Apa yang Terjadi di Antara Kita Belum Menyentuh Agama Kita

Apa yang Terjadi di Antara Kita Belum Menyentuh Agama Kita

 

Kitab-kitab biografi dan tarikh mencatat bahwa pernah terjadi perselisihan ucapan antara Sa’ad bin Abi Waqqash dan Khalid bin al-Walid radhiyallahu ‘anhuma, sebagaimana perselisihan yang lumrah terjadi di antara sesama saudara. Lalu ada seorang pria hendak mencela Khalid bin al-Walid di hadapan Sa’ad! Maka Sa’ad pun menegurnya —seraya memberi nasihat lewat lisan dan tindakannya:

 

«مَهْ! إِنَّ مَا بَيْنَنَا لَمْ يَبْلُغْ دِينَنَا»

 

“Diamlah! ([1]) Sungguh, apa yang terjadi di antara kami berdua belum menyentuh ranah agama kami.” ([2])

 

Inilah jiwa-jiwa para pembesar yang luhur; jiwa yang tidak membiarkan siapa pun memancing di air keruh! Jiwa yang juga tidak membiarkan kesalahan dibesar-besarkan, serta tidak sudi menyeret perselisihan pribadi menjadi permusuhan agama.

 

Sikap mulia dari Sa’ad radhiyallahu ‘anhu ini serupa dengan peristiwa yang dialami oleh Imam Ahmad bin Hanbal. Dahulu ada salah seorang ahli hadits —yang bergelar Abu Kuraib— kerap mencela beliau. Pada suatu ketika, masuklah sebagian penuntut ilmu hadits menemui Imam Ahmad, lalu beliau bertanya:

 

مِنْ أَيْنَ أَقْبَلْتُمْ؟ قُلْنَا: مِنْ مَجْلِسِ أَبِي كُرَيْبٍ، فَقَالَ: اكْتُبُوا عَنْهُ؛ فَإِنَّهُ شَيْخٌ صَالِحٌ، فَقُلْنَا: إِنَّهُ يَطْعَنُ عَلَيْكَ! قَالَ: فَأَيُّ شَيْءٍ حِيلَتِي؟! شَيْخٌ صَالِحٌ قَدْ بُلِيَ بِي!

 

“Dari mana kalian datang?” Kami menjawab: “Dari majelis Abu Kuraib.” Beliau bersabda: “Catatlah hadits darinya, karena sesungguhnya ia adalah seorang guru yang shalih.” Kami pun menimpali: “Tetapi dia suka mencelamu!” Beliau menjawab: “Lalu apa yang bisa kuperbuat?! Ia adalah seorang syaikh yang shalih yang tengah diuji (perasaannya) terhadapku!” ([3])

 

Ini adalah prinsip dasar yang persis digariskan oleh Sa’ad radhiyallahu ‘anhu. Imam Ahmad tidak sudi menyeret perselisihan pribadi menjadi permusuhan agama yang dibangun di atasnya loyalitas (wala’) dan permusuhan (bara’). Melainkan beliau menempatkan perbedaan yang bersumber dari sudut pandang pemikiran atau sebab lainnya pada satu ruang tersendiri, dan memposisikan perbedaan yang didasari prinsip agama dan syariat pada ruang yang lain.

 

Masalah ini termasuk perkara yang sering campur aduk di mata sebagian orang; yaitu ketiadaan pemisahan antara perselisihan personal dan perselisihan agama, yang pada hakikatnya merupakan salah satu bentuk hilangnya timbangan keadilan serta objektivitas (inshaf).

 

Sungguh Sa’ad dan Ahmad rahimahumallah sejatinya bisa saja memanfaatkan kedua momen tersebut untuk membalas pihak yang mencela mereka berdua, lalu membingkainya dalam posisi “membela agama” agar memperoleh legalitas syar’i! Namun sungguh mustahil dan jauh mereka berdua dari perbuatan tercela tersebut.

 

Sesungguhnya di antara tanda keluhuran dan kebesaran jiwa adalah: naiknya derajat jiwa di atas kepentingan hawa nafsu pribadi, serta kepiawaian dalam memilah perselisihan perorangan dari perselisihan yang murni berpijak pada prinsip agama dan akidah.

 

Sesungguhnya orang yang mengamati apa yang diucapkan dan ditulis di dunia maya (internet) akan mendapati bahwa kebanyakan jurang pemisah yang dibuat-buat di antara para tokoh besar hakikatnya bukanlah kenyataan, melainkan hanya gesekan kecil yang dibesar-besarkan oleh para pengikut. Padahal, seandainya para tokoh panutan itu saling bersua langsung, niscaya tidak ada di antara mereka selain rasa cinta, saling menghormati, dan saling bertukar nasihat melalui adab yang syar’i.

 

Sungguh kita berada di zaman yang sangat mendesak kebutuhannya untuk merekatkan kembali keretakan di antara barisan umat Islam, terkhusus bagi mereka yang telah mewakafkan diri demi kemaslahatan umat; hendaknya mereka waspada terhadap korek-korek api fitnah yang kerap kali dilemparkan dari waktu ke waktu di antara mereka dengan rekan-rekan mereka dari kalangan ulama penuntut ilmu. Karena sesungguhnya tindakan cepat meredamnya akan memutus akar perpecahan dan keburukan, menjaga persatuan barisan, serta membuktikan kepada umat bahwa perbedaan di kalangan ulama hanyalah silang pendapat dalam pemahaman dan nalar nalar ijtihad, bukan permusuhan di dalam hati dan jiwa.

 

(Diterjemahkan dari Majalisu at-Tadzkiir, Fushulun Imaniyatun Tarbawiyatun, Prof. DR. ‘Umar Abdullah Muhammad al-Muqbil)

____________________

Footnote:

([1]) Merupakan kata teguran/pencegahan keras, dan yang dimaksudkan di sini adalah: “Diamlah”.

([2]) Shifatush Shafwah (1/135).

([3]) Siyar A’lamin Nubala’ (11/317)

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *