Pelajaran-Pelajaran yang Dapat Diambil dari Haji

Pelajaran Keduabelas: Pelajaran-Pelajaran yang Dapat Diambil dari Haji

 

Segala puji bagi Allah Tuhan semesta alam, dan kesudahan yang baik adalah bagi orang-orang yang bertakwa. Selawat dan salam semoga tercurah kepada utusan yang menjadi rahmat bagi semesta alam, beserta keluarga, sahabat, dan siapa saja yang mengikuti mereka dengan baik hingga hari pembalasan.

 

Amma ba’du:

 

Sesungguhnya haji adalah madrasah agung yang penuh dengan pelajaran, iktibar, dan nasihat. Di antara pelajaran-pelajaran tersebut adalah:

 

1. Menampakkan ketinggian agama Islam, keistimewaannya, dan kemenangannya di atas seluruh agama lainnya.

 

Ini adalah perkara yang telah dijamin oleh Allah Ta’ala, Allah ‘Azza wa Jalla berfirman:

 

﴿هُوَ الَّذِي أَرْسَلَ رَسُولَهُ بِالْهُدَى وَدِينِ الْحَقِّ لِيُظْهِرَهُ عَلَى الدِّينِ كُلِّهِ وَلَوْ كَرِهَ الْمُشْرِكُونَ﴾

 

“Dialah yang telah mengutus Rasul-Nya (dengan membawa) petunjuk (Al-Qur’an) dan agama yang benar untuk dimenangkan-Nya atas segala agama, walaupun orang-orang musyrik tidak menyukai.” ([1])

 

Maka tidak ada satu agama pun dari agama-agama atau satu ajaran dari ajaran-ajaran selain agama Islam yang mana berkumpul di dalamnya jumlah manusia yang begitu besar ini dari seluruh penjuru bumi,  dan mereka datang ke Baitul Haram dengan penuh harap, bahkan penuh kerinduan dan antusiasme. Kemudian apabila mereka berkumpul di padang Arafah, mereka berkumpul dengan pakaian yang sama, segala perbedaan di antara mereka telah sirna, dan dengan agama yang agung ini mereka menjadi bersaudara. Mereka telah berkumpul di tempat ini untuk mencari rahmat, ampunan, dan keridaan dari Allah. Pemandangan yang bersinar (indah) ini tidak ada tandingannya pada ajaran agama mana pun selainnya.

 

  1. Pertemuan kaum muslimin satu sama lain.

 

Dan manfaat ini pada masa lampau lebih terasa; karena pada masa itu sarana transportasi dan komunikasi belum mudah sebagaimana yang dimudahkan pada masa kita sekarang ini. Maka banyak dari kalangan ulama tidak bertemu kecuali pada musim haji. Umar bin Khattab radhiyallahu ‘anhu dahulu bertemu dengan para gubernur wilayah pada saat haji, dan terjadilah apa yang terjadi berupa perkenalan, musyawarah, dan pembahasan masalah-masalah ilmiah. Para ulama berkumpul dengan masyarakat umum, mereka melihat keadaan masyarakat muslim secara umum, dan masyarakat pun mengambil faedah (ilmu) dari para ulama.

 

  1. Di antara pelajaran yang dapat diambil dari haji: Bahwa haji adalah kesempatan yang agung untuk berdakwah ke jalan Allah ‘Azza wa Jalla, bahkan ia adalah titik tolak dakwah Islam.

 

Maka Nabi ﷺ berdakwah kepada kaum Quraisy agar beriman kepada Allah dan mewujudkan tauhid, namun tidak ada yang merespons ajakan beliau kecuali sekelompok kecil saja.

 

Kemudian beliau alaihisshalatu wassalam mulai menawarkan dirinya kepada kabilah-kabilah (mencari) siapa yang mau menolong dan mendukung beliau, sampai akhirnya Allah Ta’ala menyiapkan untuk beliau suku Aus dan Khazraj. Maka mereka pun beriman kepadanya dan menolongnya, dan terjadilah Baiat Aqabah Pertama kemudian Baiat Aqabah Kedua. Kemudian Nabi ﷺ berhijrah kepada mereka dan menamai mereka kaum Anshar, serta mendirikan negara Islam di Madinah.

 

  1. Di antara pelajaran yang dapat diambil dari haji: Bahwa haji adalah kesempatan untuk meluruskan akidah umat manusia.

 

Sebagian jemaah haji datang dengan membawa keyakinan-keyakinan syirik dan khurafat, dan sebagian dari mereka membawa perkara-perkara bidah. Maka mereka pun mendengarkan pencerahan dari para ulama yang membimbing mereka, dan menjelaskan kepada mereka kesalahan atas bidah, kesyirikan, dan khurafat yang mereka yakini. Sehingga mereka kembali ke negeri asal mereka dalam keadaan akidahnya telah lurus, dan mereka telah mengenal akidah yang benar.

 

Dan manifestasi tauhid di dalam ibadah haji sangatlah banyak, dan yang pertama dari manifestasi tersebut adalah Talbiyah. Jabir radhiyallahu ‘anhu berkata:

 

«فَأَهَلَّ بِالتَّوْحِيدِ (لَبَّيْكَ اللَّهُمَّ، لَبَّيْكَ، لَبَّيْكَ لَا شَرِيكَ لَكَ لَبَّيْكَ، إِنَّ الْحَمْدَ وَالنِّعْمَةَ لَكَ، وَالْمُلْكَ لَا شَرِيكَ لَكَ)»

 

“Maka beliau pun memulai (ihramnya) dengan tauhid: (Labbaik Allahumma labbaik, labbaik laa syarika laka labbaik, innal hamda wan ni’mata laka wal mulk, laa syarika laka) ([2])

 

Maka talbiyah ini dinamakan tauhid; karena di dalamnya tampak ketauhidan dan keikhlasan beragama semata-mata untuk Allah ‘Azza wa Jalla. Dan beliau alaihisshalatu wassalam apabila berdiri di bukit Shafa dan Marwah mengikrarkan tauhid. Maka dalam hadis Jabir radhiyallahu ‘anhu beliau berkata: Maka beliau mentauhidkan Allah dan bertakbir, kemudian mengucapkan:

 

«لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ، لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ، أَنْجَزَ وَعْدَهُ، وَنَصَرَ عَبْدَهُ، وَهَزَمَ الْأَحْزَابَ وَحْدَهُ»

 

“Tiada Tuhan yang berhak disembah selain Allah semata, tiada sekutu bagi-Nya, milik-Nya lah segala kerajaan dan milik-Nya lah segala pujian, dan Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu. Tiada Tuhan yang berhak disembah selain Allah semata, Dia telah memenuhi janji-Nya, menolong hamba-Nya, dan menghancurkan golongan-golongan (musuh) sendirian”([3])

 

  1. Bahwa di dalam ibadah haji terdapat pendidikan jiwa untuk memiliki akhlak yang mulia, berupa kasih sayang, perbuatan baik, dan belas kasih kepada saudara-saudaranya sesama muslim.

 

Dan berlakulah di antara mereka semangat solidaritas sosial, persaudaraan, cinta, dan kasih sayang padahal mereka berasal dari berbagai penjuru yang jauh, bahkan mungkin sebagian dari mereka tidak mengerti bahasa satu sama lain. Akan tetapi agama inilah yang menyatukan mereka, sehingga dengan nikmat Allah mereka pun menjadi bersaudara.

 

Sebagaimana haji juga mendidik jiwa untuk bersabar. Sesungguhnya jemaah haji dalam perjalanannya dan perpindahannya di antara tempat-tempat ibadah (masya’ir), serta di dalam tawaf dan sa’inya, pasti akan mengalami berbagai kesulitan dan kepayahan. Oleh karena itu, hendaknya ia membiasakan dirinya untuk bersabar.

 

Sebagaimana haji juga mendidik untuk berkorban dan berinfak. Sesungguhnya jemaah haji membutuhkan pengeluaran biaya-biaya dalam berbagai perjalanannya dan pergerakannya, serta pada saat membeli hadyu (hewan kurban haji) dan menyembelihnya. Dengan hal itu, seorang muslim akan terbiasa untuk memberi, berinfak, bermurah hati, dan dermawan.

 

  1. Dan di antara pelajaran tersebut pula: Bahwa jemaah haji hendaknya mengingat Hari Mahsyar (hari pengumpulan).

 

Allah Subhanahu berfirman:

 

﴿وَاذْكُرُوا اللَّهَ فِي أَيَّامٍ مَّعْدُودَاتٍ ۚ فَمَن تَعَجَّلَ فِي يَوْمَيْنِ فَلَا إِثْمَ عَلَيْهِ وَمَن تَأَخَّرَ فَلَا إِثْمَ عَلَيْهِ ۚ لِمَنِ اتَّقَىٰ ۗ وَاتَّقُوا اللَّهَ وَاعْلَمُوا أَنَّكُمْ إِلَيْهِ تُحْشَرُونَ﴾

 

“Dan berzikirlah (dengan menyebut) Allah dalam beberapa hari yang berbilang. Barangsiapa yang ingin cepat berangkat (dari Mina) sesudah dua hari, maka tiada dosa baginya. Dan barangsiapa yang ingin menangguhkan (keberangkatannya dari dua hari itu), maka tiada dosa pula baginya, bagi orang yang bertakwa. Dan bertakwalah kepada Allah, dan ketahuilah, bahwa kamu akan dikumpulkan kepada-Nya.” ([4])

 

Maka Dia mengakhiri ayat-ayat tentang haji dengan menyebutkan hari pengumpulan. Di dalam hal ini terdapat isyarat bahwa hendaknya seorang jemaah haji ketika melihat perkumpulan manusia yang sangat banyak ini, ia teringat dengan hari Mahsyar, yaitu peristiwa yang agung ketika manusia dikumpulkan dalam keadaan tidak beralas kaki dan telanjang bulat. Setiap orang sibuk dengan urusannya masing-masing, seseorang melihat ibu dan ayahnya, saudara perempuan dan saudara laki-lakinya, istri dan anak-anaknya,  namun ia tidak memedulikan mereka, melainkan lari meninggalkan mereka.

 

﴿يَوْمَ يَفِرُّ الْمَرْءُ مِنْ أَخِيهِ ٣٤ وَأُمِّهِ وَأَبِيهِ ٣٥ وَصَاحِبَتِهِ وَبَنِيهِ﴾

 

“Pada hari ketika manusia lari dari saudaranya, dari ibu dan bapaknya, dari istri dan anak-anaknya.” ([5])

 

  1. Dan di antara pelajaran yang dapat diambil dari haji: Bahwa di dalam ibadah haji tampak sangat jelas wujud penghambaan (ubudiyah) kepada Allah ‘Azza wa Jalla. Sesungguhnya seorang muslim adalah hamba Allah Subhanahu, ia mengerjakan apa yang diperintahkan Allah, baik ia mengetahui hikmahnya maupun tidak; karena ia sangat yakin bahwa Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.

 

Dan jejak penghambaan ini tampak sangat nyata dalam ibadah haji. Di antaranya: ketika ia tawaf mengelilingi Ka’bah sebanyak tujuh putaran dengan tata cara tertentu, ketika ia sa’i antara bukit Shafa dan Marwah, ketika ia mencium batu (Hajar Aswad) dan melempar batu (tiga Jamrah), serta ketika ia menyembelih hewan hadyu, maka dengan semua hal tersebut ia semata-mata sedang mematuhi perintah Allah. Karena sesungguhnya Allah Ta’ala-lah yang memerintahkan hal tersebut kepadanya, dan dengan demikian tampaklah wujud ketundukan kepada Allah ‘Azza wa Jalla serta sikap berserah diri secara total kepada Allah Subhanahu.

 

Pelajaran dan manfaat (dari ibadah haji) sangatlah banyak, dan manusia bertingkat-tingkat dalam memperolehnya.

 

Ya Allah, tolonglah kami untuk senantiasa berzikir (mengingat)-Mu, bersyukur kepada-Mu, dan beribadah dengan baik kepada-Mu. Ampunilah dosa-dosa kami, dosa kedua orang tua kami, dan seluruh kaum muslimin, baik yang masih hidup maupun yang telah wafat. Dan semoga Allah senantiasa melimpahkan selawat serta salam kepada nabi kita Muhammad, beserta seluruh keluarga dan para sahabatnya.

 

(Dialih bahasakan dari Majaalisu ‘Asyri Dzil Hijjah, Prof. DR. Sa’d bin Turkiy al-Khatslaan)

____________________________

Footnote:

([1]) Surah At-Taubah (Ayat: 33)

([2]) Dikeluarkan oleh Muslim dengan nomor: (1218)

([3]) Sumber yang sama

([4]) Surah Al-Baqarah (Ayat: 203)

([5]) Surah ‘Abasa (Ayat: 34-36)

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *