Bodoh, Pengecut, Bakhil, & Sedih Gara-Gara Anak

Pendahuluan

 

Anak merupakan salah satu anugerah terbesar dan perhiasan kehidupan dunia, sekaligus amanah dari Allah Subhanahu wa Ta’ala. Rasa cinta kepada anak adalah fitrah yang tertanam kuat dalam naluri setiap orang tua([1]).

 

Namun, cinta yang berlebihan dan tidak dibimbing oleh keimanan berpotensi menjerumuskan manusia ke dalam berbagai kelalaian dan kelemahan moral spiritual([2]).

 

Al-Qur’an menegaskan bahwa harta dan anak-anak adalah ujian (fitnah):

 

﴿إِنَّمَا أَمْوَالُكُمْ وَأَوْلَادُكُمْ فِتْنَةٌ وَاللَّهُ عِنْدَهُ أَجْرٌ عَظِيمٌ﴾

 

“Sesungguhnya hartamu dan anak-anakmu hanyalah cobaan (bagimu), dan di sisi Allah-lah pahala yang besar.” ([3])

 

Nabi Muhammad ﷺ menjelaskan tabiat psikologis orang tua ketika berinteraksi dengan anak-anak melalui sebuah hadits yang menggunakan redaksi mabkhalah, majbanah, majhalah, dan mahzanah([4])

 

Takhrij dan Autentisitas Hadits

 

Hadits ini diriwayatkan melalui beberapa jalur sahabat dengan beberapa variasi redaksi:

 

  1. Jalur Sahabat Ya’la bin Murrah (atau Ya’la Al-‘Amiri) radhiyallahu ‘anhu:

 

جَاءَ الْحَسَنُ وَالْحُسَيْنُ يَسْعَيَانِ إِلَى النَّبِيِّ ﷺ فَضَمَّهُمَا إِلَيْهِ وَقَالَ: «إِنَّ الْوَلَدَ مَبْخَلَةٌ مَجْبَنَةٌ»

 

“Al-Hasan dan Al-Husain datang berlari menuju Nabi ﷺ, lalu beliau mendekap keduanya ke dadanya dan bersabda: ‘Sesungguhnya anak itu menjadi penyebab sifat kikir dan pengecut.'”([5])

 

Diriwayatkan oleh Ibnu Majah dalam kitab Sunan-nya, Imam Ahmad bin Hanbal dalam Musnad-nya, serta dinilai sahih sanadnya oleh para ulama hadits seperti Al-Hafizh Al-Iraqi dan Al-Bushiri([6]).

 

  1. Jalur Sahabat Al-Aswad bin Khalaf radhiyallahu ‘anhu:

 

«إِنَّ الْوَلَدَ مَبْخَلَةٌ مَجْبَنَةٌ مَجْهَلَةٌ مَحْزَنَةٌ»

 

   “Sesungguhnya anak itu menjadi penyebab kekikiran, kepengecutan, kebodohan, dan kesedihan.”([7])

 

   Diriwayatkan oleh Imam Al-Hakim dalam Al-Mustadrak ala Ash-Shahihain dan beliau menilainya sahih sesuai syarat Imam Muslim, serta disepakati oleh Imam Adz-Dzahabi([8]).

 

  1. Jalur Sahabat Khaulah binti Hakim radhiyallahu ‘anha:

 

«إِنَّكُمْ لَتُبَخِّلُونَ وَتُجَبِّنُونَ وَتُجَهِّلُونَ وَإِنَّكُمْ لَمِنْ رَيْحَانِ اللهِ»

 

“Sesungguhnya kalian (wahai anak-anak) benar-benar membuat (orang tua) menjadi kikir, menjadi pengecut, dan menjadi bodoh, namun sesungguhnya kalian termasuk wewangian/rezeki dari Allah.” ([9])

 

Diriwayatkan oleh At-Tirmidzi, Imam Ahmad, dan At-Thabarani([10]).

 

  1. Jalur Sahabat Abu Sa’id Al-Khudri radhiyallahu ‘anhu:

 

«الْوَلَدُ ثَمَرَةُ الْقَلْبِ، وَإِنَّهُ مَجْبَنَةٌ مَبْخَلَةٌ مَحْزَنَةٌ»

 

   “Anak adalah buah hati, dan sesungguhnya ia menjadi penyebab sifat pengecut, kikir, dan sedih.”([11])

 

Diriwayatkan oleh Abu Ya’la dan Al-Bazzar([12]).

 

 

Analisis Kebahasaan (Struktur Morfologi)

 

Secara tata bahasa Arab, kata-kata mabkhalah (مَبْخَلَة), majbanah (مَجْبَنَة), majhalah (مَجْهَلَة), dan mahzanah (مَحْزَنَة) berwazan maf’alah (مَفْعَلَة) ([13]).

 

– Menurut ahli bahasa dan pensyarah hadits seperti Ibnul Atsir dalam kitab An-Nihayah fi Gharib al-Hadits, pola maf’alah di sini berfungsi sebagai isim sabab atau mazhinnah (faktor pemicu atau tempat timbulnya sesuatu perbuatan) ([14]).

 

– Maknanya bukan berarti zat sang anak itu adalah keburukan itu sendiri, melainkan keberadaan anak mendorong dan memicu timbulnya sifat-sifat tersebut pada diri orang tua([15]).

 

 

Penjelasan Makna Istilah (Syarah Hadits)

 

Para pensyarah hadits seperti Imam Al-Munawi dan Imam Al-Mawardi menguraikan keempat sifat tersebut sebagai berikut:

 

 Mabkhalah (مَبْخَلَة – Penyebab Kekikiran)

 

  Kecintaan orang tua kepada anak memicu timbulnya rasa takut akan masa depan ekonomi mereka([16]).

 

Akibatnya, orang tua menahan hartanya dari infak, sedekah, dan pengeluaran dalam ketaatan karena ingin menimbun harta demi kepentingan keturunannya([17]).

 

Majbanah (مَجْبَنَة – Penyebab Kepengecutan)

 

Kasih sayang kepada anak membuat seseorang takut kehilangan nyawanya, enggan berjihad, atau mundur dari menyatakan kebenaran (amar ma’ruf nahi munkar)([18]).

 

Hal ini dilatari oleh kekhawatiran meninggalkan anak-anak dalam keadaan terlantar dan menjadi yatim([19]).

 

Majhalah (مَجْهَلَة – Penyebab Kebodohan/Ketiadaan Ilmu)

 

Kesibukan orang tua dalam mencari nafkah dan mengurusi urusan domestik anak-anak sering kali menyita waktu sehingga membuat mereka meninggalkan majelis ilmu, malas menuntut ilmu syariat, dan tidak memperdalam pemahaman agama (tafaqquh fiddin) ([20]).

 

Sebagian ulama juga menafsirkannya sebagai sikap orang tua yang kerap bertindak kekanak-kanakan demi menyenangkan anak sehingga mengabaikan tuntutan akal yang matang([21]).

 

Mahzanah (مَحْزَنَة – Penyebab Kesedihan)

 

  Hubungan batin yang kuat menjadikan orang tua senantiasa diliputi rasa cemas dan sedih: bersedih tatkala anak jatuh sakit, berduka bila tidak mampu memenuhi tuntutan kebutuhan anak, atau sangat terpukul apabila anak bersikap durhaka maupun meninggal dunia([22]).

 

Konteks Fiqh dan Pesan Edukatif Hadits

 

  1. Bukan Larangan Memiliki Anak atau Menikah

 

Penyebutan hadits ini bukan bertujuan mencela kehadiran anak atau melarang seseorang memiliki keturunan([23]).

 

Konteks wurud (sebab keluarnya hadits) menunjukkan bahwa Nabi ﷺ mengucapkan hal tersebut justru ketika sedang memangku, memeluk, dan mencium cucu beliau, Al-Hasan bin Ali dan Al-Husain bin Ali radhiyallahu ‘anhuma([24]).

 

  1. Peringatan Psikologis (Tahdzir)

 

Hadits ini memberikan bimbingan edukatif agar orang tua menyadari potensi kelemahan diri yang lahir dari kasih sayang fitrah tersebut([25]).

 

Orang tua dituntut melakukan mujahadatun nafs (pengendalian diri) agar kecintaan kepada anak tidak melampaui batas kecintaan kepada Allah dan Rasul-Nya serta tidak mengorbankan kewajiban syariat([26]).

 

Kesimpulan

 

Hadits tentang kedudukan anak sebagai majbanah, mabkhalah, majhalah, dan mahzanah merupakan gambaran faktual dan realistis atas dampak psikologis kecintaan orang tua terhadap anak-anaknya([27]).

 

Status hadits ini sahih melalui berbagai jalur penguatnya([28]).

 

Nilai edukatif yang terkandung di dalamnya menekankan bahwa kehadiran buah hati harus senantiasa diimbangi dengan ketakwaan dan pengelolaan hati, sehingga cinta kepada anak menjadi sarana meraih rida Allah dan bukan penghalang dari ketaatan([29]).

 

_________________________

Footnote:

([1])    Tafsir al-Manar (9/536)

([2])    al-Tafsir al-Mamun ala Manhaj al-Tanzil wa al-Sahih al-Masnun (3/354); Tafsir al-Manar (9/536)

([3])    al-Tafsir al-Mamun ala Manhaj al-Tanzil wa al-Sahih al-Masnun (8/83)

([4])    Fatawa al-Shabaka al-Islamiyya (3/1101); al-Tanwir Sharh al-Jami al-Saghir (3/549)

([5])    Fatawa al-Shabaka al-Islamiyya (3/1101); Musnad al-Shihab (1/49)

([6])    Fatawa al-Shabaka al-Islamiyya (3/1101); al-Matalib al-Aliya Muhaqqaqan (12/227)

 

([7])    Fatawa al-Shabaka al-Islamiyya (3/1101); al-Tanwir Sharh al-Jami al-Saghir (3/549)

([8])    Fatawa al-Shabaka al-Islamiyya (3/1101); Muntaha al-Suul ala Wasail al-Wusul ila Shamail al-Rasul (4/81)

([9])    Tuhfat al-Ahwadhi (6/32); Khutab wa Durus al-Shaykh Abd al-Rahim al-Tahhan (134/31)

([10])   al-Matalib al-Aliya Muhaqqaqan (12/227); Muntaha al-Suul ala Wasail al-Wusul ila Shamail al-Rasul (4/81)

([11])   al-Tafsir al-Mamun ala Manhaj al-Tanzil wa al-Sahih al-Masnun (8/83); Majma al-Zawaid wa Manba al-Fawaid (8/154)

([12])   al-Tafsir al-Mamun ala Manhaj al-Tanzil wa al-Sahih al-Masnun (8/83); Majma al-Zawaid wa Manba al-Fawaid (8/154)

([13])   al-Tanwir Sharh al-Jami al-Saghir (3/549); Dirasat fi al-Nahw (1/110)

([14])   Dirasat fi al-Nahw (1/110); al-Nihaya fi Gharib al-Hadith wal-Athar (1/103)

([15])   Dirasat fi al-Nahw (1/110)

([16])   Takhrij Ahadith Ihya Ulum al-Din (4/1942); Zahirat Da’f al-Iman (1/29)

([17])   Takhrij Ahadith Ihya Ulum al-Din (4/1942); Majallat al-Buhuth al-Islamiyya (53/131)

([18])   Fatawa al-Shabaka al-Islamiyya (3/1101); Durus li al-Shaykh Muhammad al-Munajjid (147/17)

([19])   Takhrij Ahadith Ihya Ulum al-Din (4/1942); Zahirat Da’f al-Iman (1/29)

([20])   Fatawa al-Shabaka al-Islamiyya (3/1101); Majallat al-Buhuth al-Islamiyya (53/131); Sharh Usul I’tiqad Ahl al-Sunna li al-Lalakai (14/11)

([21])   al-Dhakhair wa al-Abqariyat (1/29)

([22])   Fatawa al-Shabaka al-Islamiyya (3/1101); Zahirat Da’f al-Iman (1/29)

([23])   Khutab wa Durus al-Shaykh Abd al-Rahim al-Tahhan (134/32);  Zahirat Da’f al-Iman (1/29)

([24])   Fatawa al-Shabaka al-Islamiyya (3/1101); Takhrij Ahadith Ihya Ulum al-Din (4/1942)

([25])   Khutab wa Durus al-Shaykh Abd al-Rahim al-Tahhan (134/32); Zahirat Da’f al-Iman (1/29)

([26])   Khutab wa Durus al-Shaykh Abd al-Rahim al-Tahhan (134/32); Mirqat al-Mafatih Sharh Mishkat al-Masabih (7/2970)

([27])   al-Tanwir Sharh al-Jami al-Saghir (3/549); Muntaha al-Suul ala Wasail al-Wusul ila Shamail al-Rasul (4/81)

([28])   Fatawa al-Shabaka al-Islamiyya (3/1101); Muntaha al-Suul ala Wasail al-Wusul ila Shamail al-Rasul (4/81)

([29])   Mirqat al-Mafatih Sharh Mishkat al-Masabih (7/2970); Zahirat Da’f al-Iman (1/28)

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *