Dari Tsauban radhiyallahu ‘anhu, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau bersabda:
«إِنَّ الْعَبْدَ لَيَلْتَمِسُ مَرْضَاةَ اللهِ وَلَا يَزَالُ بِذَلِكَ فَيَقُولُ اللهُ – عَزَّ وَجَلَّ – لِجِبْرِيلَ إِنَّ فُلَاناً عَبْدِي يَلْتَمِسُ أَنْ يُرْضِيَنِي أَلَا وَإِنَّ رَحْمَتِي عَلَيْهِ . فَيَقُولُ جِبْرِيلُ رَحْمَةُ اللهِ عَلَى فُلَانٍ . وَيَقُولُهَا حَمَلَةُ الْعَرْشِ وَيَقُولُهَا مَنْ حَوْلَهُمْ حَتَّى يَقُولَهَا أَهْلُ السَّمَوَاتِ السَّبْعِ ثُمَّ تَهْبِطُ لَهُ إِلَى الْأَرْضِ»
“Sesungguhnya seorang hamba benar-benar mencari keridhaan Allah dan ia senantiasa (istiqamah) melakukan hal itu, maka Allah ‘Azza wa Jalla berfirman kepada Jibril: ‘Sesungguhnya si fulan hamba-Ku mencari sesuatu yang dapat meridhai-Ku, ketahuilah bahwa rahmat-Ku (telah turun) kepadanya.’ Maka Jibril berseru: ‘Rahmat Allah atas si fulan.’ Lalu para (malaikat) pemikul ‘Arsy pun mengucapkan hal yang sama, dan (malaikat) yang ada di sekitar mereka juga mengucapkan hal yang sama, hingga para penduduk langit yang tujuh mengucapkannya, kemudian (rahmat itu) pun turun kepadanya ke bumi.” ([1])
Mencari keridhaan Allah ‘Azza wa Jalla adalah salah satu jalan terbesar (untuk meraih) rahmat. Karena hal ini mencakup agama secara keseluruhan, tidak ada satu pun bagian darinya yang tertinggal. Bahkan, ia adalah perwujudan iman kepada Allah ‘Azza wa Jalla dan mengikuti (sunnah) nabi-Nya shallallahu ‘alaihi wasallam, serta menyempurnakan syarat-syarat iman, kewajiban-kewajibannya, sunnah-sunnahnya, tuntutan-tuntutannya, adab-adab perilaku, dan berinteraksi dengan sesama makhluk dengan cara yang benar. Oleh karena itu, kami mulai merinci beberapa ayat([2]) dan hadits yang diriwayatkan terkait mencari keridhaan Allah ‘Azza wa Jalla dan mengejar keridhaan-Nya, semoga kita mendapatkan rahmat dan karunia dari-Nya Tabaraka wa Ta’ala.
- Mengorbankan jiwa di jalan Allah ‘Azza wa Jalla melalui jihad, hijrah, dan ibadah-ibadah lainnya.
Allah ‘Azza wa Jalla berfirman:
وَمِنَ النَّاسِ مَنْ يَشْرِي نَفْسَهُ ابْتِغَاءَ مَرْضَاتِ اللهِ ۗ وَاللهُ رَءُوفٌ بِالْعِبَادِ
“Dan di antara manusia ada orang yang mengorbankan dirinya karena mencari keridhaan Allah; dan Allah Maha Penyantun kepada hamba-hamba-Nya.” (QS. Al-Baqarah: 207).
Al-Allamah As-Sa’di rahimahullah([3]) berkata: “Mereka ini adalah orang-orang yang diberikan taufik, yang menjual diri mereka, menganggapnya murah, dan mengorbankannya demi mencari keridhaan Allah dan mengharap pahala-Nya. Mereka telah menyerahkan harga (bayaran) kepada Dzat Yang Maha Kaya, Maha Menepati Janji, lagi Maha Penyantun kepada hamba-hamba-Nya, yang mana sebagian dari kasih sayang dan rahmat-Nya adalah Dia memberikan taufik kepada mereka untuk melakukan hal tersebut, dan Dia telah berjanji untuk memenuhinya.
Allah berfirman: {Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang mukmin diri dan harta mereka dengan memberikan surga untuk mereka} hingga akhir ayat. Dan di dalam ayat ini, Allah mengabarkan bahwa mereka telah menjual diri mereka dan mengorbankannya, serta Dia mengabarkan tentang kasih sayang-Nya yang mewajibkan tercapainya apa yang mereka cari, dan dikaruniakannya apa yang mereka inginkan. Maka jangan tanya lagi setelah ini tentang apa yang akan mereka dapatkan dari Dzat Yang Maha Mulia, serta apa yang akan mereka peroleh berupa kemenangan dan kemuliaan.”
Dan Allah ‘Azza wa Jalla berfirman:
{ لِلْفُقَرَاءِ الْمُهَاجِرِينَ الَّذِينَ أُخْرِجُوا مِنْ دِيَارِهِمْ وَأَمْوَالِهِمْ يَبْتَغُونَ فَضْلًا مِنَ اللهِ وَرِضْوَانًا وَيَنْصُرُونَ اللهَ وَرَسُولَهُ ۚ أُولَٰئِكَ هُمُ الصَّادِقُونَ }
“(Harta rampasan itu juga) untuk orang-orang fakir yang berhijrah yang diusir dari kampung halaman dan dari harta benda mereka (karena) mencari karunia dari Allah dan keridhaan-Nya dan mereka menolong Allah dan Rasul-Nya. Mereka itulah orang-orang yang benar.” (QS. Al-Hasyr: 8).
Dan dari Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, dalam hal yang beliau riwayatkan dari Rabb-nya Tabaraka wa Ta’ala, Dia berfirman:
«أَيُّمَا عَبْدٍ مِنْ عِبَادِي خَرَجَ مُجَاهِدًا فِي سَبِيلِي ابْتِغَاءَ مَرْضَاتِي، ضَمِنْتُ لَهُ أَنْ أُرْجِعَهُ بِمَا أَصَابَ مِنْ أَجْرٍ وَغَنِيمَةٍ، وَإِنْ قَبَضْتُهُ أَنْ أَغْفِرَ لَهُ وَأَرْحَمَهُ وَأُدْخِلَهُ الْجَنَّةَ»
“Hamba-Ku yang mana saja yang keluar untuk berjihad di jalan-Ku demi mencari keridhaan-Ku, Aku menjamin baginya bahwa Aku akan mengembalikannya dengan membawa pahala dan ghanimah (harta rampasan) yang diperolehnya. Dan jika Aku mencabut nyawanya (wafat), (Aku menjamin) untuk mengampuninya, merahmatinya, dan memasukkannya ke dalam surga.”([4])
- Berinfak di jalan Allah ‘Azza wa Jalla:
{وَمَثَلُ الَّذِينَ يُنْفِقُونَ أَمْوَالَهُمُ ابْتِغَاءَ مَرْضَاتِ اللهِ وَتَثْبِيتًا مِنْ أَنْفُسِهِمْ كَمَثَلِ جَنَّةٍ بِرَبْوَةٍ أَصَابَهَا وَابِلٌ فَآتَتْ أُكُلَهَا ضِعْفَيْنِ فَإِنْ لَمْ يُصِبْهَا وَابِلٌ فَطَلٌّ ۗ وَاللهُ بِمَا تَعْمَلُونَ بَصِيرٌ }
“Dan perumpamaan orang-orang yang membelanjakan hartanya karena mencari keridhaan Allah dan untuk keteguhan jiwa mereka, seperti sebuah kebun yang terletak di dataran tinggi yang disiram oleh hujan lebat, maka kebun itu menghasilkan buahnya dua kali lipat. Jika hujan lebat tidak menyiraminya, maka hujan gerimis (pun memadai). Dan Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan.” (QS. Al-Baqarah: 265).
- Cinta karena Allah dan Benci karena Allah:
{يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَتَّخِذُوا عَدُوِّي وَعَدُوَّكُمْ أَوْلِيَاءَ تُلْقُونَ إِلَيْهِمْ بِالْمَوَدَّةِ وَقَدْ كَفَرُوا بِمَا جَاءَكُمْ مِنَ الْحَقِّ يُخْرِجُونَ الرَّسُولَ وَإِيَّاكُمْ ۙ أَنْ تُؤْمِنُوا بِاللهِ رَبِّكُمْ إِنْ كُنْتُمْ خَرَجْتُمْ جِهَادًا فِي سَبِيلِي وَابْتِغَاءَ مَرْضَاتِي ۚ تُسِرُّونَ إِلَيْهِمْ بِالْمَوَدَّةِ وَأَنَا أَعْلَمُ بِمَا أَخْفَيْتُمْ وَمَا أَعْلَنْتُمْ ۚ وَمَنْ يَفْعَلْهُ مِنْكُمْ فَقَدْ ضَلَّ سَوَاءَ السَّبِيلِ}
“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil musuh-Ku dan musuhmu menjadi teman-teman setia yang kamu sampaikan kepada mereka (berita-berita Muhammad), karena rasa kasih sayang; padahal sesungguhnya mereka telah ingkar kepada kebenaran yang datang kepadamu, mereka mengusir Rasul dan (mengusir) kamu karena kamu beriman kepada Allah, Tuhanmu. Jika kamu benar-benar keluar untuk berjihad di jalan-Ku dan mencari keridhaan-Ku (janganlah kamu berbuat demikian). Kamu memberitahukan secara rahasia (berita-berita Muhammad) kepada mereka, karena rasa kasih sayang. Aku lebih mengetahui apa yang kamu sembunyikan dan apa yang kamu nyatakan. Dan barangsiapa di antara kamu yang melakukannya, maka sesungguhnya dia telah tersesat dari jalan yang lurus.” (QS. Al-Mumtahanah: 1).
- Keikhlasan dalam ibadah ucapan dan perbuatan:
{لَا خَيْرَ فِي كَثِيرٍ مِنْ نَجْوَاهُمْ إِلَّا مَنْ أَمَرَ بِصَدَقَةٍ أَوْ مَعْرُوفٍ أَوْ إِصْلَاحٍ بَيْنَ النَّاسِ ۚ وَمَنْ يَفْعَلْ ذَلِكَ ابْتِغَاءَ مَرْضَاتِ اللهِ فَسَوْفَ نُؤْتِيهِ أَجْرًا عَظِيمًا}
{Tidak ada kebaikan pada kebanyakan bisikan-bisikan mereka, kecuali bisikan-bisikan dari orang yang menyuruh (manusia) memberi sedekah, atau berbuat ma’ruf, atau mengadakan perdamaian di antara manusia. Dan barangsiapa yang berbuat demikian karena mencari keridhaan Allah, maka kelak Kami memberi kepadanya pahala yang besar.} (QS. An-Nisa’: 114).
(Bersambung)
(30 Sababan Li Tunaala Rahmatullaahi Ta’aalaa, Abu Abdirrahman Sulthan ‘Aliy, alih bahasa Muhammad Syahri)
________________________________________
Footnote:
([1]) Diriwayatkan oleh Imam Ahmad di dalam Musnad-nya, dan Syaikh Syu’aib Al-Arnauth berkata: “Sanadnya hasan.”
([2]) Dan kita akan mengkaji sebagian maknanya jika tampak secercah pencerahan pemahaman. Sepatutnya seorang hamba mendalami bab ini, karena dengannya gembok-gembok hati akan terbuka, ia akan merasa tenteram dengan kedekatannya kepada Dzat Yang Maha Mengetahui hal-hal ghaib, tabir-tabir dosa akan tersingkap, penutup (aib) akan dilabuhkan untuk menutupi kekurangan, dan hamba yang lari (berpaling) akan diizinkan kembali (bertaubat) kepada Rabb Yang Maha Pemaaf lagi Maha Pengampun.
([3]) Tafsir As-Sa’di – (Juz 1 / Hal. 94).
([4]) Diriwayatkan oleh Ahmad di dalam Musnad-nya dan An-Nasa’i, serta di-shahih-kan oleh Al-Albani. Syu’aib Al-Arnauth berkata: “Shahih, para perawinya adalah terpercaya (tsiqah) dan merupakan perawi Asy-Syaikhain (Al-Bukhari dan Muslim), selain Hammad bin Salamah yang merupakan perawi Imam Muslim.”






