Keyakinan Salah: Keyakinan wanita bahwa ia harus mengurai kepangan-kepangan saat mandi junub.

Keyakinan wanita bahwa ia harus mengurai kepangan-kepangan saat mandi junub.

 

Ini adalah keyakinan salah. Sesungguhnya wanita tidak harus mengurai rambutnya jika dia berkepang. Akan tetapi wajib baginya menyampaikan air ke pangkal rambut kepalanya.

 

Di dalam Shahih Muslim dari hadits Ummu Salamah radhiyallaahu ‘anha, dia berkata,

 

قُلْتُ يَا رَسُولَ اللهِ إِنِّي امْرَأَةٌ أَشُدُّ ضَفْرَ رَأْسِي فَأَنْقُضُهُ لِغُسْلِ الْجَنَابَةِ؟ قَالَ: «لَا. إِنَّمَا يَكْفِيكِ أَنْ تَحْثِي عَلَى رَأْسِكِ ثَلَاثَ حَثَيَاتٍ ثُمَّ تُفِيضِينَ عَلَيْكِ الْمَاءَ فَتَطْهُرِينَ».

 

“Saya katakan, ya Rasulullah, sesungguhnya saya adalah seorang wanita yang mengencangkan kepang rambutku, maka apakah saya mengurai kepangan tersebut untuk mandi junub? Maka beliau bersabda, ‘Tidak, sesungguhnya cukup bagimu untuk menuangkan ke atas kepalamu tiga kali tuangan air, kemudian kamu ratakan air keseluruh tubuhmu, dan bersucilah.”([1])

 

‘Aisyah radhiyallaahu ‘anha telah mengingkari ‘Abdullah bin ‘Amr radhiyallaahu ‘anhuma, perintah dia agar kaum wanita mengurai kepangan rambut mereka saat mandi junub.

 

Imam Muslim mengeluarkan hadits dari ‘Ubaid bin ‘Umair bahwa dia berkata,

 

بَلَغَ عَائِشَةَ، أَنَّ عَبْدَ اللهِ بْنَ عَمْرٍو يَأْمُرُ النِّسَاءَ إِذَا اغْتَسَلْنَ أَنْ يَنْقُضْنَ رُءُوسَهُنَّ. فَقَالَتْ: يَا عَجَبًا لِابْنِ عَمْرٍو هَذَا يَأْمُرُ النِّسَاءَ إِذَا اغْتَسَلْنَ أَنْ يَنْقُضْنَ رُءُوسَهُنَّ. أَفَلَا يَأْمُرُهُنَّ أَنْ يَحْلِقْنَ رُءُوسَهُنَّ، «لَقَدْ كُنْتُ أَغْتَسِلُ أَنَا وَرَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مِنْ إِنَاءٍ وَاحِدٍ. وَلَا أَزِيدُ عَلَى أَنْ أُفْرِغَ عَلَى رَأْسِي ثَلَاثَ إِفْرَاغَاتٍ»

 

“Telah sampai kepada ‘Aisyah radhiyallaahu ‘anha bahwa ‘Abdullah bin ‘Amr memerintah kaum wanita, jika mereka mandi untuk mengurai rambut kepala mereka. Maka dia berkata, ‘Aneh sekali Ibnu ‘Amr ini, dia perintahkan kaum wanita untuk mengurai rambut-rambut mereka jika mereka mandi. Tidakkah sekalian dia perintah mereka untuk menggunduli rambut-rambut mereka? Sungguh aku mandi, aku dan Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam dari satu bejana. Aku tidak menambah lebih dari tiga tuangan air ke kepalaku.”([2])

 

Catatan:

 

Mengurai kepangan ada pada mandi bersuci dari haidh dan nifas menurut pendapat yang rajih. Yang demikian itu berdasarkan hadits yang dikeluarkan oleh al-Bukhari dan Muslim dari ‘Aisyah radhiyallaahu ‘anha, dia berkata, ‘Bahwasannya Asma` pernah bertanya kepada Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam tentang mandi dari haidh. Maka beliau bersabda,

 

تَأْخُذُ إِحْدَاكُنَّ مَاءَهَا، وَسِدْرَهَا، فَتَطْهُرُ، فَتُحْسِنُ الطُّهُورَ، أَوْ تَبْلُغُ فِي الطُّهُورِ، ثُمَّ تَصُبُّ عَلَى رَأْسِهَا، فَتَدْلُكُهُ دَلْكًا شَدِيدًا، حَتَّى تَبْلُغَ شُئُونَ رَأْسِهَا، ثُمَّ تَصُبُّ عَلَيْهَا الْمَاءَ، ثُمَّ تَأْخُذُ فِرْصَةً مُمَسَّكَةً، فَتَطْهُرُ بِهَا” قَالَتْ أَسْمَاءُ: كَيْفَ أَتَطَهَّرُ بِهَا؟ قَالَ: “سُبْحَانَ اللَّهِ، تَطَهَّرِي بِهَا” قَالَتْ عَائِشَةُ، كَأَنَّهَا تُخْفِي ذَلِكَ: تَتَبَّعِي بِهَا أَثَرَ الدَّمِ،

 

“Salah seorang dari kalian mengambil air dan sidrnya, lalu dia bersuci, kemudian memperbagusi bersucinya. Atau bersuci dengan sebaik-baiknya. Kemudian dia tuangkan air ke atas kepalanya, lalu memijat-mijat dengan keras hingga air mencapai pangkal-pangkal rambut kepalanya. Kemudian dia tuangkan air ke seluruh tubuhnya. Lalu dia mengambil secarik kapas yang diberi minyak misik, lalu dengannya dia bersuci.’ Asma` berkata, ‘Bagaimana aku bersuci dengannya? Beliau bersabda, ‘Subhaanallah, bersucilah kamu dengannya.’ ‘Aisyah berkata seakan-akan dia menyembunyikannya, ‘Ikutilah bekas-bekas darah dengannya.”([3])

 

Maka di dalam hadits ini, Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam menjelaskan kepada Asma` tentang mandi haidh, bahwa ia tuangkan air di atas kepalanya, lalu memijat-mijatnya hingga air sampai ke pangkal rambut kepalanya. Akan tetapi dalam mandi junub, beliau bersabda kepada ummu Salamah, ‘Cukup bagimu untuk menuangkan ke kepalamu tiga tuangan, kemudian kamu ratakan air pada tubuhmu lalu bersucilah.’

 

Maka, Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam membedakan antara mandi junub dengan mandi bersuci dari haidh. Atas dasar itulah wajib bagi seorang wanita untuk mengurai kepangan-kepangan rambutnya  pada mandi haidh.

 

Inilah madzhab Imam Ahmad, al-Hasan, dan Thawus, sementara Ibnul Qayyim memenangkannya. Pendapat inilah yang rajih, berbeda dengan orang yang berpendapat penguraian kepang pada mandi haidh adalah mustahab. Wallahu a’lam.

 

(Diambil dari buku 117 Dosa Wanita Dalam Masalah Aqidah Dan Keyakinan Sesat, terjemahan kitab Silsilatu Akhthaainnisaa`; Akhtaaul Mar-ah al-Muta’alliqah bil ‘Aqiidah Wal I’tiqaadaat al-Faasidah, karya Syaikh Nada Abu Ahmad)

________________

Footmote:

([1]) HR. Muslim (330)-pent

([2]) HR. Muslim (331)-pent

([3]) HR. al-Bukhari (314), Muslim (332), Abu Dawud (314, 315, 316), Ahmad (25145).

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *