Kembalilah Ke Majelis Ilmu

Sejauh Mana Engkau Berjalan, Engkau Harus Kembali ke Majelis Iman

 

1. Hakikat Pengembaraan Jiwa di Tengah Hiruk-Pikuk Dunia

 

Manusia di dunia ini adalah para musafir yang terus melangkah. Sebagian mengejar harta, sebagian memburu kehormatan, dan sebagian lagi tenggelam dalam kesibukan urusan anak, keluarga, dan mata pencaharian. Namun, seiring jauhnya langkah kaki dan cepatnya perputaran waktu, jiwa manusia perlahan mengering, kepekaan kalbu memudar, dan api keimanan meredup tanpa disadari.

 

Rasulullah ﷺ mengingatkan bahwa iman di dalam dada dapat usang layaknya pakaian yang lusuh([1]).

 

Maka sejauh apa pun manusia melangkah, dan sesibuk apa pun ia mengarungi kehidupan, ia mutlak membutuhkan tempat untuk kembali membasuh jiwanya—yakni majelis iman, majelis ilmu, dan majelis dzikir.

 

2. Dalil Al-Qur’an: Perintah Bersabar Bersama Orang-Orang yang Mengingat Allah

 

Allah Subhanahu wa Ta’ala secara tegas memerintahkan Nabi-Nya ﷺ agar menahan diri dan menetap bersama orang-orang yang senantiasa berdzikir serta menuntut ilmu, seraya melarang mata dan hati berpaling kepada gemerlap dunia:

 

﴿وَاصْبِرْ نَفْسَكَ مَعَ الَّذِينَ يَدْعُونَ رَبَّهُمْ بِالْغَدَاةِ وَالْعَشِيِّ يُرِيدُونَ وَجْهَهُ وَلَا تَعْدُ عَيْنَاكَ عَنْهُمْ تُرِيدُ زِينَةَ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَلَا تُطِعْ مَنْ أَغْفَلْنَا قَلْبَهُ عَنْ ذِكْرِنَا وَاتَّبَعَ هَوَاهُ وَكَانَ أَمْرُهُ فُرُطًا﴾

 

“Dan bersabarlah engkau (Muhammad) bersama orang yang menyeru Tuhannya pada pagi dan senja hari dengan mengharap keridaan-Nya; dan janganlah kedua matamu berpaling dari mereka (karena) mengharapkan perhiasan kehidupan dunia; dan janganlah engkau mengikuti orang yang hatinya telah Kami lalaikan dari mengingat Kami, serta menuruti hawa nafsunya dan keadaannya sudah melewati batas.” (QS. Al-Kahf: 28) ([2])

 

Imam Ibnu Katsir menjelaskan dalam tafsirnya bahwa makna ayat ini adalah: “Duduklah engkau bersama orang-orang yang mengingat Allah, bertahlil, bertahmid, bertasbih, bertakbir, dan memohon kepada-Nya di waktu pagi dan petang, baik mereka orang miskin maupun kaya, orang kuat maupun lemah” ([3]).

 

Ketika ayat ini turun kepada kaum fakir di masjid nabawi, Rasulullah ﷺ bersabda: “Segala puji bagi Allah yang telah menjadikan di kalangan umatku orang-orang yang aku diperintahkan untuk menahan diriku bersama mereka.” ([4])

 

3. Petunjuk Sunnah Nabawiyah: Menemukan Taman Surga dan Menyembuhkan Fluktuasi Hati

 

A. Rintihan Hanzhalah dan Kebutuhan Fitrah Manusia akan Majelis

 

Dalam sebuah riwayat yang shahih di dalam Shahih Muslim, sahabat Hanzhalah Al-Usaidi menceritakan pengalamannya saat berjumpa dengan Abu Bakar Ash-Shiddiq:

 

«لَقِيَنِي أَبُو بَكْرٍ فَقَالَ: كَيْفَ أَنْتَ يَا حَنْظَلَةُ؟ قَالَ: قُلْتُ: نَافَقَ حَنْظَلَةُ، قَالَ: سُبْحَانَ اللهِ مَا تَقُولُ؟ قَالَ: قُلْتُ: نَكُونُ عِنْدَ رَسُولِ اللهِ ﷺ يُذَكِّرُنَا بِالنَّارِ وَالْجَنَّةِ حَتَّى كَأَنَّا رَأْيُ عَيْنٍ، فَإِذَا خَرَجْنَا مِنْ عِنْدِ رَسُولِ اللهِ ﷺ عَافَسْنَا الْأَزْوَاجَ وَالْأَوْلَادَ وَالضَّيْعَاتِ فَنَسِينَا كَثِيرًا، قَالَ أَبُو بَكْرٍ: فَوَاللهِ إِنَّا لَنَلْقَى مِثْلَ هَذَا»

 

“Abu Bakar menemuiku dan bertanya: ‘Bagaimana keadaanmu wahai Hanzhalah?’ Aku menjawab: ‘Hanzhalah telah menjadi munafik!’ Abu Bakar berkata: ‘Subhanallah! Apa yang engkau katakan?’ Aku berkata: ‘Ketika kami berada di dekat Rasulullah ﷺ, beliau mengingatkan kami tentang neraka dan surga seolah-olah kami melihatnya dengan mata kepala sendiri. Namun ketika kami keluar dari majelis Rasulullah ﷺ, lalu kami berinteraksi dengan istri, anak-anak, dan mengurus harta benda (penghidupan), kami banyak melupakannya!’ Abu Bakar berkata: ‘Demi Allah, sungguh kami pun merasakan hal yang sama!'”([5])

 

Keduanya lantas mengadukan hal ini kepada Nabi ﷺ, maka beliau bersabda:

 

«وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ إِنْ لَوْ تَدُومُونَ عَلَى مَا تَكُونُونَ عِنْدِي وَفِي الذِّكْرِ لَصَافَحَتْكُمْ الْمَلَائِكَةُ عَلَى فُرُشِكُمْ وَفِي طُرُقِكُمْ وَلَكِنْ يَا حَنْظَلَةُ سَاعَةً وَسَاعَةً»

 

“Demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya! Sekiranya kalian terus-menerus berada dalam kondisi sebagaimana ketika kalian bersamaku dan dalam keadaan berdzikir, niscaya para malaikat akan menyalami kalian di atas tempat tidur kalian dan di jalan-jalan kalian. Akan tetapi, wahai Hanzhalah, ada waktunya (untuk beribadah/di majelis) dan ada waktunya (untuk urusan dunia) —beliau mengucapkannya tiga kali.” ([6])

 

Kisah ini menegaskan bahwa kepergian manusia mengurus dunia adalah lumrah, tetapi ia harus selalu memiliki jadwal dan waktu untuk kembali ke majelis dzikir guna menghidupkan kembali mata batinnya yang mulai terlena([7]).

 

B. Majelis Iman Adalah Taman Surga di Dunia

 

Nabi ﷺ bersabda dalam hadits riwayat Anas bin Malik:

 

«إِذَا مَرَرْتُمْ بِرِيَاضِ الْجَنَّةِ فَارْتَعُوا. قَالُوا: وَمَا رِيَاضُ الْجَنَّةِ؟ قَالَ: حِلَقُ الذِّكْرِ»

 

“Jika kalian melewati taman-taman surga, maka singgahlah untuk menikmatinya.” Para sahabat bertanya: “Apakah taman-taman surga itu wahai Rasulullah?” Beliau menjawab: “Halaqah-halaqah dzikir (dan majelis ilmu).” ([8])

 

C. Naungan Para Malaikat dan Pengampunan Tanpa Syarat Celaka

 

Rasulullah ﷺ mengabarkan bahwa malaikat diutus khusus mencari majelis-majelis kebaikan([9]).

 

Ketika majelis itu usai, Allah mengampuni dosa seluruh orang yang hadir, hingga tatkala malaikat berkata: “Di sana ada si fulan yang bukan bagian dari mereka, dia datang hanya karena urusan pribadi,”

 

Allah berfirman:

 

«هُمُ الْجُلَسَاءُ لا يَشْقَى بِهِمْ جَلِيسُهُمْ»

 

“Mereka adalah kaum yang orang yang duduk bersama mereka pun tidak akan celaka.” ([10])

 

4. Atsar Sahabat dan Tabi’in: Kerinduan Memperbarui Iman

 

Generasi terbaik umat ini tidak pernah merasa cukup dengan keimanan masa lalu mereka:

 

– Sahabat yang mulia Mu’adh bin Jabal sering meraih tangan saudaranya lalu berkata:

 

«اجْلِسْ بِنَا نُؤْمِنْ سَاعَةً»

 

“Duduklah bersama kami, mari kita memperbarui iman kita sesaat.” Lalu mereka duduk bersama untuk berdzikir dan memuji Allah([11]).

 

– Sahabat penyair Rasulullah, Abdullah bin Rawahah, terbiasa menarik tangan sahabatnya seraya berujar: “Kemarilah, mari kita beriman kepada Rabb kita sesaat.” Ketika ada seseorang yang belum paham mengadukan hal itu, Rasulullah ﷺ justru mendoakannya:

 

“Semoga Allah merahmati Ibnu Rawahah, sungguh ia mencintai majelis-majelis yang dibangga-banggakan oleh para malaikat.” ([12])

 

– Khalifah Umar bin Al-Khattab berkata kepada para sahabatnya: “Kemarilah, mari kita menambah keimanan kita,” lalu mereka berdzikir mengingat Allah Subhanahu wa Ta’ala([13]).

 

5. Kisah Menggugah: Menghidupkan Jiwa yang Padam

 

Di masa Tabi’in, Al-Hasan Al-Bashri dikenal sebagai sosok yang kata-katanya mampu membangkitkan hati yang membatu([14]).

 

Beliau memiliki majelis yang senantiasa diisi dengan pengingat akhirat dan zuhud([15])

 

Dikisahkan bahwa seorang saudagar duniawi bernama Habib Al-Ajami mulanya terbiasa sibuk berdagang dan lalai dari akhirat. Suatu ketika ia melintasi majelis Al-Hasan Al-Bashri dan bertanya tentang apa yang dibicarakan. Orang-orang menjawab: “Beliau sedang mengingatkan tentang surga, neraka, dan akhirat.” Kata-kata itu mengetuk hatinya, lantas ia masuk dan duduk bersimpuh di majelis tersebut. Hasan Al-Bashri menyampaikan nasihat yang menyentuh sanubarinya, mengingatkannya tentang hari pembalasan. Saat itu juga air mata Habib bercucuran; ia bertobat dengan sungguh-sungguh, menyedekahkan hartanya di jalan Allah, dan kembali ke jalan ketaatan hingga menjadi salah seorang ahli ibadah terkemuka pada zamannya([16]).

 

Inilah keajaiban majelis iman: ia sanggup membelokkan arah perjalanan hidup seorang manusia yang tersesat kembali menuju naungan rahmat Tuhannya.

 

6. Untaian Hikmah Para Ulama

 

Imam Ibnu Rajab Al-Hanbali memaparkan bahwa manusia saat kembali ke urusan duniawi yang mubah akan mengalami kelengahan dari keagungan Allah yang mereka rasakan saat di majelis dzikir([17]).

 

Maka dari itu, jiwa senantiasa membutuhkan siraman nasihat secara berkala agar tidak mengeras dan mati.

 

Imam Ibnul Qayyim menuturkan bahwa hati manusia layaknya tanah yang tandus; jika tidak disirami dengan hujan majelis ilmu dan dzikir, ia akan mengeras dan ditumbuhi duri kelalaian([18]).

 

7. Renungan Penutup: Pulanglah Wahai Musafir

 

Wahai jiwa yang letih oleh kepenatan duniawi:

 

– Sejauh mana pun engkau melangkah mengejar rezeki,

 

– Setinggi apa pun jabatan dan karier yang engkau capai,

 

– Secepat apa pun engkau melesat dalam urusan keduniaan,

 

Ingatlah bahwa langkahmu akan berakhir di liang lahat yang sempit, di mana tidak ada kawan yang menemani selain amal shaleh. Dunia ini adalah negeri perantauan, sedangkan majelis-majelis iman adalah mercusuar pemandu pulang. Jangan biarkan sepekan atau sebulan berlalu tanpa engkau menundukkan pandangan dan merapatkan lututmu di halaqah-halaqah orang beriman, bersimpuh mendengarkan ayat-ayat Allah dan hadits-hadits Rasul-Nya ﷺ.

 

Kembalilah ke majelis iman sebelum datang suatu hari di mana engkau dipanggil pulang ke hadirat-Nya tanpa membawa bekal yang mencukupi([19]).

 

 

______________________

Footnote:

([1])    Durus al-Shaykh Muhammad al-Duwaysh (43/9)

([2])    Tafsir Ibn Kathir (5/151); Tafsir al-Muntasir al-Kattani (7/1)

([3])    Tafsir Ibn Kathir (5/151, 152)

([4])    al-Lubab fi Ulum al-Kitab (12/468); Tafsir al-Thaalabi = al-Kashf wa al-Bayan an Tafsir al-Quran (6/165)

([5])    Mawqi al-Islam Su’al wa Jawab (7/34); Sahih Muslim (8/94)

([6])    Mawqi al-Islam Su’al wa Jawab (7/34); Mirqat al-Mafatih Sharh Mishkat al-Masabih (4/1549)

([7])    Majallat al-Bayan (109/16); Durus lil-Shaykh Muhammad Hassan (140/10)

([8])    Fasl al-Khitab fi al-Zuhd wa al-Raqaiq wa al-Adab (3/598); Mawarid al-Zaman li Durus al-Zaman (1/525); Majallat al-Jami’a al-Islamiyya bil-Madina al-Munawwara (17/248)

([9])    Fiqh al-Adiya wal-Adhkar (1/29); al-Tabsira li-Ibn al-Jawzi (2/281)

([10])   Fiqh al-Adiya wal-Adhkar (1/29); al-Tabsira li-Ibn al-Jawzi (2/281)

([11])   Sharh al-Aqida al-Tahawiya (2/481); Durus al-Shaykh Muhammad al-Duwaysh (43/10)

([12])   al-Bidaya wa al-Nihaya (4/294); Hayat al-Sahaba (4/15)

([13])   Sharh al-Aqida al-Tahawiya (2/481); Tahqiq al-Iman li-Ibn Taymiyya (1/91)

([14])   Majallat al-Bayan (74/9); Fasl al-Khitab fi al-Zuhd wa al-Raqaiq wa al-Adab (1/646)

([15])   Majallat al-Bayan (74/9); Min Alam al-Salaf (5/5)

([16])   Majallat al-Bayan (74/9)

([17])   Lataif al-Maarif fima li Mawsim al-Aam min al-Wazaif (1/35, 47)

([18])   Fasl al-Khitab fi al-Zuhd wa al-Raqaiq wa al-Adab (8/242); al-Wabil al-Sayyib (1/38)

([19])   Rawdat al-Abidin (1/348); Silsilat Masabih al-Huda (3/9)

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *