Orang-Orang Tak Bersalah yang Allah Nyatakan Kebersihannya dari Tuduhan

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَٰنِ الرَّحِيمِ

الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى أَشْرَفِ الْأَنْبِيَاءِ وَالْمُرْسَلِينَ، نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِينَ… أَمَّا بَعْدُ:

Segala puji bagi Allah, Rabb semesta alam. Salawat serta salam semoga senantiasa tercurah kepada nabi dan rasul yang paling mulia, Nabi kita Muhammad, beserta seluruh keluarga dan sahabatnya. Amma ba’du:

 

Seorang muslim terkadang diuji dengan berbagai bentuk gangguan sebagai cobaan dan ujian dari Allah Jalla wa ‘Ala. Di antara gangguan yang kerap menimpa adalah didustakan serta dituduh secara zalim dan melampaui batas; dituduh membunuh seseorang, mencuri harta, melakukan perbuatan keji, memiliki aib pada fisiknya, dan perkara serupa. Tuduhan batil nan zalim ini berpotensi mendatangkan hukuman fisik, tekanan batin, pencemaran nama baik, hingga kurungan penjara. Maka dari itu, hendaknya ia bersabar, mengharap pahala di sisi Allah, serta memasrahkan segala urusan kepada-Nya. Sebab Allah Jalla wa ‘Ala Mahakuasa membersihkan nama orang yang dituduh secara zalim, dusta, dan difitnah melalui berbagai jalan serta perantara yang tak terlintas dalam benak. Sebagaimana Dia Subhanahu wa Ta’ala telah membuktikan kebersihan nama sosok yang diajak bicara oleh-Nya yakni Musa, serta nabi-Nya Yusuf ‘alaihimas shalatu was salam, Ummul Mukminin Aisyah radhiyallahu ‘anha, dan Maryam putri Imran.

 

قَالَ الإِمَامُ الزَّمَخْشَرِيُّ رَحِمَهُ اللَّهُ: «لَقَدْ بَرَّأَ اللَّهُ تَعَالَى أَرْبَعَةً بِأَرْبَعَةٍ: بَرَّأَ يُوسُفَ بِلِسَانِ الشَّاهِدِ: ﴿وَشَهِدَ شَاهِد مِّن أَهلِهَآ﴾ [يوسف: 26]، وَبَرَّأَ مُوسَى مِنْ قَوْلِ الْيَهُودِ فِيهِ، بِالْحَجَرِ الَّذِي ذَهَبَ بِثَوْبِهِ، وَبَرَّأَ مَرْيَمَ بِإِنْطَاقِ وَلَدِهَا حِينَ نَادَى مِنْ حِجْرِهَا: ﴿إِنِّي عَبدُ ٱللَّهِ﴾ [مريم: 30]، وَبَرَّأَ عَائِشَةَ بِهَذِهِ الْآيَاتِ الْعِظَامِ فِي كِتَابِهِ الْمُعْجِزِ، الْمَتْلُوِّ عَلَى وَجْهِ الدَّهْرِ».

 

Imam Az-Zamakhsyari rahimahullah bertutur: “Sungguh Allah Ta’ala telah menyucikan empat sosok manusia melalui empat perantara: Dia menyucikan Yusuf melalui lisan seorang saksi:

 

﴿وَشَهِدَ شَاهِد مِّن أَهلِهَآ﴾

 

‘Dan seorang saksi dari keluarga wanita itu memberikan kesaksian.’ [QS. Yusuf: 26]

 

Dia menyucikan Musa dari ucapan kaum Yahudi tentang dirinya melalui batu yang membawa lari pakaiannya. Dia menyucikan Maryam dengan membuat putranya mampu berbicara saat menyeru dari pangkuannya:

 

﴿إِنِّي عَبدُ ٱللَّهِ﴾

 

‘Sesungguhnya aku ini hamba Allah.’ [QS. Maryam: 30]

 

Dan Dia menyucikan Aisyah melalui ayat-ayat agung ini di dalam kitab mukjizat-Nya yang senantiasa dibaca sepanjang masa.”

 

Membaca kisah-kisah orang yang dituduh secara zalim kemudian dinyatakan kebersihannya oleh Allah merupakan pelipur lara bagi setiap insan yang teraniaya.

 

قَالَ الْعَلَّامَةُ الْعُثَيْمِينُ رَحِمَهُ اللهُ فِي قَوْلِ اللهِ تَعَالَى: ﴿يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ لَا تَكُونُواْ كَالَّذِينَ ءَاذَواْ مُوسَىٰ فَبَرَّأَهُ ٱللهُ مِمَّا قَالُواْۚ وَكَانَ عِندَ ٱللهِ وَجِيهًا﴾ [الأحزاب: 69]: «مِنْ فَوَائِدِ الْآيَةِ الْكَرِيمَةِ عِنَايَةُ اللهِ تَعَالَى بِرَسُولِهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، حَيْثُ يَضْرِبُ لَهُ الْأَمْثَالَ بِمَنْ سَبَقَهُ مِنَ الرُّسُلِ، لِأَجْلِ التَّسْلِيَةِ وَتَهْوِينِ الْأَمْرِ عَلَيْهِ».

 

Al-‘Allamah Al-‘Utsaimin rahimahullah menguraikan firman Allah Ta’ala:

 

﴿يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ لَا تَكُونُواْ كَالَّذِينَ ءَاذَواْ مُوسَىٰ فَبَرَّأَهُ ٱللهُ مِمَّا قَالُواْۚ وَكَانَ عِندَ ٱللهِ وَجِيهًا﴾

 

“Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kalian menjadi seperti orang-orang yang menyakiti Musa; lalu Allah membersihkannya dari tuduhan-tuduhan yang mereka katakan. Dan dia adalah seorang yang mempunyai kedudukan terhormat di sisi Allah.” [QS. Al-Ahzab: 69]

 

“Di antara faedah ayat mulia ini adalah perhatian besar Allah Ta’ala terhadap Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam, yang mana Allah membuat permisalan bagi beliau dengan para rasul terdahulu, sebagai bentuk penghibur hati dan peringan bebannya.”

 

Berikut adalah beberapa sosok yang pernah difitnah dan dituduh secara zalim serta melampaui batas, lalu Allah ‘Azza wa Jalla membersihkan nama mereka:

 

1. Nabi Allah Musa ‘alaihissalatu wassalam

 

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: ((إِنَّ مُوسَى كَانَ رَجُلًا حَيِيًّا سَتِيرًا، لَا يُرَى مِنْ جِلْدِهِ شَيْءٌ اسْتِحْيَاءً مِنْهُ، فَآذَاهُ مَنْ آذَاهُ مِنْ بَنِي إِسْرَائِيلَ، فَقَالُوا: مَا يَسْتَتِرُ هَذَا التَّسَتُّرَ إِلَّا مِنْ عَيْبٍ فِي جِلْدِهِ، إِمَّا بَرَصٌ، وَإِمَّا أُدْرَةٌ، وَإِمَّا آفَةٌ، وَإِنَّ اللَّهَ أَرَادَ أَنْ يُبَرِّئَهُ مِمَّا قَالُوا لِمُوسَى، فَخَلَا يَوْمًا وَحْدَهُ فَوَضَعَ ثِيَابَهُ عَلَى الْحَجَرِ، ثُمَّ اغْتَسَلَ، فَلَمَّا فَرَغَ أَقْبَلَ إِلَى ثِيَابِهِ لِيَأْخُذَهَا، وَإِنَّ الْحَجَرَ عَدَا بِثَوْبِهِ، فَأَخَذَ مُوسَى عَصَاهُ وَطَلَبَ الْحَجَرَ، فَجَعَلَ يَقُولُ: ثَوْبِي حَجَرُ، ثَوْبِي حَجَرُ، حَتَّى انْتَهَى إِلَى مَلَإٍ مِنْ بَنِي إِسْرَائِيلَ، فَرَأَوْهُ عُرْيَانًا أَحْسَنَ مَا خَلَقَ اللَّهُ، وَأَبْرَأَهُ مِمَّا يَقُولُونَ، وَقَامَ الْحَجَرُ، فَأَخَذَ ثَوْبَهُ فَلَبِسَهُ، وَطَفِقَ بِالْحَجَرِ ضَرْبًا بِعَصَاهُ، فَوَاللَّهِ إِنَّ بِالْحَجَرِ لَنَدَبًا مِنْ أَثَرِ ضَرْبِهِ ثَلَاثًا أَوْ أَرْبَعًا أَوْ خَمْسًا، فَذَلِكَ قَوْلُهُ تَعَالَى: ﴿يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ لَا تَكُونُواْ كَٱلَّذِينَ ءَاذَوۡاْ مُوسَىٰ فَبَرَّأَهُ ٱللَّهُ مِمَّا قَالُواْۚ وَكَانَ عِندَ ٱللَّهِ وَجِيهٗا﴾ [الأحزاب: 69])). [رَوَاهُ الْبُخَارِيُّ].

 

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Sesungguhnya Musa adalah seorang laki-laki yang sangat pemalu lagi senantiasa menutup diri, tidak tampak sedikit pun dari kulit badannya karena rasa malunya. Lalu sebagian kaum Bani Israil mengganggunya sembari melontarkan tuduhan: ‘Tidaklah dia menutup diri serapat ini melainkan karena ada cacat pada kulitnya; entah kusta, buah zakar yang bengkak, atau penyakit lainnya.’ Dan sesungguhnya Allah hendak membersihkan Musa dari apa yang mereka katakan. Suatu hari Musa menyendiri, ia meletakkan pakaiannya di atas sebuah batu, kemudian mandi. Tatkala rampung, ia menghampiri pakaiannya untuk mengambilnya, namun batu itu bergulir lari membawa pakaiannya. Musa mengambil tongkatnya lalu mengejar batu itu sembari berseru: ‘Pakaianku, wahai batu! Pakaianku, wahai batu!’ Hingga akhirnya ia tiba di hadapan sekumpulan pemuka Bani Israil. Mereka pun melihatnya dalam keadaan telanjang sebagai sosok ciptaan Allah yang paling elok rupa dan posturnya, sehingga Allah membersihkannya dari tuduhan yang mereka gembar-gemborkan. Lalu batu itu berhenti, Musa pun mengambil pakaiannya dan mengenakannya, lantas memukul batu tersebut dengan tongkatnya. Demi Allah, sungguh pada batu itu berbekas akibat pukulannya sebanyak tiga, empat, atau lima bekas pukulan. Itulah maksud firman Allah Ta’ala:

 

﴿يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ لَا تَكُونُواْ كَٱلَّذِينَ ءَاذَوۡاْ مُوسَىٰ فَبَرَّأَهُ ٱللَّهُ مِمَّا قَالُواْۚ وَكَانَ عِندَ ٱللَّهِ وَجِيهٗا﴾

 

‘Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kalian menjadi seperti orang-orang yang menyakiti Musa; lalu Allah membersihkannya dari tuduhan-tuduhan yang mereka katakan. Dan dia adalah seorang yang mempunyai kedudukan terhormat di sisi Allah.’ [QS. Al-Ahzab: 69]” [HR. Bukhari]

 

قَالَ الْعَلَّامَةُ السَّعْدِيُّ رَحِمَهُ اللَّهُ: «يُحَذِّرُ تَعَالَى عِبَادَهُ الْمُؤْمِنِينَ عَنْ أَذِيَّةِ رَسُولِهِمْ، مُحَمَّدٍ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، النَّبِيِّ الْكَرِيمِ، الرَّؤُوفِ الرَّحِيمِ… وَأَنْ لَا يَتَشَبَّهُوا بِحَالِ الَّذِينَ آذَوْا مُوسَى بْنَ عِمْرَانَ، كَلِيمَ الرَّحْمَنِ، فَبَرَّأَهُ اللَّهُ مِمَّا قَالُوا مِنَ الْأَذِيَّةِ، أَيْ أَظْهَرَ اللَّهُ لَهُمْ بَرَاءَتَهُ… وَالْأَذِيَّةُ الْمُشَارُ إِلَيْهَا هِيَ قَوْلُ بَنِي إِسْرَائِيلَ عَنْ مُوسَى لَمَّا رَأَوْا شِدَّةَ حَيَائِهِ وَتَسَتُّرِهِ عَنْهُمْ: “إِنَّهُ مَا يَمْنَعُهُ مِنْ ذَلِكَ إِلَّا أَنَّهُ آدَرُ” أَيْ: كَبِيرُ الْخُصْيَتَيْنِ، وَاشْتَهَرَ ذَلِكَ عِنْدَهُمْ، فَأَرَادَ أَنْ يُبَرِّئَهُ مِنْهُمْ، فَاغْتَسَلَ يَوْمًا، وَوَضَعَ ثَوْبَهُ عَلَى حَجَرٍ، فَفَرَّ الْحَجَرُ بِثَوْبِهِ، فَأَهْوَى مُوسَى عَلَيْهِ السَّلَامُ فِي طَلَبِهِ، فَمَرَّ بِهِ عَلَى مَجَالِسِ بَنِي إِسْرَائِيلَ، فَرَأَوْهُ أَحْسَنَ خَلْقِ اللَّهِ، فَزَالَ عَنْهُ مَا رَمَوْهُ بِهِ».

 

Al-‘Allamah As-Sa’di rahimahullah memaparkan: “Allah Ta’ala memperingatkan hamba-hamba-Nya yang beriman agar tidak menyakiti Rasul mereka, Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, seorang nabi yang mulia, amat penyantun lagi penyayang… dan agar mereka tidak menyerupai tingkah laku kaum yang menyakiti Musa bin Imran, sang Kalimur Rahman, lalu Allah membersihkannya dari gangguan yang mereka lontarkan, yakni Allah menampakkan kebersihan dirinya kepada mereka… Gangguan yang dimaksud adalah anggapan Bani Israil perihal Musa tatkala mereka melihat betapa besar rasa malunya dan tertutupnya ia dari mereka: ‘Tidak ada yang menghalanginya berbuat demikian kecuali karena ia menderita adarah (penyakit berupa pembesaran testis).’ Perkataan itu tersebar luas di kalangan mereka, maka Allah berkehendak menyucikan Musa dari tuduhan mereka. Suatu hari ia mandi dan meletakkan pakaiannya di atas batu. Batu itu pun lari membawa pakaiannya, lalu Musa ‘alaihissalam mengejarnya hingga melintasi tempat-tempat perkumpulan Bani Israil. Mereka lantas menyaksikannya sebagai manusia dengan penciptaan fisik paling sempurna, maka sirnalah tuduhan dusta yang mereka arahkan kepadanya.”

 

2. Nabi Allah Yusuf ‘alaihissalatu wassalam

 

قَالَ الْعَلَّامَةُ السَّعْدِيُّ رَحِمَهُ اللَّهُ: «يُوسُفُ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ، بَقِيَ مُكَرَّمًا فِي بَيْتِ الْعَزِيزِ، وَكَانَ لَهُ مِنَ الْجَمَالِ وَالْكَمَالِ وَالْبَهَاءِ مَا أَوْجَبَ ذَلِكَ أَنْ ﴿وَرَٰوَدَتۡهُ ٱلَّتِي هُوَ فِي بَيۡتِهَا عَن نَّفۡسِهِۦ﴾… وَزَادَتِ الْمُصِيبَةُ بِأَنْ ﴿غَلَّقَتِ ٱلۡأَبۡوَٰبَ﴾ وَصَارَ الْمَحَلُّ خَالِيًا وَهُمَا آمِنَانِ مِنْ دُخُولِ أَحَدٍ عَلَيْهِمَا وَقَدْ دَعَتْهُ إِلَى نَفْسِهَا ﴿وَقَالَتۡ هَيۡتَ لَكَۚ﴾ أَيْ: افْعَلِ الْأَمْرَ الْمَكْرُوهَ وَأَقْبِلْ إِلَيَّ ﴿قَالَ مَعَاذَ ٱللَّهِۖ﴾ أَيْ أَعُوذُ بِاللَّهِ، أَنْ أَفْعَلَ هَذَا الْفِعْلَ الْقَبِيحَ… وَلَمَّا امْتَنَعَ مِنْ إِجَابَةِ طَلَبِهَا، بَعْدَ الْمُرَاوَدَةِ الشَّدِيدَةِ، وَذَهَبَ لِيَهْرُبَ عَنْهَا وَيُبَادِرَ إِلَى الْخُرُوجِ مِنَ الْبَابِ لِيَتَخَلَّصَ وَيَهْرُبَ مِنَ الْفِتْنَةِ، فَبَادَرَتْ إِلَيْهِ، وَتَعَلَّقَتْ بِثَوْبِهِ، فَشَقَّتْ قَمِيصَهُ، فَلَمَّا وَصَلَا إِلَى الْبَابِ، فِي تِلْكَ الْحَالِ أَلْفَيَا سَيِّدَهَا أَيْ: زَوْجَهَا لَدَى الْبَابِ، فَرَأَى أَمْرًا شَقَّ عَلَيْهِ، فَبَادَرَتْ إِلَى الْكَذِبِ، وَادَّعَتْ أَنَّ الْمُرَاوَدَةَ قَدْ كَانَتْ مِنْ يُوسُفَ… فَبَرَّأَ نَفْسَهُ مِمَّا رَمَتْهُ بِهِ، وَقَالَ: ﴿قَالَ هِيَ رَٰوَدَتۡنِي عَن نَّفۡسِيۚ﴾ فَحِينَئِذٍ احْتَمَلَتِ الْحَالُ صِدْقَ كُلِّ وَاحِدٍ مِنْهُمَا، وَلَمْ يُعْلَمْ أَيُّهُمَا، وَلَكِنَّ اللَّهَ تَعَالَى جَعَلَ لِلْحَقِّ وَالصِّدْقِ عَلَامَاتٍ وَأَمَارَاتٍ تَدُلُّ عَلَيْهِ، قَدْ يَعْلَمُهَا الْعِبَادُ وَقَدْ لَا يَعْلَمُونَهَا، فَمَنَّ اللَّهُ فِي هَذِهِ الْقَضِيَّةِ بِمَعْرِفَةِ الصَّادِقِ مِنْهُمَا، تَبْرِئَةً لِنَبِيِّهِ وَصَفِيِّهِ يُوسُفَ عَلَيْهِ السَّلَامُ، فَبَعَثَ شَاهِدًا مِنْ أَهْلِ بَيْتِهَا يَشْهَدُ بِقَرِينَةٍ مَنْ وُجِدَتْ عَنْهُ فَهُوَ الصَّادِقُ فَقَالَ: ﴿إِن كَانَ قَمِيصُهُۥ قُدَّ مِن قُبُلٖ فَصَدَقَتۡ وَهُوَ مِنَ ٱلۡكَٰذِبِينَ﴾ لِأَنَّ ذَلِكَ يَدُلُّ عَلَى أَنَّهُ هُوَ الْمُقْبِلُ عَلَيْهَا، الْمُرَاوِدُ لَهَا وَأَنَّهَا أَرَادَتْ أَنْ تَدْفَعَهُ عَنْهَا فَشَقَّتْ قَمِيصَهُ مِنْ هَذَا الْجَانِبِ ﴿وَإِن كَانَ قَمِيصُهُۥ قُدَّ مِن دُبُرٖ فَكَذَبَتۡ وَهُوَ مِنَ ٱلصَّٰدِقِينَ﴾ لِأَنَّ ذَلِكَ يَدُلُّ عَلَى هُرُوبِهِ مِنْهَا، وَأَنَّهَا هِيَ الَّتِي طَلَبَتْهُ، فَشَقَّتْ قَمِيصَهُ مِنْ هَذَا الْجَانِبِ. ﴿فَلَمَّا رَءَا قَمِيصَهُۥ قُدَّ مِن دُبُرٖ﴾ عَرَفَ بِذَلِكَ صِدْقَ يُوسُفَ وَبَرَاءَتَهُ، وَأَنَّهَا هِيَ الْكَاذِبَةُ».

 

Al-‘Allamah As-Sa’di rahimahullah menuliskan: “Yusuf ‘alaihissalatu wassalam senantiasa dimuliakan di kediaman Al-‘Aziz. Ia dianugerahi ketampanan, kesempurnaan, serta keelokan rupa yang membuat:

 

﴿وَرَٰوَدَتهُ ٱلَّتِي هُوَ فِي بَيتِهَا عَن نَّفسِهِۦ﴾

 

‘Dan wanita yang Yusuf tinggal di rumahnya menggoda Yusuf untuk menundukkan dirinya (kepadanya)…’

 

Musibah kian memuncak tatkala sang wanita:

 

﴿غَلَّقَتِ ٱلأَبوَٰبَ﴾

 

‘Menutup pintu-pintu dengan rapat.’ Ruangan pun menjadi sunyi dan keduanya merasa aman dari masuknya orang lain, sementara sang wanita mengajaknya melakukan perbuatan nista:

 

﴿وَقَالَت هَيتَ لَكَ﴾

 

‘Dan ia berkata: Marilah ke sini!’ Maksudnya: Lakukanlah perbuatan terlarang ini dan mendekatlah padaku.

 

﴿قَالَ مَعَاذَ ٱللَّهِۖ﴾

 

‘Yusuf berkata: Aku berlindung kepada Allah!’ Maksudnya: Aku berlindung kepada Allah dari mengerjakan perbuatan sekeji ini… Tatkala Yusuf menolak ajakannya setelah godaan yang bertubi-tubi, ia bergegas lari menuju pintu guna meloloskan diri dari fitnah tersebut. Namun sang wanita segera mengejar lalu memegang erat bajunya hingga merobek bagian belakang gamis Yusuf. Saat keduanya tiba di pintu dalam keadaan demikian, mereka mendapati tuannya—yakni sang suami—berada di depan pintu. Sang suami mendapati pemandangan yang menyayat hatinya. Maka wanita itu bergegas berdusta seraya menuduh bahwa Yusuf-lah yang mengajaknya berbuat serong… Yusuf pun menyucikan dirinya dari tuduhan tersebut dengan berkata:

 

﴿قَالَ هِيَ رَٰوَدَتنِي عَن نَّفسِي﴾

 

‘Yusuf berkata: Dia-lah yang menggodaku untuk menundukkan diriku (kepadanya).’

 

Pada saat itu, kedua belah pihak sama-sama memiliki kemungkinan untuk berkata benar dan belum diketahui pihak mana yang jujur. Akan tetapi Allah Ta’ala menjadikan kebenaran dan kejujuran senantiasa bertanda serta berbukti nyata; terkadang tanda itu diketahui manusia, terkadang pula tidak. Maka Allah mengaruniakan terungkapnya siapa yang benar dalam perkara ini demi menyucikan nabi sekaligus hamba pilihan-Nya, Yusuf ‘alaihissalam. Dia menghadirkan seorang saksi dari keluarga wanita tersebut yang memberikan kesaksian berdasarkan tanda petunjuk yang apabila terbukti, maka dialah yang benar. Saksi itu berkata:

 

﴿إِن كَانَ قَمِيصُهُۥ قُدَّ مِن قُبُلٍ فَصَدَقَت وَهُوَ مِنَ ٱلكَٰذِبِينَ﴾

 

‘Jika baju gamisnya robek di bagian depan, maka wanita itu benar dan Yusuf termasuk orang-orang yang dusta.’ Sebab hal tersebut membuktikan bahwa Yusuf-lah yang menghampirinya lagi menggodanya, dan sang wanita bermaksud menolaknya sehingga merobek gamisnya dari arah depan.

 

﴿وَإِن كَانَ قَمِيصُهُۥ قُدَّ مِن دُبُرٍ فَكَذَبَت وَهُوَ مِنَ ٱلصَّٰدِقِينَ﴾

 

‘Dan jika baju gamisnya robek di bagian belakang, maka wanita itulah yang berdusta, dan Yusuf termasuk orang-orang yang benar.’ Sebab hal itu menandakan Yusuf sedang lari menjauhinya sementara sang wanita yang mengejarnya hingga merobek gamis dari arah belakang.

 

﴿فَلَمَّا رَءَا قَمِيصَهُۥ قُدَّ مِن دُبُرٍ﴾

 

‘Maka tatkala suami wanita itu melihat baju gamis Yusuf robek di bagian belakang,’ ia pun menyadari kejujuran Yusuf dan kebersihannya dari tuduhan, serta mengetahui bahwa sang wanitalah yang berdusta.”

 

3. Ummul Mukminin Aisyah binti Ash-Shiddiq radhiyallahu ‘anha

 

عَنْ عَائِشَةَ زَوْجِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَتْ: «…فَبَيْنَا نَحْنُ عَلَى ذَلِكَ دَخَلَ عَلَيْنَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، ثُمَّ جَلَسَ، وَلَمْ يَجْلِسْ عِنْدِي مُنْذُ قِيلَ مَا قِيلَ قَبْلَهَا، وَقَدْ لَبِثَ شَهْرًا لَا يُوحَى إِلَيْهِ فِي شَأْنِي، فَتَشَهَّدَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ حِينَ جَلَسَ، ثُمَّ قَالَ: ((أَمَّا بَعْدُ، يَا عَائِشَةُ فَإِنَّهُ قَدْ بَلَغَنِي عَنْكِ كَذَا وَكَذَا، فَإِنْ كُنْتِ بَرِيئَةً فَسَيُبَرِّئُكِ اللَّهُ، وَإِنْ كُنْتِ أَلْمَمْتِ بِذَنْبٍ فَاسْتَغْفِرِي اللَّهَ وَتُوبِي إِلَيْهِ، فَإِنَّ الْعَبْدَ إِذَا اعْتَرَفَ بِذَنْبِهِ ثُمَّ تَابَ إِلَى اللَّهِ تَابَ اللَّهُ عَلَيْهِ….))». [رَوَاهُ الْبُخَارِيُّ وَمُسْلِمٌ].

 

Dari Aisyah radhiyallahu ‘anha, istri Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, ia berkata: “…Ketika kami sedang dalam keadaan demikian, masuklah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menemui kami lalu duduk. Beliau belum pernah duduk di dekatku semenjak beredarnya tuduhan dusta tersebut, dan telah berlalu waktu satu bulan tanpa turunnya wahyu kepada beliau perihal urusanku. Tatkala duduk, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersaksi dengan mengucap tasyahhud, kemudian bersabda: ‘Amma ba’du, wahai Aisyah, sungguh telah sampai kepadaku kabar tentangmu begini dan begitu. Jika engkau memang tidak bersalah, niscaya Allah akan membersihkanmu. Dan jika engkau terlanjur melakukan suatu dosa, maka mohonlah ampunan kepada Allah dan bertobatlah kepada-Nya. Sebab seorang hamba apabila mengakui dosanya kemudian bertobat kepada Allah, niscaya Allah menerima tobatnya….’.” [HR. Bukhari dan Muslim]

 

قَالَ الْحَافِظُ ابْنُ حَجَرٍ الْعَسْقَلَانِيُّ: «وَفِي هَذَا الْحَدِيثِ مِنَ الْفَوَائِدِ: أَنَّ الصَّبْرَ تُحْمَدُ عَاقِبَتُهُ، وَيُغْبَطُ صَاحِبُهُ… وَفِيهِ أَنَّ الشِّدَّةَ إِذَا اشْتَدَّتْ أَعْقَبَهَا الْفَرَجُ، وَفَضْلُ مَنْ يُفَوِّضُ الْأَمْرَ لِرَبِّهِ، وَأَنَّ مَنْ قَوِيَ عَلَى ذَلِكَ خَفَّ عَنْهُ الْهَمُّ وَالْغَمُّ».

 

Al-Hafizh Ibnu Hajar Al-‘Asqalani rahimahullah berkata: “Di dalam hadis ini termaktub beberapa faedah: sesungguhnya kesabaran itu akan berujung pada kesudahan yang terpuji dan pemiliknya akan dicemburui dalam kebaikan… Di dalamnya juga terkandung pelajaran bahwa kesempitan apabila kian memuncak akan disusul dengan kelapangan, keutamaan orang yang memasrahkan urusannya kepada Rabbnya, serta barang siapa yang memiliki keteguhan dalam hal itu, niscaya beban gundah dan dukanya akan diringankan.”

 

قَوْلُهُ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: ((إِنْ كُنْتِ بَرِيئَةً فَسَيُبَرِّئُكِ اللَّهُ)) أَيْ: بِوَحْيٍ يُنْزِلُهُ بِذَلِكَ قُرْآنًا، أَوْ غَيْرَهُ.

 

Sabda beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam: “Jika engkau memang tidak bersalah, niscaya Allah akan membersihkanmu,” maknanya adalah melalui wahyu Al-Qur’an yang diturunkan-Nya atau melalui jalan lain.

 

قَالَ الْعَلَّامَةُ الْعُثَيْمِينُ رَحِمَهُ اللَّهُ: «الْمَصَائِبُ أَحْيَانًا تَكُونُ سَبَبًا لِلرِّفْعَةِ، وَلَوْ فَكَّرْتَ فِي التَّارِيخِ مَا وَجَدْتَ أَحَدًا أُصِيبَ فِي ذَاتِ اللَّهِ إِلَّا كَانَ ذَلِكَ لَهُ رِفْعَةً… قِصَّةُ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا أُصِيبَتْ، فَكَانَتْ لَهَا رِفْعَةً. وَاقْرَأْ تَارِيخَ الْعُلَمَاءِ مِنْ هَذِهِ الْأُمَّةِ تَجِدْ أَنَّ الْإِنْسَانَ الَّذِي جَرَى عَلَيْهِ مَا يَجْرِي مِنْ حَبْسٍ وَتَنْكِيلٍ وَتَعْذِيبٍ أَشْهَرُ عِنْدَ النَّاسِ مِمَّنْ لَمْ يَجْرِ عَلَيْهِ مِثْلُ ذَلِكَ، لِأَنَّ هَذَا مِنْ ثَوَابِ الصَّابِرِينَ الَّذِينَ يَصْبِرُونَ فِي ذَاتِ اللَّهِ، يَجْعَلُ اللَّهُ لَهُمْ ذِكْرًا حَسَنًا، فَكُلُّ إِنْسَانٍ أُصِيبَ بِمُصِيبَةٍ فِي ذَاتِ اللَّهِ، وَقَابَلَهَا بِالصَّبْرِ وَالِاحْتِسَابِ، فَإِنَّهَا تَكُونُ لَهُ رِفْعَةً».

 

Al-‘Allamah Al-‘Utsaimin rahimahullah bertutur: “Musibah terkadang menjadi sebab terangkatnya derajat. Jikalau engkau memperhatikan lembaran sejarah, niscaya tidak engkau dapati seorang pun yang ditimpa cobaan di jalan Allah melainkan perkara itu menjadi sebab pengangkatan derajat baginya… Kisah Aisyah radhiyallahu ‘anha, tatkala ia diuji dengan musibah, hal itu justru menjadi sebab ketinggian derajat baginya. Bacalah sejarah para ulama umat ini, niscaya engkau dapati bahwa sosok yang mengalami pemenjaraan, perlakuan keras, dan penyiksaan jauh lebih harum serta masyhur namanya di kalangan manusia dibanding mereka yang tidak mengalami cobaan serupa. Hal ini merupakan bagian dari balasan bagi orang-orang yang bersabar di jalan Allah; Allah abadikan bagi mereka sebutan yang mulia. Maka setiap insan yang ditimpa musibah di jalan Allah, lalu ia menyikapinya dengan sabar seraya mengharap pahala, sungguh musibah itu akan menjadi jalan pengangkat derajatnya.”

 

4. Juraij sang Ahli Ibadah

 

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ، عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: ((لَمْ يَتَكَلَّمْ فِي الْمَهْدِ إِلَّا ثَلَاثَةٌ: عِيسَى، وَكَانَ فِي بَنِي إِسْرَائِيلَ رَجُلٌ يُقَالُ لَهُ: جُرَيْجٌ. كَانَ يُصَلِّي، جَاءَتْهُ أُمُّهُ فَدَعَتْهُ، فَقَالَ: أُجِيبُهَا، أَوْ أُصَلِّي؟ فَقَالَتْ: اللَّهُمَّ لَا تُمِتْهُ حَتَّى تُرِيَهُ وُجُوهَ الْمُومِسَاتِ. وَكَانَ جُرَيْجٌ فِي صَوْمَعَتِهِ، فَتَعَرَّضَتْ لَهُ امْرَأَةٌ وَكَلَّمَتْهُ، فَأَبَى، فَأَتَتْ رَاعِيًا، فَأَمْكَنَتْهُ مِنْ نَفْسِهَا، فَوَلَدَتْ غُلَامًا، فَقَالَتْ: مِنْ جُرَيْجٍ، فَأَتَوْهُ، وَكَسَرُوا صَوْمَعَتَهُ، وَأَنْزَلُوهُ وَسَبُّوهُ، فَتَوَضَّأَ، وَصَلَّى، ثُمَّ أَتَى الْغُلَامَ، فَقَالَ: مَنْ أَبُوكَ يَا غُلَامُ؟ فَقَالَ: الرَّاعِي… قَالُوا: نَبْنِي صَوْمَعَتَكَ مِنْ ذَهَبٍ، قَالَ: لَا إِلَّا مِنْ طِينٍ)). [رَوَاهُ الْبُخَارِيُّ وَمُسْلِمٌ].

 

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam: “Tidak ada yang mampu berbicara saat berada di buaian melainkan tiga orang: Isa, dan seorang laki-laki dari kalangan Bani Israil yang bernama Juraij. Suatu saat Juraij tengah mendirikan salat, lalu ibunya datang memanggilnya. Ia pun bergumam dalam hati: ‘Apakah aku penuhi panggilannya atau melanjutkan salatku?’ Maka sang ibu berdoa: ‘Ya Allah, janganlah Engkau wafatkan ia hingga Engkau memperlihatkannya wajah para pelacur.’ Dan adalah Juraij menetap di tempat peribadatannya, lantas datang seorang wanita menggodanya dan mengajaknya berbicara, namun ia menolak. Kemudian wanita tersebut mendatangi seorang penggembala dan menyerahkan dirinya hingga melahirkan seorang anak laki-laki. Wanita itu menuduh: ‘Anak ini dari Juraij.’ Warga pun mendatangi tempat ibadah Juraij, menghancurkannya, menyeretnya turun seraya mencacinya. Maka Juraij berwudu dan salat, kemudian mendatangi bayi tersebut lalu bertanya: ‘Wahai anak kecil, siapakah ayahmu?’ Sang bayi menjawab: ‘Seorang penggembala.’ Warga pun berkata: ‘Kami akan membangun kembali tempat ibadahmu dari emas.’ Juraij menjawab: ‘Jangan, kembalikan saja dari tanah liat.’” [HR. Bukhari dan Muslim]

 

قَالَ الْحَافِظُ ابْنُ حَجَرٍ الْعَسْقَلَانِيُّ رَحِمَهُ اللَّهُ: «فِي الْحَدِيثِ: أَنَّ صَاحِبَ الصِّدْقِ مَعَ اللَّهِ لَا تَضُرُّهُ الْفِتَنُ، وَفِيهِ قُوَّةُ يَقِينِ جُرَيْجٍ الْمَذْكُورِ وَصِحَّةُ رَجَائِهِ، لِأَنَّهُ اسْتَنْطَقَ الْمَوْلُودَ مَعَ كَوْنِ الْعَادَةِ أَنَّهُ لَا يَنْطِقُ، وَلَوْلَا رَجَاؤُهُ بِنُطْقِهِ مَا اسْتَنْطَقَهُ… وَأَنَّ اللَّهَ يَجْعَلُ لِأَوْلِيَائِهِ عِنْدَ ابْتِلَائِهِمْ مَخَارِجَ، وَإِنَّمَا يَتَأَخَّرُ ذَلِكَ عَنْ بَعْضِهِمْ فِي بَعْضِ الْأَوْقَاتِ تَهْذِيبًا وَزِيَادَةً لَهُمْ فِي الثَّوَابِ، وَفِيهِ إِثْبَاتُ كَرَامَاتِ الْأَوْلِيَاءِ».

 

Al-Hafizh Ibnu Hajar Al-‘Asqalani rahimahullah menjelaskan: “Di dalam hadis ini terkandung faedah bahwasanya orang yang senantiasa jujur bersama Allah tidak akan dimudharatkan oleh badai fitnah. Terdapat pula bukti kuatnya keyakinan sosok Juraij dan lurusnya pengharapan yang ia miliki, sebab ia meminta seorang bayi berbicara padahal menurut kebiasaan yang berlaku seorang bayi tidak dapat berbicara. Jikalau bukan karena harapannya yang kuat akan kemampuan bicara sang bayi, niscaya ia tidak akan mengajaknya bertutur… Dan bahwasanya Allah senantiasa membukakan jalan keluar bagi para wali-Nya saat ditimpa cobaan. Jalan keluar itu adakalanya ditunda pada sebagian waktu sebagai bentuk pembersihan jiwa dan penambah limpahan pahala. Di dalamnya termuat pula penetapan kebenaran karamah para wali.”

 

قَالَ الْعَلَّامَةُ الْعُثَيْمِينُ رَحِمَهُ اللَّهُ: «فِي قِصَّةِ جُرَيْجٍ أَنَّهُ سَأَلَ الصَّبِيَّ: مَنْ أَبُوكَ؟ قَالَ: فُلَانٌ يَعْنِي: الرَّاعِيَ، قَالَ هَذَا مَعَ أَنَّهُ لَا يَعْلَمُ ذَلِكَ، وَلَكِنَّ اللَّهَ سُبْحَانَهُ أَنْطَقَهُ بِمَا يَعْلَمُ اللَّهُ وَفِي هَذِهِ الْقِصَّةِ دَلِيلٌ عَلَى فَوَائِدَ، مِنْهَا: أَنَّهُ يَنْبَغِي لِمَنْ حَزَبَهُ الْأَمْرُ أَنْ يُصَلِّيَ، كَمَا كَانَ الرَّسُولُ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَفْعَلُ ذَلِكَ أَيْضًا، فَإِذَا اشْتَدَّ الْأَمْرُ عَلَيْكَ فَإِنَّكَ تُصَلِّي، وَتَسْأَلُ اللَّهَ أَنْ يُفَرِّجَ لَكَ».

 

Al-‘Allamah Al-‘Utsaimin rahimahullah memaparkan: “Dalam kisah Juraij disebutkan bahwa ia bertanya kepada sang bayi: ‘Siapakah ayahmu?’ Sang bayi menjawab: ‘Fulan,’ yakni si penggembala. Juraij melontarkan pertanyaan tersebut padahal dirinya tidak mengetahui siapa ayah biologisnya, akan tetapi Allah Subhanahu menjadikannya mampu berbicara menyingkap apa yang Allah ketahui. Di dalam kisah ini terkandung dalil atas sejumlah faedah, di antaranya: hendaknya seseorang yang tengah tertimpa perkara genting bersegera mendirikan salat, sebagaimana hal itu senantiasa dilakukan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Maka tatkala suatu urusan terasa kian menghimpit, hendaknya engkau salat dan memohon kepada Allah agar melimpahkan kelapangan bagimu.”

 

5. Seorang Budak Wanita yang Dituduh Mencuri

 

عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا، قَالَتْ: «أَسْلَمَتْ امْرَأَةٌ سَوْدَاءُ لِبَعْضِ الْعَرَبِ، وَكَانَ لَهَا حِفْشٌ فِي الْمَسْجِدِ، فَكَانَتْ تَأْتِينَا فَتُحَدِّثُ عِنْدَنَا، فَإِذَا فَرَغَتْ مِنْ حَدِيثِهَا قَالَتْ:

 

وَيَوْمُ الْوِشَاحِ مِنْ تَعَاجِيبِ رَبِّنَا … أَلَا إِنَّهُ مِنْ بَلْدَةِ الْكُفْرِ نَجَّانِي

فَلَمَّا أَكْثَرَتْ قَالَتْ لَهَا عَائِشَةُ: وَمَا يَوْمُ الْوِشَاحِ؟ قَالَتْ: خَرَجَتْ جُوَيْرِيَةٌ لِبَعْضِ أَهْلِي وَعَلَيْهَا وِشَاحٌ مِنْ أَدَمٍ، فَسَقَطَ مِنْهَا، فَانْحَطَّتْ عَلَيْهِ الْحُدَيَّا وَهِيَ تَحْسِبُهُ لَحْمًا، فَأَخَذَتْهُ، فَاتَّهَمُونِي بِهِ فَعَذَّبُونِي، حَتَّى بَلَغَ مِنْ أَمْرِي أَنَّهُمْ طَلَبُوا فِي قُبُلِي، فَبَيْنَا هُمْ حَوْلِي وَأَنَا فِي كَرْبِي، إِذَا أَقْبَلَتِ الْحُدَيَّا حَتَّى وَازَتْ بِرُؤُوسِنَا، ثُمَّ أَلْقَتْهُ فَأَخَذُوهُ، فَقُلْتُ لَهُمْ: هَذَا الَّذِي اتَّهَمْتُمُونِي بِهِ وَأَنَا بَرِيئَةٌ». [رَوَاهُ الْبُخَارِيُّ].

Dari Aisyah radhiyallahu ‘anha, ia berkata: “Ada seorang wanita berkulit hitam milik salah satu perkampungan Arab yang telah masuk Islam. Ia memiliki bilik kecil di masjid dan terbiasa mendatangi kami untuk berbincang-bincang. Setiap kali usai berbicara, ia senantiasa melantunkan syair:

 

Dan peristiwa selempang merupakan keajaiban Rabb kita, ketahuilah, peristiwa itulah yang menyelamatkanku dari negeri kekufuran.

 

Tatkala ia sering mengulang ucapan itu, Aisyah bertanya kepadanya: ‘Apakah gerangan peristiwa selempang itu?’ Ia menjawab: ‘Suatu ketika seorang anak perempuan milik salah satu majikanku keluar rumah dengan mengenakan selempang hiasan dari kulit berwarna merah. Selempang itu terjatuh darinya, lalu disambar oleh seekor burung elang yang mengira bahwa benda itu adalah sekerat daging, lalu dibawanya terbang. Kaum itu lantas menuduhku mencurinya hingga mereka menyiksaku. Bahkan pencarian itu sampai pada batas mereka memeriksa bagian kemaluanku. Ketika mereka berkerumun mengelilingiku sementara aku berada dalam puncak kesengsaraan, mendadak burung elang itu melintas tepat sejajar di atas kepala kami, lalu menjatuhkan selempang tersebut hingga mereka mengambilnya kembali. Maka aku berkata kepada mereka: Inilah barang yang kalian tuduhkan kepadaku, padahal aku terbebas dari kesalahan itu!’.” [HR. Bukhari]

 

قَالَ الْعَلَّامَةُ الْعُثَيْمِينُ رَحِمَهُ اللَّهُ: «هَذَا الْحَدِيثُ مِنْ أَعَاجِيبِ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ، فَإِنَّ هَذِهِ امْرَأَةٌ سَوْدَاءُ أَعْتَقَهَا أَسْيَادُهَا فَتَحَرَّرَتْ مِنْهُمْ لَكِنْ كَأَنَّهُ لَيْسَ لَهَا أَحَدٌ وَلِهَذَا كَانَتْ مَعَهُمْ وَفِي يَوْمٍ مِنَ الْأَيَّامِ خَرَجَتْ صَبِيَّةٌ لَهُمْ، وَعَلَيْهَا وِشَاحٌ أَحْمَرُ مِنْ سُيُورٍ، أَيْ: شَيْءٌ تَتَوَشَّحُ بِهِ، فَأَلْقَتْهُ، فَمَرَّتْ بِهِ الْحُدَيَّاةُ (أَيِ: الْحِدَأَةُ) فَخَطَفَتْهُ تَظُنُّهُ لَحْمًا، وَالْحِدَأَةُ تَخْطَفُ اللَّحْمَ، وَتَفْرَحُ بِهِ، فَاتَّهَمُوا هَذِهِ الْجَارِيَةَ، فَقَالُوا: أَنْتِ الَّتِي أَخَذْتِهِ، فَجَعَلُوا يُفَتِّشُونَهَا حَتَّى فَتَّشُوا الْفَرْجَ -نَسْأَلُ اللَّهَ الْعَافِيَةَ- لِأَنَّهُمْ ظَنُّوا أَنَّهَا أَخْفَتْهُ. وَفِي هَذِهِ الشِّدَّةِ الْعَظِيمَةِ وَهَذَا الْكَرْبِ الْعَظِيمِ فَرَّجَ اللَّهُ عَنْهَا حَيْثُ مَرَّتِ الْحُدَيَّاةُ فَأَلْقَتْهُ فَوَقَعَ بَيْنَهُمْ فَفَرَّجَ اللَّهُ عَنْهَا هَذِهِ الْكُرْبَةَ… فَسُبْحَانَ اللَّهِ الْعَظِيمِ كُلُّ شَيْءٍ بِأَمْرِ اللَّهِ وَإِلَّا فَإِنَّ الْعَادَةَ أَنَّ الْحُدَيَّا إِذَا عَرَفَتْ أَنَّهُ لَيْسَ بِلَحْمٍ أَلْقَتْهُ بِأَيِّ مَكَانٍ لَكِنَّ اللَّهَ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى أَتَى بِهَا إِلَى هَذَا الْمَكَانِ لِتَنْجُوَ هَذِهِ الْمِسْكِينَةُ مِنْ هَذَا الْعَذَابِ، وَاللَّهُ جَلَّ وَعَلَا يُفَرِّجُ لِلْمُضْطَرِّ حَتَّى وَلَوْ كَانَ كَافِرًا، لَا سِيَّمَا إِذَا دَعَاهُ وَلَجَأَ إِلَيْهِ فَإِنَّ اللَّهَ تَعَالَى يُجِيبُهُ».

 

Al-‘Allamah Al-‘Utsaimin rahimahullah menerangkan: “Hadis ini memuat tanda-tanda keajaiban kekuasaan Allah ‘Azza wa Jalla. Wanita berkulit hitam ini telah dimerdekakan oleh majikannya, namun seolah ia tiada memiliki sanak saudara sehingga masih menetap bersama mereka. Pada suatu hari, seorang anak perempuan dari keluarga tersebut keluar mengenakan selempang hiasan berwarna merah yang terbuat dari jalinan tali kulit, lalu melepaskannya. Melintaslah burung elang menyambarnya lantaran mengira selempang itu adalah daging; dan elang terbiasa menyambar daging dengan lahap. Mereka lantas menuduh wanita ini sembari berujar: ‘Engkaulah yang mengambilnya.’ Mereka pun menggeledahnya sampai-sampai memeriksa bagian kemaluannya—kita memohon keselamatan kepada Allah—karena mengira ia menyembunyikannya di sana. Di tengah himpitan derita yang dahsyat ini, Allah melimpahkan jalan keluar saat burung elang itu melintas kembali lalu menjatuhkan barang tersebut tepat di hadapan mereka, sehingga Allah membebaskannya dari mara bahaya… Mahasuci Allah Yang Mahaagung, segala sesuatu terwujud atas perintah-Nya. Jikalau bukan karena ketetapan-Nya, lumrahnya elang yang menyadari bahwa benda itu bukan daging akan membuangnya di sembarang tempat. Akan tetapi Allah Subhanahu wa Ta’ala mengarahkannya tepat ke tempat tersebut demi menyelamatkan wanita malang ini dari siksaan. Dan Allah Jalla wa ‘Ala senantiasa memberikan jalan keluar bagi orang yang terdesak meski ia seorang kafir sekalipun, terlebih jika ia berdoa dan bersimpuh memohon kepada-Nya, niscaya Allah Ta’ala mengabulkannya.”

 

Sebagai penutup, ada tiga kondisi bagi orang yang dituduh secara zalim:

 

  • Kondisi Pertama: Allah Jalla wa ‘Ala menampakkan kebersihannya dari tuduhan secara langsung dan lekas, sebagaimana yang terjadi pada Juraij ketika difitnah berzina, serta budak wanita yang dituduh mencuri.

 

  • Kondisi Kedua: Allah ‘Azza wa Jalla menampakkan kebersihannya setelah selang beberapa waktu, sebagaimana yang dialami oleh Nabi Yusuf ‘alaihissalam saat harus mendekam di penjara selama beberapa tahun, serta Ummul Mukminin Aisyah radhiyallahu ‘anha tatkala turunnya wahyu pembersih nama beliau tertunda selama sebulan penuh.

 

  • Kondisi Ketiga: Tidak tampak kebersihannya dari tuduhan zalim tersebut sepanjang hayatnya di dunia. Hal itu menjadi penghapus dosa-dosanya serta pengangkat derajatnya di akhirat jika ia bersabar dan mengharap pahala.

 

قَالَ الْعَلَّامَةُ مُحَمَّدُ بْنُ صَالِحٍ الْعُثَيْمِينُ رَحِمَهُ اللَّهُ فِي شَرْحِ حَادِثَةِ الْإِفْكِ: «مِنْ فَوَائِدِ هَذَا الْحَدِيثِ… الْوَعْدُ مِنَ الرَّسُولِ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ بِأَنَّ اللَّهَ سَيُبَرِّئُ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا إِذَا كَانَتْ بَرِيئَةً لِقَوْلِهِ: ((فَإِنْ كُنْتِ بَرِيئَةً فَسَيُبَرِّئُكِ اللَّهُ))، وَهَلْ هَذَا شَامِلٌ لِكُلِّ أَحَدٍ، بِمَعْنَى: هَلْ كُلُّ بَرِيءٍ مِنْ ذَنْبٍ يُقِيمُ اللَّهُ تَعَالَى الْبَيِّنَةَ فِي الدُّنْيَا عَلَى أَنَّهُ بَرِيءٌ؟ الْجَوَابُ: لَا، فَقَدْ يُبْتَلَى وَيُصَابُ بِذَنْبِهِ، وَيَكُونُ ذَلِكَ تَكْفِيرًا لَهُ مِنْ سَيِّئَاتٍ عَمِلَهَا وَلَمْ يَشْعُرْ بِهَا». انْتَهَى.

 

Al-‘Allamah Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin rahimahullah menjelaskan dalam syarah peristiwa Al-Ifk: “Di antara faedah hadis ini… adanya janji dari Rasul ‘alaihissalatu wassalam bahwa Allah akan membersihkan Aisyah radhiyallahu ‘anha jika ia memang terbebas dari kesalahan, berdasarkan sabda beliau:

 

((فَإِنْ كُنْتِ بَرِيئَةً فَسَيُبَرِّئُكِ اللَّهُ))

 

‘Jika engkau memang tidak bersalah, niscaya Allah akan membersihkanmu.’ Apakah ketentuan ini berlaku umum bagi setiap orang? Dalam artian: apakah setiap orang yang bersih dari tuduhan dosa akan senantiasa Allah tegakkan bukti kebersihannya di dunia? Jawabannya: Tidak. Terkadang seseorang diuji dan ditimpa musibah akibat dosa-dosanya, dan hal itu menjadi penggugur kesalahan-kesalahan yang pernah ia lakukan tanpa ia sadari.” Selesai kutipan.

 

Maka barang siapa yang belum tampak kebersihannya dalam waktu dekat, hendaknya ia bersabar, barangkali kebersihan namanya baru terbukti di kemudian hari (setelah berbulan-bulan atau bertahun-tahun). Dan barang siapa yang kebersihan namanya tidak kunjung tersingkap di kehidupan dunia, hendaknya ia senantiasa mengharap pahala dan ganjaran di sisi Allah. Hendaklah ia meyakini bahwa Allah Jalla wa ‘Ala Maha Pengasih, Maha Mengetahui, lagi Mahabijaksana, serta menghendaki kebaikan baginya. Janganlah bersedih dan jangan pula berputus asa, sebab dunia ini fana lagi sirna, sedangkan akhirat itu kekal abadi selamanya.

 

Ditulis oleh: Fahd bin Abdul Aziz bin Abdullah Asy-Syuwairikh

https://saaid.org/Doat/alshwairek/666.htm

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *