Dari Pegunungan Himalaya Menuju Hati Kita

✒️ Hikmah Jum‘at

مِنْ جِبَالِ الْهِمَالَايَا إِلَى قُلُوبِنَا

Dari Pegunungan Himalaya Menuju Hati Kita

 

Bismillāhir-Rahmānir-Rahīm.

 

Ada berita yang cukup mengguncangkan perhatian dunia pada Rabu, 26 Agustus 2026. Kawasan Himalaya di sekitar perbatasan Nepal dan Tibet dilanda banjir bandang yang membawa lumpur, batu, es, tanah dan berbagai material dari kawasan pegunungan.

 

Analisis awal menunjukkan adanya runtuhan gletser dan material batuan di kawasan Langtang Lirung yang kemudian masuk ke aliran sungai dan bergerak menuju wilayah yang lebih rendah. Sejumlah rumah, jalan, jembatan dan fasilitas terdampak, sementara proses pencarian dan penyelamatan menghadapi medan yang berat.

 

Berita seperti ini tentu mengundang kesedihan.

 

Kita tidak perlu tergesa-gesa menentukan sebab musibah itu bagi orang-orang yang mengalaminya. Yang lebih penting adalah melihat apa yang dapat kita pelajari untuk diri kita sendiri.

 

Allah subhānahu wa ta‘ālā berfirman:

 

إِنَّ فِي خَلْقِ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَاخْتِلَافِ اللَّيْلِ وَالنَّهَارِ لَآيَاتٍ لِأُولِي الْأَلْبَابِ

 

“Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi serta pergantian malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal.” (QS. Āli ‘Imrān: 190)

 

Gunung yang tampak kokoh ternyata dapat runtuh.

 

Air yang tampak lembut ternyata dapat berubah menjadi kekuatan yang besar.

 

Dan manusia, betapapun canggih teknologi dan perencanaannya, tetap memiliki keterbatasan.

 

Kita berikhtiar.

 

Kita berhati-hati.

 

Kita membuat perencanaan.

 

Tetapi kita tidak mengetahui apa yang akan terjadi esok.

 

Allah berfirman:

 

وَمَا تَدْرِي نَفْسٌ مَاذَا تَكْسِبُ غَدًا

 

“Tidak ada satu jiwa pun yang mengetahui apa yang akan diperbuatnya besok.” (QS. Luqmān: 34)

 

Dari Hulu ke Hilir

 

Ada satu hal yang menarik dari peristiwa ini.

 

Apa yang terjadi di hulu akhirnya dapat dirasakan di hilir.

 

Orang yang berada di hilir mungkin tidak melihat gletser runtuh.

 

Ia tidak melihat batu bergerak dari lereng.

 

Ia tidak melihat air tertahan di balik material longsoran.

 

Tiba-tiba air datang.

 

Dalam kehidupan kita pun demikian.

 

Apa yang tampak hari ini sering kali merupakan buah dari sesuatu yang dilakukan sebelumnya.

 

Hati yang keras tidak selalu terbentuk dalam sehari.

 

Hubungan yang renggang tidak selalu bermula dari satu persoalan besar.

 

Kebiasaan buruk pun tumbuh sedikit demi sedikit.

 

Karena itu, ada baiknya kita sesekali melihat kembali “hulu” kehidupan kita.

 

Bagaimana shalat kita?

 

Apa yang kita lihat ketika sendirian?

 

Apa yang kita ucapkan ketika tidak ada orang lain?

 

Bagaimana kita memperoleh harta?

 

Bagaimana kita memperlakukan keluarga dan orang-orang di sekitar kita?

 

Nabi shallallāhu ‘alaihi wa sallam bersabda:

 

أَلَا وَإِنَّ فِي الْجَسَدِ مُضْغَةً، إِذَا صَلَحَتْ صَلَحَ الْجَسَدُ كُلُّهُ، وَإِذَا فَسَدَتْ فَسَدَ الْجَسَدُ كُلُّهُ، أَلَا وَهِيَ الْقَلْبُ

 

“Ketahuilah, sesungguhnya di dalam jasad terdapat segumpal daging. Jika ia baik, baiklah seluruh jasad; jika ia rusak, rusaklah seluruh jasad. Ketahuilah, ia adalah hati.” (HR. al-Bukhārī no. 52 dan Muslim no. 1599, dari an-Nu‘mān bin Basyīr radhiyallāhu ‘anhu.)

 

Tidak Semua Peringatan Datang Lebih Dahulu

 

Bencana dapat datang dengan cepat.

 

Demikian pula ajal.

 

Kita mengetahui bahwa kematian pasti datang, tetapi tidak mengetahui kapan ia datang.

 

Allah berfirman:

 

وَأَيْنَمَا تَكُونُوا يُدْرِكْكُّمُ الْمَوْتُ وَلَوْ كُنتُمْ فِي بُرُوجٍ مُّشَيَّدَةٍ

 

“Di mana pun kamu berada, kematian akan mendapatkanmu, sekalipun kamu berada dalam benteng-benteng yang kokoh.” (QS. an-Nisā’: 78)

 

Karena itu, jangan menunggu peringatan terakhir untuk memperbaiki diri.

 

Usia yang bertambah adalah pengingat.

 

Rambut yang memutih adalah pengingat.

 

Orang-orang yang dahulu bersama kita kemudian meninggalkan dunia adalah pengingat.

 

Hari-hari yang terus berlalu dan tidak pernah kembali juga merupakan pengingat.

 

Allah berfirman:

 

حَتَّىٰ إِذَا جَاءَ أَحَدَهُمُ الْمَوْتُ قَالَ رَبِّ ارْجِعُونِ ۝ لَعَلِّي أَعْمَلُ صَالِحًا فِيمَا تَرَكْتُ

 

“Hingga apabila kematian datang kepada salah seorang dari mereka, dia berkata, ‘Wahai Tuhanku, kembalikanlah aku, agar aku dapat beramal saleh terhadap apa yang telah aku tinggalkan.’” (QS. al-Mu’minūn: 99–100)

 

Tetapi permintaan itu datang setelah kesempatan habis.

 

Maka selama kesempatan masih ada, marilah kita manfaatkan.

 

Selama pintu taubat masih terbuka, marilah kita kembali.

 

Selama orang tua masih hidup, marilah kita berbakti.

 

Selama keluarga masih bersama, marilah kita memperbaiki hubungan.

 

Selama tubuh masih sehat, marilah kita gunakan untuk ketaatan.

 

Sebab kita tidak tahu kapan perjalanan ini akan berakhir.

 

Dunia Ini Tidak Kokoh

 

Gletser dapat runtuh.

 

Batu dapat berpindah.

 

Jembatan dapat hanyut.

 

Rumah yang dibangun bertahun-tahun dapat hancur dalam hitungan menit.

 

Lalu mengapa kita begitu yakin bahwa kehidupan dunia akan selalu berada dalam genggaman kita?

 

Allah Ta‘ālā berfirman:

 

اعْلَمُوا أَنَّمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا لَعِبٌ وَلَهْوٌ وَزِينَةٌ وَتَفَاخُرٌ بَيْنَكُمْ وَتَكَاثُرٌ فِي الْأَمْوَالِ وَالْأَوْلَادِ

“Ketahuilah bahwa kehidupan dunia hanyalah permainan, senda gurau, perhiasan, saling berbangga di antara kalian, serta berlomba dalam banyaknya harta dan anak.” (QS. al-Hadīd: 20)

 

Dunia boleh dinikmati.

 

Harta boleh dicari.

 

Rumah boleh dibangun.

 

Cita-cita boleh direncanakan.

 

Tetapi semuanya adalah sarana, bukan tujuan akhir.

 

Sebab yang kita bangun di dunia akan kita tinggalkan.

 

Yang kita bawa menghadap Allah hanyalah iman dan amal.

 

Hikmah Jum‘at

 

Maka pada Jum‘at ini, berita dari Himalaya tidak cukup hanya menjadi berita.

 

Gunung yang runtuh mengingatkan kita bahwa sesuatu yang tampak kokoh dapat berubah.

 

Air yang meluap mengingatkan kita bahwa manusia memiliki keterbatasan.

 

Dan apa yang terjadi di hulu mengingatkan kita untuk memperhatikan hulu kehidupan kita sendiri.

 

Kita tidak tahu apa yang akan terjadi esok.

 

Kita tidak tahu di mana ajal akan menjemput.

 

Namun kita mengetahui satu perkara dengan pasti:

 

kita akan kembali kepada Allah.

 

Maka semoga kesempatan yang masih diberikan kepada kita tidak berlalu begitu saja.

 

Semoga kita dapat memperbaiki apa yang perlu diperbaiki, meninggalkan apa yang perlu ditinggalkan, dan memperbanyak amal sebelum datang hari ketika kesempatan telah berakhir.

 

اللَّهُمَّ أَحْسِنْ خَاتِمَتَنَا، وَتَوَفَّنَا وَأَنْتَ رَاضٍ عَنَّا، وَاجْعَلْ خَيْرَ أَيَّامِنَا يَوْمَ نَلْقَاكَ.

 

“Ya Allah, perbaikilah akhir kehidupan kami, wafatkan kami dalam keadaan Engkau ridha kepada kami, dan jadikan hari terbaik kami adalah hari ketika kami berjumpa dengan-Mu.”

 

Āmīn.

 

Pariaman, Jum‘at, 15 Rabi‘ul Awwal 1448 H / 28 Agustus 2026 M

 

Zulkifli Zakaria

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *