Lebih diutamakan bagi orang yang memiliki tanggungan puasa beberapa hari dari bulan Ramadhan untuk mengqadha` hari-hari itu sebelum dia berpuasa enam hari dari bulan Syawal.
Yang demikian itu berdasarkan hadits yang telah dikeluarkan oleh Imam Muslim dari Abu Ayyub al-Anshariy radhiyallaahu ‘anhu bahwa Nabi ﷺ bersabda,
«مَنْ صَامَ رَمَضَانَ ثُمَّ أَتْبَعَهُ سِتًّا مِنْ شَوَّالٍ، كَانَ كَصِيَامِ الدَّهْرِ»
“Barangsiapa puasa Ramadhan kemudian mengikutinya dengan enam hari bulan Syawwal, maka seperti puasa sepanjang tahun.” ([1])
Maka difahamilah dari hadits ini bahwa siapa yang ingin memperoleh keutaman ini, maka dia menyempurnakan puasa Ramadhan kemudian mengikutinya dengan enam hari dari bulan syawal setelah itu. Dia tidak mendahulukan puasa enam hari daripada qadha’ puasa Ramadhan, dan ini adalah apa yang telah dirajihkan oleh Ibnu ‘Utsaimin rahimahullah.
Ini juga difahami dari ucapan Abu Bakar kepada ‘Umar bin al-Khaththab radhiyallaahu ‘anhuma, dimana telah diriwayatkan dari Abu Bakar bahwa dia pernah berkata kepada ‘Umar,
وَأَنَّهُ لَنْ تُقْبَلَ نَافِلَةٌ حَتَّى تُؤَدَّى الْفَرِيْضَةُ
“Bahwasannya amal sunnah tidak akan diterima hingga amal fardhu ditunaikan.” ([2])
Peringatan:
Sekalipuan yang lebih utama adalah puasa qadha’ kemudian mengikutinya dengan enam hari dari bulan Syawwal -sebagaimana telah berlalu bersama kita- hanya saja boleh berpuasa enam hari dari bulan Syawal sebelum qadha’ Ramadhan, terutama bagi orang yang bulan syawal telah mendesak baginya seandainya dia qadha’. Dan yang menunjukkan akan hal ini adalah firman-Nya subhaanahu wa ta’aala:
﴿فَعِدَّةٌ مِّن أَيَّامٍ أُخَرَ ﴾
“… maka (wajiblah baginya berpuasa) sebanyak hari yang ditinggalkan itu pada hari-hari yang lain…” (QS. QS. Al-Baqarah: 184)
Di dalam ayat ini Allah menyebut qadha’ secara mutlak dan tidak mengikatnya.
Dan yang menunjukkan hal ini juga adalah riwayat yang telah dikeluarkan oleh al-Bukhari Muslim dari hadits ‘Aisyah radhiyallaahu ‘anha, dia berkata:
«كَانَ يَكُونُ عَلَيَّ الصَّوْمُ مِنْ رَمَضَانَ، فَمَا أَسْتَطِيعُ أَنْ أَقْضِيَهُ إِلَّا فِي شَعْبَانَ»
“Aku memiliki tanggungan puasa Ramadhan, maka aku tidak mampu untuk menqadha’nya kecuali di bulan Sya’ban.” ([3])
Dan tidak diragukan lagi bahwa dia puasa sunnah di tengah-tengah tahun tersebut; dan hal ini dengan pengetahuan Nabi ﷺ, maka itu adalah iqrar (pengakuan) beliau, dikarneakan beliau tidak mengingkarinya.
Dan termasuk perkara yang menunjukkan hal itu juga adalah riwayat yang telah dikeluarkan oleh Imam Ahmad dari Tsauban radhiyallaahu ‘anhu, dari Nabi ﷺ, beliau bersabda,
«مَنْ صَامَ رَمَضَانَ فَشَهْرٌ بِعَشَرَةِ أَشْهُرٍ، وَصِيَامُ سِتَّةِ أَيَّامٍ بَعْدَ الْفِطْرِ فَذَلِكَ تَمَامُ صِيَامِ السَّنَةِ»
“Barangsiapa berpuasa Ramadhan, maka satu bulan sebanding dengan sepuluh bulan, dan puasa enam hari bulan syawal setelah Idul Fitri maka itu adalah penyempurnaan puasa setahun.” ([4])
Maka di dalam hadits ini, Nabi ﷺ menyebut secara mutlak, tidak mendahulukan sesuatu atas sesuau yang lain, akan tetapi keutamaan puasa setahun didapatkan dengan sebab mendatangi keduanya (puasa Ramadhan dan enam hari bulan Syawal).
(Diterjemahkan oleh Muhammad Syahri dari kitab Akhthaa-unaa Fii Ramadhaan; al-Akhthaa` al-Khaashshah bi an-Nisaa`, Syaikh Nada Abu Ahmad)
_____________________________________________________________
Footnote:
([1]) HR. Muslim (1164), At-Tirmidzi (759), Abu Dawud (2433), Ahmad (23580)-pent
([2]) HR. Abu Nu’aim dalam al-Hilyah(1/36-37), dalam Ma’rifatu as-Shahabah (1/183-184), disebut juga oleh at-Thabariy dalam ar-Riyadh an-Nadhrah) (1/259-260) dengan sanad hasan lighairihi. Lihat at-Tafsiir Min Sunan Sa’id bin Manshuur (5/134)-pent
([3]) HR. Al-Bukhari (1849), Muslim (1146)-pent
([4]) HR. Ahmad (22412) dishahihkan oleh Syaikh al-Arnauth.-pent






