عَنْ عُقْبَةَ بْنِ عَامِرٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «يَوْمُ عَرَفَةَ، وَيَوْمُ النَّحْرِ، وَأَيَّامُ التَّشْرِيقِ، عِيدُنَا أَهْلَ الْإِسْلَامِ وَهِيَ أَيَّامُ أَكْلٍ وَشُرْبٍ»
Dari ‘Uqbah bin ‘Aamir radhiyallaahu ‘anhu, dia berkata, ‘Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda, ‘Hari ‘Arafah, hari nahr, dan hari-hari tasyriq adalah hari raya kita, pengikut Islam, ia adalah hari-hari makan dan minum.” (HR. Ahmad, Abu Dawud, at-Tirmidzi, dan an-Nasa`iy)([1])
Inilah tiga hari-hari raya yang dikandung oleh hadits yang mulia ini.
Maka diantara hari-hari raya kita adalah, hari ‘Arafah.
Hari ‘Arafah adalah hari yang kesembilan dari bulan Dzulhijjah, dan ia adalah sebuah hari yang agung, hari yang memiliki berbagai keutamaan dan fungsi.
Adapun keutamaan-keutamaannya,
Allah subhaanahuu wa ta’aalaa telah bersumpah dengannya pada dua tempat dari al-Qur`an,
Allah subhaanahuu wa ta’aalaa berfirman,
وَٱلسَّمَآءِ ذَاتِ ٱلبُرُوجِ ١ وَٱليَومِ ٱلمَوعُودِ ٢ وَشَاهِدٍ وَمَشهُودٍ ٣
“Demi langit yang mempunyai gugusan bintang, dan hari yang dijanjikan, dan yang menyaksikan dan yang disaksikan.” (QS. al-Buruuj (85): 1-3)
Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda dalam menafsiri ayat tersebut,
الْيَوْمُ الْمَوْعُودُ يَوْمُ الْقِيَامَةِ، وَالْيَوْمُ الْمَشْهُودُ يَوْمُ عَرَفَةَ، وَالشَّاهِدُ يَوْمُ الْجُمُعَةِ»
“Hari yang dijanjikan adalah hari kiamat, hari yang disaksikan adalah hari ‘Arafah, dan yang menyaksikan adalah hari jum’at.” (HR. at-Tirmidzi)([2])
Allah subhaanahuu wa ta’aalaa berfirman,
وَٱلفَجرِ ١ وَلَيَالٍ عَشرٍ ٢ وَٱلشَّفعِ وَٱلوَترِ ٣
“Demi fajar, dan malam yang sepuluh, dan yang genap dan yang ganjil.” (QS. al-Fajr (89): 1-3)
Ibnu Katsir rahimahullah (Tafsir al-Qur`an al-‘Azhiim, VIII/390) berkata, ‘Telah berlalu di dalam hadits ini bahwa al-witru adalah hari ‘Arafah, karena keberadaannya pada hari yang kesembilan, dan as-syaf’u adalah hari nahr (‘idul Qurban), karena keberadaannya pada hari yang kesepuluh. Ibnu ‘Abbas, ‘Ikrimah, dan Qatadah juga berpendapat dengannya.”
Dan ia adalah hari disempurnakannya agama ini.
Dari Thariq bin Syihab, dari ‘Umar bin al-Khaththab radhiyallaahu ‘anhu, bahwasannya seorang Yahudi berkata kepadanya,
يَا أَمِيرَ الْمُؤْمِنِينَ، آيَةٌ فِي كِتَابِكُمْ تَقْرَءُونَهَا لَوْ عَلَيْنَا مَعْشَرَ الْيَهُودِ نَزَلَتْ لَاتَّخَذْنَا ذَلِكَ الْيَوْمَ عِيدًا . قَالَ : أَيُّ آيَةٍ ؟ قَالَ: }الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمْ الْإِسْلَامَ دِينًا{. قَالَ عُمَرُ : قَدْ عَرَفْنَا ذَلِكَ الْيَوْمَ وَالْمَكَانَ الَّذِي نَزَلَتْ فِيهِ عَلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَهُوَ قَائِمٌ بِعَرَفَةَ يَوْمَ جُمُعَةٍ
“Wahai Amiirul Mukminiin, satu ayat di dalam kitab Anda, yang Anda membacanya, seandainya ayat itu turun kepada kami, kaum Yahudi, maka pastilah akan kami jadikan hari itu sebagai hari raya.’ ‘Umar berkata, ‘Ayat yang mana?’ dia berkata, ‘Pada hari, telah Kusempurnakan bagi kalian agama kalian, dan telah Kusempurnakan nikmat-Ku bagi kalian, dan Aku telah ridha islam sebagai agama bagi kalian.’ ‘Umar berkata, ‘Kami telah mengetahui hari tersebut, dan tempat yang padanya ayat tersebut turun kepada Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam, saat beliau berdiri di ‘Arafah pada hari jum’at.” (HR. as-Syaikhaniy)([3])
Ia adalah hari berbangga.
Allah subhaanahuu wa ta’aalaa membanggakan orang-orang yang tengah wukuf di hadapan para malaikat. Telah valid dari ‘Abdillah bin ‘Amr bin al-‘Ash radhiyallaahu ‘anhu bahwa Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda,
«إِنَّ اللهَ عَزَّ وَجَلَّ يُبَاهِي مَلَائِكَتَهُ عَشِيَّةَ عَرَفَةَ بِأَهْلِ عَرَفَةَ، فَيَقُولُ : انْظُرُوا إِلَى عِبَادِي أَتَوْنِي شُعْثًا غُبْرًا»
“Sesungguhnya Allah ‘azza wa jalla membanggakan penghuni ‘Arafah kepada para malaikat-Nya pada sore hari hari ‘Arafah, Dia berfirman, ‘Lihatlah kalian kepada hamba-hamba-Ku, mereka mendatangi-Ku dalam keadaan rambut acak-acakan dan berdebu.” (HR. Ahmad)([4])
Ibnu ‘Abdil Barr rahimahullah berkata, ‘Ini menunjukkan bahwa mereka telah diampuni dosa-dosa mereka, karena Allah tidak akan membanggakan orang-orang yang melakukan dosa-dosa kecuali setelah bertaubat dan mendapatkan ampunan. Wallaahu a’lam.”
Adapun tugas (yang ada padanya), maka ada lima;
Pertama, berpuasa padanya.
Dan puasa pada hari ‘Arafah menghapuskan dosa selama dua tahun.
Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda,
«صِيَامُ يَوْمِ عَرَفَةَ أَحْتَسِبُ عَلَى اللهِ أَنْ يُكَفِّرَ السَّنَةَ الَّتِي قَبْلَهُ وَالسَّنَةَ الَّتِي بَعْدَهُ»
“Puasa hari ‘Arafah, aku berharap kepada Allah, agar Dia menghapuskan (dosa) setahun yang sebelumnya, dan setahun yang sesudahnya.” (HR. Muslim)([5])
Dan di dalam lafazh lain, bahwa Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam ditanya tentang puasa pada hari ‘Arafah, maka beliau bersabda,
«يُكَفِّرُ السَّنَةَ الْمَاضِيَةَ وَالْبَاقِيَةَ»
“Ia menghapus dosa setahun yang lalu dan setahun yang tersisa.”([6])
Dan ini berlaku bagi yang selain melakukan ibadah haji.
Imam Muslim berkata di dalam Shahihnya, ‘Bab Kesunnahan Berbuka Bagi Para Jama’ah Haji Di ‘Arafah Pada Hari ‘Arafah.’
Kemudian beliau menyebutkan hadits Ummu al-Fadhl binti al-Haarits J,
أَنَّ نَاسًا تَمَارَوْا عِنْدَهَا يَوْمَ عَرَفَةَ فِي صِيَامِ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَقَالَ بَعْضُهُمْ: هُوَ صَائِمٌ. وَقَالَ بَعْضُهُمْ: لَيْسَ بِصَائِمٍ. فَأَرْسَلْتُ إِلَيْهِ بِقَدَحِ لَبَنٍ وَهُوَ وَاقِفٌ عَلَى بَعِيرِهِ بِعَرَفَةَ فَشَرِبَهُ
“Bahwasannya manusia saling berdebat di sisinya pada hari ‘Arafah (dan membicarakan dengan keragu-raguan) tentang puasa Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam; sebagian mereka berkata, ‘Beliau tengah berpuasa.’ Sebagian mereka berkata, ‘Beliau tidak puasa.’ Maka akupun mengirimkan utusan kepada beliau dengan membawa segelas besar berisi susu, sementara beliau tengah berhenti diatas onta beliau di ‘Arafah, lalu beliau meminumnya.” (HR. as-Syaikhaniy)([7])
Adapun hadits larangan Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam dari berpuasa pada hari ‘Arafah di ‘Arafah adalah lemah.
Dan telah valid dari Ibnu ‘Umar radhiyallaahu ‘anhuma, dia berkata,
«حَجَجْتُ مَعَ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَلَمْ يَصُمْ يَوْمَ عَرَفَةَ، وَحَجَجْتُ مَعَ أَبِي بَكْرٍ فَلَمْ يَصُمْهُ، وَحَجَجْتُ مَعَ عُمَرَ فَلَمْ يَصُمْهُ، وَحَجَجْتُ مَعَ عُثْمَانَ فَلَمْ يَصُمْهُ، وَأَنَا لَا أَصُومُهُ وَلَا آمُرُ بِهِ، وَلَا أَنْهَى عَنْهُ»
“Aku telah berhaji bersama Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam, dan beliau tidak berpuasa pada hari ‘Arafah. Aku telah berhaji bersama Abu Bakar, dan dia tidak berpuasa padanya. Aku telah berhaji bersama dengan ‘Umar, dan dia tidak berpuasa padanya. Dan aku telah berhaji bersama ‘Utsman, maka dia tidak berpuasa padanya. Dan aku sendiri tidak berpuasa padanya, tidak memerintah dan melarangnya.” (HR. ‘Abdurrazzaaq di dalam al-Mushannaf)([8])
Di dalam al-Mushannaf juga, ‘Atha` rahimahullah berkata,
«مَنْ أَفْطَرَ يَوْمَ عَرَفَةَ لِيَتَقَوَّى بِهِ عَلَى الدُّعَاءِ كَانَ لَهُ مِثْلُ أَجْرِ الصَّائِمِ»
“Barangsiapa berbuka pada hari ‘Arafah agar bisa kuat berdo’a dengannya, maka ada pahala semisal pahala orang yang berpuasa untuknya.”([9])
Diantara fungsinya adalah berdo’a.
Dari ‘Amr bin Syu’aib, dari bapaknya dari kakeknya, bahwa Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda,
«خَيْرُ الدُّعَاءِ دُعَاءُ يَوْمِ عَرَفَةَ، وَخَيْرُ مَا قُلْتُ أَنَا وَالنَّبِيُّونَ مِنْ قَبْلِي: لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ، وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، لَهُ الْمُلْكُ، وَلَهُ الْحَمْدُ، وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ»
“Sebaik-baik do’a adalah do’a pada hari ‘Arafah, dan sebaik-baik perkara yang kukatakan, aku dan para Nabi setelahku adalah ‘Tidak ada sesembahan yang berhak disembah kecuali Allah, Maha Tunggal Allah, tidak ada sekutu bagi-Nya, bagi-Nya segala kerajaan, bagi-Nya segala pujian, dan Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu’.” (HR. at-Tirmidzi)([10])
Berkata penulis kitab Tuhfah al-Ahwadziy (VIII/482), ‘Sebaik-baik do’a adalah do’a pada hari ‘Arafah, karena ia lebih besar pahalanya, dan lebih segera dikabulkan.”
Dan seandainya berdo’a di dalamnya tidak mustajab, maka pastilah tidak menjadi sebaik-baik do’a.
Diantaranya juga adalah bertakbir; bertakbir disini ada dua bagian;
Mutlaq, ini adalah pada keseluruhan 10 hari yang pertama. Dan Muqayyad, pada setiap akhir shalat-shalat fardhu, dan ini berlaku bagi selain orang yang beribadah haji, berlaku sejak fajar hari ‘Arafah hingga akhir hari tasyriq. Dan untuk jama’ah haji berlaku sejak waktu zhuhur hari raya ‘Ied hingga akhir hari-hari tasyriq.
Dan tidak mengapa jika keberadaan takbir tersebut secara berjama’ah.
Imam as-Syafi’iy rahimahullah berkata –tentang takbir pada hari raya ‘Iedul Fithr-,
فَإِذَا رَأَوْا هِلاَلَ شَوَّالٍ أَحْبَبْتُ أَنْ يُكَبِّرَ النَّاسُ جَمَاعَةً وَفُرَادَى
‘Maka jika mereka melihat hilal Syawal, maka aku suka manusia bertakbir, baik secara berjama’ah, maupun sendiri-sendiri.’ (al-Umm, I/462)
Lalu mengapa hari ‘Arafah dilekatkan dengan hari-hari raya? Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata, ‘Keberadaan hari ‘Arafah sebagai hari raya bagi penduduk ‘Arafah tiada lain karena berkumpulnya mereka di dalamnya. Berbeda dengan penduduk penjuru dunia, mereka hanya berkumpul pada hari raya Nahr, maka jadilah ia sebagai hara raya mereka.”
Termasuk hari raya kita, adalah hari Raya Nahr (‘Iedul Adha).
Ia adalah hari yang kesepuluh dari bulan Dzulhijjah. Ia adalah hari yang paling agung dari hari-hari Allah. Sebagaimana dikatakan oleh Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam. Ia juga disebut dengan hari Haji Akbar. Dikarenakan sebagian besar amal-amal ibadah haji, dilakukan padanya. Berupa wuquf di Masy’ar al-Haram setelah fajar, lempar jumrah ‘Aqabah, penyembelihan hadyu, halq (mencukur gundul) atau taqshiir (memotong rata rambut), thawaf ifadhah, dan sa’iy antara Shafa dan Marwah.
Kemudian Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam menyebut hari-hari tasyriq.
Hari-hari tasyriiq adalah tiga hari setelah ‘Iedul Adha; hari yang kesebelas disebut dengan hari maqar (hari berdiam diri), hari kedua belas disebut hari nafar al-awwal, hari yang ketiga belas disebut dengan hari nafar ats-Tsaniy. Dan disebut juga dengan hari-hari Mina, dikarenakan para jama’ah haji berada di dalamnya, yaitu di Mina.
Ia adalah al-ayyaam al-ma’duudaat yang telah disebut oleh Allah di dalam kitab-Nya. Ia adalah al-ayyaam al-ma’luumaat menurut pendapat sebagian para ahli tafsir. Dan yang shahih adalah bahwa al-ma’luumaat adalah sepuluh awal dari bulan Dzulhijjah.
Dan hari-hari tersebut disebut hari-hari tasyriiq, karena pengeringan (membuat dendeng dari) daging kurban.
Dan sebesar-besar faidah yang ditunjukkan oleh hadits ini adalah bahwa setiap kaum memiliki hari-hari raya, maka tidak boleh bagi seorang muslim untuk mengikuti orang-orang kafir di dalam hari-hari raya mereka.
(Diambil dari kitab Tsulaatsiyaat Nabawiyah Jilid III, DR. Mihran Mahir ‘Utsman, dialih bahasakan oleh Abu Rofi’ Muhammad Syahri)
_______________
Footnote:
[1] () HR. at-Tirmidzi (773), an-Nasa`iy (3004), Abu Dawud (2419), Ahmad (17417), lihat al-Jaami’ as-Shahiih li as-Sunan wa al-Masaanid (29/446)-pent
[2] () HR. at-Tirmidzi (3339), Ahmad (7959), dihasankan oleh al-Albaniy dalam as-Shahiihah dibawah hadits no 1502, dan Hidaayatu ar-Ruwaah (1311), lihat al-Jaami’ as-Shahiih li as-Sunan wa al-Masaanid (22/177)-pent
[3] () HR. Muslim (3017), al-Bukhari (6840), at-Tirmidzi (3043), an-Nasa`iy (3002), lihat al-Jaami’ as-Shahiih li as-Sunan wa al-Masaanid (18/473)-pent
[4] () HR. Ahmad (7089, 8033), Shahiih al-Jaami’ (1867, 1868), Shahiih at-Targhiib wa at-Tarhiib (1153), lihat al-Jaami’ as-Shahiih li as-Sunan wa al-Masaanid (7/310)-pent
[5] () HR. Muslim (1162), at-Tirmidzi (749), Abu Dawud (2425), Ahmad (22674), lihat al-Jaami’ as-Shahiih li as-Sunan wa al-Masaanid (7/274)-pent
[6] () HR. Muslim (1162)-pent
[7] () HR. Muslim (1123), al-Bukhari (1658, 1661, 1988, 5604, 5618, 5636)-pent
[8] () HR. ‘Abdurrazzaaq di dalam al-Mushannaf (7829), Ahmad (5080), at-Tirmidzi (751), An-Nasa`iy, al-Kubra (2838), Ibnu Hibban (3604), lihat al-Jaami’ as-Shahiih li as-Sunan wa al-Masaanid (31/157)-pent
[9] () HR. ‘Abdurrazzaaq di dalam al-Mushannaf (7821), at-Thobariy dalam Tahdziib al-Aatsaar (598)
[10] () HR. at-Tirmidzi (3585), Malik, al-Muwaththa` (500), ‘Abdurrazzaaq, al-Mushannaf (8125), al-Baihaqiy, al-Kubra (8174), Shahiih al-Jaami’ (3274), Shahiih at-Targhiib wa at-Tarhiib (1536), lihat al-Jaami’ as-Shahiih li as-Sunan wa al-Masaanid (31/150)-pent






