Wanita yang haidh atau nifas boleh untuk berdzikir menyebut asma Allah ﷻ, dan demikian juga membaca al-Qur`an, atau mendengarkannya, dan boleh membaca kitab-kitab yang bermanfaat…. dan melakukan bermacam-macam ketaatan yang lainnya.
Termasuk di antara perkara yang menunjukkan akan boleh berdzikir dan bertasbih adalah apa yang telah dikeluarkan oleh al-Bukhari dan Muslim bahwasannya Nabi ﷺ telah memerintahkan wanita-wanita yang haidh untuk keluar pada hari raya, lalu mereka berada di belakang manusia, bertakbir dengan takbir, dan berdo’a dengan do’a-do’a mereka.” ([1])
Maka di dalam hadits tersebut terdapat (penjelasan) bahwa wanita yang haidh bertakbir, dan berdzikir menyebut asma Allah subhaanahu wata’aalaa.
Dan juga, boleh baginya untuk membaca kitab-kitab hadits, fiqih, do’a, dan mengaminkan do’a, serta mendengarkan al-Qur`an; maka semua ini adalah boleh dan tidak ada khilaf di dalamnya. Yang ada khilaf di dalamnya, tiada lain adalah tentang bacaan al-Qur`an oleh wanita yang haidh; dan yang rajih adalah kebolehannya, dikarenakan hadits-hadits yang melarangnya tidak shahih.
Dan yang berpendapat kebolehannya adalah Abu Hanifah, dan yang masyhur dari madzhab Ahmad. Al-Bukhari, Ibnu Jarir dan Ibnu al-Mundzir berpendapat akan kebolehannya. Dan diceritakan dari Malik, as-Syafi’iy pada pendapat qadim (lama) juga membolehkan. Ibnu Hajar menceritakan hal itu dari keduanya di dalam Fathu al-Baariy.
Ibnu Hazm rahimahullah berkata di dalam al-Muhallaa (1/77):
“Membaca al-Qur`an, sujud di dalamnya, menyentuh mushhaf, dan berdzikir menyebut asma Allah ﷻ adalah perbuatan-perbuatan baik. Dianjurkan, dan diberikan pahala bagi yang melakukannya. Maka barangsiapa mengeklaim pelarangannya pada sebagian kondisi, maka dia diberikan beban untuk mendatangkan bukti.” Selesai.
Termasuk di antara perkara yang menunjukkan kebolehan wanita haidh membaca al-Qur`an adalah hadits yang telah dikeluarkan oleh al-Bukhari, bahwa Nabi ﷺ bersabda kepada ‘Aisyah radhiyallaahu ‘anha saat dia haid:
«افْعَلِي كَمَا يَفْعَلُ الحَاجُّ غَيْرَ أَنْ لاَ تَطُوفِي بِالْبَيْتِ حَتَّى تَطْهُرِي»
“Lakukanlah apa yang biasa dilakukan oleh orang yang berhaji, hanya saja janganlah engkau thawaf di Ka’bah.” ([2])
Dan telah diketahui bahwa orang yang berhaji berdzikir menyebut asma Allah dan membaca al-Qur`an.
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata, “”Tidak ada sunnah sama sekali dalam hal pelarangan wanita dari (membaca) al-Quràn, dikarenakan sabda beliau ﷺ:
«لَا تَقْرَأُ الْحَائِضُ وَلَا الْجُنُبُ شَيْئًا مِنَ الْقُرْآنِ»
“Wanita haidh, dan orang junub tidak membaca sedikitpun dari al-Qur`an.” adalah hadits dha’if dengan kesepakatan para ahli hadits.
Sungguh kaum wanita telah haidh di zaman Nabi ﷺ, maka seandainya membaca al-Qur`an adalah diharamkan bagi mereka seperti halnya shalat, maka pastilah hal ini termasuk perkara yang telah dijelaskan oleh Nabi ﷺ kepada umat beliau, dan pastilah para ummahaatul mukminiin mengetahuinya. dan pastilah hal itu termasuk perkara yang akan mereka nukil di tengah manusia. maka tatkala tidak ada seorangpun yang menukil dari Nabi ﷺ satu laranganpun, maka tidak boleh anda menjadikannya sebagai suatu yang diharamkan bersamaan dengan pengetahuan bahwa beliau tidak melarangnya padahal banyak wanita haidh di zaman beliau, maka diketahuilah bahwa hal itu tidak diharamkan.” Selesai. ([3])
(Diterjemahkan oleh Muhammad Syahri dari kitab Akhthaa-unaa Fii Ramadhaan; al-Akhthaa` al-Khaashshah bi an-Nisaa`, Syaikh Nada Abu Ahmad)
_____________________________________________________________
Footnote:
([1]) HR. Al-Bukhari (928), Muslim (890), al-Baihaqiy dalam al-Kubra (6036), lihat al-Jaami’ as-Shahiih li as-Sunan wa al-Masaanid (17/399)-pent
([2]) HR. Al-Bukhari (1567), Muslim (1211)-pent
([3]) Al-Fataawaa al-Kubraa (1/453)-pent






