Hakikat Kehidupan: Sebuah Pengembaraan Tanpa Henti
Manusia di muka bumi hakikatnya adalah musafir yang sedang menempuh perjalanan jauh menuju keabadian. Ibnu al-Qayyim rahimahullah mengingatkan bahwa manusia sejak diciptakan tidak pernah berhenti melakukan perjalanan, dan tempat peristirahatan terakhir mereka tidak lain hanyalah Surga atau Neraka([1]).
Rasulullah ﷺ berpesan kepada Abdullah bin Umar radhiyallahu ‘anhuma:
«كُنْ فِي الدُّنْيَا كَأَنَّكَ غَرِيبٌ أَوْ عَابِرُ سَبِيلٍ»
“Jadilah engkau di dunia ini seakan-akan orang asing atau pengembara yang sekadar melintas jalan.” ([2])
Jika perjalanan dunia membutuhkan kendaraan yang prima, bahan bakar yang cukup, dan pengemudi yang memacu lajunya dengan tepat, maka perjalanan menuju Allah dan negeri akhirat jauh lebih membutuhkan kesiapan tersebut.
Perjalanan akhirat bukanlah ditempuh semata-mata dengan kekuatan raga, melainkan dengan perjalanan hati dan amal perbuatan([3]).
- Merawat Mesin: Membersihkan dan Menghidupkan Hati
Mesin penggerak utama dalam pengembaraan seorang hamba menuju akhirat adalah hati. Sebagaimana kendaraan fisik akan mogok dan rusak apabila mesinnya aus atau dipenuhi kotoran, demikian pula jiwa akan terhenti dari perjalanannya kepada Allah tatkala hatinya berkarat oleh dosa, kelalaian, dan kecintaan berlebih terhadap dunia([4]).
Ulama bijak, Yahya bin Mu’adz rahimahullah, berkata:
“Padang pasir dunia ditempuh dengan langkah kaki, sedangkan padang pengembaraan akhirat ditempuh dengan langkah hati.” ([5])
Perawatan mesin jiwa dilakukan dengan:
Istighfar dan Taubat: Mengikis endapan jelaga dosa agar hati kembali jernih dan bertenaga([6]).
Tadabur Al-Qur’an dan Dzikir: Mengalihkan hati dari keterikatan semu dunia menuju kerinduan akan negeri akhirat([7]).
Keikhlasan: Memastikan tujuan hati murni hanya tertuju kepada keridhaan Allah Ta’ala tanpa terhalang oleh riya dan hawa nafsu([8]).
- Mengisi Bensin: Menyiapkan Bekal Takwa dan Amal Saleh
Kendaraan dengan mesin terbaik sekalipun tidak akan mampu bergerak tanpa bahan bakar. Begitu pula seorang muslim; angan-angan untuk sampai ke Surga akan sia-sia tanpa adanya bekal nyata berupa ketakwaan, amal kebaikan, dan ilmu yang benar([9]).
Allah ﷻ berfirman:
﴿وَتَزَوَّدُوا فَإِنَّ خَيْرَ الزَّادِ التَّقْوَىٰ ۚ وَاتَّقُونِ يَا أُولِي الْأَلْبَابِ﴾
“Bawalah bekal, karena sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa. Dan bertakwalah kepada-Ku wahai orang-orang yang berakal.” (QS. Al-Baqarah: 197)
Para ulama tafsir menjelaskan bahwa ketika Allah memerintahkan musafir dunia membawa bekal makanan dan minuman, Allah sekaligus mengingatkan akan pentingnya bekal yang lebih agung bagi musafir akhirat, yaitu takwa: menjalankan ketaatan dan menjauhi maksiat([10]).
Bekal dunia hanya mengantarkan manusia pada pemenuhan kebutuhan jasmani yang sementara, sedangkan bekal takwa mengantarkan jiwa pada kenikmatan abadi([11]).
Bahan bakar ruhani ini diisi melalui:
Menegakkan ibadah wajib dan memperbanyak amalan sunnah secara konsisten (istiqamah)([12]).
Menuntut ilmu syar’i agar langkah perjalanan tidak tersesat di persimpangan syubhat dan kesesatan([13]).
Mengisi tangki hati dengan keyakinan (yaqin) dan ketergantungan penuh (tawakkal) kepada Allah([14]).
- Menancap Gas: Bersegera dan Bersungguh-sungguh dalam Kebaikan
Mesin yang sehat dan bensin yang penuh tidak akan membawa kendaraan beranjak dari tempatnya jika pedal gas tidak diinjak. Dalam kehidupan beragama, menancap gas adalah perwujudan dari kesungguhan (mujahadah), keteguhan tekad (‘azimah), dan pantang menunda-nunda amal (taswif)([15]).
Allah memerintahkan hamba-Nya untuk bersegera memacu diri menuju ampunan dan Surga-Nya:
﴿وَسَارِعُوا إِلَىٰ مَغْفِرَةٍ مِّن رَّبِّكُمْ وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا السَّمَاوَاتُ وَالْأَرْضُ أُعِدَّتْ لِلْمُتَّقِينَ﴾
“Dan bersegeralah kamu mencari ampunan dari Tuhanmu dan mendapatkan surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan bagi orang-orang yang bertakwa.” (QS. Ali ‘Imran: 133)
Rasulullah ﷺ juga menegaskan agar setiap mukmin segera beraksi sebelum datangnya berbagai fitnah dan rintangan:
«بَادِرُوا بِالأَعْمَالِ»
“Bersegeralah kalian melakukan amal-amal saleh…” ([16])
Menunda-nunda taubat dan kebaikan adalah jebakan besar, sebab ajal sering kali datang mendadak tanpa pemberitahuan([17]).
Orang yang bersungguh-sungguh memacu amalnya tidak akan membiarkan kesempatan berlalu begitu saja demi mengejar derajat tertinggi di sisi Allah([18]).
Sampai ke Tujuan: Kampung Halaman yang Sesungguhnya
Apapun status sosial, jabatan, atau kondisi hidup yang dijalani di dunia (kendaraan duniawi yang ditunggangi), itu hanyalah sarana sementara([19]).
Hal yang menentukan keberhasilan seorang musafir bukanlah kemewahan kendaraannya, melainkan:
- Kesucian hatinya yang selalu dirawat menghadap Sang Pencipta([20]),
- Kecukupan bekal takwanya yang senantiasa diisi dengan amal saleh([21]), dan
- Kesungguhannya memacu langkah tanpa henti menuju keridhaan Ilahi([22]).
Dengan izin dan rahmat Allah, seorang hamba yang menjaga ketiga hal ini akan sampai dengan selamat di garis akhir: berjumpa dengan Rabb-nya dalam keadaan ridha dan diridhai, serta memasuki Jannatun Na’im, kampung halaman sejati tempat kembalinya jiwa-jiwa yang tenang([23]).
____________________
Footnote:
([1]) Durus al-Shaykh Saad al-Buraik (26/7); Durus li al-Shaykh Ali al-Qarni (33/4)
([2]) Ihsan Suluk al-Abd al-Mamluk ila Malik al-Muluk (1/166); Tafsir al-Quran al-Karim (2/183)
([3]) Sharh Fath al-Majid lil-Ghunayman (133/9); Rawdat al-Abidin (1/177)
([4]) al-Siyam fi al-Islam fi Daw al-Kitab wa al-Sunna (1/459); Rawdat al-Abidin (1/177)
([5]) Rawdat al-Abidin (1/177)
([6]) al-Tabsira li-Ibn al-Jawzi (1/50); Durus lil-Shaykh Muhammad al-Hasan al-Dadu al-Shinqiti (28/2)
([7]) Ihsan Suluk al-Abd al-Mamluk ila Malik al-Muluk (1/234); Miftah Dar al-Saada wa Manshur Wilayat al-Ilm wal-Irada (1/199)
([8]) Bayan al-Ilm al-Asil wa al-Muzahim al-Dakhil (1/62); Tafsir al-Alusi Ruh al-Ma’ani (1/482)
([9]) Tariq al-Hijratayn wa Bab al-Saadatayn (1/396); Durus al-Shaykh Muhammad Hasan Abd al-Ghaffar (23/1)
([10]) al-Taliq wal-Idah ala Tafsir al-Jalalayn (1/418); Tafsir al-Qasimi Mahasin al-Tawil (2/72)
([11]) Tafsir al-Quran al-Karim wa Irabuhu wa Bayanuhu (1/462); Tafsir Hadaiq al-Ruh wal-Rayhan fi Rawabi Ulum al-Quran (3/210)
([12]) Durus al-Shaykh Muhammad Hasan Abd al-Ghaffar (23/1); La Tahzan (1/345)
([13]) Tariq al-Hijratayn wa Bab al-Saadatayn (1/396); Durus li al-Shaykh Muhammad al-Munajjid (205/35)
([14]) Usul al-Wusul ila Allah Taala (1/34); Tafsir Ibn Rajab al-Hanbali (1/148)
([15]) Nuniyyat Ibn al-Qayyim al-Kafiya al-Shafiya (1/257); Durus lil-Shaykh Muhammad al-Hasan al-Dadu al-Shinqiti (28/2)
([16]) Tatriz Riyad al-Salihin (1/82); Riyadh al-Salihin (1/63)
([17]) Hal Anta min al-Musariin ila al-Khayrat (1/9); al-Durar al-Muntaqah min al-Kalimat al-Mulqah (5/445)
([18]) Hadaiq al-Awliya (1/131); Durus lil-Shaykh Yasir Barhami (55/7)
([19]) Manazil al-Hur al-Ayn fi Qulub al-Arifin bi Rabb al-Alamin (1/30); Durus al-Shaykh Saad al-Buraik (26/7)
([20]) al-Siyam fi al-Islam fi Daw al-Kitab wa al-Sunna (1/459); Ihsan Suluk al-Abd al-Mamluk ila Malik al-Muluk (1/166)
([21]) Tafsir al-Quran al-Karim wa Irabuhu wa Bayanuhu (1/462); Tafsir al-Uthaymin: al-Fatiha wa al-Baqara (2/415)
([22]) Fasl al-Khitab fi al-Zuhd wa al-Raqaiq wa al-Adab (4/41); Durus lil-Shaykh Yasir Barhami (55/7)
([23]) Durus al-Shaykh Saad al-Buraik (26/7); Maraqi al-Izza wa Muqawwimat al-Saada (1/138)





