Maksiat Kedua Tangan: Bermain Dadu

وَاللَّعْبُ بِالنَّرْدِ وَالطَّابِ

“Dan bermain Dadu dan at-Thab

 

Terdapat banyak dalil yang menunjukkan larangan bermain dadu, berikut diantaranya,

 

  1. Dari Buraidah bin Hashib radhiyallaahu ‘anhu, Rasulullah ﷺ bersabda,

 

مَنْ لَعِبَ ‏ ‏بِالنَّرْدَشِيرِ ‏ ‏فَكَأَنَّمَا صَبَغَ يَدَهُ فِي لَحْمِ خِنْزِيرٍ وَدَمِهِ

 

“Siapa yang bermain dadu, seolah dia telah mencelupkan tangannya ke dalam daging babi bercampur darahnya.”([1])

 

An-Nawawi rahimahullah mengatakan,

 

وَمَعْنَى “صَبَغَ يَده فِي لَحْم الْخِنْزِير وَدَمه فِي حَال أَكْله مِنْهُمَا” وَهُوَ تَشْبِيه لِتَحْرِيمِهِ بِتَحْرِيمِ أَكْلهمَا

 

‘Yang dimaksud; mencelupkan tangannya ke dalam daging babi bercampur darahnya adalah ketika makan dua benda ini. Maka hadis ini menyerupakan haramnya main dadu sebagaimana haramnya makan daging dan darah babi.’([2])

 

  1. Dari Abu Musa Al-Asy’ari radhiyallaahu ‘anhu, Rasulullah ﷺ bersabda,

 

مَنْ لَعِبَ ‏ ‏بِالنَّرْدِ ،‏ ‏فَقَدْ عَصَى اللهَ وَرَسُولَهُ

 

“Siapa yang bermain dadu, berarti dia telah bermaksiat kepada Allah dan Rasul-Nya.”([3])

 

  1. Dari Nafi’, murid dan menantu Ibn Umar radhiyallaahu ‘anhuma, beliau menceritakan,

 

أَنَّ عَبْدَ اللهِ بْنَ عُمَرَ كَانَ إِذَا وَجَدَ أَحَدًا مِنْ أَهْلِهِ يَلْعَبُ بِالنَّرْدِ، ضَرَبَهُ وَكَسَّرَهَا

 

“Bahwa Ibnu Umar jika melihat salah satu diantara anggota keluarganya bermain dadu, beliau langsung memukulnya dan memecahkan dadu itu.”([4])

 

  1. Dari Aisyah radhiyallaahu ‘anha, bahwa beliau penah menyewakan rumahnya kepada seseorang. Dilaporkan kepada Aisyah bahwa ternyata penyewa rumah menyimpan dadu di rumahnya. Aisyah pun mengirim surat kepada mereka,

 

لَئِنْ لَمْ تُخْرِجُوْهَا لَأُخْرِجَنَّكُمْ مِنْ دَارِيْ

 

“Jika kalian tidak membuang dadu itu, aku yang akan keluarkan kalian dari rumahku.”([5])

 

  1. Dari Kultsum bin Jabr, bahwa sahabat Abdullah bin Zubair (yang saat itu memimpin Mekah) pernah berkhutbah,

 

بَلَغَنِيْ عَنْ رِجَالٍ مِنْ قُرَيْشٍ يَلْعَبُوْنَ بِلُعْبَةٍ يُقَالُ لَهَا : النَّرْدَشِيْر.. وَإِنِّيْ أَحْلِفُ بِاللهِ لاَ أُوْتَى بِرَجُلٍ لَعِبَ بِهَا إِلاَّ عَاقَبْتُهُ فِيْ شَعْرِهِ وَبَشَرِهِ ، وَأَعْطَيْتُ سُلْبَهُ لِمَنْ أَتَانِيْ بِهِ

 

“Telah sampai kepadaku berita bahwa ada beberapa orang Quraisy yang bermain dadu. Saya bersumpah demi Allah, jika ada orang yang ditangkap dan diserahkan kepadaku karena bermain dadu, pasti akan aku hukum dari rambut sampai kulitnya. Dan orang yang melaporkan akan aku beri hadiah berupa harta yang dibawa orang itu.”([6])

 

  1. Sahabat Abdullah bin Amr bin Ash radhiyallaahu ‘anhuma mengatakan,

اللَّاعِبُ بِالْفَصَّيْنِ قِمَاراً ؛ كَآكِلِ لَحْمِ الْخِنْزِيْرِ ، وَاللاَّعِبُ بِهِمَا غَيْرَ قِمَارٍ ، كَالْغَامِسِ يَدَهُ فِيْ دَمِ خِنْزِيْرٍ

 

“Bermain dengan dua mata dadu ini dalam rangka berjudi seperti orang yang makan daging babi. Dan orang yang bermain dengan kedua mata dadu tapi tanpa taruhan, seperti orang yang mencelupkan tangannya di darah babi.”([7])

 

  1. Dari Nafi, bahwa Abdullah bin Umar radhiyallaahu ‘anhuma, mengatakan,

 

النَّرْدُ مِنَ الْمَيْسِرِ

 

“Bermain dadu termasuk judi.”([8])

 

Dari beberapa hadis dan keterangan sahabat di atas, dapat kita simpulkan:

 

Pertama, bermain dadu hukumnya haram, karena Rasulullah ﷺ menyerupakannya dengan menyentuh barang najis, seperti daging babi. Bahkan kata an-Nawawi rahimahullah, statusnya seperti makan babi.

 

Kedua, tidak diperbolehkan menyimpan dadu. Meskipun tidak untuk digunakan bermain. Karena sikap para sahabat yang membuang dadu dan merusaknya

 

Ketiga, para sahabat menilai, bermain dadu termasuk judi, meskipun tanpa taruhan. Jika disertai taruhan, lebih terlarang lagi.

 

Al-Ajuri rahimahullah mengatakan,

 

وَاللاَّعِبُ بِهَذِهِ النَّرْدِ مِنْ غَيْرِ قِمَارٍ عَاصٍ لِلهِ عَزَّ وَجَلَّ يَجِبُ عَلَيْهِ أَنْ يَتُوْبَ إِلىَ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ مِنْ لَهْوِهِ بِهَا . فَإِنْ لَعِبَ بِهَا وَقَامَرَ فَهُوَ أَعْظَمُ لِأَنَّهُ أَكَلَ الْمَيْسِرَ وَهُوَ الْقِمَارُ

 

“Orang yang bermain dadu tanpa taruhan judi, telah bermaksiat kepada Allah, dan dia wajib bertaubat dari permainan ini. Jika dia bermain dadu disertai taruhan, maka dosanya lebih besar, karena dia makan hasil judi.”([9])

 

Syaikhul Islam rahimahullah juga mengatakan,

 

وَالنَّرْدُ حَرَامٌ عِنْدَ الْأَئِمَّةِ الْأَرْبَعَةِ سَوَاءٌ كَانَ بِعِوَضٍ أَوْ غَيْرِ عِوَضٍ

 

“Bermain dadu hukumnya haram menurut imam 4 madzhab, baik dengan taruhan maupun tanpa taruhan.”([10])

 

Keempat, para sahabat mengingkari keras orang yang bermain  dadu. Dan ini termasuk kebiasaan mereka yang hampir tidak lagi kita temukan di zaman sekarang.

 

Kelima, orang yang bermain dadu dianggap sebagai orang yang jatuh wibawanya, sehingga persaksiannya tidak diterima.

 

As-Saerozi (ulama syafiiyah) rahimahullah mengatakan,

 

وَيَحْرُمُ اللَّعْبُ بِالنَّرْدِ ، وتُرَدُّ بِهِ الشَّهَادَةُ

 

“Haram bermain dadu dan persaksiannnya ditolak.”([11])

 

Setelah memahami ini, seharusnya kita merasa heran ketika ada orang yang melestarikan permainan dadu dengan ular tangga, dan mereka namakan ular tangga islami??

 

Muhammad Rasyid Ridha Berkomentar tentang Dadu

 

اَنَّهُ كَالْاَزْلاَمِ يَعُوْلُ فِيْهِ عَلىَ تَرْكِ الْأَسْبَابِ وَالْاِعْتِمَادُ عَلىَ الْخَطِّ وَالْبُخْتِ، فَهُوَ يَضُرُّ بِذَلِكَ وَيُغْرِيْ بِالْكَسْلِ وَالْاِتِّكَالِ عَلَى مَا يَجِيْءُ بِهِ الْقَدَرُ، أَيْ: فِيْهِ مَعْنَى الْمَيْسِرِ الْمَبْنِيِّ عَلىَ الْكَسْبِ بِالْخَطِّ وَالنَّصِيْبِ دُوْنَ الْعَمَلِ وَالْجِدِّ، وَمَا أَشَدَّ إِفْسَادَ هَذَا فِي الْأُمَمِ؟! وَمَا أَبْعَدَهُ عَنِ الْاِسْلاَمِ الَّذِيْ يَهْدِيْ اِلَي الْجِدِّ وَالسَّعْيِ وَالْعَمَلِ

 

“Dadu sebagaimana azlam (mengundi dengan anak panah). Mengajak manusia untuk meninggalkan usaha dan bersandar pada tulisan dan ramalan. Ini membahayakan dan memotivasi orang untuk malas dan pasrah terhadap apa yang diterima, artinya semakna dengan judi. Permainan yang dibangun di atas prinsip dapat harta dengan tulisan dan peluang menang, tanpa bekerja dan berusaha. Sungguh betapa berbahayanya permainan ini bagi masyarakat!! Sangat berbeda dengan islam, yang mengajarkan untuk sungguh-sungguh dalam berusaha dan bekerja.”([12])

 

(Diambil dari buku Kumpulan Makalah Kajian Syarah Sullamauttaufik oleh Ust. Muhammad Syahri di Rumah Bpk. H. Jarot Jawi Prigen)

__________________________________

Footnote:

([1]) HR. Muslim (2260), Abu Daud (4939), dan yang lainnya

([2]) Syarh Shahih Muslim, 15:16

([3]) HR. Abu Daud (4938), Ibn Majah (3762) dan dinilai Hasan oleh al-Albani

([4]) HR. Bukhari dalam Adabul Mufrad (127) dan dinilai shahih oleh al-Albani sampai Ibnu Umar

([5]) HR. Malik dalam al-Muwatha’ 3519. Sanadnya dinilai Hasan oleh al-Albani

([6]) HR. al-Baihaqi dalam al-Kubro 10:216 dan dalam Sahih Adabul Mufrad dinyatakan, sanadnya hasan

([7]) HR. Bukhari dalam Adabul Mufrad (1277), dan sanadnya dishahihkan al-Albani

([8]) Syaikh al-Albaniy rahimahullaah berkata di dalam al-Ir`wa` (8/287), ‘Dikeluarkan oleh al-Aajuriy dan al-Baihaqiy dari Nafi’..’ dan sanadnya shahih.

([9]) Tahrim an-Nardi was Syatranji, Hal. 53

([10]) Majmu’ Fatawa, 32:244

([11]) al-Muhadzab, 3:436

([12]) Fatawa Muhammad Rasyid Ridha, 3/1167

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *