Mereka Yang Melupakan Diri Mereka Sendiri

Mereka Yang Melupakan Diri Mereka Sendiri

 

Renungan Seputar Firman Allah Ta’ala:

 

﴿وَلَا تَكُونُوا كَالَّذِينَ نَسُوا اللهَ فَأَنسَاهُمْ أَنفُسَهُمْ…﴾

 

“Dan janganlah kamu seperti orang-orang yang lupa kepada Allah, lalu Allah menjadikan mereka lupa kepada diri mereka sendiri…”

 

Ibnu al-Qayyim rahimahullah mengomentari ayat ini dengan perkataannya: (“Apabila seorang hamba melupakan dirinya, ia akan berpaling dari kemaslahatan jiwanya, melupakannya, dan sibuk melalaikannya, sehingga jiwa itu niscaya akan binasa dan rusak. Bagaikan seseorang yang memiliki tanaman, kebun, hewan ternak, atau semacamnya —yang mana kelestarian serta keberhasilannya bergantung pada perawatan dan pemeliharaannya secara rutin— lalu ia menelantarkannya, melupakannya, sibuk berpaling darinya dengan urusan lain, serta menyia-nyiakan kemaslahatannya, maka tanaman itu niscaya rusak. Itu pun masih ada kemungkinan orang lain menggantikan posisinya dalam merawatnya. Maka bagaimana lagi kiranya dengan kehancuran jiwa, kebinasaan, serta kesengsaraannya jika ia sendiri menelantarkannya, melupakannya, menyibukkan diri dari kemaslahatan hakikinya, mengabaikan penjagaannya, dan meninggalkan perawatan atas apa yang memperbaikinya? Maka dapat dipastikan timbul segala macam kerusakan, kehancuran, kerugian, dan keterhalangan yang amat besar!.

 

Orang seperti inilah yang seluruh urusannya menjadi terbengkalai (furuth); urusannya tercerai-berai, kemaslahatan hidupnya lenyap, serta dikepung oleh berbagai sebab keterputusan rahmat, kerugian, dan kebinasaan.

 

Dan tidak ada jalan menuju keselamatan dari hal tersebut kecuali dengan melazimkan dzikir kepada Allah Ta’ala, senantiasa membasahi lisan dengannya, serta memposisikan dzikir itu setaraf dengan nyawanya —yang tiada mungkin ia hidup tanpanya—, setaraf makanannya yang jika terputus maka tubuhnya akan rusak dan binasa, setaraf air di saat dahaga yang memuncak, setaraf pakaian di kala panas dan dingin, serta setaraf tempat berteduh di kala musim dingin yang mencekam atau terpaan angin panas yang membakar.

 

Maka amat pantas bagi seorang hamba untuk mendudukkan dzikrullah pada kedudukan ini bahkan lebih agung lagi. Sebab, di manakah perbandingan antara binasa dan rusaknya ruh serta hati jika dibandingkan dengan binasa dan rusaknya jasad?! Rusaknya jasad adalah kematian yang pasti tiba, dan terkadang masih diiringi dengan kebaikan yang abadi; adapun binasanya hati dan ruh adalah kehancuran yang tidak dapat diharapkan lagi perbaikan dan keberuntungan bersamanya. Dan tidak ada daya maupun kekuatan melainkan dengan pertolongan Allah Yang Maha Tinggi lagi Maha Agung.

 

Seandainya tidak ada faedah dari dzikir dan merutinkannya selain faedah tunggal ini saja, niscaya itu sudah sangat mencukupi. Maka barangsiapa yang melupakan Allah Ta’ala, Allah akan membuat dirinya lupa pada jiwanya di dunia dan melupakannya dalam azab pada hari kiamat kelak.

 

Allah subhaanahu wata’aalaa berfirman:

 

﴿وَمَنْ أَعْرَضَ عَن ذِكْرِي فَإِنَّ لَهُ مَعِيشَةً ضَنكًا وَنَحْشُرُهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ أَعْمَىٰ ۝ قَالَ رَبِّ لِمَ حَشَرْتَنِي أَعْمَىٰ وَقَدْ كُنتُ بَصِيرًا ۝ قَالَ كَذَٰلِكَ أَتَتْكَ آيَاتُنَا فَنَسِيتَهَا ۖ وَكَذَٰلِكَ الْيَوْمَ تُنسَىٰ﴾

 

“Dan barangsiapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit, dan Kami akan menghimpunkannya pada hari kiamat dalam keadaan buta. Berkatalah ia: ‘Ya Tuhanku, mengapa Engkau menghimpunkan aku dalam keadaan buta, padahal aku dahulunya adalah seorang yang melihat?’ Allah berfirman: ‘Demikianlah, telah datang kepadamu ayat-ayat Kami, maka kamu melupakannya, dan begitu (pula) pada hari ini kamu pun dilupakan’.” [Thaha: 124-126] Selesai perkataan beliau).

 

(Diterjemahkan dari Majalisu at-Tadzkiir, Fushulun Imaniyatun Tarbawiyatun, Prof. DR. ‘Umar Abdullah Muhammad al-Muqbil)

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *