahiih Muslim 8/68 (2689) (25)

([12]) Shahiih Muslim 8/72 (2701) (40)

([13]) Dalam al-Mustadrak (1/94)

([14]) ‘Aliy radhiyallaahu ‘anhu berkata:

«تَذَاكَرُوا الْحَدِيْثَ فَإِنَّكُمْ إِنْ لَا تَفْعَلُوْهُ يَنْدَرِسُ»

      “Saling bertukar fikiranlah kalian akan hadits, dikarenakan kalian, jika kalian tidak melakukannya, maka hadits itu akan hilang bekasnya.”

‘Abdullah bin Mas’ud radhiyallaahu ‘anhu berkata,

«تَذَاكَرُوا الْحَدِيْثَ فَإِنَّ ذِكْرَ الْحَدِيْثِ حَيَاتُهُ»

      “Bicarakanlah hadits, dikarenakan penyebutan hadits adalah kehidupannya.” Keduanya dikeluarkan oleh al-Hakim dalam al-Mustadrak (1/95)

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *