Menjaga Segala Perasaan

 

Menjaga segala perasaan manusia adalah termasuk akhlaqnya para Nabi ‘alaihimussalam sebagaimana firman Allah subhaanahu wata’aalaa kepada Nabi-Nya  shallallaahu ‘alaihi wa sallam,

 

فَبِمَا رَحمَةٍ مِّنَ ٱللهِ لِنتَ لَهُم وَلَو كُنتَ فَظًّا غَلِيظَ ٱلقَلبِ لَانفَضُّواْ مِن حَولِكَ فَاعفُ عَنهُم وَٱستَغفِر لَهُم وَشَاوِرهُم فِي ٱلأَمرِ فَإِذَا عَزَمتَ فَتَوَكَّل عَلَى ٱللَّهِۚ إِنَّ ٱللهَ يُحِبُّ ٱلمُتَوَكِّلِينَ  ١٥٩

 

“Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. Karena itu maafkanlah mereka, mohonkanlah ampun bagi mereka, dan bermusyawaratlah dengan mereka dalam urusan itu. Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakkallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakkal kepada-Nya.” (QS. Ali ‘Imran: 159)

 

Al-Qaashimiy rahimahullah berkata, ‘Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka’ yaitu kepada orang-orang yang beriman secara umum sebagaimana firman Allah subhaanahu wata’aalaa,

 

بِالمُؤمِنِينَ رَءُوفٌ رَّحِيمٌ  ١٢٨

 

“…amat belas kasihan lagi penyayang terhadap orang-orang mukmin.” (QS. at-Taubah (9): 128)

 

Sekiranya kamu bersikap keras’ yaitu berakhlaq buruk, lagi berkata kasar, ‘lagi berhati kasar’ yaitu keras dan sengitnya hati, engkau memperlakukan mereka dengan kekerasan dan kekasaran, ‘tentulah mereka menjauhkan diri’ yaitu mereka berpencar memisahkan diri ‘dari sekelilingmu’. Lalu mereka tidak akan tenang kepadamu, kemudian dakwahmupun tidak akan menjadi sempurna. Akan tetapi Allah telah menjadikanmu bermudah-mudah, penuh toleransi, berwajah ceria, lemah lembut, sangat baik, penuh kasih lagi penuh sayang. ‘Karena itu maafkanlah mereka’ yaitu dalam perkara yang mereka teledor terhadap hakmu sebagaimana Allah telah memaafkan mereka, ‘mohonkanlah ampun bagi mereka’ sebagai penyempurnaan bentuk kasing sayang terhadap mereka, ‘dan bermusyawaratlah dengan mereka dalam urusan itu’ yaitu dalam urusan peperangan dan selainnya, sebagai bentuk penunjukan rasa kasih sayang kepada mereka, dalam rangka menyenangkan jiwa-jiwa mereka, dan menampakkan pendapat-pendapat mereka, … Sebagian ahli tafsir, ‘Buah dari ayat tersebut adalah wajibnya berpegang teguh dengan akhlaq-akhlaq yang mulia, terutama bagi orang yang berdakwah kepada Allah subhaanahu wata’aalaa, dan yang mengajak kepada yang ma’ruf.([1])

 

As-Sa’diy rahimahullah berkata, ‘… akhlaq yang baik dari seorang pimpinan([2]) di dalam agama akan bisa menarik manusia kepada agama Allah, dan mendorong mereka ke dalamnya bersamaan dengan pujian dan pahala khusus bagi pemiliknya.

 

Sementara akhlaq yang jeles dari seorang pemimpin di dalam agama, akan membuat manusia lari dari agama, membuat mereka benci kepadanya, bersamaan dengan celaan dan hukuman khusus bagi pemiliknya.

 

Inilah dia sang Rasul yang ma’shum (terjaga dari dosa), Allah telah berfirman kepada beliau, dengan apa yang telah Dia firmankah. Maka bagaimanakah dengan selain beliau?

 

Bukankah termasuk bagian dari kewajiban yang paling wajib, dan kepentingan yang paling penting adalah mencontoh akhlaq yang mulia, serta mempergauli manusia dengan perkara yang dengannya Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam mempergauli manusia; berupa kelemah lembutan, bagusnya akhlaq, dan menarik simpati. Semua itu adalah dalam rangka menjalankan perintah Allah, dan menarik hati hamba-hamba Allah kepada agama Allah.”([3])

 

Dan ini adalah juga akhlaq-akhlaqnya keseluruhan saudara-saudara beliau dari kalangan Nabi ‘alaihimussalam sebagaimana yang demikian telah kita temukan di dalam sikap Nabi Allah Yusuf alaihissalaam saat saudara-saudara beliau mengakui dosa-dosa mereka dan

 

قَالُواْ تَاللهِ لَقَد ءَاثَرَكَ ٱللهُ عَلَينَا وَإِن كُنَّا لَخَٰطِ‍ِٔئِينَ  ٩١

 

“Mereka berkata: “Demi Allah, sesungguhnya Allah telah melebihkan kamu atas kami, dan sesungguhnya kami adalah orang-orang yang bersalah (berdosa)”. (QS. Yusuf (12): 91)

 

Dan setelah berkumpulnya beliau dengan keluarga beliau, sementara Allah subhaanahu wata’aalaa telah memberikan kekuasaan kepada beliau di permukaan bumi, beliau menyambut mereka dan bersegera

 

وَرَفَعَ أَبَوَيهِ عَلَى ٱلعَرشِ وَخَرُّواْ لَهُۥ سُجَّدًاۖ وَقَالَ يَٰٓأَبَتِ هَٰذَا تَأوِيلُ رُءيَٰيَ مِن قَبلُ قَد جَعَلَهَا رَبِّي حَقًّا وَقَد أَحسَنَ بِيٓ إِذ أَخرَجَنِي مِنَ ٱلسِّجنِ وَجَآءَ بِكُم مِّنَ ٱلبَدوِ مِنۢ بَعدِ أَن نَّزَغَ ٱلشَّيطَٰنُ بَينِي وَبَينَ إِخوَتِيٓۚ إِنَّ رَبِّي لَطِيفٌ لِّمَا يَشَآءُۚ إِنَّهُۥ هُوَ ٱلعَلِيمُ ٱلحَكِيمُ  ١٠٠

 

“Dan ia menaikkan kedua ibu-bapanya ke atas singgasana. Dan mereka (semuanya) merebahkan diri seraya sujud kepada Yusuf. Dan berkata Yusuf: “Wahai ayahku inilah ta’bir mimpiku yang dahulu itu; sesungguhnya Tuhanku telah menjadikannya suatu kenyataan. Dan sesungguhnya Tuhanku telah berbuat baik kepadaku, ketika Dia membebaskan aku dari rumah penjara dan ketika membawa kamu dari dusun padang pasir, setelah syaitan merusakkan (hubungan) antaraku dan saudara-saudaraku. Sesungguhnya Tuhanku Maha Lembut terhadap apa yang Dia kehendaki. Sesungguhnya Dialah Yang Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.” (QS. Yusuf (12): 100)

 

Ibnul Qayyim rahimahullah berkata, ‘Dan beliau (Nabi Yusuf alaihissalaam) tidak mengatakan, ‘(setelah Allah) mengeluarkanku dari sumur’ dalam rangka menjaga adab terhadap saudara-saudara beliau, dan dalam rangka berbuat baik([4]) terhadap mereka agar beliau tidak membuat mereka malu karena sebab apa yang telah terjadi di dalam sumur. Lalu beliau berkata, ‘Dan Dia (Allah) telah mendatangkan kalian dari badui (desa, perkampungan pedalaman)’ dan beliau tidak berkata, ‘telah diangkat dari kalian susahnya kelaparan dan hajat kebutuhan’ sebagai bentuk adab kepada mereka. Lalu beliau menisbahkan sebab dari apa yang telah terjadi adalah syetan dan tidak menisbahkan kepada yang langsung melakukannya yaitu saudara-saudara beliau, padahal yang langsung melakukannya adalah lebih dekat kepada sebab terjadinya hal itu. Beliau berkata, setelah syaitan merusakkan (hubungan) antaraku dan saudara-saudaraku’, maka beliau telah memberikan kebaikan, kemuliaan dan adab pada haknya. Oleh karena itulah, kesempurnaan akhlaq ini tidak aka nada kecuali milik para Rasul dan para Nabi, semoga shalawat dan salam tetap tercurah kepada mereka semuanya.’([5])

 

As-Sa’diy rahimahullah berkata, ‘Dan ini adalah termasuk bagian dari kelembutan beliau, dan bagusnya gaya bicara beliau alaihissalaam, dimana beliau menyebutkan kondisi beliau di dalam penjara dan tidak menyebut kondisi beliau di dalam sumur karena kesempurnaan pemberian maaf beliau kepada saudara-saudar0anya. Dan bahwa beliau tidak menyebut dosa itu, dan bahwa beliau menyebut, ‘Bahwa kedatangan kalian dari kampung (badui) adalah termasuk kebaikan Allah kepadaku’ dan tidak mengatakan Allah datangkan kalian dari kelaparan dan kesusahan’. Beliau tidak berkata, Allah telah berbuat baik kepada kalian’ bahkan beliau berkata, Allah telah berbuat baik kepadaku’, maka beliau menjadikan perbuatan baik dari Allah itu adalah kembali kepada beliau. Maka Maha Berkah lagi Suci Dzat yang telah mengkhususkan yang Dia kehendaki dari kalangan hamba-hamba-Nya dengan rahmat-Nya. Beliau berkata, ‘Setelah syetan merusakkan hubungan antara aku dengan saudara-saudaraku’ dan beliau tidak berkata ‘syetan telah merusak saudara-saudaraku’ bahkan beliau menjadikan seakan-seakan dosa dan kebodohan itu datang dari dua pihak…”([6])

 

Maka sikap yang agung dari seorang Nabi yang mulia ini, putra orang yang mulia (Ya’qub alaihissalaam), putra orang yang mulia (Ishaq alaihissalaam), putra orang yang mulia (Ibrahim alaihissalaam) menjelaskan kepada kita betapa cepat masuknya akhlaq yang tinggi ini di dalam jiwa-jiwa para Nabi Allah subhaanahu wata’aalaa, para Rasul-Nya, dan manusia-manusia pilihan dari makhluq-Nya. Ya Allah, berikanlah rizqiy kepada kami untuk bisa mengikuti mereka, sebagai bentuk perealisasian firman-Mu,

 

أُوْلَٰٓئِكَ ٱلَّذِينَ هَدَى ٱللَّهُۖ فَبِهُدَىٰهُمُ ٱقتَدِهۡۗ

 

“Mereka itulah orang-orang yang telah diberi petunjuk oleh Allah, maka ikutilah petunjuk mereka….” (QS. al-An’am (6): 90)

 

(Di alih bahasakan dari Kitab Muraa’aatu al-Masyaa’ir, Muhammad Shalih al-Munajjid)

_______________

Footnote:

([1]) Tafsir al-Qaasimiy (4/276)

([2]) Seorang pimpinan agama yang dianggap, seperti seorang imam, pengajar, atau selain keduanya.

([3]) Tafsir as-Sa’diy (154)

([4]) Taftiyan bermakna ihsaanan (berbuat baik) dan takarruman (memuliakan, menghormati)

([5]) Madaariku as-Saalikiin (2/380-381) dengan pengubahan.

([6]) Tafsir as-Sa’diy (405)

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *