Fiqih Imamah (2) : Macam-Macam Imamah

 Oleh: Muhammad Syahri

@Fiqih Imamah (2)1

Pada pembahasan yang lalu telah kita ketengahkan empat pasal pembahasan berkaitan dengan imamah dalam shalat: I. Pengertian Imamah Dalam shalat; II. Keutamaan Imamah dalam Shalat; III. Dibolehkan Meminta Jadi Imam Jika Niatnya Baik; IV. Siapakah Yang Paling Berhak Jadi Imam? Sekarang, kita lanjutkan pembahasan kita ini.

V. Macam-macam Imamah dalam shalat

1. Sahnya imamah anak kecil

Ini berdasarkan hadits ‘Amr bin Salamah , dia berkata bahwa Rasulullah ﷺ bersabda:

« صَلُّوا صَلاَةَ كَذَا فِى حِينِ كَذَا ، وَصَلُّوا كَذَا فِى حِينِ كَذَا ، فَإِذَا حَضَرَتِ الصَّلاَةُ ، فَلْيُؤَذِّنْ أَحَدُكُمْ ، وَلْيَؤُمَّكُمْ أَكْثَرُكُمْ قُرْآنًا » . فَنَظَرُوا فَلَمْ يَكُنْ أَحَدٌ أَكْثَرَ قُرْآنًا مِنِّى ، لِمَا كُنْتُ أَتَلَقَّى مِنَ الرُّكْبَانِ ، فَقَدَّمُونِى بَيْنَ أَيْدِيهِمْ ، وَأَنَا ابْنُ سِتٍّ أَوْ سَبْعِ ، سِنِينَ

“Shalatlah kalian, shalat demikian pada saat demikian, shalatlah kalian shalat demikian pada waktu demikian, jika datang waktu shalat, maka hendaknya salah seorang di antara kalian adzan, dan hendaknya orang yang paling banyak al-Qur`annya di antara kalian yang mengimami kalian.” (‘Amr bin Salamah  berkata) merekapun memperhatikan (kami semua), dan tidak ada seorangpun yang lebih banyak al-Qur`annya daripadaku, karena dulu aku pernah mengambilnya dari para pengendara, maka merekapun menyuruhku maju (mengimami) di hadapan mereka, sementara aku saat itu berusia enam atau tujuh tahun. (HR. al-Bukhari (4302))

Dalam Redaksi Abu Dawud ‘Amr bin Salamah mengatakan:

فَمَا شَهِدْتُ مَجْمَعًا مِنْ جَرْمٍ إِلاَّ كُنْتُ إِمَامَهُمْ وَكُنْتُ أُصَلِّى عَلَى جَنَائِزِهِمْ إِلَى يَوْمِى هَذَا

“Maka tidaklah aku menyaksikan satu kumpulan dari suatu kaum kecuali aku adalah imam mereka, dan aku shalat (mengimami) atas jenazah mereka hingga hari ini.” (Shahih, HR. Abu Dawud (587), Shahih Abu Dawud (548), lihat ‘Aunul Ma’bud (2/208))

Imamah anak kecil ini sah baik pada shalat fardhu maupun shalat sunnah jika suatu kaum menyuruhnya maju dan dia adalah orang yang paling banyak hafalan al-Qur`annya, dan telah mencapai usia tujuh tahun. Hal ini karena ‘Amr bin Salamah menjadi imam di masa turunnya wahyu. Seandainya imamahnya tidak sah dan batal, maka pastilah Allah ﷻ akan mengingkarinya, demikian pula yang menyuruhnya untuk menjadi imam adalah juga para sahabat .2

2. Sahnya imamah orang buta

Hal ini berdasarkan hadits Anas , bahwa Nabi memberikan kepercayaan kepada Ibnu Ummi Maktum yang buta untuk menggantikan beliau mengimami manusia (di Madinah).3 Juga dalam riwayat dari Anas  disebutkan bahwa Nabi mempercayakan Ibnu Ummi Maktum untuk mengganti beliau mengimami shalat di Madinah sebanyak dua kali.4 Dan jika dihitung, maka Ibnu Ummi Maktum menggantikan beliau mengimami shalat di Madinah sebanyak 13 kali, dan ini menunjukkan keabsahan imam buta.5

Riwayat lain yang menunjukkan keabsahan imam buta adalah hadits yang diriwayatkan oleh Mahmud bin ar-Rabi’ al-Anshari , bahwa ‘Utban bin Malik  mengimami kaumnya sementara dia dalam keadaan buta. (HR. al-Bukhari (667))

  1. Sahnya imamah seorang budak dan maula (bekas budak)

Ini berdasarkan hadits Ibnu ‘Umar , dia berkata, tatkala orang-orang Muhajirin yang pertama datang di ‘Aqabah, tempat Quba`, sebelum datangnya Rasulullah ﷺ, maka yang mengimami mereka adalah Salim maula Abu Hudzaifah , dan dia adalah yang paling banyak hafalan al-Qur`annya di antara mereka. (HR. al-Bukhari (692))

Dan dalam sebuah riwayat dari Ibnu ‘Umar , dia berkata, ‘Adalah Salim, maula Abu Hudzaifah, mengimami kaum Muhajirin yang pertama, serta para sahabat Nabi ﷺ di masjid Quba`, di antara mereka adalah Abu Bakar, Umar, Abu Salah, Zaid, dan ‘Amir bin Rabi’ah.’ (HR. al-Bukhari (7175))

  1. Sahnya imamah wanita bagi wanita

Hal ini berdasarkan hadits Ummu Waraqah binti Abdillah bin al-Haris, bahwa Rasulullah ﷺ pernah menziarahinya, kemudian beliau menjadikan satu muadzdzin untuknya, lalu memerintahkannya untuk mengimami penghuni rumah. Berkatalah ‘Abdurrahman bin Khallad –sang perawi- dari Ummu Waraqah, ‘Aku melihat, muadzdzinnya adalah seorang yang sudah lanjut.’6 Demikian pula ‘Aisyah  pernah mengimami kaum wanita pada shalat fardhu, dan dia mengimami mereka dengan berdiri di tengah mereka,7 demikian pula Ummu Salamah .8

  1. Sahnya keimamahan seorang laki-laki untuk kaum wanita saja

Ini berdasarkan beberapa riwayat9, diantaranya adalah Dzikwan Maula ‘Aisyah  yang mengimami Aisyah dengan melihat mushaf10, juga karena hukum asal shalat berjama’ah itu adalah sah dilakukan oleh kaum wanita dengan imam seorang laki-laki, bahkan seorang wanita dengan seorang laki-laki, barangsiapa melarangnya, maka wajib bagi dia untuk mendatangkan dalil11, kecuali jika wanita itu sendirian dan bukan termasuk mahramnya, maka haram mengimaminya, berdasarkan hadits Ibnu ‘Abbas ,

«لاَ يَخْلُوَنَّ أَحَدُكُمْ بِامْرَأَةٍ إِلاَّ مَعَ ذِيْ مَحْرَمٍ»

‘Janganlah salah seorang di antara kalian berduaan dengan seorang wanita, kecuali bersama mahram(nya).’ (HR. al-Bukhari (1862), Muslim (1341))

Jadi, mengimami kaum wanita itu tidak makruh kecuali jika dikhawatirkan menimbulkan fitnah. Jika dikhawatirkan menimbulkan fitnah, maka harus dijauhi, karena apa yang menyebabkan terjadinya sesuatu yang diharamkan, hukumnya haram.12

6. Sahnya imamah mafdhul (orang yang tidak utama) atas fadhil (orang yang lebih utama)

Hal ini berdasarkan hadits al-Mughirah bin Syu’bah , saat dia bersama dengan Nabi dalam perang Tabuk, kemudian dia menyebutkan wudhu` Nabi , dan bahwasannya dia datang bersama beliau , dia berkata, ‘Hingga kami mendapati manusia telah menunjuk ‘Abdurrahman bin ‘Auf untuk maju mengimami mereka pada waktu shalat.’ Dia berkata, ‘Kami mendapati ‘Abdurrahman telah shalat bersama mereka satu rakaat dari shalat fajar (subuh), maka Rasulullah ﷺ pun berdiri di shaff bersama kaum muslimin, lalu shalat di belakang ‘Abdurrahman bin ‘Auf pada rakaat yang kedua. Tatkala ‘Abdurrahman bin ‘Auf salam, Rasulullah ﷺ berdiri menyempurnakan shalat beliau.’ Dia berkata, ‘Tatkala Rasulullah ﷺ selesai dari shalatnya, beliau menghadap kepada mereka seraya bersabda, ‘Ahsantum’ (kalian telah berbuat baik), atau ‘Qod Ashabtum’ (Kalian telah benar), beliau senangkan mereka (dengan pernyataan) bahwa mereka telah shalat pada waktunya.’13

Ini menunjukkan kebolehan mafdhul mengimami yang fadhil.

7. Sahnya orang yang bertayammum mengimami yang berwudhu`

Berdasarkan hadits ‘Amr bin al-‘Ash , dia berkata, ‘Aku ihtilam (mimpi basah) pada suatu malam yang sangat dingin pada peprangan dzatu salasil, lalu akupun merasa khawatir jika aku mandi maka aku akan binasa. Maka aku bertayammum kemudian mengimami shalat subuh bersama para sahabatku. Kemudian mereka menyebutkan hal ini kepada Rasulullah ﷺ, lalu Rasulullah ﷺ bersabda:

« يَا عَمْرُو صَلَّيْتَ بِأَصْحَابِكَ وَأَنْتَ جُنُبٌ ؟». فَأَخْبَرْتُهُ بِالَّذِى مَنَعَنِى مِنَ الاِغْتِسَالِ وَقُلْتُ إِنِّى سَمِعْتُ اللَّهَ يَقُولُ ﴿وَلاَ تَقْتُلُوا أَنْفُسَكُمْ إِنَّ اللَّهَ كَانَ بِكُمْ رَحِيمًا﴾ فَضَحِكَ رَسُولُ اللَّهِ وَلَمْ يَقُلْ شَيْئًا

“Wahai ‘Amr, engkau shalat bersama para sahabatmu, sementara engkau dalam keadaan junub?” Kemudian aku kabarkan kepada beliau apa yang menghalangiku dari mandi. Kemudian aku berkata, ‘Aku mendengar Allah  berfirman: …dan janganlah kamu membunuh dirimu; Sesungguhnya Allah adalah Maha Penyayang kepadamu.” (QS. An-Nisa`: 29)

Kemudian Rasulullah ﷺ tertawa dan tidak mengatakan sesuatupun.14

Dalam hadits ini pula diambil faidah bolehnya tayammum bagi orang yang khawatir binasa dengan menggunakan air, apakah karena dingin atau yang lainnya, dan bolehnya shalatnya orang yang tayammum mengimami yang berwudhu`15, namun tidak boleh bertayammum karena sangat dingin bagi orang yang bisa menghangatkan air itu, dengan cara yang bisa mengamankan dirinya dari madharat air dingin tersebut.16

8. Syahnya imamah orang musafir bagi yang mukim, dan yang mukim menyempurnakan shalatnya setelah imam yang musafir itu salam.

Hal ini berdasarkan Ijma’, sebagaimana perkataan Imam Ibnu Qudamah , ‘Para ulama telah sepakat bahwa jika seorang mukim bermakmum dengan yang musafir, lalu yang musafir salam dari rakaat yang kedua, maka wajib bagi yang mukim untuk menyempurnakan shalatnya.17 Demikian pula atsar dari Umar رضي الله عنه‎, bahwa dia pernah mendatangi Makkah, kemudian shalat dua rakaat bersama (mengimami) mereka, kemudian berkata, ‘Wahai penduduk Makkah, sempurnakan shalat kalian, sesungguhnya kami adalah kaum safar.’18 Ada pula beberapa hadits dha’if dalam masalah ini diantaranya adalah riwayat ‘Imran رضي الله عنه‎ marfu’, bahwa beliau berdiam diri di Makkah pada masa Fathu Makkah selama 18 hari, beliau shalat dua rakaat-dua rakaat bersama manusia, kecuali shalat maghrib, kemudian beliau bersabda:

« يَا أَهْلَ مَكَّةَ قُومُوا فَصَلُّوا رَكْعَتَيْنِ أُخْرَيَيْنِ فَإِنَّا سُفُرٌ »

“Wahai penduduk Makkah, berdirilah, dan shalatlah kalin dua rakaat lagi, karena kami dalam keadaan safar.” (HR. Ahmad (4/430))

Juga riwayat Abu Dawud dengan lafazh

« يَا أَهْلَ الْبَلَدِ صَلُّوا أَرْبَعًا فَإِنَّا قَوْمٌ سُفُرٌ »

“Wahai penduduk negeri (Makkah) shalatlah kalian empar rakaat, karena kami safar.” (HR. Abu Dawud (1229))

Dari sini tampaklah bahwa orang yang mukim jika shalat dibelakan orang musafir untuk shalat fardhu seperti dzuhur, Ashar, dan Isya`, maka wajib bagi dia untuk menyempurnakannya empat rakaat. Adapun jika orang mukim shalat di belakang musafir karena mengharap keutamaan jama’ah, dan dia telah shalat fardhu, maka dia shalat sebagaimana yang musafir shalat, yaitu dua rakaat, karena jama’ah yang dia lakukan itu adalah nafilah dan bukan fardhu.19 Jika yang musafir mengimami yang mukim dengan menyempurnakan shalat, maka shalat mereka sempurna dan syah akan tetapi menyelisihi yang afdhal (bagi musafir).20

9. Sahnya imamah yang mukim untuk musafir, dan yang musafir menyempurnakan shalatnya sebagaimana shalatnya imam.

Hal ini berlaku apakan dia mendapati keseluruhan shalat, atau satu rakaat, atau kurang dari itu, hingga sekalipun dia masuk dalam jama’ah pada tasyahhud akhir sebelum salam, dalam seluruh kondisi ini, musafir menyempurnakan shalatnya. Hal ini berdasarkan sebuah riwayat shahih dari Ibnu ‘Abbas  dari hadits Musa bin Salamah , dia berkata, ‘Dulu kami bersama Ibnu ‘Abbas –- di Makkah, maka kukatakan, ‘Sesungguhnya kami, jika bersama kalian semua, kami shalat empat rakaat, dan jika kami kembali ke tempat (menginap) kami, kami shalat dua rakaat.’ Maka Ibnu ‘Abbas  berkata, ‘Itu adalah sunnah Abul Qasim .’21

Dan dalam riwayat Muslim dengan redaksi, ‘Bagaimana aku shalat, jika aku di Makkah dan belum shalat bersama imam?’ Maka dia (Ibnu ‘Abbas ) berkata, ‘Shalat dua rakaat, itu adalah sunnah Abul Qasim .’ (HR. Muslim (688))

Demikian pula Ibnu Umar  shalat empat rakaat bersama imam, dan jika shalat sendirian beliau shalat dua rakaat.22

Imam Ibnu Abdil Barr  juga menyebutkan adanya ijma’ jumhur ulama dalam masalah ini.23 Juga berdasarkan keumuman sabda Nabi :

« إِنَّمَا جُعِلَ الإِمَامُ لِيُؤْتَمَّ بِهِ فَلاَ تَخْتَلِفُوا عَلَيْهِ وَإِذَا كَبَّرَ فَكَبِّرُوا …»

“Imam itu dijadikan hanyalah untuk diikuti, maka janganlah kalian menyelisihinya, dan jika dia bertakbir, makabertakbirlah…”24

Insya Allah, edisi mendatang akan kita lanjutkan pembahasan ini. (AR)*

=== ⚜⚜⚜ ===

Footnote:

1 Disarikan oleh Muhammad Syahri dari risalah yang ditulis oleh Dr. Sa’id bin Ali bin Wahf al-Qahthaniy yang berjudul al-Imamah fis Shalat, Mafhum, wafadha’il, wa anwa`, wa adab wa ahkam, fi dhauil kitabi was-sunnah.

2 Lihat Nailul Authar (2/104), Fathul Bari (8/23) (2185), Subulus Salam (3/94), Majmu’ Fatawa Ibnu Baz (12195) Syarhul Mumti’ (4/317-318)

3 HR. Abu Dawud (595), Ahmad (3/192), al-Baihaqi (3/88), Hasan Shahih menurut al-Albani (Shahih Abu Dawud (1/118))

4 Shahih, HR. Abu Dawud (2931), Shahih Abu Dawud (2/566)

5 Lihat Subulus Salam (3/120), Nailul Authar (2/395)

6 Hasan, HR. Abu Dawud (592) dengan lafazhnya, Ahmad (6/405), al-Hakim (1/203), al-Baihaqiy (3/130), ad-Daraquthniy (1/403), Ibnu Huzaimah (3/89), lihat Shahih Sunan Abu Dawud (1/118)

7 HR. ‘Abdurrazzaq (3/141 (5086)), Ibnu Abi Syaibah (2/89), al-Hakim (1/203), ad-Daraquthni (1/404), al-Baihaqiy (3/131) dan Ibnu Hazm (3/171)

8 HR. ‘Abdurrazzaq (2/140 (5082)), Ibnu Abi Syaibah (2/88), as-Syafi’i (6/86), ad-Daraquthni (1/404) al-Baihaqi (3/131), Ibnu Hazm (3/172)

9 Musnad Abu Ya’la (3/336 (1801)), lihat pula Majma’uz Zawaid (2/74), dan Subulus Salam (3/119)

10 HR. al-Bukhari kitab Adzan, Bab Imamatul ‘Abdi wal Maula, sebelum hadits no. 692.

11 Lihat Nailul Authar (2369)

12 Lihat Syarhul Mumti’, Ibnu ‘Utsaimin (4/352)

13 HR. al-Bukhari (182), Muslim (274)

14 Shahih, HR. Abu Dawud (334), Ahmad (4/203), ad-Daraquthni (1/178), al-Hakim (1/177), al-Baihaqi (1226), Ibnu Hibban (1315), al-Bukhari secara mu’allaq dalam kitab Tayammum, bab Idza Khafal Junub ‘ala Nafsihi al-Maradho awil mauta aw khafal ‘Atsya Tayammama, sebelum hadits no. (345), lihat Shahih Sunan Abu Dawud (1/68).

15 Lihat Fathul Bari (1454), al-Mughni Ibnu Qudamah (3/66)

16 Lihat Nailul Authar, as-Syaukani (1/294)

17 Al-Mughni (3/146), Nailul Authar (2/403).

18 HR. Malik dalam al-Muwaththa` (1/149 (19)), Imam Syaukani berkata, ‘Para perawi Atsar Umar adalah para imam tsiqat (terpercaya).’ (Nailul Authar (2/402))

19 Lihat Majmu’ Fatawa wa Maqalat Mutanawwi’ah, Ibnu Baz, (12/259-261)

20 Lihat al-Mughni, Ibnu Qudamah (3146), Majmu’ Fatawa, Ibnu Baz (12/260).

21 HR. Ahmad (1216), al-Albani dalam al-Irwa` (3/12) berkata, ‘Sanadnya shahih, perawinya adalah perawi shahih.’

22 HR. Muslim (17 (688)), lihat pula sebuah atsar dalam al-Muwaththa` Malik (1/149-150)

23 Lihat At-Tamhid (16 /311-312, 315))

24 HR. al-Bukhari (722), Muslim (414)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *