وَإِحْرَاقُ الْحَيَوَانِ إِلاَّ إِذَا آذَى وَتَعَيَّنَ طَرِيْقًا فِي الدَّفْعِ.
“Dan (termasuk maksiat kedua tangan adalah) membakar hewan, kecuali jika dia mengganggu, dan menjadi nyata (bahwa membakarnya) adalah sebuah jalan (cara) untuk menolaknya (pada saat dharurat).”
Kita dilarang membunuh binatang dengan cara membakar. Ini berdasarkan riwayat dari Abu Hurairah radhiyallaahu ‘anhu, beliau mengatakan,
بَعَثَنَا رَسُولُ اللهِ ﷺ فِي بَعْثٍ فَقَالَ: «إِنْ وَجَدْتُمْ فُلاَنًا وَفُلاَنًا فَأَحْرِقُوهُمَا بِالنَّارِ»، ثُمَّ قَالَ رَسُولُ اللهِ ﷺ حِينَ أَرَدْنَا الخُرُوجَ: «إِنِّي أَمَرْتُكُمْ أَنْ تُحْرِقُوا فُلاَنًا وَفُلاَنًا، وَإِنَّ النَّارَ لاَ يُعَذِّبُ بِهَا إِلَّا اللهُ، فَإِنْ وَجَدْتُمُوهُمَا فَاقْتُلُوهُمَا»
Rasulullah ﷺ mengutus kami dalam satu pasukan perang. Beliau bersabda, “Jika kalian ketemu dengan si Fulan dan si Fulan, bakarlah mereka.” Kemudian Nabi ﷺ berpesan ketika kami hendak berangkat, “Kemarin saya perintahkan kalian untuk membakar si Fulan dan si Fulan, akan tetapi api adalah benda yang tidak boleh digunakan untuk menyiksa (membunuh) kecuali Allah. Jika kalian ketemu mereka bunuhlah.” ([1])
Demikian pula hadis dari Hamzah bin Amr Al-Aslami radhiyallaahu ‘anhu, beliau bercerita:
أَنَّ رَسُولَ اللهِ ﷺ أَمَّرَهُ عَلَى سَرِيَّةٍ قَالَ: فَخَرَجْتُ فِيهَا، وَقَالَ: «إِنْ وَجَدْتُمْ فُلَانًا فَأَحْرِقُوهُ بِالنَّارِ». فَوَلَّيْتُ فَنَادَانِي فَرَجَعْتُ إِلَيْهِ فَقَالَ: «إِنْ وَجَدْتُمْ فُلَانًا فَاقْتُلُوهُ وَلَا تُحْرِقُوهُ، فَإِنَّهُ لَا يُعَذِّبُ بِالنَّارِ إِلَّا رَبُّ النَّارِ»
Bahwa Rasulullah ﷺ pernah mengutusnya bersama pasukan perang, ketika hendak berangkat, Nabi ﷺ berpesan, “Jika kalian menjumpai si Fulan, bakarlah dia dengan api.” Kemudian aku berangkat. Lalu beliau memanggilku dan aku kembali dan beliau berpesan, “Jika kalian menangkap si Fulan, bunuhlah dan jangan kalian bakar. Karena tidak boleh menyiksa dengan api kecuali Tuhannya api (yaitu Allah).” ([2])
Dalam riwayat yang lain, dari Ikrimah radhiyallaahu ‘anhu, beliau menceritakan:
أُتِيَ عَلِيٌّ ﷻ بِزَنَادِقَةٍ فَأَحْرَقَهُمْ فَبَلَغَ ذَلِكَ ابْنَ عَبَّاسٍ فَقَالَ لَوْ كُنْتُ أَنَا لَمْ أُحْرِقْهُمْ لِنَهْيِ رَسُولِ اللهِ ﷺ لَا تُعَذِّبُوا بِعَذَابِ اللهِ وَلَقَتَلْتُهُمْ لِقَوْلِ رَسُولِ اللهِ ﷺ مَنْ بَدَّلَ دِينَهُ فَاقْتُلُوهُ، فَبَلَغَ ذَلِكَ عَلِيًّا، فَقَالَ: صَدَقَ ابْنُ عَبَّاسٍ
Di bawah ke hadapan Khalifah Ali ﷻ beberapa orang zindiq (mereka mengkultuskan Ali dan menganggapnya sebagai tuhan), lalu Ali bin Abi Thalib membakar mereka. Berita ini pun sampai kepada Ibnu Abbas radhiyallaahu ‘anhuma, lalu beliau berkata, “Kalau aku, aku tidak akan membakar mereka. Karena Rasulullah ﷺ melarangnya dalam sabda beliau, “Janganlah kalian menyiksa dengan siksaan Allah“, namun aku tetap akan membunuh mereka berdasarkan sabda Rasulullah ﷺ: “Barangsiapa mengganti agamanya maka bunuhlah”. Ucapan Ibnu abbas ini pun sampai kepada Ali, dan Ali berkomentar: “Benar apa yang dikatakan Ibnu Abbas.” ([3])
Kemudian, kita dibolehkan membakar binatang yang sudah mati. Berdasarkan riwayat bahwa Ali bin Abi Thalib radhiyallaahu ‘anhu, pernah membakar tikus setelah beliau membunuhnya. ([4])
Adapun jika tidak ada jalan lain untuk menolak dan mengusirnya kecuali dengan api, maka dibolehkan, hal ini berdasarkan riwayat dari Abu Hurairah radhiyallaahu ‘anhu,
أَنَّ نَبِيًّا مِنَ الْأَنْبِيَاءِ قَالَ تَحْتَ شَجَرَةٍ فَلَدَغَتْهُ نَمْلَةٌ فَأَمَرَ [بِبَيْتِهِنَّ] أَنْ يُحْرَقَ [فَتُحْرَقَ عَلَى مَنْ فِيهَا] فَأَوْحَى اللهُ تَعَالَى إِلَيْهِ: «هَلَّا نَمْلَةٌ وَاحِدَةٌ [فَإِنَّهُنَّ يُسَبِّحْنَ]»
“Bahwasannya ada seorang Nabi dari kalangan para Nabi tidur siang di bawah sebuah pohon, lalu ada seekor semut menggigitnya. Maka dia memerintah [terhadap sarang mereka] agar di bakar, [maka dibakarlah (sarang mereka) berikut yang berada di dalamnya], maka Allah memberikan wahyu kepadanya, ‘Mengapa tidak satu ekor semut (yang menggigitmu saja yang kau bunuh) [karena sesungguhnya mereka tengah bertasbih.”([5])
Dan hadits diatas dimasukkan oleh Ibnu Hibban rahimahullah dalam bab Penyebutan Penjelasan Bahwa Tidak Ada Masalah (Dosa) Bagi Pembunuh Semut, Jika Dia (Semut) Menyengatnya.
(Diambil dari buku Kumpulan Makalah Kajian Syarah Sullamauttaufik oleh Ust. Muhammad Syahri di Rumah Bpk. H. Jarot Jawi Prigen)
__________________________________
Footnote:
([2]) Shahih, HR. Abu Daud (2673) dan dishahihkan Al-Albani
([3]) HR. at-Tirmidzi (1458), al-Bukhari (2854), an-Nasa`iy (4059), Abu Dawud (4351), Ahad (1871), dishahihkan oleh al-Albaniy dalam al-Irwa` (2471), lihat juga al-Jaami’ as-Shahiih li as-Sunan wa al-Masaanid (37/16)
([5]) HR. Ibnu Hibban (5647), an-Nasa-iy (4358), Abu Dawud (5265), lihat al-Jaami’ as-Shahiih li as-Sunan wa al-Masaanid (12385)






