Tauhid Di Balik Maka Ibadah Qurban

Naskah Khutbah Jumát dengan tema Tauhid Dibalik Makna Ibadah Qurban

(Teks + PDF dibawah)

 

KHUTBAH PERTAMA

 

اَلْحَمْدُ لِلهِ الَّذِيْ أَمَرَنَا بِتَوْحِيْدِهِ وَطَاعَتِهِ، وَنَهَانَا عَنِ الشِّرْكِ وَمَعْصِيَتِهِ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ. أَمَّا بَعْدُ:

فَيَا أَيُّهَا الْمُسْلِمُوْنَ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ عَزَّ وَجَلَّ، فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ. قَالَ اللهُ تَعَالَى فِيْ كِتَابِهِ الْكَرِيْمِ: يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ.

 

Hadirin Jamaah Jum’at yang dirahmati Allah,

 

  • Mengawali khutbah pada siang hari yang mulia ini, khatib berwasiat kepada diri khatib pribadi dan kepada jamaah sekalian,
  • marilah kita senantiasa meningkatkan keimanan dan ketakwaan kita kepada Allah E.
  • Takwa dalam arti yang sesungguhnya:
    • menjalankan segala perintah-Nya
    • dan menjauhi segala larangan-Nya.

 

Hadirin yang dimuliakan Allah,

 

  • Setiap kali kita memasuki bulan Dzulhijjah, ingatan kita selalu tertuju pada sebuah ibadah agung, yaitu ibadah Qurban.
  • Ibadah ini identik dengan penyembelihan hewan ternak seperti kambing, sapi, atau unta.
  • Namun, jika kita menyelami lebih dalam, Qurban bukanlah sekadar
    • tentang mengalirkan darah hewan,
    • membagikan daging,
    • atau menyantap hidangan istimewa.
  • Ada fondasi yang sangat mendasar di balik syariat Qurban, yaitu Tauhid
    • pemurnian ketaatan dan pengesaan Allah semata.

 

  1. Qurban adalah Bukti Penyerahan Diri Total (Aslama)
  • Kisah syariat Qurban berhulu pada ketaatan mutlak Nabiyullah Ibrahim S dan putranya, Ismail S.
  • Ketika Allah memerintahkan Ibrahim untuk menyembelih putra kesayangannya, tidak ada sedikit pun keraguan di dalam hati beliau.
  • Sang anak, Ismail, pun merespons dengan penuh keyakinan dan kepasrahan kepada ketetapan Rabb-nya.
  • Allah E mengisahkan:

﴿فَلَمَّا بَلَغَ مَعَهُ السَّعْيَ قَالَ يَا بُنَيَّ إِنِّي أَرَىٰ فِي الْمَنَامِ أَنِّي أَذْبَحُكَ فَانْظُرْ مَاذَا تَرَىٰ ۚ قَالَ يَا أَبَتِ افْعَلْ مَا تُؤْمَرُ ۖ سَتَجِدُنِي إِنْ شَاءَ اللَّهُ مِنَ الصَّابِرِينَ﴾

“Maka ketika anak itu sampai pada umur sanggup berusaha bersama Ibrahim, Ibrahim berkata: ‘Wahai anakku, sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu, maka pikirkanlah bagaimana pendapatmu.’ Ia menjawab: ‘Wahai ayahku, lakukanlah apa yang diperintahkan kepadamu, insya Allah engkau akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar.’” (QS. Ash-Shaffat: 102)

  • Kisah ini adalah puncak dari manifestasi Tauhid.
  • Mengesampingkan ego, cinta dunia, bahkan nyawa sekalipun demi kecintaan kepada Allah D.
  • Hal ini direkam abadi dalam Al-Qur’an:

« فَلَمَّا أَسْلَمَا وَتَلَّهُ لِلْجَبِينِ»

> “Tatkala keduanya telah berserah diri dan Ibrahim membaringkan anaknya atas pelipis(nya), (nyatalah kesabaran keduanya).” (QS. Ash-Shaffat: 103)

  • Kata Aslama (berserah diri) dalam ayat ini bermakna ketundukan hati yang sempurna kepada Allah.
  • Allah kemudian mengganti Ismail dengan sembelihan yang besar:

﴿وَفَدَيْنَاهُ بِذِبْحٍ عَظِيمٍ﴾

“Dan Kami tebus anak itu dengan seekor sembelihan yang besar.” (QS. Ash-Shaffat: 107)

  • Inilah hakikat Tauhid, menjadikan Allah sebagai satu-satunya tujuan ketaatan.

 

  1. Sembelihan Hanya Boleh Ditujukan Kepada Allah
  • Dalam ajaran Islam, menyembelih hewan adalah bagian dari ritual ibadah (nusuk) yang sangat sakral.
  • Ibadah ini tidak boleh dipalingkan kepada selain Allah.
  • Hal ini merupakan ikrar yang senantiasa kita baca, bahkan dalam shalat-shalat kita:

«قُلْ إِنَّ صَلَاتِي وَنُسُكِي وَمَحْيَايَ وَمَمَاتِي لِلهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ  لَا شَرِيكَ لَهُ ۖ وَبِذَلِكَ أُمِرْتُ وَأَنَا أَوَّلُ الْمُسْلِمِينَ»

> “Katakanlah: Sesungguhnya shalatku, sembelihanku (ibadah qurbanku), hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam. Tiada sekutu bagi-Nya; dan demikian itulah yang diperintahkan kepadaku dan aku adalah orang yang pertama-tama menyerahkan diri (kepada Allah).” (QS. Al-An’am: 162-163)

  • Ayat ini menegaskan bahwa Qurban adalah manifestasi dari Tauhid Uluhiyah.
  • Mengorbankan hewan ternak untuk selain Allah—seperti untuk sesajen kepada roh, penjaga lautan, penunggu pohon, atau jin—adalah perbuatan syirik akbar (syirik besar) yang membatalkan keislaman seseorang.
  • Dalam sebuah hadits yang shahih, dari Ali bin Abi Thalib I, Rasulullah H bersabda dengan sangat tegas:

«لَعَنَ اللهُ مَنْ ذَبَحَ لِغَيْرِ اللهِ»

“Allah melaknat orang yang menyembelih (berkurban) untuk selain Allah.” (HR. Muslim no. 1978)

  • Laknat Allah berarti dijauhkan dari rahmat-Nya.
  • Betapa besarnya ancaman bagi mereka yang memalingkan ibadah sembelihan ini kepada selain Sang Pencipta.
  • Qurban mengajarkan kita untuk membersihkan akidah kita dari segala bentuk kesyirikan.

 

  1. Yang Sampai Kepada Allah Bukanlah Daging, Melainkan Takwa

Hadirin jamaah rahimakumullah,

  • Masyarakat Jahiliyah di masa lampau memiliki tradisi menyembelih hewan untuk berhala-berhala mereka.
  • Mereka melumurkan darah hewan tersebut di dinding Ka’bah dan meletakkan dagingnya di atas altar persembahan, mengira bahwa tuhan-tuhan mereka membutuhkan darah dan daging itu.
  • Islam datang membawa cahaya Tauhid untuk menghapus keyakinan yang salah tersebut.
  • Allah E sama sekali tidak membutuhkan daging maupun darah dari hewan qurban kita.
  • Allah Maha Kaya, Allah Maha Terpuji. Lalu apa yang Allah lihat dari ibadah Qurban kita?
  • Allah E berfirman:

«لَن يَنَالَ اللهَ لُحُومُهَا وَلَا دِمَاؤُهَا وَلَٰكِن يَنَالُهُ التَّقْوَىٰ مِنكُمْ ۚ كَذَٰلِكَ سَخَّرَهَا لَكُمْ لِتُكَبِّرُوا اللهَ عَلَىٰ مَا هَدَاكُمْ ۗ وَبَشِّرِ الْمُحْسِنِينَ»

“Daging-daging unta dan darahnya itu sekali-kali tidak dapat mencapai (keridhaan) Allah, tetapi ketakwaan dari kamulah yang dapat mencapainya. Demikianlah Allah telah menundukkannya untuk kamu supaya kamu mengagungkan Allah terhadap hidayah-Nya kepada kamu. Dan berilah kabar gembira kepada orang-orang yang berbuat baik.” (QS. Al-Hajj: 37)

  • Ketakwaan, keikhlasan, dan kebersihan hati dari niat pamer (riya’) atau ingin dipuji (sum’ah) itulah yang dinilai oleh Allah.
  • Seekor kambing kecil yang disembelih dengan penuh keikhlasan dan tauhid yang murni, jauh lebih berat timbangannya di sisi Allah dibandingkan seratus ekor sapi yang disembelih demi meraih popularitas di mata manusia.
  • Rasulullah H bersabda:

«إِنَّ اللهَ لاَ يَنْظُرُ إِلَى صُوَرِكُمْ وَأَمْوَالِكُمْ، وَلَكِنْ يَنْظُرُ إِلَى قُلُوبِكُمْ وَأَعْمَالِكُمْ»

“Sesungguhnya Allah tidak melihat kepada bentuk rupa dan harta kalian, tapi Allah melihat hati dan amal kalian.” (HR. Muslim no. 2564)

 

Hadirin yang berbahagia,

  • Sebagai kesimpulan pada khutbah pertama ini, mari kita luruskan niat kita dalam berqurban.
  • Murni untuk melaksanakan perintah Nabi H:

«مَنْ كَانَ لَهُ سَعَةٌ وَلَمْ يُضَحِّ، فَلَا يَقْرَبَنَّ مُصَلَّانَا»

“Barangsiapa memiliki kelapangan namun tidak berqurban, maka janganlah ia mendekati tempat shalat kami.” (HR. Ibnu Majah no. 3123, dihasankan oleh Al-Albani)

  • Jadikanlah setiap tetes darah hewan qurban yang mengalir ke tanah sebagai saksi ketauhidan kita, kepatuhan kita, dan pembebasan diri kita dari segala bentuk sesembahan selain Allah.
  • Kita sembelih hawa nafsu, kesombongan, dan kecintaan kita yang berlebihan kepada dunia.
  • Semoga Allah E menerima amal ibadah kita, mensucikan hati kita, dan meneguhkan kita di atas jalan Tauhid hingga ajal menjemput.

بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ، وَتَقَبَّلَ مِنِّيْ وَمِنْكُمْ تِلاَوَتَهُ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَاسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ فَاسْتَغْفِرُوْهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ.

 

KHUTBAH KEDUA

اَلْحَمْدُ لِلهِ حَمْدًا كَثِيْرًا كَمَا اَمَرَ. اَشْهَدُ اَنْ لَا اِلَهَ اِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَاَشْهَدُ اَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى اٰلِهِ وَاَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ اِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ. اَمَّا بَعْدُ؛

فَيَا عِبَادَ اللهِ، اِتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَاعْلَمُوْا اَنَّ اللهَ اَمَرَكُمْ بِاَمْرٍ عَظِيْمٍ، اَمَرَكُمْ بِالصَّلَاةِ وَالسَّلَامِ عَلَى نَبِيِّهِ الْكَرِيْمِ. فَقَالَ: اِنَّ اللهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ، يَا اَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا.

Jamaah Jum’at rahimakumullah,

  • Di khutbah kedua ini, mari kita menundukkan hati, mengadahkan tangan, bermunajat kepada Allah E.
  • Memohon ampunan atas segala dosa, dan memohon agar kita senantiasa dijaga di atas jalan keimanan dan ketauhidan yang lurus.

اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى اٰلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى اِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى اٰلِ اِبْرَاهِيْمَ، وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى اٰلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى اِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى اٰلِ اِبْرَاهِيْمَ، فِيْ الْعَالَمِيْنَ اِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ.

اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، اَلْاَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْاَمْوَاتِ، اِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعَوَاتِ، وَيَا قَاضِيَ الْحَاجَاتِ.

Ya Allah, ampunilah dosa kaum muslimin dan muslimat, mukminin dan mukminat, baik yang masih hidup maupun yang telah mendahului kami. Sesungguhnya Engkau Maha Mendengar, Maha Dekat, dan Maha Mengabulkan doa.

اللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ الْإِخْلَاصَ فِي الْقَوْلِ وَالْعَمَلِ

Ya Allah, kami memohon kepada-Mu keikhlasan dalam setiap perkataan dan perbuatan kami.

اللَّهُمَّ تَـقَـبَّلْ مِنَّا صَلَاتَنَا وَنُسُكَنَا وَمَحْيَانَا وَمَمَاتَنَا خَالِصًا لِوَجْهِكَ الْكَرِيمِ

Ya Allah, terimalah shalat kami, sembelihan (qurban) kami, hidup kami, dan mati kami, murni hanya mengharap Wajah-Mu yang Mulia. Jauhkanlah kami dari segala bentuk kesyirikan, riya, dan kesombongan.

رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.

عِبَادَ اللهِ، اِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْاِحْسَانِ وَاِيْتَاءِ ذِي الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذْكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ، وَاشْكُرُوْهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَلَذِكْرُ اللهِ اَكْبَرُ. وَاَقِمِ الصَّلَاةَ.

Download pdf dibawah:

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *