Di Antara Metode Mendidik Hati untuk Meraih Kebahagiaan

Al-Faruq (Umar bin Khattab) radhiyallahu ‘anhu berkata:

 

«مَا أُبَالِي عَلَى أَيِّ حَالٍ أَصْبَحْتُ! عَلَى مَا أُحِبُّ، أَمْ عَلَى مَا أَكْرَهُ؛ ذَلِكَ بِأَنِّي لَا أَدْرِي الْخِيَرَةَ فِيمَا أُحِبُّ أَمْ فِيمَا أَكْرَهُ»

 

“Aku tidak peduli pada keadaan apa aku berada di pagi hari! Apakah pada keadaan yang aku sukai, atau pada keadaan yang aku benci; hal itu karena aku tidak mengetahui di mana letak kebaikan, apakah pada hal yang aku sukai atau pada hal yang aku benci.” ([1])

 

Betapa ini merupakan pelajaran yang sangat mendalam! Kita perlu melatih diri kita untuk mempelajarinya, dan mendidik hati kita untuk hidup bersamanya.

 

Betapa sering terjadi pada kita peristiwa-peristiwa, baik di tingkat individu maupun kelompok, yang secara lahiriah kita melihatnya sebagai keburukan, padahal di dalamnya terdapat kebaikan! Dan ini adalah bukti pembenaran dari firman Allah Ta’ala:

 

﴿وَعَسَىٰ أَن تَكْرَهُوا شَيْئًا وَهُوَ خَيْرٌ لَّكُمْ ۖ وَعَسَىٰ أَن تُحِبُّوا شَيْئًا وَهُوَ شَرٌّ لَّكُمْ ۗ وَاللَّهُ يَعْلَمُ وَأَنتُمْ لَا تَعْلَمُونَ﴾

 

“Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.” (QS. Al-Baqarah: 216).

 

Dan firman-Nya ﷺ (maksudnya: firman-Nya Jalla wa ‘Ala):

 

﴿فَعَسَىٰ أَن تَكْرَهُوا شَيْئًا وَيَجْعَلَ اللَّهُ فِيهِ خَيْرًا كَثِيرًا﴾

 

“Maka mungkin kamu tidak menyukai sesuatu, padahal Allah menjadikan padanya kebaikan yang banyak.” (QS. An-Nisa’: 19).

 

Hal-hal yang mengganggu (merusak kebahagiaan) dalam kehidupan manusia telah bertambah banyak, dan hal-hal yang mengeruhkan suasana semakin beragam. Namun, firman Allah, sabda Rasul-Nya, dan kemudian nasihat-nasihat para sahabatnya tetap menjadi obat penawar yang menyembuhkan, yang dengannya kita mengobati luka-luka kehidupan.

 

Dan barangsiapa yang merenung dengan mata akal, ia akan mendapati bahwa tidak ada jalan lain baginya kecuali ini, karena kesedihan tidak bisa menghidupkan orang yang sudah mati, dan keluh kesah tidak bisa mengembalikan sesuatu yang telah hilang!

 

Barangsiapa yang meyakini bahwa pilihan Allah lebih baik daripada pilihan hamba untuk dirinya sendiri, dan bahwa tidak ada seorang pun di muka bumi yang benar-benar selamat dari ujian = maka ia telah memasuki surga keridaan di dunia sebelum memasuki surga akhirat, dan kesedihan pun menjadi ringan baginya. Dan demi Allah, itu adalah salah satu buah praktis terbesar dari beriman kepada qadha dan qadar.

 

Adapun orang yang memandang ujian-ujian ini dengan kacamata keluh kesah (tidak terima), dan mulai membuka kembali berkas-berkas masa lalu yang menyedihkan dari waktu ke waktu, maka sesungguhnya ia hanyalah memperbarui rasa sakitnya, mengorek luka-lukanya, dan ia tidak akan memetik apa pun selain kegelisahan dan kesedihan, yang mana Nabi ﷺ telah memohon perlindungan dari keduanya dalam banyak doa.

 

Sesungguhnya setiap orang yang dilihat oleh matamu di sekelilingmu, atau yang engkau baca (tulisannya), atau yang engkau dengar darinya, baik dari kalangan orang terkenal maupun orang biasa, orang yang dirundung masalah maupun orang yang gembira, mereka semua tidak akan keluar dari cakupan firman Allah Ta’ala:

 

﴿لَقَدْ خَلَقْنَا الْإِنسَانَ فِي كَبَدٍ﴾

 

“Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia berada dalam susah payah.” (QS. Al-Balad: 4).

 

Akan tetapi, perbedaan di antara mereka adalah dalam hal bagaimana beradaptasi dengan kesusahan ini, dan berbagai kegelisahan tersebut.

 

Mari kita renungkan kejadian yang dialami oleh Zaid bin Shuhan radhiyallahu ‘anhu, ketika tangannya terluka (terpotong) pada salah satu penaklukan di Irak. Ia malah tersenyum padahal darah sedang mengucur deras. Lalu seorang laki-laki dari kaumnya berkata kepadanya: “Ini bukanlah tempat (waktu) untuk tersenyum!” Maka Zaid berkata:

 

«أَلَمٌ حَلَّ هَوَّنَهُ ثَوَابُ اللَّهِ عَلَيْهِ، أَفَأُرْدِفُهُ بِأَلَمِ الْجَزَعِ الَّذِي لَا جَدْوَى فِيهِ، وَلَا دَرِيكَةَ لِفَائِتٍ مَعَهُ؟ وَفِي تَبَسُّمِي عَزِيَّةٌ لِبَعْضِ الْمُؤْتَسِينَ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ»

 

“Sebuah rasa sakit yang menimpa, yang telah diringankan oleh pahala dari Allah atasnya, apakah aku harus menyusulnya (menambahinya) dengan rasa sakit berupa keluh kesah yang tidak ada gunanya sama sekali, dan tidak bisa mengembalikan apa yang telah hilang bersamanya? Padahal di dalam senyumanku ini terdapat penghiburan bagi sebagian orang-orang beriman yang sedang tertimpa musibah.”

 

Laki-laki itu pun berkata: “Engkau lebih berilmu tentang Allah daripadaku.” ([2])

 

Ya Allah, sesungguhnya kami berlindung kepada-Mu dari kegelisahan dan kesedihan, dan dari kelemahan dan kemalasan.

 

 

(Diterjemahkan dari Majalisu at-Tadzkiir, Fushulun Imaniyatun Tarbawiyatun, Prof. DR. ‘Umar Abdullah Muhammad al-Muqbil)

([1]) Az-Zuhd karya Abu Dawud (hal. 108)

([2]) Ash-Shabr wats-Tsawab ‘Alaihi karya Ibnu Abid Dunya (hal. 71)

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *