Kesalahan-Kesalahan Kaum Wanita (11) Tidak berpuasanya wanita jika dia telah suci dari haidh, kemudian dia melihat sesuatu setelah sucinya

Yaitu melihat warna kekuningan dan warna keruh. Dan ini adalah sebuah kesalahan. Bahkan yang benar adalah wajib baginya untuk shalat dan berpuasa, dan sang suami boleh untuk menggaulinya. Dikarenakan warna kekuningan dan kekeruhan setelah suci tidak dianggap sama sekali.

 

mostbet

Telah datang riwayat dari Ummu ‘Athiyah, bahwa dia berkata sebagaimana pada riwayat Abu Dawud, an-Nasa-iy dan Ibnu Majah:

 

كُنَّا لا نَعُدّ الكُدرَةَ والصُّفْرَةَ بعدَ الطُّهرِ شيئاً

 

“Dulu kami tidak menghitung warna keruh dan kekuningan setelah suci (dari haidh) sesuatupun.” ([1])

 

Peringatan:

 

Jika warna kekuningan dan kekeruham itu ada pada masa haidh atau bersambung dengan masa haidh, maka ia memiliki hukum haidh. Yang demikian itu berdasarkan hadits yang telah dikeluarkan oleh al-Bukhari secara mu’allaq, dan Imam Malik dari maulahnya ‘Aisyah radhiyallaahu ‘anha, dia berkata,

 

كَانَ النِّسِاءُ يَبْعَثْنَ إِلَى عَائِشَةَ بِالدِّرَجَةِ (الخرقة) فِيهَا الْكُرْسُفُ (القطن)، فِيهِ الصُفْرَةُ مِنْ دَمِ الْحَيْضَةِ، يَسْأَلْنَهَا عَنِ الصَّلاَةِ. فَتَقُولُ لَهُنَّ: لاَ تَعْجَلْنَ حَتَّى تَرَيْنَ الْقَصَّةَ الْبَيْضَاءَ. تُرِيدُ بِذلِكَ الطُّهْرَ مِنَ الْحَيْضَةِ.

 

“Adalah dulu kaum wanita, mereka mengutus utusan kepada Ibnunda ‘Aisyah dengan membawa kaim pembersih yang ada kapas di dalamnya, dan pada kapas itu ada warna kekkuningan karena darah haidh. Mereka bertanya kepada ‘Aisyah tentang shalat. Maka beliau berkata kepada mereka, “Janganlah kalian tergesa-gesa hingga kalian melihat cairan putih (yang dikeluarkan dari rahim saat terputusnya darah haidh).” Yang dia inginkan darinya adalah suci dari haidh. ([2])

 

(Diterjemahkan oleh Muhammad Syahri dari kitab Akhthaa-unaa Fii Ramadhaan; al-Akhthaa` al-Khaashshah bi an-Nisaa`, Syaikh Nada Abu Ahmad)

 

_____________________________________________________________

Footnote:

([1]) HR. Abu Dawud (307), al-Bukhari (320), an-Nasa-iy (368), Ibnu Majah (647), lihat al-Jaami’ as-Shahiih li as-Sunan wa al-Masaanid (24/180)-pent

([2]) HR. Malik dalam al-Muwaththa` (128), al-Baihaqiy (1486), dishahihkan oleh al-Albaniy dalam al-Irwa (198), dan pada Mukhtashar Shahiih al-Bukhari dibawah no. 178, lihat al-Jaami’ as-Shahiih li as-Sunan wa al-Masaanid (24/129)-pent

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *