7. Keyakinan sebagian wanita bahwa air (ketuban) yang turun pada wanita hamil sebelum melahirkan adalah penghalang dari puasa.
Maka air ini tidak menghalangi dari puasa, dia tidak memiliki hukum darah nifas.
8. Tidak mengqadha’ hari yang di dalamnya dia haidh beberapa menit sebelum maghrib.
Maka seandainya seorang wanita haidh beberapa menit sebelum maghrib, maka batallah puasanya dan wajib baginya mengqadha`nya.
9. Berbukanya seorang wanita dengan sekedar merasakan pedihnya haidh tanpa keluarnya darah.
Dan ini adalah sebuah kesalahan besar yang sebagian kaum wanita terjerumus di dalamnya. Perkara yang dianggap itu adalah dengan keluarnya darah, adapun sekedar merasakan pedihnya haidh, maka tidak terhitung haidh.
10. Tidak berpuasanya wanita jika dia suci dari nifasnya sebelum sempurnanya hari keempat puluh.
Ini adalah sebuah kesalahan, maka perkara yang dianggap adalah dengan kesucian (dari nifas). Maka jika darah telah terputus sepekan setelah melahirkan, misalnya, dan wanita tersebut melihat tanda-tanda suci, maka dia wajib mandi, shalat dan berpuasa. Dan tidak disyaratkan pada nifasnya untuk dia menunggu hingga empat puluh hari.
At-Tirmidzi rahimahullah berkata, “Para ulama dari kalangan para shabat Nabi ﷺ dan yang setelah mereka telah sepakat (berijma’) bahwa wajib bagi wanita-wanita yang nifas untuk meninggalkan shalat selama empat puluh hari kecuali jika dia melihat kesucian dari darah nifas sebelum itu, maka dia mandi dan shalat.
Akan tetapi yang dimaksud dari hadits Ummu Áthiyah radhiyallaahu ‘anha:
«كَانَتِ النُّفَسَاءُ عَلَى عَهْدِ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ تَقْعُدُ بَعْدَ نِفَاسِهَا أَرْبَعِينَ يَوْمًا – أَوْ أَرْبَعِينَ لَيْلَةً – »
“Adalah dulu kaum wanita di zaman Nabi ﷺ duduk diam (tidak shalat, tidak puasa) selama empat puluh hari -atau empat puluh malam-.” (HR. Abu Dawud dan at-Tirmidzi) ([1])
Maka yang dimaksud dari hadits tersebut adalah bahwa darah nifas, jika terus menerus keluar lebih dari empat puluh hari, maka dia mandi shalat dan berpuasa sekalipun darah masih terus keluar padanya.
Ibnu Qudamah rahimahullah berkata, ‘Jika darah nifas terus keluar lebih dari empat puluh hari, lalu bertetapan dengan kebiasaan haidh, maka dia haidh, dan jika tidak bertetapatan dengan kebiasaan haidh, maka ia berhukum istihadhah.”
(Diterjemahkan oleh Muhammad Syahri dari kitab Akhthaa-unaa Fii Ramadhaan; al-Akhthaa` al-Khaashshah bi an-Nisaa`, Syaikh Nada Abu Ahmad)
_____________________________________________________________
Footnote:
([1]) HR. Abu Dawud (311-312), at-Tirmidzi (139), Ibnu Majah (648), Ahmad (26626), dihasankan oleh al-Albaniy dalam al-Irwa` (201), lihat al-Jaami’ as-Shahiih li as-Sunan wa al-Masaanid (22/373)-pent






