Sungguh Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam telah memberikan bahwa balasan orang-orang yang duduk di rumah Allah sembari mempelajari kitabullah adalah empat perkara;
Pertama, sakinah akan turun kepada mereka.
Di dalam as-Shahiihain([1]) dari al-Barra` bin ‘Aazib dia berkata, ada seorang lelaki yang sedang membaca surat al-Kahfi, sementara di sisinya ada seekor kuda, kemudian ada awan yang meliputinya, kemudian mulai berputar dan mendekat, lantas kuda tersebut mulai menghindar darinya. Maka tatkala di pagi hari, dia mendatangi Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam, kemudian menyebutkan hal itu kepada beliau. Maka beliau bersabda:
«تِلْكَ السَّكِيْنَةُ تَنَزَّلَتْ لِلْقُرْآنِ»
“Itulah sakiinah yang turun untuk al-Qur`an.”
Dan di dalam kedua kitab tersebut (Shahih Bukhari dan Muslim) juga([2]) dari Abu Sa’id, bahwa Usaid bin Hudhair ketika suatu malam sedang membaca (Al-Qur’an) di mirbad-nya([3]), tiba-tiba kudanya melompat (kaget). Ia pun melanjutkan bacaannya. Kemudian kudanya melompat lagi, dan ia tetap membaca. Lalu kudanya melompat lagi, maka Usaid berkata: “Aku khawatir kuda itu akan menginjak Yahya” —yakni putranya—. Ia (Usaid) berkata: “Maka aku pun berdiri menghampiri kuda tersebut, dan tiba-tiba ada sesuatu seperti naungan (awan) di atas kepalaku yang di dalamnya terdapat benda-benda seperti pelita, ia naik ke udara hingga aku tidak bisa melihatnya lagi.” Ia (Abu Sa’id) berkata: “Lalu di pagi harinya ia (Usaid) mendatangi Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dan menceritakan hal itu kepada beliau. Maka beliau shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
«تِلْكَ الْمَلَائِكَةُ كَانَتْ تَسْتَمِعُ لَكَ، وَلَوْ قَرَأْتَ، لَأَصْبَحَتْ يَرَاهَا النَّاسُ مَا تَسْتَتِرُ مِنْهُمْ»
“Itu adalah para malaikat yang sedang mendengarkan (bacaan)-mu. Seandainya engkau terus membaca, niscaya di pagi harinya orang-orang akan dapat melihat mereka, di mana mereka (para malaikat) tidak akan bisa bersembunyi dari pandangan orang-orang.” Dan lafaz ini adalah milik Imam Muslim pada kedua kitab tersebut.
Dan Ibnu Al-Mubarak meriwayatkan([4]), dari Yahya bin Ayyub, dari ‘Ubaidullah bin Zahr, dari Sa’d bin Mas’ud, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam sedang berada di suatu majelis, lalu beliau mengangkat pandangannya ke langit, kemudian menundukkan pandangannya, lalu mengangkatnya kembali. Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam ditanya tentang hal tersebut, beliau pun bersabda:
«إِنَّ هَؤُلَاءِ الْقَوْمَ كَانُوا يَذْكُرُونَ اللهَ تَعَالَى – يَعْنِي : أَهْلَ مَجْلِسٍ أَمَامَهُ – فَنَزَلَتْ عَلَيْهِمُ السَّكِينَةُ تَحْمِلُهَا الْمَلَائِكَةُ كَالْقُبَّةِ ، فَلَمَّا دَنَتْ مِنْهُمْ تَكَلَّمَ رَجُلٌ مِنْهُمْ بِبَاطِلٍ ، فَرُفِعَتْ عَنْهُمْ»
“Sesungguhnya kaum ini sedang berdzikir kepada Allah Ta’ala —yakni: orang-orang di sebuah majelis yang ada di hadapannya—, maka turunlah ketenangan (sakinah) kepada mereka yang dibawa oleh para malaikat menyerupai kubah. Namun, ketika (sakinah itu) telah mendekat kepada mereka, ada seorang laki-laki dari mereka yang membicarakan sebuah kebatilan, maka ia (sakinah tersebut) pun diangkat kembali dari mereka.” Dan hadits ini berstatus mursal ([5]).
Kedua: Diliputi oleh rahmat. Allah subhaanahu wata’aalaa berfirman:
«إِنَّ رَحْمَتَ اللهِ قَرِيبٌ مِنَ الْمُحْسِنِينَ»
“Sesungguhnya rahmat Allah amat dekat kepada orang-orang yang berbuat baik.” (QS. Al-A’raf: 56).
Al-Hakim meriwayatkan([6]) dari hadits Salman, bahwa ia pernah berada dalam suatu kelompok (jamaah) yang sedang berdzikir kepada Allah Ta’ala, lalu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam melewati mereka dan bersabda:
«مَا كُنْتُمْ تَقُولُونَ؟ فَإِنِّي رَأَيْتُ الرَّحْمَةَ تَنْزِلُ عَلَيْكُمْ ، فَأَرَدْتُ أَنْ أُشَارِكَكُمْ فِيهَا»
“Apa yang sedang kalian ucapkan? Sesungguhnya aku melihat rahmat turun kepada kalian, maka aku pun ingin bergabung bersama kalian di dalamnya.”
Al-Bazzar meriwayatkan([7]) dari hadits Anas radhiyallahu ‘anhu, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau bersabda:
«إِنَّ لِلهِ سَيَّارَةً مِنَ الْمَلَائِكَةِ، يَطْلُبُونَ حِلَقَ الذِّكْرِ، فَإِذَا أَتَوْا عَلَيْهِمْ حَفُّوا بِهِمْ، ثُمَّ بَعَثُوا رَائِدَهُمْ إِلَى السَّمَاءِ إِلَى رَبِّ الْعِزَّةِ تَبَارَكَ وَتَعَالَى فَيَقُولُونَ : رَبَّنَا أَتَيْنَا عَلَى عِبَادٍ مِنْ عِبَادِكَ يُعَظِّمُونَ آلَاءَكَ، وَيَتْلُونَ كِتَابَكَ، وَيُصَلُّونَ عَلَى نَبِيِّكَ، وَيَسْأَلُونَكَ لِآخِرَتِهِمْ وَدُنْيَاهُمْ، فَيَقُولُ تَبَارَكَ وَتَعَالَى : غَشُّوهُمْ بِرَحْمَتِي، فَيَقُولُونَ : رَبَّنَا، إِنَّ فِيهِمْ فُلَاناً الْخَطَّاءَ، إِنَّمَا اعْتَنَقَهُمُ اعْتِنَاقاً، فَيَقُولُ تَعَالَى : غَشُّوهُمْ بِرَحْمَتِي، فَهُمُ الْجُلَسَاءُ لَا يَشْقَى بِهِمْ جَلِيسُهُمْ»
“Sesungguhnya Allah memiliki malaikat-malaikat yang berkeliling mencari halaqah-halaqah (majelis) dzikir. Jika mereka mendatangi mereka (orang-orang yang berdzikir), para malaikat itu akan mengelilinginya, kemudian mereka mengutus pemimpin (pencari berita) mereka ke langit menghadap kepada Rabb Pemilik Kemuliaan Tabaraka wa Ta’ala. Mereka (para malaikat) berkata: ‘Wahai Rabb kami, kami telah mendatangi hamba-hamba di antara hamba-hamba-Mu yang sedang mengagungkan nikmat-nikmat-Mu, membaca kitab-Mu, bershalawat kepada nabi-Mu, dan memohon kepada-Mu untuk (kebaikan) akhirat dan dunia mereka.’ Maka Allah Tabaraka wa Ta’ala berfirman: ‘Liputilah mereka dengan rahmat-Ku.’ Mereka (para malaikat) berkata: ‘Wahai Rabb kami, sesungguhnya di antara mereka ada si fulan yang banyak berdosa, ia hanya sekadar ikut bergabung saja.’ Maka Allah Ta’ala berfirman: ‘Liputilah (juga) mereka dengan rahmat-Ku, karena mereka adalah teman duduk yang teman duduknya tidak akan celaka (binasa).'”
Ketiga: Bahwa para malaikat mengelilingi mereka. Hal ini telah disebutkan di dalam hadits-hadits yang telah kami sebutkan tadi, dan juga di dalam hadits Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu yang telah berlalu:
«فَيَحُفُّونَهُمْ بِأَجْنِحَتِهِمْ إِلَى السَّمَاءِ الدُّنْيَا»
“Maka mereka (para malaikat) mengelilingi mereka dengan sayap-sayap mereka hingga ke langit dunia.”
Dan dalam sebuah riwayat milik Imam Ahmad([8]):
«عَلَا بَعْضُهُمْ عَلَى بَعْضٍ حَتَّى يَبْلُغُوا الْعَرْشَ »
“Sebagian mereka berada di atas sebagian yang lain (bertumpuk) hingga mencapai ‘Arsy.”
Khalid bin Ma’dan([9]) berkata, seraya me-marfu’-kan hadits ini (menyandarkannya kepada Nabi):
«إِنَّ لِلهِ مَلَائِكَةً فِي الْهَوَاءِ، يَسِيحُونَ بَيْنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ، يَلْتَمِسُونَ الذِّكْرَ، فَإِذَا سَمِعُوا قَوْماً يَذْكُرُونَ اللهَ تَعَالَى، قَالُوا : رُوَيْداً زَادَكُمُ اللهُ، فَيَنْشُرُونَ أَجْنِحَتَهُمْ حَوْلَهُمْ حَتَّى يَصْعَدَ كَلَامُهُمْ إِلَى الْعَرْشِ»
“Sesungguhnya Allah memiliki malaikat-malaikat di udara, mereka berkeliling di antara langit dan bumi mencari (majelis) dzikir. Apabila mereka mendengar suatu kaum sedang berdzikir kepada Allah Ta’ala, mereka berkata: ‘Perlahan-lahanlah, semoga Allah menambah (kebaikan) untuk kalian.’ Lalu mereka membentangkan sayap-sayap mereka di sekeliling kaum tersebut hingga perkataan (dzikir) mereka naik menuju ‘Arsy.” Al-Khallal meriwayatkannya di dalam kitab “As-Sunnah”.
Keempat: Bahwa Allah menyebut-nyebut mereka di hadapan (makhluk) yang ada di sisi-Nya. Dan di dalam “Ash-Shahihain” (Shahih Bukhari dan Muslim)([10]) dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau bersabda:
«يَقُولُ اللهُ – عَزَّ وَجَلَّ – : أَنَا عِنْدَ ظَنِّ عَبْدِي بِي، وَأَنَا مَعَهُ حِينَ يَذْكُرُنِي، فَإِنْ ذَكَرَنِي فِي نَفْسِهِ، ذَكَرْتُهُ فِي نَفْسِي، وَإِنْ ذَكَرَنِي فِي مَلَأٍ ذَكَرْتُهُ فِي مَلَأٍ خَيْرٍ مِنْهُمْ»
“Allah ‘Azza wa Jalla berfirman: ‘Aku (bertindak) sesuai dengan persangkaan hamba-Ku kepada-Ku, dan Aku bersamanya ketika ia mengingat-Ku. Jika ia mengingat-Ku di dalam dirinya, maka Aku akan mengingatnya di dalam diri-Ku, dan jika ia mengingat-Ku di dalam suatu perkumpulan (majelis), maka Aku akan mengingatnya di dalam suatu perkumpulan yang lebih baik dari mereka (yaitu perkumpulan para malaikat).'”
(30 Sababan Li Tunaala Rahmatullaahi Ta’aalaa, Abu Abdirrahman Sulthan ‘Aliy, alih bahasa Muhammad Syahri)
________________________________________
Footnote:
([1]) Shahiih al-Bukhari 4/145 (3614), 6/170 (4639), 232 (5011), Shahiih Muslim 2/193 (795) (240), (241), 194 (795) (241)
([2]) HR. Al-Bukhari 6/234 (5018) secara mu’allaq, dan Muslim 2/194 (796) (242).
([3]) Al-Mirbad: Tempat di mana unta dan kambing dikurung/ditambat, dan dengan nama inilah Mirbad di Madinah dan Basrah dinamai. Kata ini dibaca dengan kasrah pada huruf Mim dan fathah pada huruf Ba’ (Mírbad). Al-Mirbad juga berarti: Tempat yang dijadikan untuk menjemur kurma agar mengering. (Lihat kitab An-Nihayah 2/182).
([4]) Di dalam kitab “Az-Zuhd” (943).
([5]) Hadits ini selain berstatus mursal, di dalam sanadnya juga terdapat ‘Ubaidullah bin Zahr, dan pada dirinya terdapat kelemahan (dha’if).
([6]) Di dalam kitab “Al-Mustadrak” 1/122, dan di dalam sanadnya terdapat kelemahan (dha’if). Dikeluarkan juga oleh Abu Nu’aim di dalam kitab “Al-Hilyah” 1/242.
([7]) Sebagaimana terdapat di dalam kitab “Kasyf Al-Astar” (3062) dan dikeluarkan oleh Abu Nu’aim di dalam kitab “Al-Hilyah” 6/268, hadits ini adalah hadits yang dha’if (lemah) karena kelemahan Zaidah bin Abu Ar-Ruqad dan Ziyad bin Abdullah An-Numairi.
([8]) Di dalam kitab “Musnad”-nya 2/358.
([9]) Dan Khalid bin Ma’dan adalah seorang Tabi’in, maka hadits ini berstatus dha’if (lemah) karena kemursalannya (mursal adalah hadits yang terputus sanadnya pada tingkat sahabat).
([10]) Shahih Bukhari 9/147 (7405), dan Shahih Muslim 8/62 (2675) (2).






