Ketenteraman/Kehati-hatian dalam Segala Urusan

Ketenteraman/Kehati-hatian dalam Segala Urusan

 

Al-Faruq Umar radhiyallahu ‘anhu berkata:

 

«التَّؤَدَةُ فِي كُلِّ شَيْءٍ خَيْرٌ إِلَّا مَا كَانَ مِنْ أَمْرِ الآخِرَةِ»

 

“Sikap hati-hati/tenang (at-tu’adah) dalam segala hal adalah baik, kecuali apa yang berkaitan dengan urusan akhirat.” ([1])

 

Ini merupakan pelurusan dari al-Faruq radhiyallahu ‘anhu terhadap pemahaman yang rancu bagi sebagian orang. Pasalnya, bangsa Arab secara umum telah bersepakat dalam mencela sifat tergesa-gesa (al-‘ajalah), dan mereka menjulukinya sebagai “induk penyesalan” (umm an-nadamat). Mereka memiliki banyak kata hikmah dan syair-syair masyhur tentang hal itu. Hanya saja, pemahaman ini —sebagaimana ditegaskan al-Faruq— tidak semestinya diberlakukan pada urusan akhirat. Bahkan ketergesaan —yakni bersegera (al-mubadarah) menyambutnya— justru terpuji dan dituntut; karena manusia tidak mengetahui kapan ajalnya akan terputus, sehingga ia wajib bersegera dan tidak menunda-nunda.

 

Maka apabila tiba kesempatan untuk beribadah dan memperbanyak pintu-pintu kebaikan, sifat lambat/menunda-nunda (al-ana’ah) tidaklah baik di sini, bahkan dicela. Karena Allah Ta’ala berfirman dalam banyak ayat:

 

﴿فَاسْتَبِقُوا الْخَيْرَاتِ﴾

 

“Maka berlomba-lombalah kamu dalam kebaikan.” [Al-Baqarah: 148].

 

Di antara bentuk-bentuk perkara yang ulama sebutkan bahwa sikap menunda padanya tercela adalah: bertaubat, melunasi utang, memuliakan tamu, dan mengurus jenazah. Hal-hal tersebut termasuk perkara yang dianjurkan untuk segera dilaksanakan dan disegerakan penuntasannya sesuai ketentuan syar’i.

 

Termasuk yang berkaitan dengan hal itu pula: introspeksi diri (muhasabatun nafs). Maka tidak pantas bagi orang yang mengharapkan rahmat Tuhannya dan kebahagiaan akhirat untuk lamban dalam menghisab dirinya, melainkan ia harus bersegera, sebagaimana perkataan al-Faruq radhiyallahu ‘anhu:

 

«حَاسِبُوا أَنْفُسَكُمْ قَبْلَ أَنْ تُحَاسَبُوا، وَزِنُوا أَنْفُسَكُمْ قَبْلَ أَنْ تُوزَنُوا؛ فَإِنَّ أَهْوَنَ عَلَيْكُمْ فِي الحِسَابِ غَدًا أَنْ تُحَاسِبُوا أَنْفُسَكُمْ، وَتَزَيَّنُوا لِلْعَرْضِ الأَكْبَرِ، يَوْمَ تُعْرَضُونَ لَا تَخْفَى مِنْكُمْ خَافِيَةٌ»

 

“Hisablah diri kalian sebelum kalian dihisab, dan timbanglah diri kalian sebelum kalian ditimbang; karena sesungguhnya lebih ringan hisab bagi kalian kelak esok hari jika kalian mengintrospeksi diri kalian sekarang. Dan berhiaslah kalian untuk perjumpaan yang agung (al-‘ardhul akbar), pada hari ketika kalian dihadapkan (kepada Allah), tiada sesuatupun dari diri kalian yang tersembunyi.” ([2])

 

Betapa banyak orang-orang yang gemar menunda-nunda dalam urusan akhirat harus menggigit jari penyesalan! Dan inilah Al-Qur’an menggambarkan potret tersebut di banyak tempat, seperti firman Allah Ta’ala:

 

﴿قُلْ يَا عِبَادِيَ الَّذِينَ أَسْرَفُوا عَلَىٰ أَنفُسِهِمْ لَا تَقْنَطُوا مِن رَّحْمَةِ اللَّهِ ۚ إِنَّ اللَّهَ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ جَمِيعًا ۚ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ ۝ وَأَنِيبُوا إِلَىٰ رَبِّكُمْ وَأَسْلِمُوا لَهُ…﴾

 

“Katakanlah: ‘Wahai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dialah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Dan kembalilah kamu kepada Tuhanmu, dan berserah dirilah kepada-Nya…’ “ [Az-Zumar: 53-54] sampai pada firman-Nya:

 

﴿أَن تَقُولَ نَفْسٌ يَا حَسْرَتَا عَلَىٰ مَا فَرَّطتُ فِي جَنبِ اللَّهِ وَإِن كُنتُ لَمِنَ السَّاخِرِينَ﴾

 

“Supaya jangan ada orang yang mengatakan: ‘Amat besar penyesalanku atas kelalaianku dalam (menunaikan kewajiban terhadap) Allah, sedang aku sesungguhnya termasuk orang-orang yang memperolok-olokkan (agama Allah)’.” [Az-Zumar: 56].

 

(Diterjemahkan dari Majalisu at-Tadzkiir, Fushulun Imaniyatun Tarbawiyatun, Prof. DR. ‘Umar Abdullah Muhammad al-Muqbil)

____________________

Footnote:

([1]) Az-Zuhd karya Ahmad bin Hanbal (hal. 98)

([2]) Az-Zuhd karya Ahmad bin Hanbal (hal. 99)

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *