Pelajaran Sirah Nabawiyah: Penggunaan Jasa Non-Muslim Sebagai Penunjuk Jalan Hijrah ke Madinah

Pendahuluan

 

Peristiwa hijrah Nabi Muhammad ﷺ dari Makkah ke Madinah merupakan momentum penting dalam sejarah Islam yang sarat dengan strategi, keteladanan, serta prinsip-prinsip syariat([1]).

 

Salah satu fakta historis yang sangat menarik dalam peristiwa ini adalah keputusan Nabi ﷺ dan Abu Bakar ash-Shiddiq menyewa jasa seorang non-Muslim bernama Abdullah bin Uraiqith sebagai penunjuk jalan (dalil / khirrit)([2]).

 

Tindakan ini memberikan landasan metodologis yang kaya mengenai interaksi umat Islam dengan non-Muslim, hukum muamalah profesional, pemanfaatan keahlian, dan penerapan prinsip ikhtiar (al-akhdzu bil-asbab) ([3]).

 

Teks Hadis dan Konteks Sejarah

 

Peristiwa penyewaan jasa penunjuk jalan ini diriwayatkan secara sahih oleh Imam al-Bukhari dari Ummul Mukminin Aisyah:

 

«وَاسْتَأْجَرَ رَسُولُ اللهِ ﷺ وَأَبُو بَكْرٍ رَجُلًا مِنْ بَنِي الدِّيلِ، هَادِيًا خِرِّيتًا، وَهُوَ عَلَى دِينِ كُفَّارِ قُرَيْشٍ، فَدَفَعَا إِلَيْهِ رَاحِلَتَيْهِمَا، وَوَاعَدَاهُ غَارَ ثَوْرٍ بَعْدَ ثَلَاثِ لَيَالٍ، بِرَاحِلَتَيْهِمَا صُبْحَ ثَلَاثٍ»

 

“Rasulullah ﷺ dan Abu Bakar menyewa seorang laki-laki dari Bani ad-Dil yang merupakan penunjuk jalan yang sangat mahir (khirrit), sedangkan ia masih memeluk agama kafir Quraisy. Keduanya menyerahkan tunggangan mereka kepadanya dan membuat janji temu di Gua Tsur setelah tiga malam dengan membawa kedua tunggangan tersebut pada pagi hari ketiga.” ([4])

 

Secara etimologi dan terminologi, kata al-khirrit bermakna penunjuk jalan yang sangat ahli, tajam pengamatannya, serta menguasai jalur-jalur tersembunyi dan medan yang sulit di padang pasir layaknya menembus lubang jarum([5]).

 

Abdullah bin Uraiqith dipercaya menjaga rahasia dan membawa dua unta perjalanan tersebut menuju Gua Tsur pada waktu yang disepakati, lalu memandu perjalanan melalui rute pesisir yang tidak lazim guna menghindari kejaran kaum musyrikin([6]).

 

Pelajaran dan Analisis Fiqih-Strategis

 

  1. Kebolehan Akad Ijarah (Sewa Jasa) dan Bekerja Sama dengan Non-Muslim

 

Para ulama menjadikan hadis ini sebagai dalil diperbolehkannya akad sewa-menyewa (ijarah) dan meminta bantuan teknis (isti’anah) kepada non-Muslim dalam urusan-urusan duniawi yang mubah([7]).

 

Ibnu al-Qayyim menjelaskan hikmah penting dari peristiwa ini:

 

“Penyewaan Abdullah bin Uraiqith ad-Daili sebagai penunjuk jalan pada saat hijrah oleh Nabi ﷺ padahal ia berstatus kafir merupakan dalil bolehnya merujuk kepada non-Muslim dalam bidang kedokteran, pengobatan, penulisan, hitungan/akuntansi, penaksiran cacat barang, dan semisalnya, selama bukan dalam ranah kekuasaan/jabatan (wilayah) yang mensyaratkan sifat adil keagamaan. Seseorang tidak otomatis mustahil dipercaya dalam segala hal hanya karena status kekafirannya, sebab tidak ada perkara yang lebih berisiko daripada penunjukan jalan, lebih-lebih rute perjalanan hijrah.” ([8])

 

Kaidah ini juga dikuatkan oleh Ibnu Taimiyyah, yang mengaitkannya dengan firman Allah ﷻ mengenai sifat amanah sebagian kalangan non-Muslim([9]):

 

﴿۞ وَمِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ مَنْ إِن تَأْمَنْهُ بِقِنطَارٍ يُؤَدِّهِ إِلَيْكَ وَمِنْهُم مَّنْ إِن تَأْمَنْهُ بِدِينَارٍ لَّا يُؤَدِّهِ إِلَيْكَ إِلَّا مَا دُمْتَ عَلَيْهِ قَائِمًا ۗ﴾

 

“Di antara Ahli Kitab ada orang yang jika engkau percayakan kepadanya harta yang banyak, dikembalikannya kepadamu; dan ada pula yang jika engkau percayakan kepadanya satu dinar, tidak dikembalikannya kepadamu kecuali jika engkau selalu menagihnya.” (QS. Ali ‘Imran: 75)([10])

 

  1. Membedakan antara Hubungan Loyalitas (Muwalat) dan Transaksi Muamalah

 

Islam melarang memberikan loyalitas keagamaan (muwalat) atau menyerahkan otoritas kekuasaan umum (wilayah syar’iyyah) kepada pihak non-Muslim yang memusuhi Islam([11]).

 

Namun, akad profesional berbasis transaksi (mu’awadhah), jual beli, sewa jasa, atau transfer keahlian praktis bukanlah bentuk loyalitas yang dilarang, melainkan muamalah murni yang dibenarkan syariat([12]).

 

  1. Standar Profesionalisme dan Kompetensi (Al-Kafa’ah)

 

Nabi ﷺ memilih Abdullah bin Uraiqith karena kualifikasi teknis yang unggul (khirrit) dan integritas moralnya yang tidak berkhianat terhadap perjanjian([13]).

 

Hal ini memberikan panduan manajerial bahwa dalam urusan keahlian teknis dan fungsional, umat Islam dituntut mengedepankan kompetensi dan rekam jejak profesionalisme([14]).

 

  1. Prinsip Manajemen Risiko dan Keamanan

 

Penggunaan jasa Abdullah bin Uraiqith juga merupakan bagian dari kalkulasi keamanan (security management) yang matang([15]):

 

– Abdullah bin Uraiqith memiliki ikatan sumpah setia dengan kabilah Bani Sahm (al-Ash bin Wa’il), sehingga mobilitasnya membawa unta keluar Makkah tidak menimbulkan kecurigaan kafir Quraisy([16]).

 

– Ia memandu melalui rute pesisir barat yang terjal dan jarang dilewati, mengecoh patroli musuh yang memusatkan pencarian di jalur perdagangan utama([17]).

 

  1. Tawakal yang Sempurna Beriringan dengan Ikhtiar (Al-Akhdzu bil-Asbab)

 

Meskipun Nabi ﷺ memperoleh jaminan perlindungan dan mukjizat dari Allah ﷻ, beliau tetap menggunakan segenap sarana material terbaik yang tersedia([18]).

 

Mengambil sebab-sebab lahiriah seperti merekrut pemandu ahli, menyiapkan perbekalan, dan merahasiakan rute merupakan wujud ketundukan pada sunnatullah di alam semesta tanpa mencederai hakikat tawakal kepada Allah([19]).

 

Kesimpulan

 

Peristiwa digunakannya jasa Abdullah bin Uraiqith dalam hijrah Nabawiyah menegaskan fleksibilitas syariat Islam dalam bidang muamalah dan strategi keduniaan([20]).

 

Umat Islam diperbolehkan memanfaatkan ilmu, teknologi, keahlian, dan tenaga profesional dari pihak mana pun—termasuk non-Muslim—selama pihak tersebut dapat dipercaya (amin), tidak membahayakan stabilitas dan keamanan kaum muslimin, serta tidak menyangkut perwalian hukum dan agama yang khusus bagi orang beriman([21]).

 

(Terinspirasi oleh Sambutan guru kami, DR. KH. Agus Hasan Bashori, Lc., M.Ag dalam acara Workshop GTK SMPI – MA AL-UMM, Malan, 9 September 2026 di PP. Al-Umm Malang)

____________________

Footnote:

([1])    al-Asas fi al-Sunna wa Fiqhiha (1/357); Sahih al-Athar wa Jamil al-Ibar min Sirat Khayr al-Bashar ﷺ (1/162)

([2])    Sahih al-Bukhari (2/346); Badai al-Fawaid (3/208)

([3])    Durus li al-Shaykh Muhammad al-Munajjid (48/7); Usul al-Dawah wa Turuquha 3 (1/168)

([4])    Sahih al-Bukhari (2/346)

([5])    Dalail al-Nubuwwa (2/475); Takhrij al-Dalalat al-Samiyya (1/441)

([6])    Sahih al-Bukhari (2/346); al-Sira al-Nabawiya (14/5)

([7])    Badai al-Fawaid (3/1169); Nayl al-Awtar Sharh Muntaqa al-Akhbar (5/336)

([8])    Badai al-Fawaid (3/208); Badai al-Fawaid (3/1169)

([9])    Majallat al-Buhuth al-Islamiyya (78/28); Mawsuat Sinaat al-Halal (3/206)

([10])   Majallat al-Buhuth al-Islamiyya (78/28)

([11])   Usul al-Dawah wa Turuquha 3 (1/168); Badai al-Fawaid (3/1169)

([12])   Durus lil-Shaykh Safar al-Hawali (74/24); Majallat Majma al-Fiqh al-Islami (8/1181)

([13])   Dalail al-Nubuwwa (2/475); Fiqh al-Sira lil-Ghazali (1/173)

([14])   Usul al-Dawah wa Turuquha 3 (1/168); Sharh Bulugh al-Maram li Atiyya Salim (220/11)

([15])   al-Asas fi al-Sunna wa Fiqhiha (1/349); al-Sira al-Nabawiya (14/5)

([16])   Sahih al-Bukhari (2/346); al-Sira al-Nabawiyya Kama Ja’at fi al-Ahadith al-Sahiha (1/266)

([17])   Sahih al-Bukhari (2/346); al-Sira al-Nabawiya (14/5)

([18])   Durus li al-Shaykh Muhammad al-Munajjid (48/7); Majallat al-Bayan (221/1)

([19])   al-Asas fi al-Sunna wa Fiqhiha (1/357); Sahih al-Athar wa Jamil al-Ibar min Sirat Khayr al-Bashar (PBUH) (1/162)

([20])   Badai al-Fawaid (3/1169); al-Azab al-Namir min Majalis al-Shinqiti fi al-Tafsir (5/527)

([21])   Badai al-Fawaid (3/1169); al-Sharh al-Mumti ala Zad al-Mustaqni (10/51); Usul al-Dawah wa Turuquha 3 (1/168)

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *