Kadang hati kita diam-diam sakit melihat dakwah orang lain berkembang.
Bukan karena dakwah itu menyimpang.
Bukan karena umat menjadi rusak.
Tapi hanya karena yang berkembang bukan dakwah kita.
Lalu muncul bisikan:
“Kalau mereka besar, berarti kita kecil.”
“Kalau mereka maju, berarti kita tertinggal.”
“Kalau jamaah mereka bertambah, berarti jamaah kita berkurang.”
Padahal cara berpikir seperti ini bukan ruh dakwah Islam.
Ini ruh persaingan dunia.
Ini penyakit hati dan ego yang berlindung di balik nama dakwah.
Rasulullah ﷺ mengajarkan bahwa kaum muslimin bukan pesaing dalam kebaikan, tetapi saling menguatkan.
Beliau bersabda:
«الْمُؤْمِنُ لِلْمُؤْمِنِ كَالْبُنْيَانِ يَشُدُّ بَعْضُهُ بَعْضًا»
“Seorang mukmin dengan mukmin lainnya seperti bangunan yang saling menguatkan.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)
Perhatikan ketika Masjid Nabawi dibangun.
Rasulullah ﷺ tidak bertanya,
“Ini proyek siapa?”
“Siapa ketuanya?”
“Siapa yang akan dikenal?”
“Nama lembaga mana yang akan naik?”
Tidak.
Beliau turun langsung.
Beliau ikut mengangkat batu.
Beliau bekerja bersama para sahabat.
Karena saat itu yang sedang dibangun bukan nama pribadi.
Bukan bendera kelompok.
Bukan panggung ketokohan.
Yang sedang dibangun adalah agama Allah.
Maka ukuran kemenangan dakwah bukan ketika nama kita paling disebut.
Bukan ketika lembaga kita paling dikenal.
Bukan ketika jamaah kita paling banyak.
Kemenangan dakwah adalah ketika tauhid semakin tegak.
Sunnah semakin dikenal.
Umat semakin dekat kepada Allah.
Dan hati kita tetap lapang melihat kebaikan tumbuh melalui tangan saudara kita.
Kalau dakwah saudaramu berkembang, bersyukurlah.
Itu bukan kekalahanmu.
Itu kemenangan agama Allah.
Yang kalah sebenarnya adalah hati yang sempit.
Hati yang iri.
Hati yang hanya bahagia jika dirinya menjadi pusat perhatian.
Semoga Allah membersihkan hati kita dari ambisi tersembunyi dalam dakwah, dan menjadikan setiap langkah kita ikhlas untuk menegakkan dan memenangkan agama-Nya.
—
Disarikan dan dikembangkan dari catatan faidah Dars Syaikh Abdul Malik Ramadhani -hafidzohullah-
Daurah Syar’iyyah #9
PP Imam Bukhari Karanganyar
✍️ Ahmad Anshori
(Dari Group Mutaqo Du’at Indonesia)






