Naskah Dalam Bentuk pdf disini
Khutbah Pertama
إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ، نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِينُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللَّهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ.
أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ.
اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّينِ.
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ.
Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah,
Marilah kita senantiasa meningkatkan ketakwaan kita kepada Allah ﷻ dengan sebenar-benar takwa, yaitu dengan menjalankan segala perintah-Nya serta menjauhi segala larangan-Nya. Takwa adalah sebaik-baik bekal bagi kita dalam mengarungi kehidupan dunia menuju akhirat yang kekal.
—
Mencintai Nabi ﷺ Adalah Tuntutan Iman
Kaum muslimin yang berbahagia,
Mencintai Baginda Nabi Muhammad ﷺ adalah salah satu pondasi keimanan yang paling agung dalam hati setiap muslim [1][2]. Beliau adalah sosok yang diutus oleh Allah sebagai rahmat bagi semesta alam dan perantara yang menyelamatkan umat manusia dari kegelapan menuju cahaya petunjuk Islam [3][2].
Rasulullah ﷺ bersabda:
«لَا يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى أَكُونَ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِنْ وَلَدِهِ وَوَالِدِهِ وَالنَّاسِ أَجْمَعِينَ»
[4][5]
> “Tidaklah beriman salah seorang di antara kalian sampai aku lebih dicintainya daripada anaknya, orang tuanya, dan seluruh manusia.” (HR. Bukhari dan Muslim) [4][1].
Kecintaan ini bukan semata-mata perasaan emosional di dalam dada, melainkan kecintaan yang melahirkan komitmen kepatuhan dan pengutamaan petunjuk beliau di atas hawa nafsu dan kecintaan duniawi [1][6].
—
Ayat Ujian: Tolok Ukur Kejujuran Cinta
Jamaah shalat Jum’at yang dirahmati Allah,
Setiap orang dapat dengan mudah mengklaim bahwa dirinya mencintai Allah dan Rasul-Nya. Namun, setiap pengakuan membutuhkan bukti nyata. Allah ﷻ menurunkan sebuah ayat yang oleh para ulama disebut sebagai Ayat al-Mihnah (ayat ujian/penguji klaim cinta) [7][8]:
﴿قُلْ إِن كُنتُمْ تُحِبُّونَ ٱللَّهَ فَٱتَّبِعُونِى يُحْبِبْكُمُ ٱللَّهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ ۗ وَٱللَّهُ غَفُورٌۭ رَّحِيمٌۭ﴾
[9][10]
> “Katakanlah (wahai Muhammad): ‘Jika kalian benar-benar mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah akan mencintai kalian dan mengampuni dosa-dosa kalian.’ Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Ali ‘Imran [3]: 31) [9][10].
Imam Ibnu Katsir menjelaskan makna ayat ini dalam tafsirnya:
«هَذِهِ الْآيَةُ الْكَرِيمَةُ حَاكِمَةٌ عَلَى كُلِّ مَنِ ادَّعَى مَحَبَّةَ اللَّهِ، وَلَيْسَ هُوَ عَلَى الطَّرِيقَةِ الْمُحَمَّدِيَّةِ؛ فَإِنَّهُ كَاذِبٌ فِي دَعْوَاهُ فِي نَفْسِ الْأَمْرِ، حَتَّى يَتَّبِعَ الشَّرْعَ الْمُحَمَّدِيَّ وَالدِّينَ النَّبَوِيَّ فِي جَمِيعِ أَقْوَالِهِ وَأَفْعَالِهِ وَأَحْوَالِهِ»
[10][11]
> “Ayat yang mulia ini menjadi pemutus hukum bagi setiap orang yang mengaku mencintai Allah padahal dia tidak menempuh jalan Muhammad ﷺ; sesungguhnya ia telah berdusta dalam pengakuannya sampai ia benar-benar mengikuti syariat Muhammad dan petunjuk nabawi dalam segenap ucapan, perbuatan, dan keadaannya.” [10][11]
Ulama tabi’in terkemuka, Al-Hasan Al-Bashri, juga menegaskan mengenai latar belakang ayat ini:
«زَعَمَ قَوْمٌ أَنَّهُمْ يُحِبُّونَ اللَّهَ، فَابْتَلَاهُمُ اللَّهُ بِهَذِهِ الْآيَةِ: ﴿قُلْ إِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّونَ اللَّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللَّهُ﴾»
[10][12]
> “Suatu kaum mengklaim bahwa mereka mencintai Allah, maka Allah menguji kejujuran klaim mereka dengan ayat ini: ‘Katakanlah: Jika kalian benar-benar mencintai Allah, maka ikutilah aku niscaya Allah mencintai kalian’.” [10][12]
Hal ini sejalan dengan bait syair Arab yang sangat indah:
تَعْصِي الْإِلَهَ وَأَنْتَ تُظْهِرُ حُبَّهُ … هَذَا لَعَمْرِي فِي الْقِيَاسِ بَدِيعُ
لَوْ كَانَ حُبُّكَ صَادِقًا لَأَطَعْتَهُ … إِنَّ الْمُحِبَّ لِمَنْ يُحِبُّ مُطِيعُ
[13][14][15]
> Engkau bermaksiat kepada Allah sembari menampakkan cinta kepada-Nya,
> Sungguh, demi umurku, ini adalah analogi yang sangat ganjil.
> Kalaulah cintamu tulus murni, niscaya engkau akan menaati-Nya,
> Karena sesungguhnya seorang pencinta selalu taat kepada yang ia cintai. [14][15]
—
Bahaya Berpaling dari Sunnah dan Petunjuk Nabi
Sidang Jum’at yang dimuliakan Allah,
Bukti ittiba’ diwujudkan dengan menerima tuntunan Nabi ﷺ dengan lapang dada, mendasarkan ibadah sesuai contoh beliau, dan meneladani akhlak mulia beliau. Sebaliknya, keengganan untuk tunduk pada sunnah Nabi ﷺ adalah tanda bahaya bagi keselamatan seorang hamba di akhirat [16][17].
Diriwayatkan dari sahabat Abu Hurairah bahwasanya Rasulullah ﷺ bersabda:
«كُلُّ أُمَّتِي يَدْخُلُونَ الْجَنَّةَ إِلَّا مَنْ أَبَى، قَالُوا: يَا رَسُولَ اللَّهِ وَمَنْ يَأْبَى؟ قَالَ: مَنْ أَطَاعَنِي دَخَلَ الْجَنَّةَ، وَمَنْ عَصَانِي فَقَدْ أَبَى»
[18][19]
> “Setiap umatku pasti akan masuk surga kecuali orang yang enggan.” Para sahabat bertanya: “Wahai Rasulullah, siapakah orang yang enggan itu?” Beliau menjawab: “Barang siapa menaatiku maka ia masuk surga, dan barang siapa mendurhakaiku maka sungguh ia telah enggan.” (HR. Bukhari) [19][16].
Bahkan dalam perkara ibadah, beliau ﷺ mengingatkan agar kita tidak menyimpang dari jalan yang telah beliau gariskan [20][21]:
«فَمَنْ رَغِبَ عَنْ سُنَّتِي فَلَيْسَ مِنِّي»
[20][22]
> “Maka barang siapa yang membenci atau berpaling dari sunnahku, ia bukanlah termasuk golonganku.” (HR. Bukhari dan Muslim) [23][22].
Oleh karena itu, marilah kita buktikan cinta kita kepada Nabi ﷺ dengan bersemangat mempelajari hadis-hadis beliau, mengamalkan sunnahnya dalam shalat, muamalah, adab, dan tutur kata sehari-hari.
بَارَكَ اللهُ لِي وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيمِ، وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيمِ، أَقُولُ قَوْلِي هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيمَ لِي وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِينَ مِنْ كُلِّ ذَنْبٍ، فَاسْتَغْفِرُوهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ.
—
Khutbah Kedua
الْحَمْدُ لِلَّهِ حَمْدًا كَثِيرًا كَمَا أَمَرَ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ إِرْغَامًا لِمَنْ جَحَدَ بِهِ وَكَفَرَ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ سَيِّدُ الْبَشَرِ.
اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ.
أَمَّا بَعْدُ، فَيَا عِبَادَ اللَّهِ، اتَّقُوا اللَّهَ تَعَالَى وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ بَدَأَ فِيهِ بِنَفْسِهِ، وَثَنَّى بِمَلَائِكَتِهِ الْمُسَبِّحَةِ بِقُدْسِهِ، فَقَالَ تَعَالَى:
﴿إِنَّ ٱللَّهَ وَمَلَـٰٓئِكَتَهُۥ يُصَلُّونَ عَلَى ٱلنَّبِىِّ ۚ يَـٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ صَلُّوا۟ عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا۟ تَسْلِيمًا﴾
> “Sesungguhnya Allah dan malaikat-malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi. Wahai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kalian untuk Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya.” (QS. Al-Ahzab [33]: 56).
Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah,
Sebagai penutup, marilah kita perbanyak membaca shalawat kepada Nabi Muhammad ﷺ, meneladani perilakunya, menghidupkan sunnah-sunnahnya, dan menjaganya dari segala bentuk pengabaian maupun penyimpangan. Semoga Allah ﷻ mengumpulkan kita semua di telaga dan surga-Nya kelak bersama Rasulullah ﷺ tercinta [24][25].
اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ، وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ.
اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَاتِ، وَالْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ، إِنَّكَ سَمِيعٌ قَرِيبٌ مُجِيبُ الدَّعَوَاتِ.
اللَّهُمَّ ارْزُقْنَا حُبَّ نَبِيِّكَ مُحَمَّدٍ ﷺ، وَحُبَّ مَنْ يُحِبُّهُ، وَوَفِّقْنَا لِاتِّبَاعِ سُنَّتِهِ ظَاهِرًا وَبَاطِنًا، وَاحْشُرْنَا يَوْمَ الْقِيَامَةِ فِي زُمْرَتِهِ.
رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.
عِبَادَ اللَّهِ، إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيتَاءِ ذِي الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ. فَاذْكُرُوا اللَّهَ الْعَظِيمَ يَذْكُرْكُمْ، وَاشْكُرُوهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَلَذِكْرُ اللَّهِ أَكْبَرُ، وَاللَّهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُونَ.
Naskah Dalam Bentuk pdf disini
Sumber:
[1] Tafsir Ibn Rajab al-Hanbali — vol. 1, p. 496 [2] Sharh al-Aqida al-Tahawiya — vol. 55, p. 8 [3] Bughyat al-Muqtasid Sharh Bidayat al-Mujtahid — vol. 16, p. 10156 [4] al-Jami al-Kamil fi al-Hadith al-Sahih al-Shamil al-Murattab ala Abwab al-Fiqh — vol. 1, p. 166 [5] al-Iman — vol. 1, p. 434 [6] Sharh al-Suyuti ala Muslim — vol. 1, p. 60 [7] Itiqad Ahl al-Sunna — vol. 17, p. 7 [8] Silsilat al-Iman wal-Kufr — vol. 2, p. 10 [9] al-Tafsir al-Wasit li-Tantawi — vol. 2, p. 81 [10] Tafsir Ibn Kathir — vol. 2, p. 336 [11] Tafsir Ibn Kathir — vol. 2, p. 31 [12] Radd Shubuhat Hawl Ismat al-Nabi صلى الله عليه وسلم — vol. 1, p. 565 [13] al-Adab al-Shariyya wa al-Minah al-Mariyya — vol. 1, p. 153 [14] Wada al-Rasul li-Ummatihi — vol. 1, p. 97 [15] al-Tafsir al-Munir — vol. 3, p. 208 [16] Shamail al-Rasul — vol. 1, p. 37 [17] al-Ihkam fi Usul al-Ahkam — vol. 3, p. 15 [18] al-Mafatih fi Sharh al-Masabih — vol. 1, p. 240 [19] al-Jami al-Kamil fi al-Hadith al-Sahih al-Shamil al-Murattab ala Abwab al-Fiqh — vol. 11, p. 282 [20] al-Taswir al-Nabawi lil-Qiyam al-Khuluqiya wa al-Tashriiya fi al-Hadith al-Sharif — vol. 1, p. 102 [21] Mawqi al-Islam Su’al wa Jawab — vol. 6, p. 342 [22] al-Jami al-Kamil fi al-Hadith al-Sahih al-Shamil al-Murattab ala Abwab al-Fiqh — vol. 12, p. 249 [23] al-Tibyan fi Takhrij wa Tabwib Ahadith Bulugh al-Maram — vol. 9, p. 419 [24] Rahma lil-Alamin — vol. 1, p. 435 [25] Mujam Alam Shuara al-Madh al-Nabawi — vol. 1, p. 20






