Barangkali sang tamu merasa bahwa tuan rumah berlebihan menyusahkan dirinya untuknya, maka wajib bagi tuan rumah untuk menghilangkan perasaan ini dari sang tamu.
Dari Laqiit bin Shabirah radhiyallaahu ‘anhu, seorang delegasi Bani al-Muntafiq, bahwa dia berkata, ‘Aku dan seorang temanku beranjak pergi hingga kami sampai kepada Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam, namun kami tidak mendapati beliau shallallaahu ‘alaihi wa sallam. Maka ‘Aisyah radhiyallaahu ‘anha memberi makan kami buah korma kering, dan membuatkan bubur bagi kami. Tiba-tiba datanglah Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam seraya berjalan kuat lantas bersabda,
«هَلْ أُطْعِمْتُمْ مِنْ شَيْءٍ؟» ، قُلْنَا: نَعَمْ يَا رَسُولَ اللهِ، فَبَيْنَا نَحْنُ كَذَلِكَ دَفَعَ رَاعِي الْغَنَمِ فِي الْمُرَاحِ عَلَى يَدِهِ سَخْلَةٌ، قَالَ: «هَلْ وَلَدَتْ؟» ، قَالَ: نَعَمْ، قَالَ: «فَاذْبَحْ لَنَا شَاةً» ، ثُمَّ أَقْبَلَ عَلَيْنَا فَقَالَ: «لَا تَحْسَبَنَّ إِنَّا ذَبَحْنَا الشَّاةَ مِنْ أَجْلِكُمَا، لَنَا غَنَمٌ مِائَةٌ لَا نُرِيدُ أَنْ تَزِيدَ عَلَيْهَا فَإِذَا وَلَّدَ الرَّاعِي بَهْمَةً أَمَرْنَاهُ بِذَبْحِ شَاةٍ»
“Apakah kalian sudah diberikan makan sesuatu?” Kami berkata, ‘Ya, Ya Rasulullah’. Maka disaat kami dalam keadaan demikian, seorang penggembala kambing menggiring kambing ke dalam kandangnya, sementara di tangannya ada seekor anak kambing.’ Beliau bersabda, ‘Apakah telah beranak?’ Dia menjawab, ‘Ya.’ Beliau bersabda, ‘Maka sembelihkanlah untuk kami seekor domba betina’. Kemudian beliau menemui kami seraya bersabda, ‘Janganlah sekali-kali kalian menyangka bahwa kami menyembelih kambing betina adalah karena kalian berdua, kami memiliki seratus kambing, kami tidak ingin bertambah melebihinya, maka jika kambing gembalaan melahirkan anak, maka kami perintahkan untuk menyembelih seekor domba betina.” ([1])
Di dalam ‘Aunul Ma’buud, ‘Yataqalla’u, adalah bentuk mudhari’ dari at-taqallu’, yang dimaksud disini adalah kuatnya jalan beliau, seakan-akan mengangkat kedua kaki beliau dari bumi dengan pengangkatan yang kuat…’([2])
(Dzabahnaa as-syaata), Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam ingin berkata, ‘Sesungguhnya kami tidak membebani diri dengan kesusahan untuk kalian dengan menyembelih kambing’, agar mereka tidak menolak dari beliau, dan agar beliau berlepas dari rasa takjub, dan dugaan pada diri sang tamu.
(Amarnaa bidzabhi syaatan): maka janganlah kalian menyangka aku bahwa aku membebani diriku dengan kesusahan untuk kalian. Dan yang nyata dari sabda ini adalah bahwa mereka, tatkala mereka mendengar perintah Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam untuk menyembelih, mereka meminta udzur kepada beliau, seraya mereka berkata, ‘Janganlah Anda menyusahkan diri untuk kami’, Maka Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam menjawab mereka dengan sabda beliau, ‘Janganlah kalian menyangka’ inilah yang difahami dari jalannya kejadian.’ ([3])
(Di alih bahasakan dari Kitab Muraa’aatu al-Masyaa’ir, Muhammad Shalih al-Munajjid)
_______________
Footnote:
([1]) HR. Ahmad (16384), Abu Dawud (142, 143), dishahihkan oleh al-Albaniy.






