“Dan ketahuilah, bahwa kamu akan dikumpulkan kepada-Nya”

Pelajaran Ketigabelas:  “Dan ketahuilah, bahwa kamu akan dikumpulkan kepada-Nya”

 

Segala puji bagi Allah atas anugerah dan kemuliaan-Nya yang berlimpah, selawat dan salam semoga tercurah kepada sebaik-baik ciptaan-Nya dan utusan pilihan-Nya, nabi kita Muhammad, serta kepada keluarga dan para sahabatnya. Amma ba’du:

 

Sungguh Allah telah mengakhiri ayat-ayat tentang haji dalam Surah Al-Baqarah dengan firman-Nya:

 

﴿وَاذْكُرُوا اللَّهَ فِي أَيَّامٍ مَّعْدُودَاتٍ ۚ فَمَن تَعَجَّلَ فِي يَوْمَيْنِ فَلَا إِثْمَ عَلَيْهِ وَمَن تَأَخَّرَ فَلَا إِثْمَ عَلَيْهِ ۚ لِمَنِ اتَّقَىٰ ۗ وَاتَّقُوا اللَّهَ وَاعْلَمُوا أَنَّكُمْ إِلَيْهِ تُحْشَرُونَ﴾

 

“Dan berzikirlah (dengan menyebut) Allah dalam beberapa hari yang berbilang. Barangsiapa yang ingin cepat berangkat (dari Mina) sesudah dua hari, maka tiada dosa baginya. Dan barangsiapa yang ingin menangguhkan (keberangkatannya dari dua hari itu), maka tiada dosa pula baginya, bagi orang yang bertakwa. Dan bertakwalah kepada Allah, dan ketahuilah, bahwa kamu akan dikumpulkan kepada-Nya.” ([1])

 

Dan ayat ini diakhiri dengan firman-Nya: “Dan ketahuilah, bahwa kamu akan dikumpulkan kepada-Nya” sebagai isyarat bahwa seorang jemaah haji hendaknya mengingat dengan perjalanan hajinya itu akan Hari Mahsyar (hari pengumpulan) setelah kebangkitan di padang Mahsyar pada hari kiamat. Maka seorang jemaah haji, ketika ia berbaur dengan kumpulan jemaah haji yang sangat banyak dan setiap orang sibuk dengan urusannya sendiri, terlebih lagi di tempat yang berdesak-desakan, ia akan teringat akan Hari Mahsyar ketika seluruh manusia dikumpulkan dalam keadaan tidak beralas kaki dan telanjang, setiap orang dari mereka sibuk dengan urusannya sendiri sehingga seseorang melihat kerabatnya yang paling ia sayangi di dunia lalu ia lari dari mereka, sebagaimana firman Allah Subhanahu:

 

﴿يَوْمَ يَفِرُّ الْمَرْءُ مِنْ أَخِيهِ ٣٤ وَأُمِّهِ وَأَبِيهِ ٣٥ وَصَاحِبَتِهِ وَبَنِيهِ ٣٦ لِكُلِّ امْرِئٍ مِّنْهُمْ يَوْمَئِذٍ شَأْنٌ يُغْنِيهِ﴾

 

“Pada hari ketika manusia lari dari saudaranya, dari ibu dan bapaknya, dari istri dan anak-anaknya. Setiap orang dari mereka pada hari itu mempunyai urusan yang cukup menyibukkannya.” ([2])

 

Dan telah banyak terdapat nas-nas (dalil) di dalam Al-Qur’an yang mulia dan Sunah Nabi yang menggambarkan huru-hara hari kiamat dan penderitaan serta kesulitan yang terjadi di dalamnya. Al-Qur’an yang mulia menceritakan kepada kita tentang dahsyatnya hari itu di mana pandangan mata terbelalak dan hati berguncang, dan di antara huru-hara yang paling besar itu adalah perubahan alam semesta yang menyeluruh dan mengerikan yang menimpa bumi beserta gunung-gunungnya, langit beserta bintang-bintangnya, mataharinya, dan bulannya.

 

Bumi diguncangkan dan dihancurkan, gunung-gunung dijalankan dan dihancurkan menjadi debu, lautan diluapkan dan dipanaskan, langit terbelah dan bergetar hebat, matahari digulung dan sirna, bulan digerhanakan, bintang-bintang berjatuhan dan cahayanya hilang, serta ikatan (keteraturannya) terlepas, sebagaimana firman Tuhan kita Subhanahu:

 

﴿يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمْ ۚ إِنَّ زَلْزَلَةَ السَّاعَةِ شَيْءٌ عَظِيمٌ ١ يَوْمَ تَرَوْنَهَا تَذْهَلُ كُلُّ مُرْضِعَةٍ عَمَّا أَرْضَعَتْ﴾

 

“Wahai manusia, bertakwalah kepada Tuhanmu; sungguh guncangan hari kiamat itu adalah suatu kejadian yang sangat besar (dahsyat). (Ingatlah) pada hari (ketika) kamu melihat guncangan itu, lalailah semua wanita yang menyusui bayinya dari bayi yang disusuinya”([3])

 

Dan al-murdhi’ah adalah wanita yang sedang memasukkan puting susunya ke mulut bayi untuk menyusuinya, lalu ia lalai darinya karena dahsyatnya huru-hara hari kiamat.

 

Dan untuk memperjelas keadaan: asumsikan di dunia ini ada kejadian dahsyat apa pun yang menimpa seorang wanita yang sedang menyusui bayinya seperti kebakaran, ledakan, dan semacamnya, maka ibu yang menyusui ini tidak akan melalaikan bayinya, melainkan ia akan mendekapnya ke dadanya dan lari membawanya.

 

Makna dari hal itu adalah bahwa huru-hara hari kiamat lebih dahsyat dari itu sampai pada tingkat wanita yang menyusui pun lalai dari bayi yang disusuinya.

 

“Dan gugurlah kandungan segala wanita yang hamil”, dan gugurnya kandungan itu tidaklah terjadi melainkan karena sangat ketakutan bagi wanita hamil tersebut, karena janin itu berada di tempat yang kokoh (rahim), namun karena sangat ketakutannya ia keguguran kandungannya akibat dahsyatnya huru-hara hari kiamat.

 

“Dan kamu lihat manusia dalam keadaan mabuk”, artinya: akal pikiran mereka dalam keadaan linglung dan terkesiap karena dahsyatnya huru-hara hari kiamat.

 

“Padahal sebenarnya mereka tidak mabuk”, artinya: bukan karena meminum khamar,

 

“Akan tetapi azab Allah itu sangat keras”, membuat akal pikiran mereka dalam keadaan linglung dan terkesiap karena dahsyatnya huru-hara hari kiamat.

 

Dan Allah ‘Azza wa Jalla berfirman dalam mensifati hari yang agung itu:

 

﴿فَكَيْفَ تَتَّقُونَ إِن كَفَرْتُمْ يَوْمًا يَجْعَلُ الْوِلْدَانَ شِيبًا﴾

 

“Maka bagaimanakah kamu akan dapat memelihara dirimu jika kamu kafir kepada hari yang menjadikan anak-anak beruban.” ([4])

 

Maka Allah Ta’ala mensifati hari ini bahwa karena sangat dahsyatnya huru-hara dan kesulitannya, anak-anak kecil pun menjadi beruban di dalamnya. Dan ini adalah gaya bahasa yang digunakan oleh orang Arab untuk menunjukkan sangat dahsyatnya suatu perkara, karena sesungguhnya besarnya kesedihan dan kesulitan itu termasuk hal yang mempercepat tumbuhnya uban.

 

Dan Nabi ﷺ mensifati dahsyatnya hari ini bahwa manusia karena saking dahsyatnya huru-hara hari tersebut, mereka berlindung (meminta tolong) kepada Adam ‘alaihissalam dan kepada para rasul Ulul Azmi untuk memberikan syafaat di sisi Tuhan Jalla Jalaluh agar memberikan keputusan dan hisab di antara hamba-hamba-Nya.

 

Maka dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah ﷺ bersabda:

 

«يَجْمَعُ اللهُ النَّاسَ الْأَوَّلِينَ وَالْآخِرِينَ فِي صَعِيدٍ وَاحِدٍ، يُسْمِعُهُمُ الدَّاعِي، وَيَنْفُذُهُمُ الْبَصَرُ، وَتَدْنُو الشَّمْسُ، فَيَبْلُغُ النَّاسَ مِنَ الْغَمِّ وَالْكَرْبِ مَا لَا يُطِيقُونَ وَلَا يَحْتَمِلُونَ، فَيَقُولُ النَّاسُ: أَلَا تَرَوْنَ مَا قَدْ بَلَغَكُمْ، أَلَا تَنْظُرُونَ مَنْ يَشْفَعُ لَكُمْ إِلَى رَبِّكُمْ؟

 

“Allah mengumpulkan seluruh manusia dari yang pertama hingga yang terakhir di satu padang mahsyar, penyeru dapat memperdengarkan suaranya kepada mereka, dan pandangan mata dapat menembus (melihat) mereka semua. Matahari didekatkan, sehingga manusia dilanda kesedihan dan penderitaan yang tidak sanggup mereka pikul dan tidak mampu mereka tahan. Maka orang-orang pun berkata: ‘Tidakkah kalian melihat apa yang telah menimpa kalian? Tidakkah kalian mencari siapa yang bisa memberikan syafaat untuk kalian kepada Tuhan kalian?’

 

فَيَقُولُ بَعْضُ النَّاسِ لِبَعْضٍ: عَلَيْكُمْ بِآدَمَ، فَيَأْتُونَ آدَمَ عَلَيْهِ السَّلَامُ فَيَقُولُونَ لَهُ: أَنْتَ أَبُو الْبَشَرِ، خَلَقَكَ اللهُ بِيَدِهِ، وَنَفَخَ فِيكَ مِنْ رُوحِهِ، وَأَمَرَ الْمَلَائِكَةَ فَسَجَدُوا لَكَ، اشْفَعْ لَنَا إِلَى رَبِّكَ، أَلَا تَرَى إِلَى مَا نَحْنُ فِيهِ، أَلَا تَرَى إِلَى مَا قَدْ بَلَغَنَا؟

 

Maka sebagian orang berkata kepada sebagian yang lain: ‘Datangilah Adam.’ Mereka pun mendatangi Adam ‘alaihissalam dan berkata kepadanya: ‘Engkau adalah bapak umat manusia, Allah telah menciptakanmu dengan tangan-Nya, dan meniupkan roh (ciptaan)-Nya ke dalam dirimu, dan Dia memerintahkan malaikat maka mereka pun bersujud kepadamu. Berikanlah syafaat bagi kami kepada Tuhanmu. Tidakkah engkau melihat keadaan kami ini, tidakkah engkau melihat apa yang telah menimpa kami?’

 

فَيَقُولُ آدَمُ: إِنَّ رَبِّي قَدْ غَضِبَ الْيَوْمَ غَضَبًا لَمْ يَغْضَبْ قَبْلَهُ مِثْلَهُ، وَلَنْ يَغْضَبَ بَعْدَهُ مِثْلَهُ، وَإِنَّهُ قَدْ نَهَانِي عَنِ الشَّجَرَةِ فَعَصَيْتُهُ، نَفْسِي نَفْسِي نَفْسِي، اذْهَبُوا إِلَى غَيْرِي، اذْهَبُوا إِلَى نُوحٍ،

 

Maka Adam berkata: ‘Sesungguhnya Tuhanku pada hari ini telah murka dengan kemurkaan yang belum pernah terjadi sebelumnya dan tidak akan ada lagi kemurkaan semacam itu setelahnya. Sungguh Dia telah melarangku (mendekati) pohon itu, namun aku mendurhakai-Nya. Diriku, diriku, diriku (selamatkanlah diriku sendiri). Pergilah kepada selainku, pergilah kepada Nuh.’

 

فَيَأْتُونَ نُوحًا فَيَقُولُونَ: يَا نُوحُ، إِنَّكَ أَنْتَ أَوَّلُ الرُّسُلِ إِلَى أَهْلِ الْأَرْضِ، وَقَدْ سَمَّاكَ اللهُ عَبْدًا شَكُورًا، اشْفَعْ لَنَا إِلَى رَبِّكَ، أَلَا تَرَى إِلَى مَا نَحْنُ فِيهِ؟

 

Mereka pun mendatangi Nuh dan berkata: ‘Wahai Nuh, sesungguhnya engkau adalah rasul pertama yang diutus kepada penduduk bumi, dan sungguh Allah telah menamaimu sebagai hamba yang banyak bersyukur. Berikanlah syafaat bagi kami kepada Tuhanmu. Tidakkah engkau melihat keadaan kami ini?’

 

فَيَقُولُ: إِنَّ رَبِّي عَزَّ وَجَلَّ قَدْ غَضِبَ الْيَوْمَ غَضَبًا لَمْ يَغْضَبْ قَبْلَهُ مِثْلَهُ، وَلَنْ يَغْضَبَ بَعْدَهُ مِثْلَهُ، وَإِنَّهُ قَدْ كَانَتْ لِي دَعْوَةٌ دَعَوْتُهَا عَلَى قَوْمِي، نَفْسِي نَفْسِي نَفْسِي، اذْهَبُوا إِلَى غَيْرِي، اذْهَبُوا إِلَى إِبْرَاهِيمَ،

 

Maka ia berkata: ‘Sesungguhnya Tuhanku ‘Azza wa Jalla pada hari ini telah murka dengan kemurkaan yang belum pernah terjadi sebelumnya dan tidak akan ada lagi kemurkaan semacam itu setelahnya. Sungguh aku pernah memiliki sebuah doa yang aku gunakan untuk mendoakan keburukan bagi kaumku. Diriku, diriku, diriku. Pergilah kepada selainku, pergilah kepada Ibrahim.’

 

فَيَأْتُونَ إِبْرَاهِيمَ، فَيَقُولُونَ: يَا إِبْرَاهِيمُ، أَنْتَ نَبِيُّ اللهِ وَخَلِيلُهُ مِنْ أَهْلِ الْأَرْضِ، اشْفَعْ لَنَا إِلَى رَبِّكَ، أَلَا تَرَى إِلَى مَا نَحْنُ فِيهِ؟

 

Mereka pun mendatangi Ibrahim dan berkata: ‘Wahai Ibrahim, engkau adalah nabi Allah dan kekasih-Nya dari kalangan penduduk bumi. Berikanlah syafaat bagi kami kepada Tuhanmu. Tidakkah engkau melihat keadaan kami ini?’

 

فَيَقُولُ لَهُمْ: إِنَّ رَبِّي قَدْ غَضِبَ الْيَوْمَ غَضَبًا لَمْ يَغْضَبْ قَبْلَهُ مِثْلَهُ، وَلَنْ يَغْضَبَ بَعْدَهُ مِثْلَهُ، وَإِنِّي قَدْ كُنْتُ كَذَبْتُ ثَلَاثَ كَذَبَاتٍ ، نَفْسِي نَفْسِي نَفْسِي، اذْهَبُوا إِلَى غَيْرِي، اذْهَبُوا إِلَى مُوسَى ،

 

Maka ia berkata kepada mereka: ‘Sesungguhnya Tuhanku pada hari ini telah murka dengan kemurkaan yang belum pernah terjadi sebelumnya dan tidak akan ada lagi kemurkaan semacam itu setelahnya. Dan sungguh aku pernah berbohong dengan tiga kebohongan([5])Diriku, diriku, diriku. Pergilah kepada selainku, pergilah kepada Musa.’

 

فَيَأْتُونَ مُوسَى، فَيَقُولُونَ: يَا مُوسَى، أَنْتَ رَسُولُ اللهِ، فَضَّلَكَ اللهُ بِرِسَالَتِهِ وَبِكَلَامِهِ عَلَى النَّاسِ، اشْفَعْ لَنَا إِلَى رَبِّكَ، أَلَا تَرَى إِلَى مَا نَحْنُ فِيهِ؟

 

Mereka pun mendatangi Musa dan berkata: ‘Wahai Musa, engkau adalah rasul Allah, Allah telah melebihkanmu dengan risalah-Nya dan firman-Nya di atas manusia yang lain. Berikanlah syafaat bagi kami kepada Tuhanmu. Tidakkah engkau melihat keadaan kami ini?’

 

فَيَقُولُ: إِنَّ رَبِّي قَدْ غَضِبَ الْيَوْمَ غَضَبًا لَمْ يَغْضَبْ قَبْلَهُ مِثْلَهُ، وَلَنْ يَغْضَبَ بَعْدَهُ مِثْلَهُ، وَإِنِّي قَدْ قَتَلْتُ نَفْسًا لَمْ أُومَرْ بِقَتْلِهَا، نَفْسِي نَفْسِي نَفْسِي، اذْهَبُوا إِلَى غَيْرِي، اذْهَبُوا إِلَى عِيسَى،

 

Maka ia berkata: ‘Sesungguhnya Tuhanku pada hari ini telah murka dengan kemurkaan yang belum pernah terjadi sebelumnya dan tidak akan ada lagi kemurkaan semacam itu setelahnya. Dan sungguh aku pernah membunuh suatu jiwa yang tidak diperintahkan kepadaku untuk membunuhnya. Diriku, diriku, diriku. Pergilah kepada selainku, pergilah kepada Isa.’

 

فَيَأْتُونَ عِيسَى فَيَقُولُونَ: يَا عِيسَى، أَنْتَ رَسُولُ اللهِ وَكَلِمَتُهُ أَلْقَاهَا إِلَى مَرْيَمَ وَرُوحٌ مِنْهُ، وَكَلَّمْتَ النَّاسَ فِي الْمَهْدِ صَبِيًّا، اشْفَعْ لَنَا، أَلَا تَرَى إِلَى مَا نَحْنُ فِيهِ؟

 

Mereka pun mendatangi Isa dan berkata: ‘Wahai Isa, engkau adalah rasul Allah dan kalimat-Nya yang Dia sampaikan kepada Maryam, serta roh dari-Nya, dan engkau berbicara kepada manusia semasa bayi dalam buaian. Berikanlah syafaat bagi kami. Tidakkah engkau melihat keadaan kami ini?’

 

فَيَقُولُ عِيسَى: إِنَّ رَبِّي قَدْ غَضِبَ الْيَوْمَ غَضَبًا لَمْ يَغْضَبْ قَبْلَهُ مِثْلَهُ، وَلَنْ يَغْضَبَ بَعْدَهُ مِثْلَهُ، وَلَمْ يَذْكُرْ ذَنْبًا، نَفْسِي نَفْسِي نَفْسِي، اذْهَبُوا إِلَى غَيْرِي، اذْهَبُوا إِلَى مُحَمَّدٍ ﷺ،

 

Maka Isa berkata: ‘Sesungguhnya Tuhanku pada hari ini telah murka dengan kemurkaan yang belum pernah terjadi sebelumnya dan tidak akan ada lagi kemurkaan semacam itu setelahnya.’ -Dan ia tidak menyebutkan suatu dosa pun-. ‘Diriku, diriku, diriku. Pergilah kepada selainku, pergilah kepada Muhammad ﷺ.’

 

فَيَأْتُونَ مُحَمَّدًا ﷺ فَيَقُولُونَ: يَا مُحَمَّدُ، أَنْتَ رَسُولُ اللهِ، وَخَاتَمُ الْأَنْبِيَاءِ، وَقَدْ غَفَرَ اللهُ لَكَ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِكَ وَمَا تَأَخَّرَ، اشْفَعْ لَنَا إِلَى رَبِّكَ، أَلَا تَرَى إِلَى مَا نَحْنُ فِيهِ؟

 

Mereka pun mendatangi Muhammad ﷺ dan berkata: ‘Wahai Muhammad, engkau adalah rasul Allah, penutup para nabi, dan sungguh Allah telah mengampuni dosamu yang telah lalu dan yang akan datang. Berikanlah syafaat bagi kami kepada Tuhanmu. Tidakkah engkau melihat keadaan kami ini?’

 

فَأَنْطَلِقُ فَآتِي تَحْتَ الْعَرْشِ، فَأَقَعُ سَاجِدًا لِرَبِّي عَزَّ وَجَلَّ، ثُمَّ يَفْتَحُ اللهُ عَلَيَّ مِنْ مَحَامِدِهِ وَحُسْنِ الثَّنَاءِ عَلَيْهِ شَيْئًا لَمْ يَفْتَحْهُ عَلَى أَحَدٍ قَبْلِي،

 

Maka aku pun pergi lalu mendatangi bawah ‘Arsy, kemudian aku tersungkur bersujud kepada Tuhanku ‘Azza wa Jalla. Kemudian Allah membukakan untukku berbagai pujian dan sanjungan yang baik kepada-Nya yang belum pernah Dia bukakan kepada seorang pun sebelumku.

 

ثُمَّ يُقَالُ: يَا مُحَمَّدُ ارْفَعْ رَأْسَكَ، سَلْ تُعْطَهْ، وَاشْفَعْ تُشَفَّعْ،

 

Kemudian difirmankan: ‘Wahai Muhammad, angkatlah kepalamu, mintalah niscaya engkau akan diberi, dan berilah syafaat niscaya syafaatmu akan diterima.’

 

فَأَرْفَعُ رَأْسِي فَأَقُولُ: أُمَّتِي يَا رَبِّ، أُمَّتِي يَا رَبِّ، فَيُقَالُ: يَا مُحَمَّدُ أَدْخِلْ مِنْ أُمَّتِكَ مَنْ لَا حِسَابَ عَلَيْهِمْ مِنَ الْبَابِ الْأَيْمَنِ مِنْ أَبْوَابِ الْجَنَّةِ، وَهُمْ شُرَكَاءُ النَّاسِ فِيمَا سِوَى ذَلِكَ مِنَ الْأَبْوَابِ»

 

Maka aku mengangkat kepalaku lalu berkata: ‘Umatku wahai Tuhanku, umatku wahai Tuhanku.’ Lalu difirmankan: ‘Wahai Muhammad, masukkanlah umatmu yang tidak ada hisab atas mereka dari pintu sebelah kanan dari pintu-pintu surga, dan mereka juga boleh berbagi bersama manusia yang lain (masuk) melalui pintu-pintu selain itu.'”([6])

 

Maka wajib bagi seorang muslim untuk tidak lalai dari hari yang agung ini yang pasti akan dijumpai oleh setiap orang dari kita, dan hendaknya ia bersiap menghadapinya dengan tobat nasuha dan membekali diri dengan bekal takwa.

 

Ya Allah, jadikanlah kami termasuk dari hamba-hamba-Mu yang bertakwa, dan pada hari peradilan yang agung di hadapan-Mu termasuk ke dalam golongan orang-orang yang aman. Lindungilah kami dari kehinaan dunia dan azab akhirat, ampunilah kami, kedua orang tua kami, dan seluruh kaum muslimin. Dan semoga selawat serta salam senantiasa dilimpahkan Allah kepada nabi kita Muhammad, beserta seluruh keluarga dan para sahabatnya.

 

(Dialih bahasakan dari Majaalisu ‘Asyri Dzil Hijjah, Prof. DR. Sa’d bin Turkiy al-Khatslaan)

____________________________

Footnote:

([1]) Surah Al-Baqarah (Ayat: 203)

([2]) Surah ‘Abasa (Ayat: 34-37)

([3]) Surah Al-Hajj (Ayat: 1-2)

([4]) Surah Al-Muzzammil (Ayat: 17)

([5]) Yaitu perkataan beliau: “Sesungguhnya aku sakit”, dan “Sebenarnya patung yang besar itulah yang melakukannya”, dan bahwa ia (Sarah alaihassalam) adalah saudariku.

([6]) Dikeluarkan oleh Al-Bukhari nomor: (4712) dan lafaznya miliknya, serta Muslim nomor: (194)

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *