Jangan Rusak Pahala Qurban Setelah Idul Adha
MUQADDIMAH
الحمد لله رب العالمين، الحمد لله الذي هدانا للإسلام، ووفقنا للإيمان، وبلغنا هذه الأيام المباركة.
أشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له، وأشهد أن محمدًا عبده ورسوله، صلى الله عليه وعلى آله وصحبه وسلم تسليمًا كثيرًا.
أما بعد…
Ibu-ibu yang dirahmati Allah…
Mari kita panjatkan puji syukur kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Karena sampai hari ini kita masih diberi umur, kesehatan, masih bisa berkumpul di majelis ilmu, masih bisa menikmati hari-hari Tasyrik, hari-hari yang penuh keberkahan.
Shalawat dan salam semoga selalu tercurah kepada Nabi kita Muhammad, kepada keluarganya, sahabatnya, dan orang-orang yang istiqamah mengikuti sunnah beliau sampai hari kiamat.
Ibu-ibu…
Hari-hari ini suasana Idul Adha masih terasa.
Masih ada aroma sate.
Masih ada gulai.
Masih ada daging qurban di rumah.
Tetapi pertanyaannya…
Apakah setelah Idul Adha hati kita semakin dekat kepada Allah?
Atau justru setelah hari raya berlalu… ibadah ikut berlalu?
Inilah tema kita hari ini:
“JANGAN RUSAK PAHALA QURBAN SETELAH IDUL ADHA”
BAGIAN 1
QURBAN BUKAN SEKADAR DAGING
Ibu-ibu yang dimuliakan Allah…
Kadang manusia sibuk dengan dagingnya…
Sibuk dengan masaknya…
Sibuk dengan bagi-baginya…
Tetapi lupa…
Bahwa inti qurban adalah TAKWA.
Allah subhaanahu wata’aalaa berfirman:
«لَنْ يَنَالَ اللهَ لُحُومُهَا وَلَا دِمَاؤُهَا وَلَٰكِنْ يَنَالُهُ التَّقْوَىٰ مِنْكُمْ»
“Daging dan darah hewan qurban itu tidak akan sampai kepada Allah, tetapi yang sampai kepada-Nya adalah ketakwaan kalian.” (QS. Al-Hajj: 37)
Ibu-ibu…
Allah tidak butuh sapi kita.
Allah tidak butuh kambing kita.
Yang Allah lihat adalah:
* keikhlasan kita,
* ketakwaan kita,
* hati kita.
Kadang ada orang qurban besar…
Tetapi setelah itu lisannya masih suka ghibah.
Masih suka menyakiti tetangga.
Masih suka iri kepada saudara sendiri.
Maka hati-hati…
Jangan sampai qurban hanya ramai di dunia…
Tetapi ringan timbangannya di akhirat.
BAGIAN 2
TANDA IBADAH DITERIMA
Para ulama salaf mengatakan:
«إِنَّ مِنْ ثَوَابِ الْحَسَنَةِ الْحَسَنَةَ بَعْدَهَا»
“Di antara balasan kebaikan adalah kebaikan setelahnya.”
Artinya…
Kalau habis Idul Adha seseorang makin rajin ibadah…
Itu tanda baik.
Tetapi kalau setelah musim ibadah malah kembali lalai…
Itu tanda bahaya.
Ibu-ibu…
Jangan sampai:
* habis takbiran lalu hilang dzikir,
* habis qurban lalu hilang sedekah,
* habis pengajian lalu kembali gibah.
Na’udzubillah.
BAGIAN 3
PENYAKIT YANG MERUSAK PAHALA
- Ghibah (Menggunjing)
Ini penyakit yang sering dianggap ringan.
Padahal dosanya besar.
Nabi Muhammad shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
«أَتَدْرُونَ مَا الْغِيبَةُ؟» قَالُوا: اللهُ وَرَسُولُهُ أَعْلَمُ، قَالَ: «ذِكْرُكَ أَخَاكَ بِمَا يَكْرَهُ»
“Tahukah kalian apa itu ghibah? Mereka menjawab, “Allah dan Rasul-Nya yang lebih tahu.’ Maka beliau bersabda, “(Yaitu) engkau menyebut saudaramu dengan sesuatu yang ia benci.” (HR. Muslim)
Kadang kumpul-kumpul setelah Idul Adha…
Awalnya makan sate…
Lama-lama:
* ngomongin tetangga,
* ngomongin menantu,
* ngomongin keluarga orang.
Hati-hati ibu-ibu…
Pahala bisa habis karena lisan.
- Riya’ dan Pamer Amal
Kadang orang sedekah sedikit saja harus difoto.
Qurban harus diumumkan terus.
Padahal amal itu butuh dijaga.
Allah subhaanahu wata’aalaa berfirman:
«فَمَنْ كَانَ يَرْجُو لِقَاءَ رَبِّهِ فَلْيَعْمَلْ عَمَلًا صَالِحًا وَلَا يُشْرِكْ بِعِبَادَةِ رَبِّهِ أَحَدًا»
“Barangsiapa berharap bertemu Rabbnya maka hendaklah ia beramal saleh dan tidak menyekutukan seorang pun dalam ibadah kepada Rabbnya.” (QS. Al-Kahfi: 110)
Ibu-ibu…
Ikhlas itu berat.
Kadang kita merasa sudah ikhlas…
Ternyata masih ingin dipuji.
- Lalai dari Shalat
Ini yang paling bahaya.
Habis Idul Adha…
Masjid mulai sepi lagi.
Padahal shalat adalah penentu.
Nabi Muhammad shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
«إِنَّ بَيْنَ الرَّجُلِ وَبَيْنَ الشِّرْكِ وَالْكُفْرِ تَرْكَ الصَّلَاةِ»
“Pembatas antara seseorang dengan kesyirikan dan kekufuran adalah meninggalkan shalat.” (HR. Muslim)
Ibu-ibu…
Kalau anak susah shalat…
Jangan bosan diingatkan.
Karena ibu adalah madrasah pertama.
KISAH NYATA INSPIRATIF
“Qurban Seorang Ibu Penjual Gorengan”
Ibu-ibu yang dirahmati Allah…
Ini kisah nyata yang sangat menyentuh.
Kisah sederhana…
Tetapi mudah-mudahan bisa mengetuk hati kita semua.
—
Di sebuah kampung kecil…
Tinggallah seorang ibu tua penjual gorengan.
Suaminya sudah lama meninggal.
Anaknya ada beberapa…
Tetapi hidup pas-pasan.
Setiap pagi beliau bangun sebelum Subuh.
Shalat malam sebentar.
Lalu membuat adonan.
Menggoreng pisang, bakwan, dan tahu isi.
Hasil jualannya kadang hanya cukup:
* untuk makan,
* bayar listrik,
* dan kebutuhan sehari-hari.
Tetapi ibu ini punya satu cita-cita besar:
“Ya Allah… sebelum saya meninggal… saya ingin bisa qurban.”
Tahun demi tahun berlalu…
Saat orang lain bisa membeli:
* emas,
* perabot,
* bahkan motor baru…
Beliau justru punya kaleng kecil di lemari.
Setiap pulang jualan…
Beliau masukkan uang:
* seribu,
* dua ribu,
* lima ribu.
Sedikit demi sedikit.
Kalau ada yang bertanya:
“Ibu nabung buat apa?”
Beliau tersenyum:
“Saya ingin punya tabungan di akhirat.”
Subhanallah…
Sampai suatu hari…
Beliau jatuh sakit.
Anaknya berkata:
“Sudahlah Bu… uangnya dipakai berobat saja.”
Tetapi ibu itu menangis.
Beliau berkata:
“Nak… ibu mungkin tidak lama lagi hidup. Ibu ingin bertemu Allah membawa amal terbaik yang ibu mampu.”
Akhirnya…
Dengan uang tabungan bertahun-tahun…
Beliau membeli seekor kambing kecil.
Bukan kambing besar.
Bukan kambing mahal.
Tetapi penuh keikhlasan.
Saat hari penyembelihan…
Beliau duduk sambil menangis.
Bukan sedih karena kehilangan kambing.
Tetapi terharu karena Allah akhirnya mengizinkan dirinya berqurban.
Dan yang paling menyentuh…
Setelah qurban itu…
Tetangganya berkata:
“Ibu sekarang lebih rajin dzikir.”
“Lisannya makin lembut.”
“Lebih sering sedekah makanan.”
“Lebih sering menangis ketika berdoa.”
Ibu-ibu…
Inilah pelajaran besar.
Qurban sejati bukan sekadar menyembelih hewan.
Tetapi menyembelih:
* cinta dunia,
* kesombongan,
* riya’,
* dan sifat pelit dalam hati.
Kadang…
Ada orang qurban sapi…
Tetapi setelah itu masih suka menyakiti orang.
Sebaliknya…
Ada orang qurbannya kecil…
Tetapi hatinya ikhlas dan hidupnya berubah semakin dekat kepada Allah.
Allah subhaanahu wata’aalaa berfirman:
«لَنْ يَنَالَ اللهَ لُحُومُهَا وَلَا دِمَاؤُهَا وَلَٰكِنْ يَنَالُهُ التَّقْوَىٰ مِنْكُمْ»
“Daging dan darah qurban itu tidak akan sampai kepada Allah, tetapi ketakwaan kalianlah yang sampai kepada-Nya.” (QS. Al-Hajj: 37)
Ibu-ibu yang dirahmati Allah…
Mungkin kita tidak kaya.
Mungkin amal kita sedikit.
Mungkin ibadah kita belum sempurna.
Tetapi kalau hati kita ikhlas…
Allah melihat itu.
Jangan pernah meremehkan:
* sedekah kecil,
* doa seorang ibu,
* air mata taubat,
* dan dzikir di dapur ketika memasak.
Karena bisa jadi…
Amal kecil yang ikhlas…
Justru menjadi penyelamat kita di akhirat nanti.
Semoga Allah menjadikan kita wanita-wanita yang ikhlas dalam beramal.
BAGIAN 4
WANITA SALEHAH ITU PENJAGA RUMAH DAN AGAMA
Ibu-ibu…
Kalau ibu baik…
InsyaAllah rumah ikut baik.
Kalau ibu rajin ngaji…
Anak-anak akan melihat.
Kalau ibu menjaga lisan…
Rumah jadi tenang.
Salah seorang salaf berkata:
«الْأُمُّ مَدْرَسَةٌ إِذَا أَعْدَدْتَهَا أَعْدَدْتَ شَعْبًا طَيِّبَ الْأَعْرَاقِ»
“Ibu adalah madrasah. Jika engkau mempersiapkannya dengan baik, maka engkau telah mempersiapkan generasi yang baik.”
Maka jangan merasa kecil wahai ibu-ibu…
Doa ibu itu besar.
Tangisan ibu di sepertiga malam itu mahal.
—
BAGIAN 5
CARA MENJAGA PAHALA SETELAH IDUL ADHA
- Jaga Dzikir
Perbanyak:
* tasbih,
* tahmid,
* tahlil,
* istighfar.
Allah subhaanahu wata’aalaa berfirman:
«فَاذْكُرُونِي أَذْكُرْكُمْ»
“Ingatlah Aku, niscaya Aku akan mengingat kalian.” (QS. Al-Baqarah: 152)
—
- Jaga Sedekah Walau Sedikit
Nabi Muhammad shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
«اتَّقُوا النَّارَ وَلَوْ بِشِقِّ تَمْرَةٍ»
“Jagalah diri kalian dari api neraka walaupun hanya dengan separuh kurma.” (HR. Bukhari dan Muslim)
—
- Terus Datang ke Majelis Ilmu
Karena iman itu naik turun.
Kalau jauh dari pengajian…
Hati cepat keras.
—
- Jaga Lisan
Sebelum bicara…
Tanya dulu:
* ini benar atau tidak?
* ini bermanfaat atau tidak?
* ini menyakiti atau tidak?
—
PENUTUP
Ibu-ibu yang dirahmati Allah…
Umur kita tidak tahu sampai kapan.
Mungkin ini Idul Adha terakhir kita.
Mungkin ini Tasyrik terakhir kita.
Berapa banyak orang tahun lalu masih makan sate bersama kita…
Hari ini sudah di alam kubur.
Karena itu…
Jangan rusak pahala qurban kita.
Jangan rusak dengan:
* ghibah,
* iri,
* malas ibadah,
* permusuhan,
* ria,
* dan dosa-dosa lisan.
Mari pulang dari majelis ini dengan hati yang baru.
Menjadi ibu yang:
* lebih sabar,
* lebih rajin shalat,
* lebih lembut lisannya,
* lebih dekat dengan Al-Qur’an,
* dan lebih dekat kepada Allah.
Semoga Allah menerima amal qurban kita.
Semoga Allah memperbaiki keluarga kita.
Semoga Allah menjadikan anak-anak kita anak yang shalih dan shalihah.
آمِيْن يَا رَبَّ الْعَالَمِيْنَ
—
DOA PENUTUP
اللَّهُمَّ تَقَبَّلْ مِنَّا صَالِحَ الْأَعْمَالِ، اللَّهُمَّ اجْعَلْنَا مِنَ الْمُخْلِصِينَ، اللَّهُمَّ أَصْلِحْ نِسَاءَ الْمُسْلِمِينَ وَبَنَاتِهِمْ، اللَّهُمَّ اجْعَلْ بُيُوتَنَا بُيُوتًا صَالِحَةً مُطْمَئِنَّةً، رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ، وَصَلَّى اللهُ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ، وَالْحَمْدُ لِلهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ.
(Disampaikan oleh Muhammad Syahri dalam Kajian Muslimah At-Tabi’in, di Musholla At-Tabi’in, bakda Ashar 12 Dzulhijjah 1447 H)






