عَنْ أَبِي أَيُّوبَ أَنَّ أَعْرَابِيًّا عَرَضَ لِرَسُولِ اللَّهِ ﷺ وَهُوَ فِي سَفَرٍ، فَأَخَذَ بِخِطَامِ نَاقَتِهِ أَوْ بِزِمَامِهَا، ثُمَّ قَالَ: يَا رَسُولَ اللَّهِ – أَوْ يَا مُحَمَّدُ – أَخْبِرْنِي بِمَا يُقَرِّبُنِي مِنَ الْجَنَّةِ، وَمَا يُبَاعِدُنِي مِنَ النَّارِ؟ قَالَ: فَكَفَّ النَّبِيُّ ﷺ ثُمَّ نَظَرَ فِي أَصْحَابِهِ، ثُمَّ قَالَ: «لَقَدْ وُفِّقَ – أَوْ لَقَدْ هُدِيَ -». قَالَ: «كَيْفَ قُلْتَ؟» قَالَ: فَأَعَادَ. فَقَالَ النَّبِيُّ ﷺ: «تَعْبُدُ اللَّهَ لَا تُشْرِكُ بِهِ شَيْئًا، وَتُقِيمُ الصَّلَاةَ، وَتُؤْتِي الزَّكَاةَ، وَتَصِلُ الرَّحِمَ. دَعِ النَّاقَةَ!» [رواه مسلم]
Dari Abu Ayyub (al-Anshari) bahwasanya seorang Arab badui menghadang Rasulullah ﷺ ketika beliau sedang dalam suatu perjalanan, lalu ia memegang tali kekang unta beliau atau tali kendalinya, kemudian berkata: “Wahai Rasulullah – atau wahai Muhammad – kabarkanlah kepadaku amalan yang dapat mendekatkanku ke surga dan menjauhkanku dari api neraka?” Perawi berkata: Maka Nabi ﷺ menahan (perjalanan untanya) sejenak, kemudian memandang kepada para sahabatnya seraya bersabda: “Sungguh dia telah diberi taufik – atau sungguh dia telah diberi petunjuk -.” Nabi bertanya (kepada orang itu): “Apa yang kamu katakan tadi?” Perawi berkata: Maka orang itu mengulangi pertanyaannya. Lalu Nabi ﷺ bersabda: “Engkau beribadah kepada Allah dengan tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu pun, mendirikan shalat, menunaikan zakat, dan menyambung tali silaturahim. Sekarang lepaskanlah unta itu!” [HR. Muslim]
Kosakata Asing (Gharib al-Hadith):
- Khitāmun-nāqati wa zimāmuhā (خِطَامُ النَّاقَةِ وَزِمَامُهَا): Sesuatu yang digunakan untuk menuntun unta, berupa tali atau sejenisnya.
Makna Global Hadis (Al-Ma’na al-Ijmali):
Hadis ini menjelaskan kedudukan agung tauhid dan keikhlasan dalam beribadah kepada Allah Ta’ala, serta bagaimana orang yang diberi taufik kepadanya sungguh telah mendapatkan petunjuk. Lelaki ini telah bertanya kepada Nabi ﷺ mengenai amalan yang mendekatkan dirinya ke surga dan menjauhkannya dari api neraka, maka beliau menjawab:
«تَعْبُدُ اللهَ لَا تُشْرِكُ بِهِ شَيْئًا»
“Engkau beribadah kepada Allah dengan tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu pun.”
Beliau menggabungkan bagi lelaki tersebut antara: perintah untuk beribadah kepada Allah dan larangan berbuat syirik kepada-Nya. Dan ini merupakan dakwah seluruh rasul sebagaimana firman Allah Ta’ala:
﴿وَلَقَدْ بَعَثْنَا فِي كُلِّ أُمَّةٍ رَّسُولًا أَنِ اعْبُدُوا اللَّهَ وَاجْتَنِبُوا الطَّاغُوتَ﴾
“Dan sungguh, Kami telah mengutus seorang rasul pada setiap umat (untuk menyerukan): ‘Sembahlah Allah, dan jauhilah thaghut’.” [QS. An-Nahl: 36]. Dahulu orang-orang kafir menyekutukan Allah dengan selain-Nya, mereka beribadah kepada-Nya secara lahiriah, akan tetapi mereka juga menyembah berhala-berhala bersama-Nya yang mereka klaim sebagai sekutu-sekutu bagi Allah Maha Suci Dia. Kemudian beliau ﷺ mengathafkan (menyambungkan) perintah shalat, zakat, dan silaturahim setelah perintah beribadah (tauhid). Hal tersebut termasuk ke dalam bab “penyebutan perkara yang khusus setelah perkara yang umum” (dzikr al-khash ba’da al-‘am) untuk memperingatkan/menunjukkan kemuliaan dan keistimewaan perkara khusus tersebut.
Pelajaran dari Hadis (Mimma Yustafadu min al-Hadith):
- Bahwa tauhid merupakan sebab masuknya seseorang ke dalam surga dan keselamatannya dari api neraka, dan hal itu direalisasikan dengan beribadah kepada Allah semata tanpa menyekutukan-Nya.
- Bahwa keikhlasan beribadah kepada Allah Ta’ala tidak akan terwujud kecuali dengan membuang/menolak segala sekutu selain-Nya.
- Penjelasan mengenai kedudukan dan kemuliaan ibadah shalat, zakat, dan menyambung tali silaturahim.
- Dianjurkannya bertanya mengenai urusan-urusan agama serta jalan-jalan yang dapat mendekatkan ke surga dan menyelamatkan diri dari api neraka.
(Di alih bahasakan dari al-Arba’uun Fii as-Siirah an-Nabawiyah (40 Hadiitsan Mukhtaaran Fii Siirati Khaatami al-Anbiyaa-i ﷺ) Prof. Dr. Adil bin Ali al-Syaddi & Prof. Muhammad bin Abdurrahim al-Arabi)






