Abu Bakar Ash-Shiddiq dan Lisan
Dari Aslam Al-‘Adawi—maula (mantan hamba sahaya) Umar bin Khattab—ia berkata: Aku melihat Abu Bakar memegang lisannya seraya berkata:
«هَذَا أَوْرَدَنِي الْمَوَارِدَ»
“Inilah yang menjerumuskanku ke dalam berbagai kebinasaan (kesulitan).” ([1])
Allahu Akbar! Ini adalah perkataan Ash-Shiddiq tentang lisannya, lalu apa yang harus kita katakan?! Anda bisa membayangkan kata-kata apa yang dikhawatirkan oleh Abu Bakar? Dan perkataan apa yang membuatnya sampai mengucapkan kalimat seperti ini?!
Itulah rasa takut kepada Allah, yang membuatnya memikirkan perkataan mubah (boleh) yang ia ucapkan padahal tidak ada kebutuhan untuk itu, atau ia mengucapkan perkataan yang tidak pada tempatnya karena ijtihad dan takwil!
Adapun demi Allah.. Sesungguhnya kita lebih pantas mengucapkan kalimat ini daripada Ash-Shiddiq radhiyallahu ‘anhu! Kita adalah orang-orang yang lebih banyak berbicara daripada beramal, dan jarang sekali kita selamat dari ghibah (menggunjing), dan jika pun kita selamat darinya maka kita tidak selamat dari mendengarkannya dan mendiamkannya!
Sesungguhnya fitnah perkataan pada hari ini tidak lagi terbatas pada sebuah kata yang dilontarkan seseorang di sebuah majelis yang dihadiri lima atau sepuluh orang, bahkan lingkarannya telah meluas hingga mencapai ribuan bahkan jutaan dalam waktu singkat melalui media sosial yang dibawa oleh orang-orang di dalam perangkat genggam (gawai) mereka! Dan jika (perkataan itu) telah tersebar, maka betapa sulitnya seseorang untuk mengoreksinya!
Maka apakah kita menyadari wahai segenap kaum muslimin, setelah nasihat dari Abu Bakar Ash-Shiddiq ini, akan pentingnya mengontrol kata-kata dan ungkapan kita?
Dan yang lebih baik dari itu adalah sabda Nabi kita ﷺ dalam hadits muttafaq ‘alaih:
«إِنَّ الْعَبْدَ لَيَتَكَلَّمُ بِالْكَلِمَةِ، مَا يَتَبَيَّنُ فِيهَا، يَزِلُّ بِهَا فِي النَّارِ أَبْعَدَ مِمَّا بَيْنَ الْمَشْرِقِ»
“Sesungguhnya seorang hamba benar-benar mengucapkan suatu perkataan yang tidak ia pikirkan (kebenarannya atau dampaknya), yang membuatnya tergelincir ke dalam neraka yang jaraknya lebih jauh dari jarak antara timur (dan barat).” ([2])
Al-Bukhari telah membuat bab khusus untuk hadits ini dalam kitab Shahih-nya: Bab Menjaga Lisan.
Dan cukuplah sebagai pencegah bagi seorang muslim yang tidak peduli (merasa enggan) untuk berdusta dan menyebarkan (berita)—karena keinginan untuk menjadi yang pertama berlomba tanpa melakukan kroscek (tabayyun)—sabda beliau ﷺ dalam hadits ru’ya (mimpi) yang panjang yang diriwayatkan oleh Al-Bukhari:
«أَمَّا الَّذِي رَأَيْتَهُ يُشَقُّ شِدْقُهُ – وَهُوَ جَانِبُ الْفَمِ – فَكَذَّابٌ يُحَدِّثُ بِالْكَذْبَةِ، فَتُحْمَلُ عَنْهُ حَتَّى تَبْلُغَ الْآفَاقَ، فَيُصْنَعُ بِهِ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ»
“Adapun orang yang engkau lihat dirobek ujung mulutnya—yaitu sisi mulutnya—maka ia adalah seorang pendusta yang berbicara dengan kedustaan, lalu kedustaan itu dibawa darinya (disebarkan) hingga mencapai ufuk (penjuru dunia), maka ia diperlakukan seperti itu hingga hari kiamat.” ([3])
Maksudnya adalah setiap kali ujung mulutnya kembali (pulih), maka ia dirobek lagi untuk yang kesekian kalinya, wal ‘iyadzu billah (kita berlindung kepada Allah).
Ya Allah, cukupkanlah kami dari keburukan lisan-lisan kami, dan jadikanlah kami termasuk orang-orang yang tidak berbicara kecuali dengan kebaikan.
(Diterjemahkan dari Majalisu at-Tadzkiir, Fushulun Imaniyatun Tarbawiyatun, Prof. DR. ‘Umar Abdullah Muhammad al-Muqbil)
____________________
Footnote:
([1]) Az-Zuhd karya Ahmad bin Hanbal: (hal. 90).
([2]) HR. Al-Bukhari no. (6477), Muslim no. (2988).
([3]) Riwayat Al-Bukhari no. (1386).






