Sejenak Bersama Ayat-ayat Pertama Surah Hud

Sejenak Bersama Ayat-ayat Pertama Surah Hud

 

Al-‘Allamah Asy-Syinqithi rahimahullah memberikan komentar terhadap firman Allah Ta’ala:

 

﴿وَمَا مِن دَابَّةٍ فِي الْأَرْضِ إِلَّا عَلَى اللهِ رِزْقُهَا وَيَعْلَمُ مُسْتَقَرَّهَا وَمُسْتَوْدَعَهَا ۚ كُلٌّ فِي كِتَابٍ مُّبِينٍ * وَهُوَ الَّذِي خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ فِي سِتَّةِ أَيَّامٍ وَكَانَ عَرْشُهُ عَلَى الْمَاءِ لِيَبْلُوَكُمْ أَيُّكُمْ أَحْسَنُ عَمَلًا ۗ وَلَئِن قُلْتَ إِنَّكُم مَّبْعُوثُونَ مِن بَعْدِ الْمَوْتِ لَيَقُولَنَّ الَّذِينَ كَفَرُوا إِنْ هَٰذَا إِلَّا سِحْرٌ مُّبِينٌ﴾

 

“Dan tidak ada suatu binatang melata pun di bumi melainkan Allah-lah yang memberi rezekinya, dan Dia mengetahui tempat berdiam binatang itu dan tempat penyimpanannya. Semuanya tertulis dalam Kitab yang nyata (Lauh Mahfuzh). Dan Dialah yang menciptakan langit dan bumi dalam enam masa, dan adalah ‘Arsy-Nya (sebelum itu) berada di atas air, agar Dia menguji siapakah di antara kamu yang lebih baik amalnya. Dan sungguh jika kamu berkata: ‘Sesungguhnya kamu akan dibangkitkan sesudah mati’, niscaya orang-orang yang kafir itu akan berkata: ‘Ini tidak lain hanyalah sihir yang nyata’.” (QS. Hud: 6 – 7)

 

Beliau rahimahullah berkata: “Ketahuilah bahwa Allah Tabaraka wa Ta’ala tidak menurunkan dari langit ke bumi suatu pemberi nasihat yang lebih besar, dan tidak pula pencegah yang lebih agung daripada apa yang terkandung di dalam ayat-ayat yang mulia ini dan yang semisalnya di dalam Al-Qur’an, yaitu (penjelasan) bahwa Dia Ta’ala Maha Mengetahui segala hal yang dilakukan oleh makhluk-Nya, Maha Mengawasi mereka, dan tidak pernah luput (absen) sedikit pun dari apa yang mereka kerjakan.

 

Dan para ulama memberikan sebuah perumpamaan bagi pemberi nasihat yang paling besar dan pencegah yang paling agung ini, agar hal tersebut menjadi sesuatu yang seolah-olah dapat diindrai. Mereka berkata: Seandainya kita asumsikan ada seorang raja yang suka membunuh orang, penumpah darah, yang sangat keras siksaan dan hukumannya terhadap siapa saja yang melanggar kehormatannya (aturan-aturannya) secara zalim. Algojonya berdiri tegak di atas kepalanya, alas kulit untuk eksekusi telah dihamparkan, dan pedangnya meneteskan darah. Dan di sekitar raja yang memiliki sifat seperti ini terdapat para selir, istri-istri, dan anak-anak perempuannya. Maka apakah menurutmu ada salah seorang dari hadirin yang berani memikirkan hal yang mencurigakan atau perbuatan haram yang ingin ia lakukan terhadap anak-anak perempuan raja tersebut atau istri-istrinya, sedangkan sang raja sedang melihat ke arahnya, dan ia menyadari bahwa raja tersebut mengawasinya?! Tidak, sekali-kali tidak! Bahkan seluruh hadirin pasti akan merasa ketakutan, hati mereka gemetar, pandangan mereka tertunduk, dan anggota tubuh mereka kaku mematung karena saking takutnya akan hukuman mematikan dari raja tersebut.

 

Dan tidak diragukan lagi —dan bagi Allah-lah perumpamaan yang paling tinggi— bahwa Tuhan Pemelihara langit dan bumi Jalla wa ‘Ala lebih luas ilmu-Nya, lebih agung pengawasan-Nya, lebih keras siksaan-Nya, dan lebih besar hukuman serta balasan-Nya daripada raja tersebut, dan larangan-larangan-Nya di bumi-Nya adalah hal-hal yang diharamkan-Nya. Maka apabila manusia yang lemah menyadari bahwa Tuhannya Jalla wa ‘Ala tidak pernah luput (absen) darinya, dan bahwa Dia Maha Mengetahui segala yang ia ucapkan, segala yang ia lakukan, dan segala yang ia niatkan; niscaya hatinya akan menjadi lembut, ia akan takut kepada Allah Ta’ala, dan ia akan memperbagus amalnya karena Allah Jalla wa ‘Ala.

 

Dan di antara rahasia dari nasihat yang agung ini adalah bahwa Allah Tabaraka wa Ta’ala menegaskan bahwa hikmah Dia menciptakan makhluk adalah: untuk menguji mereka siapakah yang lebih baik amalnya, dan Dia tidak berfirman: ‘siapakah yang lebih banyak amalnya’. Maka ujian tersebut terletak pada kualitas/kebaikan amal, sebagaimana firman Allah Ta’ala dalam surah yang mulia ini:

 

﴿وَهُوَ الَّذِي خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ فِي سِتَّةِ أَيَّامٍ وَكَانَ عَرْشُهُ عَلَى الْمَاءِ لِيَبْلُوَكُمْ أَيُّكُمْ أَحْسَنُ عَمَلًا﴾

 

“Dan Dialah yang menciptakan langit dan bumi dalam enam masa, dan adalah ‘Arsy-Nya berada di atas air, agar Dia menguji siapakah di antara kamu yang lebih baik amalnya.” (QS. Hud: 7) hingga akhir ayat.

 

Dan Dia berfirman dalam surah Al-Mulk:

 

 ﴿الَّذِي خَلَقَ الْمَوْتَ وَالْحَيَاةَ لِيَبْلُوَكُمْ أَيُّكُمْ أَحْسَنُ عَمَلًا ۚ وَهُوَ الْعَزِيزُ الْغَفُورُ﴾

 

“Yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. Dan Dia Maha Perkasa lagi Maha Pengampun.” (QS. Al-Mulk: 2).

 

Dan tidak diragukan lagi bahwa orang yang berakal, apabila ia mengetahui bahwa hikmah ia diciptakan adalah untuk diuji, yakni: diuji dengan kebaikan amalnya, maka ia akan memberikan perhatian penuh pada jalan yang dapat mengantarkannya pada keberhasilan dalam ujian ini. Dan karena hikmah yang besar inilah malaikat Jibril bertanya kepada Nabi ﷺ tentang hal ini; agar beliau mengajarkannya kepada para sahabat Nabi ﷺ, maka Jibril berkata:

 

«أَخْبِرْنِي عَنِ الْإِحْسَانِ»

 

“Beritahukan kepadaku tentang Ihsan.”

 

Yakni hal yang menjadi alasan penciptaan untuk diuji di dalamnya. Maka Nabi ﷺ menjelaskan bahwa jalan menuju hal tersebut adalah pemberi nasihat dan pencegah paling besar ini, yang mana itu adalah muraqabah (merasa diawasi) oleh Allah Ta’ala, dan mengetahui bahwa tidak ada satu pun dari perbuatan makhluk-Nya yang tersembunyi dari-Nya. Maka beliau bersabda kepadanya:

 

«الْإِحْسَانُ أَنْ تَعْبُدَ اللهَ كَأَنَّكَ تَرَاهُ، فَإِنْ لَمْ تَكُنْ تَرَاهُ فَإِنَّهُ يَرَاكَ»

 

“Ihsan adalah engkau beribadah kepada Allah seakan-akan engkau melihat-Nya, dan jika engkau tidak dapat melihat-Nya maka ketahuilah sesungguhnya Dia melihatmu.” ([1]) Berakhirlah perkataan beliau.”

 

(Diterjemahkan dari Majalisu at-Tadzkiir, Fushulun Imaniyatun Tarbawiyatun, Prof. DR. ‘Umar Abdullah Muhammad al-Muqbil)

____________________

Footnote:

([1]) Adhwa’ al-Bayan (9/3).

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *