Saudariku, Ada Apa Dengan Jilbab Lebarmu Kini?
Sebuah Nasihat dari Hati ke Hati tentang Makna Hakiki Hijab dan Kehormatan Diri
Sebentuk Cinta untuk Saudariku
Bismillahirrahmanirrahim.
Saudariku yang kucintai karena Allah,
Tulisan ini tidak lahir dari rasa sombong atau merasa lebih suci. Tulisan ini murni lahir dari rahim ukhuwah, dari rasa cinta yang dalam, dan dari kekhawatiran melihat fenomena yang kian hari kian menggerus nilai-nilai syariat di tengah umat kita.
Alhamdulillah, hari ini kita melihat pemandangan yang menggembirakan. Jilbab lebar dan pakaian syar’i tak lagi menjadi sesuatu yang asing. Banyak wanita muslimah yang telah berhijrah, memilih membalut tubuhnya dengan kain-kain panjang yang menjuntai. Namun saudariku, di balik kebanggaan itu, ada sebuah luka tipis yang menyayat hati.
Tanpa sadar, esensi jilbab perlahan mulai bergeser. Pakaian yang sejatinya diturunkan oleh Allah untuk menutupi perhiasan, kini justru berubah wujud menjadi “perhiasan” itu sendiri. Dari niat murni menutup aurat demi ketaatan, bergeser menjadi ajang tampil modis. Dari upaya keras menjaga iffah (kesucian diri) dari pandangan ajnabi (laki-laki non-mahram), bergeser menjadi pamer gaya di etalase media sosial.
Saudariku, mari sejenak kita duduk bersama, menepi dari hiruk-pikuk tren duniawi, dan bertanya pada relung hati yang paling dalam: “Ada apa dengan jilbab lebarmu kini?”
Mengembalikan Jilbab pada Fitrahnya
1. Tujuan Jilbab: Menutupi Perhiasan, Bukan Menjadi Perhiasan
Saudariku, mari kita buka kembali lembaran Al-Qur’an dan meresapi firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:
“Hai Nabi, katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri orang mukmin: ‘Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka.’ Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak di ganggu. Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”(QS. Al-Ahzab: 59)
Ayat di atas sangat jelas. Tujuan utama diwajibkannya jilbab adalah untuk melindungi, menutupi, dan menjaga kehormatan. Syariat tidak melarang kita tampil rapi dan bersih. Namun, ketika jilbab lebar yang kita kenakan dihiasi dengan warna-warni mencolok, payet yang berlebihan, potongan yang menarik lekuk tubuh tersembunyi, hingga riasan wajah yang mengundang mata laki-laki untuk memandang, maka gugurlah fungsi utama jilbab tersebut.
Bukankah Allah juga berfirman:
“Dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak dari padanya…”(QS. An-Nur: 31)
Jika jilbab dan gamis lebarmu justru membuat setiap mata di jalan dan di media sosial tertuju padamu, lantas apa bedanya pakaian kita dengan tabarruj-nya wanita jahiliyah?
2. Dari Menjaga Iffah Menjadi Pamer Gaya
Saudariku, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah memberikan peringatan keras tentang wanita pada akhir zaman. Beliau bersabda:
“Ada dua golongan dari penduduk neraka yang belum pernah aku lihat: …dan para wanita yang berpakaian tetapi telanjang, berlenggak-lenggok, kepala mereka seperti punuk unta yang miring. Mereka tidak akan masuk surga dan tidak akan mencium baunya…”(HR. Muslim)
Hadis ini adalah teguran keras bagi kita. Ulama menjelaskan bahwa “berpakaian tetapi telanjang” bukan hanya berarti memakai baju ketat atau tipis, tetapi juga pakaian yang tidak memenuhi syarat syar’i, yang masih menonjolkan daya tarik, dan memancing syahwat.
Betapa sedihnya melihat para akhawat kini berlomba-lomba membuat konten OOTD (Outfit of The Day). Mengayunkan ujung gamisnya di depan kamera, berpose dengan gaya manja, lalu mengunggahnya untuk dinikmati ribuan mata laki-laki. Di manakah letak iffah (menjaga kehormatan) dan haya’ (rasa malu) yang menjadi mahkota seorang muslimah? Rasa malu adalah benteng pertahanan terakhir seorang wanita; jika ia runtuh, maka runtuhlah kehormatannya.
3. Belajar dari Rasa Malu Para Wanita Salaf
Mari kita menengok teladan wanita terbaik umat ini, para Shahabiyat dan generasi Salafusshalih.
Lihatlah Fatimah az-Zahraradhiyallahu ‘anha, putri kesayangan Rasulullah. Menjelang wafatnya, ia menangis dan bersedih. Apa yang ia tangisi? Bukan harta yang ditinggalkan, melainkan ia khawatir jika kelak ia meninggal, kain kafan yang membalut tubuhnya akan memperlihatkan lekuk tubuhnya di hadapan laki-laki yang mengusung jenazahnya. Subhanallah! Bahkan dalam kondisi menjadi jenazah yang tak bernyawa pun, beliau sangat takut lekuk tubuhnya terlihat oleh laki-laki yang bukan mahramnya.
Lihatlah pula Aisyahradhiyallahu ‘anha. Beliau sangat menjaga hijabnya. Ketika Umar bin Khattab dimakamkan di kamar beliau (bersama Rasulullah dan Abu Bakar), Aisyah selalu mengencangkan pakaiannya saat memasuki kamarnya sendiri, karena rasa malunya kepada Umar yang bukan mahramnya, padahal Umar sudah wafat!
Saudariku, bandingkan dengan keadaan kita saat ini. Para wanita salaf berusaha menyembunyikan diri dari pandangan laki-laki, sementara sebagian dari kita dengan jilbab lebarnya justru menyerahkan diri untuk dipandang, dikomentari, dan dipuji oleh laki-laki asing di kolom komentar.
4. Meluruskan Niat: Lillah atau Demi Eksistensi?
Semua amal ibadah bergantung pada niatnya. Ketika awal mula berhijrah, mungkin niat kita murni karena takut kepada Allah. Namun seiring berjalannya waktu, setan sangat halus dalam menyesatkan. Ia tidak menyuruh kita melepas jilbab, karena ia tahu kita akan menolaknya.
Sebagai gantinya, setan membisikkan: “Tetaplah pakai jilbab lebarmu, tapi buatlah dirimu secantik mungkin. Tunjukkan pada dunia bahwa muslimah juga bisa tampil menawan.”
Akhirnya, niat yang awalnya Lillah (karena Allah) berubah menjadi Lighairillah (karena selain Allah)—demi likes, demi followers, demi pengakuan, demi disebut stylish dan aesthetic. Padahal, ketaatan yang sejati tidak membutuhkan panggung tepuk tangan dari manusia. Ketaatan yang sejati adalah ketundukan dalam sunyi, di mana Allah dan keikhlasan hati yang menjadi saksinya.
Kembalilah pada Kemurnian Syariat
Saudariku, tulisan ini adalah pelukan hangat untukmu, sekaligus pengingat untuk diriku sendiri. Dunia ini dan segala trennya akan berlalu, namun hisab di hadapan Allah atas setiap helaian kain, atas setiap pandangan mata yang kita pancing, akan kekal menanti kita di hari kiamat.
Mari kita luruskan kembali niat kita. Mari kita kembalikan jilbab kita pada fungsi fitrahnya: untuk menutupi perhiasan, bukan untuk memamerkannya.
Jadikanlah rasa malu sebagai riasan terbaikmu, dan ketakwaan sebagai pakaian terindahmu.
Semoga Allah Azza wa Jalla senantiasa menjaga hati kita agar tetap istiqamah di atas jalan yang murni, melindungi iffah kita dari fitnah akhir zaman, dan mengumpulkan kita kelak di surga-Nya bersama para wanita mulia seperti Khadijah, Aisyah, dan Fatimah. Amin ya Rabbal ‘alamin.
Apakah ada bagian tertentu dari makalah ini yang ingin Anda sesuaikan, atau perlukah kita menambahkan referensi tokoh salaf lainnya untuk memperkuat pesan di dalamnya?
(ibnuawi)






