(23) Nabi ﷺ Menghidupkan Sepuluh Malam Yang Akhir

[arabic-font]عن عَائِشَةَ، قَالَتْ: كَانَ النَّبِيُّ صلى الله عليه وسلم، إِذَا دَخَلَ الْعَشْرُ شَدَّ مِئْزَرَهُ وَأَحْيَا لَيْلَهُ، وَأَيْقَظَ أَهْلَهُ[/arabic-font] Dari ‘Aisyah J, dia berkata, ‘Adalah Nabi ﷺ, jika masuk sepuluh (hari yang terakhir dari bulan Ramadhan), beliau kencangkan sarung beliau, menghidupkan malam beliau, dan membangunkan keluarga beliau.” (HR. al-Bukhari Muslim)

Wahai hamba Allah,

1. Berdirilah dengan menghidupkan malam di dalam sepuluh hari terakhir dari bulan Ramadhan. Yang demikian itu dilakukan dengan shalat, berdo’a, berdzikir dan ibadah-ibadah lain. Dan ibadah-ibadah tersebut, yang terpenting adalah shalat sunnah malam. Maka shalat tarawihlah dengan sempurna, kemudian shalatlah setelahnya apa yang mudah, dikarenakan itu semua termasuk bagian dari shalat malam yang disyariatkan.

2. Janganlah tidur di sepuluh hari terakhir dari Ramadhan kecuali sedikit, demi memanfaatkan malam-malam ini dalam memperbanyak ketaatan. Diantaranya adalah shalat malam.

Sungguh, Allah ﷻ telah memuji mereka yang mendirikan shalat malam, seraya berfirman,
[arabic-font] كَانُواْ قَلِيلٗا مِّنَ ٱلَّيۡلِ مَا يَهۡجَعُونَ ١٧[/arabic-font] “… di dunia mereka sedikit sekali tidur diwaktu malam.” (QS. Adz-Dzaariyaat (51): 17)

As-Sa’diy V berkata, ‘Tidur mereka di malam hari sedikit, adapun kebanyakan malam, maka merekapun beribadah untuk Rabb mereka, (mereka hidupkan malam itu) diantara shalat, membaca al-Qur`an, berdzikir, berdo’a dan bertadharru’.

3. Perbanyaklah beristighfar pada waktu-waktu sahur.

Allah ﷻ telah berfirman,
[arabic-font] وَبِٱلۡأَسۡحَارِ هُمۡ يَسۡتَغۡفِرُونَ ١٨[/arabic-font] “… dan selalu memohonkan ampunan diwaktu pagi sebelum fajar.” (QS. Adz-Dzaariyaat (51): 18)

“Dan di waktu sahur” yaitu sesaat sebelum fajar “mereka beristighfar, memohon ampun” kepada Allah ﷻ. Maka sungguh, mereka telah memanjangkan shalat mereka hingga waktu sahur. Kemudian mereka duduk di penutupan shalat malam mereka seraya beristighfar memohon ampun kepada Allah, dengan istighfarnya seorang pendosa bagi dosanya. Dan beristighfar di waktu sahur memiliki keutamaan dan kekhususan yang tidak dimiliki selainnya. Sebagaimana firman Allah ﷻ tentang sifat orang-orang yang beriman dan taat,
[arabic-font] ٱلصَّٰبِرِينَ وَٱلصَّٰدِقِينَ وَٱلۡقَٰنِتِينَ وَٱلۡمُنفِقِينَ وَٱلۡمُسۡتَغۡفِرِينَ بِٱلۡأَسۡحَارِ ١٧[/arabic-font] “… dan yang memohon ampun di waktu sahur.” (QS. Aali ‘Imraan (3): 17)

4. Manfaatkanlah akhir malam (seperti malam yang terakhir) pada setiap tahunnya, dan pada sepuluh hari yang terakhir dari Ramadhan, karena berkumpulnya sejumlah keutamaan bagi sepertiga malam terakhir tersebut.

Maka jika berada pada sepuluh hari yang terakhir, mintalah kepada Allah apa yang Anda suka, dari kebaikan dunia dan akhirat. Berdo’alah kepada ﷻ, dan mohonlah ampun kepada-Nya.

Berdasarkan hadits Abu Hurairah I, dia berkata, ‘Rasulullah ﷺ bersabda,
[arabic-font] إِذَا مَضَى شَطْرُ اللَّيْلِ أَوْ ثُلُثَاهُ يَنْزِلُ اللَّهُ تَبَارَكَ وَتَعَالَى إِلَى السَّمَاءِ الدُّنْيَا فَيَقُولُ هَلْ مِنْ سَائِلٍ يُعْطَى هَلْ مِنْ دَاعٍ يُسْتَجَابُ لَهُ هَلْ مِنْ مُسْتَغْفِرٍ يُغْفَرُ لَهُ حَتَّى يَنْفَجِرَ الصُّبْحُ[/arabic-font] “Jika telah berlalu separuh malam, atau dua pertiganya, maka Allah ﷻ turun ke langit dunia seraya Dia berfirman, ‘Adakah orang yang meminta lalu diberikan (kepadanya permintaannya), adakah orang yang berdo’a lalu dikabulkan untuknya (do’anya), adakah orang yang memohon ampun lalu diampuni untuknya (dosanya) hingga subuh menyembul keluar.” (HR. Muslim)

5. Berdirilah dengan melakukan bermacam-macam ibadah di malam hari. Jika Anda merasakan sebagian kepayahan dengan satu ibadah, maka berpindahlah kepada ibadah yang lain pada sepuluh hari yang terakhir dari bulan Ramadhan tersebut.

Shalat malamlah, bacalah al-Qur`an, bertasbihlah, bertakbirlah, bertahlillah, bershalawatlah kepada Nabi ﷺ, beristighfarlah kepada Allah, berdo’alah kepada-Nya, serta bertaubatlah kepada-Nya.

Berdasarkan hadits Abu Sa’id, dan Abu Hurairah I, keduanya berkata, ‘Rasulullah ﷺ bersabda,
[arabic-font] إِنَّ اللَّهَ يُمْهِلُ حَتَّى إِذَا ذَهَبَ ثُلُثُ اللَّيْلِ الْأَوَّلُ نَزَلَ إِلَى السَّمَاءِ الدُّنْيَا فَيَقُولُ هَلْ مِنْ مُسْتَغْفِرٍ هَلْ مِنْ تَائِبٍ هَلْ مِنْ سَائِلٍ هَلْ مِنْ دَاعٍ حَتَّى يَنْفَجِرَ الْفَجْرُ[/arabic-font] “Sesungguhnya Allah menunda hingga jika sepertiga malam yang pertama telah pergi, maka diapun turun ke langit dunia, lalu berfirman, ‘Adakah orang yang memohon ampun? Adakah orang yang bertaubat? Adakah orang yang meminta? Adakah orang yang berdo’a? hingga fajar menyembul.” (HR. Muslim)

Perhatianlah terhadap keempat perkara ini bersamaan dengan shalat malam yaitu istighfar, taubat, meminta, dan berdo’a kepada Allah.

6. Menghidupkan malam yang paling penting adalah dengan shalat malam, qiyamullail. Maka perhatianlah dengan shalat malam pada sepuluh hari yang terakhir dari bulan Ramadhan.
Boleh bagi Anda untuk shalat malam semuanya hingga fajar, atau Anda shalat pada kebanyakan malam.

Berdasarkan hadits ‘Aisyah J, dia berkata,
[arabic-font] كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا عَمِلَ عَمَلًا أَثْبَتَهُ وَكَانَ إِذَا نَامَ مِنْ اللَّيْلِ أَوْ مَرِضَ صَلَّى مِنْ النَّهَارِ ثِنْتَيْ عَشْرَةَ رَكْعَةً قَالَتْ وَمَا رَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَامَ لَيْلَةً حَتَّى الصَّبَاحِ وَمَا صَامَ شَهْرًا مُتَتَابِعًا إِلَّا رَمَضَانَ[/arabic-font] “Adalah Rasulullah ﷺ, jika beliau beramal, maka beliau meneguhkannya. Dan adalah beliau, jika tidur dari malam hari, atau sakit, maka beliau shalat di siang hari dua belas rakaat.’ Aisyah J berkata, ‘Aku tidak pernah melihat Rasulullah ﷺ shalat malam hingga subuh, dan tidak puasa sebulan penuh berturut-turut kecuali pada bulan Ramadhan.” (HR. Muslim)

(Pelajaran Kedua puluh tiga Dari Kitab an-Nabiy Shallallaahu ‘Alaihi Wa Sallama fii Ramadhaan (Tsalaatsuuna Darsan), Syaikh Muhammad bin Syami bin Mutho’in Syaibah, dialih bahasakan oleh Muhammad Syahri)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *