Tidak ada Istighatsah Kecuali Kepada Allah

 

وَرَوَى الطَّبَرَانِيُّ بِإِسْنَادِهِ: أَنَّهُ كَانَ فِي زَمَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مُنَافِقٌ يُؤْذِي المُؤْمِنِينَ، فَقَالَ بَعْضُهُمْ: قُومُوا بِنَا نَسْتَغِيثُ بِرَسُولِ اللهِ  صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مِنْ هَذَا المُنَافِقِ، فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : «إِنَّهُ لَا يُسْتَغَاثُ بِي، وَإِنَّمَا يُسْتَغَاثُ بالله»

mostbet

 

At-Thabraniy dengan sanadnya telah meriwayatkan bahwa di zaman Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam ada seorang munafik yang biasa mengganggu kaum mukminin. Lalu berkatalah sebagian mereka, “Berdirilah kalian bersama kami, mari kita beristighatsah (memohon pertolongan) dengan  Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam dari orang munafik ini.” Maka Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Sesungguhnya tidak boleh beristighatsah denganku, beristighatsah itu hanyalah dengan Allah.”

 

At-Thabraniy:

 

Dia adalah al-Hafizh al-Imam Sulaiman bin Ahmad, pemilik ketiga kitab Mu’jam rahimahullah.

 

Kosakata:

 

[بِإِسْنَادِهِ] dengan sanadnya kepada ‘Ubadah bin as-Shamit radhiyallaahu ‘anhu.

 

[مُنَافِقٌ] seorang munafiq, dia adalah ‘Abdullah bin Ubay bin Salul, pimpinan orang-orang munafiq. Dan nifaq disini adalah menampakkan keIslaman dan menyembunyikan kekufuran.

 

[نَسْتَغِيثُ بِرَسُولِ اللهِ] mari kita beristighatsah dengan Rasulullah, kita memohon dari beliau untuk menahan gangguan dari orang munafiq ini.

 

[إِنَّهُ لَا يُسْتَغَاثُ بِي] sesungguhnya tidak boleh beristighatsah denganku, Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam tidak suka kalimat ini dipergunakan pada hak beliau sebagai bentuk penjagaan ada terhadap Allah.

 

Makna global bagi hadits:

 

Tatkala Islam telah kuat, maka disana ada satu kelompok dari kalangan orang-orang kafir berpandagan untuk masuk ke dalam Islam secara zhahir, dan tetap pada kekufuran secara bathin. Maka mereka disebut sebagai orang-orang munafiq. Dan biasa keluar dari mereka perkataaan-perkataan dan perbuatan-perbuatan yang membuat sempit kaum muslimin; dan di antaranya adalah apa yang telah terjadi dari lelaki ini hingga sebagian sahabat radhiyallaahu ‘anhum meminta dari Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam untuk menahannya dan memperingatkannya. Dan Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam mampu untuk melakukannya, akan tetapi tatkala bentuk ucapan yang mereka haturkan kepada beliau di dalamnya ada bentuk keburukan adab terhadap Allah subhaanahu wata’aalaa -sesuatu yang tidak seharusnya diucapkan- maka Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam menginkarinya dalam rangka mengajari para sahabat dan menutup celah menuju kesyirikan, dan dalam rangka melindungi tauhid.

 

Korelasi hubungan hadits bagi bab:

 

Bahwasannya di dalamnya terdapat pengingkaran Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam terhadap beristighatsah dengan selain Allah.

 

Faidah yang diambil dari hadits:

 

  • Bahwasannya tidak boleh beristighatsah dengan Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam, lebih-lebih kepada selain beliau.
  • Petunjuk kepada penggunaan lafazh yang bagus dan penjagaan tauhid.
  • Penutupan jalan yang bisa menghantarkan kepada kesyirikan.
  • Disyari’atkannya bersabar terhadap ganguan di jalan Allah subhaanahu wata’aalaa.
  • Celaan kepada kemunafikan.
  • Pengharaman gangguan kepada orang-orang beriman, dikarenakan ia adalah bagian dari perbuatan orang-orang munafiq.

 

Sumber:  at-Ta’liiq al-Mukhtashar al-Mufiid, Syaikh Shalih bin Fauzan bin ‘Abdillah al-Fauzan

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *