Pendahuluan: Hakikat Umur dan Modal Kehidupan
Segala puji bagi Allah yang menggenggam ajal setiap jiwa dan menjadikan malam serta siang silih berganti sebagai pelajaran bagi mereka yang ingin mengambil peringatan. Waktu adalah modal paling berharga bagi seorang hamba di dunia ini([1]).
Harta yang hilang masih mungkin dicari penggantinya, tetapi detik demi detik yang terlewati tak akan pernah kembali hingga hari kiamat([2]).
Umur bukanlah sekadar pertambahan angka pada kalender atau helaian uban yang memutih di kepala([3]).
Umur adalah lembaran kosong yang setiap hembusan nafasnya menorehkan catatan: apakah ia menjadi timbangan kebaikan yang meninggikan derajat, atau justru tumpukan dosa yang menjerumuskan ke dalam penyesalan abadi([4]).
Dalil Al-Qur’an: Peringatan tentang Karunia Kesempatan Usia
Allah ﷻ mengingatkan manusia bahwa diberikannya usia di dunia adalah kesempatan emas untuk merenung, bertobat, dan beribadah sebelum datang penyesalan di akhirat kelak([5]).
Di dalam Surah Fatir ayat 37, Allah ﷻ berfirman menceritakan penyesalan penghuni neraka:
﴿وَهُمْ يَصْطَرِخُونَ فِيهَا رَبَّنَا أَخْرِجْنَا نَعْمَلْ صَالِحًا غَيْرَ الَّذِي كُنَّا نَعْمَلُ ۚ أَوَلَمْ نُعَمِّرْكُم مَّا يَتَذَكَّرُ فِيهِ مَن تَذَكَّرَ وَجَاءَكُمُ النَّذِيرُ ۖ فَذُوقُوا فَمَا لِلظَّالِمِينَ مِن نَّصِيرٍ﴾
“Dan mereka berteriak di dalam neraka itu: ‘Wahai Rabb kami, keluarkanlah kami, niscaya kami akan mengerjakan amal saleh yang berlainan dengan yang telah kami kerjakan.’ (Dikatakan kepada mereka): ‘Dan apakah Kami tidak memanjangkan umurmu dalam masa yang cukup untuk berpikir bagi orang yang mau berpikir, dan (apakah tidak) datang kepada kamu pemberi peringatan? Maka rasakanlah (azab Kami) dan tidak ada bagi orang-orang yang zalim seorang penolong pun.'”([6])
Para ulama tafsir menjelaskan bahwa ayat ini merupakan teguran keras bagi manusia yang diberikan kesempatan hidup lama di dunia namun tidak memanfaatkannya untuk mendekatkan diri kepada Allah ([7]).
Sahabat mulia Abdullah bin Abbas radhiyallahu ‘anhuma menjelaskan bahwa umur yang Allah berikan sebagai hujah penegak kebenaran adalah usia dewasa hingga lanjut usia, di mana manusia sudah tidak memiliki alasan lagi untuk lalai dari mengingat Penciptanya([8]).
Dalil Sunnah yang Shahih: Standar Kebaikan Seorang Hamba
Rasulullah ﷺ menegaskan bahwa ukuran kemuliaan manusia terletak pada perpaduan antara panjangnya umur dan baiknya amal perbuatan([9]).
Diriwayatkan dari sahabat Abu Bakrah radhiyallahu ‘anhu:
أَنَّ رَجُلًا قَالَ: يَا رَسُولَ اللهِ، أَيُّ النَّاسِ خَيْرٌ؟ قَالَ: «مَنْ طَالَ عُمُرُهُ، وَحَسُنَ عَمَلُهُ»، قَالَ: فَأَيُّ النَّاسِ شَرٌّ؟ قَالَ: «مَنْ طَالَ عُمُرُهُ، وَسَاءَ عَمَلُهُ»
“Bahwasanya ada seorang laki-laki yang bertanya: ‘Wahai Rasulullah, siapakah manusia yang terbaik?’ Beliau menjawab: ‘Orang yang panjang umurnya dan baik amalnya.’ Orang itu bertanya lagi: ‘Lalu siapakah manusia yang paling buruk?’ Beliau menjawab: ‘Orang yang panjang umurnya dan buruk amalnya.'”([10])
Takhrij dan Keshahihan Sanad:
Hadits ini diriwayatkan oleh Imam At-Tirmidzi dalam Sunan-nya (no. 2330), Imam Ahmad bin Hanbal dalam Musnad-nya (no. 20415, 20443, 20481), dan Ad-Darimi ([11]). Imam At-Tirmidzi menilainya hadits hasan shahih, dan hadits ini dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani([12]). Hadits dengan redaksi serupa juga datang dari sahabat Abdullah bin Busr radhiyallahu ‘anhu yang diriwayatkan oleh Imam At-Tirmidzi (no. 2329) dan Imam Ahmad (no. 17680) dengan sanad yang shahih([13]).
Imam Ath-Thibi rahimahullah memberikan perumpamaan yang indah mengenai hadits ini:
“Waktu dan jam-jam kehidupan manusia laksana modal bagi seorang pedagang. Selayaknya pedagang berniaga pada hal yang menghasilkan laba. Semakin besar modalnya dan semakin baik ia mengelolanya, tentu keuntungannya akan berlipat ganda. Barangsiapa memanfaatkan umurnya untuk berbuat baik, ia beruntung dan sukses. Namun barangsiapa menyia-nyiakan modalnya, ia akan merugi dengan kerugian yang nyata.” ([14])
Atsar Para Salafus Shalih tentang Bernilainya Usia
Para pendahulu yang saleh sangat mencemaskan berlalunya hari tanpa amal kebajikan([15]).
Mereka memandang bahwa setiap tarikan nafas adalah anugerah yang tak ternilai ([16]):
- Al-Hasan Al-Bashri rahimahullah berkata:
«ابْنَ آدَمَ، إِنَّمَا أَنْتَ أَيَّامٌ، كُلَّمَا ذَهَبَ يَوْمٌ ذَهَبَ بَعْضُكَ»
“Wahai anak Adam, sesungguhnya engkau hanyalah kumpulan hari-hari. Tatkala satu hari berlalu, maka hilanglah sebagian dari dirimu.” ([17])
Beliau juga menegaskan betapa berharganya waktu bagi orang-orang bertakwa:
“Aku telah menjumpai kaum yang begitu tamak menjaga waktu mereka, melebihi ketamakan kalian dalam menjaga dinar dan dirham kalian.” ([18])
- Khalifah Umar bin Abdul Aziz rahimahullah menasihatkan:
«إِنَّ اللَّيْلَ وَالنَّهَارَ يَعْمَلَانِ فِيكَ، فَاعْمَلْ فِيهِمَا»
“Sesungguhnya siang dan malam senantiasa bekerja mengikis dirimu (menghabiskan tokomu), maka bekerjalah engkau menanam amal kebajikan pada keduanya!” ([19])
- Qatadah rahimahullah saat menafsirkan ayat tentang umur memperingatkan:
«اعْلَمُوا أَنَّ طُولَ الْعُمُرِ حُجَّةٌ، فَنَعُوذُ بِاللهِ أَنْ نُعَيَّرَ بِطُولِ الْعُمُرِ»
“Ketahuilah bahwa panjangnya umur itu adalah hujah (yang menuntut pertanggungjawaban), maka kami berlindung kepada Allah dari dicela di akhirat karena panjangnya umur yang disia-siakan.” ([20])
- Said bin Jubair rahimahullah berpesan:
“Bertahannya hidup seorang muslim setiap harinya adalah ghanimah (keuntungan besar), untuk menunaikan kewajiban fardhu, mendirikan shalat, dan memperbanyak dzikir yang Allah rezekikan kepadanya.” ([21])
Kisah Shahih yang Menyentuh Hati: Mengapa Usia Panjang Mengungguli Derajat Syahid?
Sebuah riwayat agung melukiskan bagaimana bertambahnya umur seseorang yang diisi dengan shalat dan puasa mampu melipatgandakan derajatnya melampaui kedudukan yang sangat tinggi([22]).
Diriwayatkan dari sahabat Abu Hurairah dan Thalhah bin Ubaidillah radhiyallahu ‘anhuma:
Ada dua orang laki-laki dari kabilah Baliy (salah satu cabang suku Qudha’ah) yang datang menemui Rasulullah ﷺ dan menyatakan keislaman mereka bersama-sama([23]).
Salah seorang dari mereka sangat giat berjuang di jalan Allah hingga akhirnya berangkat ke medan jihad lalu gugur sebagai syahid([24]).
Adapun saudaranya yang satu lagi tetap hidup selama satu tahun setelahnya, hingga kemudian ia wafat di atas tempat tidurnya([25]).
Suatu ketika, Thalhah bin Ubaidillah radhiyallahu ‘anhu bermimpi berada di depan pintu surga([26]).
Tiba-tiba pintu surga terbuka dan seseorang keluar memanggil orang yang wafat belakangan di atas tempat tidurnya untuk masuk surga lebih dahulu([27]).
Setelah itu, barulah orang yang gugur syahid di medan perang dipanggil untuk masuk surga berikutnya([28]).
Keesokan paginya, Thalhah menceritakan mimpinya tersebut kepada orang-orang hingga kabar itu sampai kepada Rasulullah ﷺ. Orang-orang heran bagaimana mungkin orang yang meninggal di atas kasur mendahului orang yang mati syahid di jalan Allah([29]).
Mendengar hal itu, Rasulullah ﷺ bersabda untuk menyingkap rahasia kemuliaan tersebut:
«أَلَيْسَ قَدْ صَامَ بَعْدَهُ رَمَضَانَ، وَصَلَّى سِتَّةَ آلَافِ رَكْعَةٍ، أَوْ كَذَا وَكَذَا رَكْعَةً، صَلَاةَ السَّنَةِ؟ فَمَا بَيْنَهُمَا أَبْعَدُ مِمَّا بَيْنَ السَّمَاءِ وَالأَرْضِ»
“Bukankah setelah kepergian saudaranya, ia masih hidup dan mendapati satu bulan Ramadhan lalu berpuasa di dalamnya? Bukankah ia telah mendirikan shalat enam ribu rakaat—atau sekian dan sekian rakaat—shalat selama satu tahun itu? Sungguh, perbedaan derajat antara kedua orang tersebut lebih jauh daripada jarak antara langit dan bumi!”([30])
Takhrij dan Derajat Riwayat:
Kisah ini diriwayatkan oleh Imam Ahmad dalam Musnad-nya (no. 8380, 8399), Ibnu Majah dalam Sunan-nya (no. 3925), dan Ibnu Hibban dalam Shahih-nya (no. 2982)([31]). Sanad hadits ini dinilai hasan/shahih oleh para imam ahli hadits, di antaranya Imam Al-Mundziri dan Syaikh Al-Albani dalam Shahih At-Targhib wa At-Tarhib (no. 372)([32]).
Betapa menyentuh hati rahasia yang disingkapkan oleh baginda Nabi ﷺ ini: setiap satu kali sujud, setiap butir tasbih, dan setiap hari puasa yang ditambah oleh Allah bagi seorang hamba di dunia ini mampu melesatkan derajatnya di surga melebihi kedudukan para pahlawan yang telah wafat lebih dahulu([33]).
Renungan Penutup: Menyambut Sisa Nafas
Kisah dan dalil-dalil di atas membawa pesan yang sangat terang ke dalam sanubari:
Umur adalah berkah jika diiringi ketaatan, tetapi ia menjadi malapetaka jika diisi dengan kemaksiatan dan kelalaian([34]).
Hari esok yang kita temui adalah kesempatan emas yang dirindukan oleh jutaan penghuni kubur yang telah terputus amalnya([35]).
Jika hari ini Allah masih mengizinkan jantung kita berdetak dan nafas kita berhembus, jangan biarkan waktu berlalu tanpa basahnya lisan dengan dzikir, tanpa tunduknya raga dalam sujud, dan tanpa ikhlasnya hati dalam berbuat kebajikan kepada sesama([36]).
Jadilah hamba terbaik yang dipuji Rasulullah ﷺ: hamba yang semakin bertambah usianya, semakin indah dan matang budi pekertinya, serta semakin dekat langkahnya menuju keridhaan Rabb semesta alam([37]).
_____________
Footnote:
([1]) Mirqat al-Mafatih Sharh Mishkat al-Masabih (8/3306); Majallat al-Bayan (128/22)
([2]) Majallat al-Bayan (128/22); Majallat al-Buhuth al-Islamiyya (74/328)
([3]) Ya Sahib al-Sittin (1/18); Tatriz Riyad al-Salihin (1/97)
([4]) Fatawa al-Shabaka al-Islamiyya (9/4913); Sharh Mukhtasar al-Rawda (1/81)
([5]) Ya Sahib al-Sittin (1/18); al-Taysir fi al-Tafsir (12/320)
([6]) Lataif al-Isharat = Tafsir al-Qushayri (3/207)
([7]) Ya Sahib al-Sittin (1/18); Tatriz Riyad al-Salihin (1/97)
([8]) Ya Sahib al-Sittin (1/17-18)
([9]) al-Musnad al-Mawdui al-Jami lil-Kutub al-Ashara (19/109); Sharh Mukhtasar al-Rawda (1/81)
([10]) al-Musnad al-Mawdui al-Jami lil-Kutub al-Ashara (19/109); Mirqat al-Mafatih Sharh Mishkat al-Masabih (8/3306)
([11]) al-Musnad al-Mawdui al-Jami lil-Kutub al-Ashara (19/109); Mirqat al-Mafatih Sharh Mishkat al-Masabih (8/3306)
([12]) Fatawa al-Shabaka al-Islamiyya (9/4913); Sharh Mukhtasar al-Rawda (1/81); Taammulat fi Mumathalat al-Mumin lil-Nakhla (1/217)
([13]) al-Musnad al-Mawdui al-Jami lil-Kutub al-Ashara (19/109); Taammulat fi Mumathalat al-Mumin lil-Nakhla (1/217)
([14]) Mirqat al-Mafatih Sharh Mishkat al-Masabih (7/404, 8/3306)
([15]) Hayat al-Salaf bayna al-qawl wa al-amal (1/422); Nataij al-Buhuth wa Khawatim al-Kutub (4/243)
([16]) Majallat al-Buhuth al-Islamiyya (74/328); Majallat al-Bayan (149/139)
([17]) Mujam Hufaz al-Quran Abr al-Tarikh (1/180); Hayat al-Tabiin (1/2077); Durus al-Shaykh Muhammad Ismail al-Muqaddim (33/4)
([18]) Nataij al-Buhuth wa Khawatim al-Kutub (4/243)
([19]) Nataij al-Buhuth wa Khawatim al-Kutub (4/243); Fasl al-Khitab fi al-Zuhd wa al-Raqaiq wa al-Adab (3/609); Majallat al-Bayan (22/67)
([20]) Tatriz Riyad al-Salihin (1/97); Tafsir Ibn Abi Hatim (10/3184); Mawsuat al-Tafsir al-Mathur (18/390)
([21]) al-Buhur al-Zakhira fi Ulum al-Akhira (1/15)
([22]) Ahkam Tamanni al-Mawt (Matbu ضمن Muallafat al-Shaykh Muhammad ibn Abd al-Wahhab, al-Juz al-Thalith) (1/4); Husn al-Tanabbuh lima warada fi al-Tashabbuh (3/553)
([23]) Ahkam Tamanni al-Mawt (Matbu ضمن Muallafat al-Shaykh Muhammad ibn Abd al-Wahhab, al-Juz al-Thalith) (1/4); Nida al-Rayyan fi Fiqh al-Sawm wa Fadl Ramadan (1/164)
([24]) Ahkam Tamanni al-Mawt (Matbu ضمن Muallafat al-Shaykh Muhammad ibn Abd al-Wahhab, al-Juz al-Thalith) (1/4); Nida al-Rayyan fi Fiqh al-Sawm wa Fadl Ramadan (1/164)
([25]) al-Musnad al-Jami (7/564); Nida al-Rayyan fi Fiqh al-Sawm wa Fadl Ramadan (1/164)
([26]) Nida al-Rayyan fi Fiqh al-Sawm wa Fadl Ramadan (1/164)
([27]) Ahkam Tamanni al-Mawt (Matbu ضمن Muallafat al-Shaykh Muhammad ibn Abd al-Wahhab, al-Juz al-Thalith) (1/4); Nida al-Rayyan fi Fiqh al-Sawm wa Fadl Ramadan (1/164)
([28]) Nida al-Rayyan fi Fiqh al-Sawm wa Fadl Ramadan (1/164)
([29]) Ahkam Tamanni al-Mawt (Matbu ضمن Muallafat al-Shaykh Muhammad ibn Abd al-Wahhab, al-Juz al-Thalith) (1/4); al-Musnad al-Jami (7/564)
([30]) Ahkam Tamanni al-Mawt (Matbu ضمن Muallafat al-Shaykh Muhammad ibn Abd al-Wahhab, al-Juz al-Thalith) (1/4); Sharh Sunan Abi Dawud li-Ibn Raslan (11/141)
([31]) Husn al-Tanabbuh lima warada fi al-Tashabbuh (3/553); al-Musnad al-Jami (7/564); Sharh Sunan Abi Dawud li-Ibn Raslan (11/141)
([32]) Isaf al-Akhyar bima Ishtahara wa Lam Yasih min al-Ahadith wa al-Athar wa al-Qisas wa al-Ashar (1/318); Husn al-Tanabbuh lima warada fi al-Tashabbuh (3/553)
([33]) Ahkam Tamanni al-Mawt (Matbu ضمن Muallafat al-Shaykh Muhammad ibn Abd al-Wahhab, al-Juz al-Thalith) (1/4); Sharh Sunan Abi Dawud li-Ibn Raslan (11/141)
([34]) Fatawa al-Shabaka al-Islamiyya (9/4913); Sharh Mukhtasar al-Rawda (1/81)
([35]) al-Buhur al-Zakhira fi Ulum al-Akhira (1/15)
([36]) Ahkam Tamanni al-Mawt (Matbu ضمن Muallafat al-Shaykh Muhammad ibn Abd al-Wahhab, al-Juz al-Thalith) (1/4); al-Buhur al-Zakhira fi Ulum al-Akhira (1/15)
([37]) al-Musnad al-Mawdui al-Jami lil-Kutub al-Ashara (19/109); Mirqat al-Mafatih Sharh Mishkat al-Masabih (8/3306)






